Kavellania Nona Pamela
“Kenapa belum tidur?” Tanya Kudo pada jendela chatting di YM.
Vella melirik jam pada dinding berwarna biru. Pukul setengah dua belas malam. Ia mendesah pelan, menahan semua rasa sakitnya. Ia tahu persis alasan mengapa belum juga pergi ke alam mimpi. Kali ini ia merasa hatinya seperti sedang disayat-sayat, degub jantungnya tak stabil menahan perihnya sayatan itu. Tapi tetap saja air matanya enggan untuk keluar padahal ia tidak sedang menahan tangis. Mungkin kemarau telah datang pada matanya atas kejadian ini. Continue reading “Ilusi”
