Pemerintah Kota Tanjungpinang Peduli Penyair

Yurnaldi
http://www.kompas.com/

KEBERADAAN penyair di Kabupaten Tanjungpinang, Kepulauan Riau, sungguh beda dengan penyair di kota-kota lain di Indonesia, tak terkecuali di DKI Jakarta. Penyair mendapat tempat yang semestinya. Bahkan, karena penyair itu juga mitra dalam pembangunan kebudayaan, pemerintah kota setempat sangat memperhatikannya.

Berbagai kegiatan kesastraan selalu mendapat dukungan. Apalagi, Kota Tanjungpinang telah mencanangkan sebagai Negeri Pantun. Sebagai kota yang kental dengan kebudayaan Melayu, Tanjungpinang, tak henti-hentinya menggelar kegiatan sastra-budaya, tidak hanya di tingkat lokal, tapi juga nasional, bahkan internasional.

Terakhir, yang menarik dicermati adalah kegiatan Tarung Penyair Panggung, Rabu (27/8) malam di Gedung Kesenian Aisyah Sulaiman, Tanjungpinang.

Sepuluh penyair terkemuka yang berdomisili di Kota Tanjungpinang, seperti Machzumi Dawood, Tusiran Suseno, Hoesnizar Hood, Lawen Newal, Teja Alhabd, Bhinneka Surya, Efiar M Amin, Said Parman, Safaruddin dan Heru Untung Laksono dipertemukan dalam satu panggung dan kemampuan mereka membaca puisi diperlombakan.

Jika selama ini, penyair hanya berkesempatan mengikuti lomba cipta puisi, maka kali ini, mungkin pertama di Indonesia, para penyair diuji kemampuan membaca puisi karyanya sendiri. KaLAH dalam Tarung Penyait Panggung itu, mereka dapat hadiah Rp3 juta. Kalau menang, hadiahnya Rp4 juta sampai Rp10 juta.

“Tarung Penyair Panggung yang digelar Pemerintah Kota Tanjungpinang ini, patut diapresiasi dengan baik. Ini sebuah momentum bagaimana pemerintah menghargai para penyair. Dan penyair pun ditantang untuk terus memberikan pemikiran bagi kemajuan Kota Tanjungpinang, khususnya bidang seni-budaya,” kata Ahmadun Yosi Herfanda, salah satu dewan juri Tarung Penyair Panggung.

Juri lain, Sastrawan Hamsad Rangkuti, juga bangga dengan kegiatan Tarung Penyair Panggung, yang mendapat perhatian luas tidak hanya kalangan pemerintah, tapi juga masyarakat luas. Terbukti, Gedung Kesenian Aisyah Sulaiman, dipadati ratusan pengunjung.

Ketua Panitia Pelaksana Asrizal Nur mengatakan, Tarung Penyair Panggung dilaksanakan atas apresiasi pemerintah kota Tanjungpinang terhadap dedikasi penyair dan sekaligus merangsang giatnya kembali tradisi pembacaan puisi yang atraktif, yang dulu telah dimulai oleh Presiden Penyair Sutardji Calzoum Bachri dan Ibrahim Sattah. Kedua penyair besar ini berasal dari Kepulauan Riau dan bertempat tinggal di Tanjungpinang.

Dalam acara yang juga mengundang pembaca puisi jemputan antara lain Hj Suryatati A Manan ( Walikota Tanjungpinang), Aida Ismed (Anggota DPD asal Kepri), bobby Jayanto (Ketua DPRD Tanjungpinang), dan Mastur Taher (Wakil Bupati Bintan), Asrizal Nur menegaskan, bila politik itu bengkok, maka penyairlah yang akan meluruskannya.

“Sehingga tak dapat dipungkiri, apabila suatu daerah tidak memiliki penyair dan tidak menghasilkan kesusastraan dalam kerangka kebudayaan yang bernilai, maka kecenderungan daerah tersebut terperosok dalam peradaban hitam. Korupsi merajalela, kemaksiatan bertahta, suara hati tak terdengar lagi. Kota atau daerah jadi hilir-mudik ketakutan, tak ada kepastian hukum, masyarakat bagai hidup di belantara kesewenangan,” tandas Asrizal Nur, yang juga Ketua Umum Yayasan Panggung Melayu di Jakarta.

Menurut dia, Tarung Penyair Panggung ini tidak hanya sekadar memberi penghargaan kepada dedikasi penyair, tetapi sekaligus juga mengangkat martabat Pemerintah Kota Tanjungpinang, yang telah menempatkan dengan benar posisi penyair di tempat yang terhormat.

Wali Kota Tanjungpinang, Hajjah Suryatati A Manan mengatakan, mungkin karena Tanjungpinang banyak seniman, penyair dan sastrawan, sehingga politik yang bengkok bisa diluruskan.

“Saya tahu, untuk membangun Kota Tanjungpinang, peran kalangan penyair, seniman, dan sastrawan sangat berarti dan mewarnai pembangunan di kota berjuluk Negeri Pantun ini. Peran sosial masyarakan seniman, penyair, dan budayawan, perlu terus dilanjutkan,” katanya.

Suryatati yang juga dikenal sebagai perempuan penyair Indonesia itu, juga tak henti-hentinya memberikan otokritik melalui karya-karya puisinya. Hanya dengan cara demikian, mereka bisa disadarkan, diingatkan, dan diajak untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat Kota Tanjungpinang.

“Stafku, stafku/ada yang bekerja setengah hati/ada yang bekerja semaunya sendiri/ada yang tak suka apel pagi/ada yang pagi-pagi sudah di kedai kopi/ada yang takut diminta mewakili//stafku, stafku/bila aku ada, banyak yang setor muka/bila aku ke luar kota, ada yang tak masuk kerja//” demikian Suryatati A Manan dalam dua bait puisi yang dibacakannya.

“Jika selama ini yang dikritik hanya atasan oleh bawahan, maka di Tanjungpinang, atasan juga memberikan kritik kepada bawahan. Cara ini bisa dilakukan dengan pas hanya dengan karya sastra,” kata Ahmadun Yosi Herfanda.

One Reply to “Pemerintah Kota Tanjungpinang Peduli Penyair”

  1. Di lautan mana ikan-ikan tak lagi menariCinta pernah tertanam di celah ganggang dan rumput
    laut.
    Ketika itu musim belum mengampak karang sebagai batu
    kapurCincin yang kini melingkar di jariBegitulah mutiara
    “Kala itu kita selami selagi rindu menderu”

    salam to pak mazumi daud and pak teja.

    by.
    Vay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *