Zainal Abidin Bagir*
http://www.ruangbaca.com/

Richard Dawkins, salah seorang evolusionis paling populer saat ini, menulis surat terbuka dalam buku kumpulan esai A Devil’s Chaplain (Selected Essays) kepada anaknya, Juliet. Surat terbuka itu meringkaskan apa yang dianggap sang ayah sebagai satu sikap hidup terpenting: percayalah hanya pada evidence, pada fakta empiris, dan penyimpulan rasional atas dasar fakta.

Dan sains adalah wujud terbaik dari sikap setia kepada fakta. Keberanian untuk membela kesetiaan ini tecermin dalam kerelaan mengikutinya, ke mana pun ia membawa kita, sekalipun itu berarti penolakan kearifan lama. Sikap inilah yang mewarnai tulisan-tulisan Dawkins, dan kerap disampaikan dengan cara mengolok-olok lawannya, dengan sindiran, juga kemarahan. Karenanya, ini adalah buku yang amat bergairah, meski terkadang memang menjengkelkan.

Dawkins mengingatkan anaknya: “Sementara fakta adalah sumber sains yang telah terbukti keampuhannya, ada tiga hal yang merupakan alasan buruk untuk mempercayai sesuatu: tradisi, otoritas, dan wahyu, yang biasanya diwariskan turun-temurun dan sulit diuji.” Jebakan-jebakan ini, ujarnya, telah terbukti terlalu sering menyebabkan manusia kehilangan kemampuan berpikir kritisnya.

Bukan kebetulan bila agama merupakan contoh terbaik untuk kepercayaan yang bersandar pada ketiga hal itu. Dawkins memang ateis sepenuh hati, yang dengan amat lugas dan berani membela pilihannya. Ateismenya berlaku bukan hanya untuk agama, tapi juga kepercayaan-kepercayaan New Age, bahkan juga pandangan kaum posmodernis yang berusaha menggerogoti legitimasi sains sebagai unsur terpenting modernitas. Ateismenya bukan hanya merupakan sikap pribadi, tapi ia juga pendakwah ateisme yang gigih.

Entah sejauh mana keberhasilan dakwahnya. Yang pasti, ia berhasil membuat banyak orang awam menjadi memahami teori evolusi berkat gaya penjelasannya yang amat baik. Di antara beberapa biolog yang menulis buku ilmiah populer, Dawkins termasuk yang paling fasih mengungkapkan gagasan Darwin dan neo-Darwinis. Buku-bukunya, seperti The Selfish Gene dan The Blind Watchmaker, adalah langganan rak Best Seller di toko-toko buku.

Kunci efektivitas tulisannya adalah ketrampilannya beranalogi dan bermain metafora (selfish gene adalah salah satu yang mungkin paling jitu sekaligus memancing beragam penafsiran). Merek dagangnya yang lain adalah tonjokan-tonjokan kerasnya terhadap para lawan pemikirannya–dalam hal yang menyangkut teori evolusi sendiri maupun isu-isu yang lebih umum, seperti agama, etika, dan budaya. Tak meleset jika ada yang menjulukinya “tukang pukul Darwin” (Darwin’s bully). Agama, di samping gerakan New Age, termasuk yang paling sering menjadi sasaran tonjokan kerasnya, karena keduanya menawarkan suatu sistem pengetahuan yang, dalam pandangannya, bertentangan dengan sains–dengan kesetiaan terhadap evidence.

Bagi Dawkins, agama adalah semacam virus, yang tak berbeda jauh dari virus komputer, atau virus penyakit dari segi perilakunya. Dawkins mengembangkan analogi ini dengan amat serius, dan berujung pada kesimpulan betapa berbahayanya menanamkan virus ini pada anak-anak yang belum memiliki pertahanan diri yang baik.

Dari sisi lain, kepercayaan kepada Tuhan juga tak mendapatkan tempat dalam dunia di mana berlangsung evolusi melalui seleksi alam; evolusi sendiri adalah “fakta yang mesti diterima sama dengan kita menerima fakta bahwa bumi mengelili matahari”, tegasnya. Alam semesta dan seluruh kehidupan di dalamnya berjalan tanpa tujuan. Kemunculan spesies-spesies yang makin kompleks bukanlah tanda adanya “kemajuan” menuju tujuan itu, tapi semuanya akibat kebetulan-kebetulan. Jika ada kasih sayang di alam, maka itu hanyalah akibat sampingan dari persaingan hidup yang berdarah-darah. Namun ini tak berarti bahwa alam itu kejam. “Alam tidaklah baik dan tidak kejam, tapi semata-mata tak acuh,” ujarnya. Ketakacuhan tanpa belas kasihan.

Bagi Dawkins, ini tak lantas berarti nilai-nilai moralitas menjadi tidak bermakna. Tugas manusia adalah melawan tirani alam. Pada titik ini agama seringkali difungsikan untuk memberi makna bagi kehidupan yang sesungguhnya tak bermakna. Juga, untuk menghangatkan alam semesta yang dingin, yang tak peduli pada nasib segala makhluk hidup. Namun tidakkah ini berarti memilih hidup dengan ilusi untuk menghindari realitas yang tak bersahabat itu? Anak kecil mungkin dapat hidup bahagia di alamnya sendiri yang kaya dengan berbagai makhluk khayalan, tapi suatu waktu ia harus menjadi dewasa dan tak bisa terus-terusan meyakini keberadaan mereka.

Sebagian besar dari kita adalah ateis sejauh menyangkut makhluk-makhluk khayalan itu. “Tapi kami hanya selangkah lebih ateis,” katanya, dengan memasukkan Tuhan sebagai makhluk khayalan juga. Dan semua makhluk khayalan, tanpa kecuali, harus ditolak karena tak ada fakta yang bisa mendukungnya. Penolakan ini adalah cermin kedewasaan berpikir. Apalagi, segala kompleksitas alam semesta, yang di masa lalu dijelaskan dengan mengatakan “Tuhanlah penciptanya”, kini telah dapat dijelaskan dengan baik oleh teori evolusi. Lawan Dawkins di sini bukan hanya kaum kreasionis yang menolak evolusi, tapi juga kaum evolusionis teistik, yang membayangkan suatu konsep Tuhan yang masih punya tempat penting dalam alam semesta yang berevolusi.

Persoalannya, kata Dawkins, “Tuhan” para ilmuwan itu bukan lagi Tuhan yang menjadi objek penyembahan dalam agama-agama; bukan Tuhan yang dimintai pertolongan dan mengabulkan doa-doa manusia. Karena itulah ia menolak mentah-mentah klaim yang belakangan populer bahwa “sains dan agama kini mengalami konvergensi”. Sains dan agama yang hidup dalam harmoni adalah sains dan agama yang telah didefinisikan ulang dengan semena-mena. Jika prinsip-prinsip fundamental fisika diidentifikasikan dengan “Tuhan”, jika Albert Einstein, Stephen Hawking, atau Paul Davies disebut sebagai ilmuwan yang religius semata-mata karena mereka mengekspresikan ketakjubannya akan keindahan dan keteraturan alam semesta, “maka saya pun mesti digolongkan sebagai religius,” ujarnya. Tapi lalu bagaimana kita menyebut agama orang-orang yang berlutut di depan Salib atau yang bersujud di atas sajadah? Kalau definisi agama terlalu luas, semua orang bisa disebut beragama. Tapi apa salahnya dengan ini?

Masalahnya, Dawkins punya kepentingan lain untuk menyudutkan agama. Ia melihat agama, sebagaimana dipahami secara umum dan dipeluk begitu banyak umat manusia, telah terbukti berhasil memberi motivasi besar kepada pemeluknya untuk melakukan kekerasan tak terkendali. Dan ini terjadi nyaris di semua agama: Muslim yang menyerang gedung WTC di New York ataupun Kristen Irlandia yang meledakkan bom di tempat-tempat umum. Baginya, peristiwa 11 September bukan alasan untuk menyerang Islam, … tapi Yahudi, Kristen, dan Islam sekaligus! Karena kita terus mendapatkan bukti bahwa agama dapat menjadi amat destruktif.

Apakah ia hanya memusuhi “agama resmi”? “Saya memusuhi ‘agama resmi’ sebagaimana saya memusuhi ‘agama liar'”, katanya. Karenanya ia juga mengkritik dengan amat keras kecenderungan New Age yang berambisi menghadirkan kembali cara tradisional pencerahan jiwa manusia yang menurut pendukungnya telah ditumpulkan sains modern. Bagi Dawkins, upaya menghidupkan “kearifan lama” ini seringkali tak jauh dari sekadar keinginan naif menghidupkan takhayul masa lalu di zaman modern. Pendeknya, semua kembali ke sikap dasarnya: menolak segala kepercayaan yang tak memiliki dasar faktual yang kuat.

Dalam suatu kesempatan Dawkins pernah menyebut orang beragama sebagai “buta, bodoh, dan tertipu khayalannya sendiri”. Terlepas dari gayanya yang amat merendahkan ketika berbicara tentang agama dan orang beragama, nyatanya kaum agamawan cukup menganggap serius tantangan Dawkins.

Sebagai contoh, Keith Ward, teolog dari Oxford, merasa perlu secara khusus menjawab tuduhan-tuduhan Dawkins. Karenanya, tak mengherankan jika melihat indeks bukunya Dan Tuhan Tak Bermain Dadu, “Dawkins” termasuk salah entri terbanyak setelah “Tuhan”! Mengomentari buku Ward, seorang komentator mengatakan “At last, God is beginning to argue back.” Jika itu benar, maka tampaknya salah satu lawan debat Tuhan, bisa kita katakan, adalah Dawkins.

Sebagaimana Dawkins menyatakan malas berdebat dengan kaum agamawan, Ward pun sebenarnya menganggap mungkin tak ada gunanya mengupayakan tanggapan sistematis atas “sekumpulan prasangka tak berdasar” yang diajukan ateis semacam Dawkins. Namun Dawkins menjadi tantangan serius karena, kata Ward, ia adalah ilmuwan yang baik dan penulis yang cemerlang yang mampu membuat orang–teis maupun ateis–memahami teori-teori ilmiah dengan baik. Karenanya, “pembaca mungkin menganggap pernyataan-pernyatan mereka tentang agama memiliki bobot otoritas yang sama beratnya dengan penjelasan mereka tentang sains.” Yang dilakukan Ward adalah mencoba membandingkan kemampuan hipotesis saintisme materialistis ala Dawkins dengan hipotesis Tuhan sebagai penjelasan untuk fakta-fakta yang diterima sains, termasuk teori evolusi. Ward berupaya menunjukkan bahwa hipotesis yang belakangan lebih masuk akal. Strategi serupa, dengan logika yang lebih ketat, dibangun oleh filosof agama Richard Swinburne.

Tanggapan lain yang patut dicermati datang dari Ian Barbour. Ia juga mengemukakan bahwa ketika Dawkins berbicara tentang agama, sikapnya bukan lagi sikap saintifik, tapi “saintistik”. Sumbernya adalah saintisme, ideologi naif yang menganggap sains saat ini sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang bisa menjawab semua persoalan, termasuk persoalan-persoalan di luar ruang lingkup empiris sains.

Yang menarik, dalam bukunya Juru Bicara Tuhan (terjemahan When Science Meets Religion), yang menampilkan tipologi pendekatan mengenai hubungan sains dan agama, Barbour mengelompokkan Dawkins dalam “konflik”, bersama-sama dengan kaum kreasionis yang menolak evolusi karena teori ini dilihat bertentangan langsung dengan ajaran agama. Meski sikap keduanya bertentangan sepenuhnya, namun mereka berbagi satu keyakinan yang sama: bahwa sains (dalam hal ini teori evolusi) mendukung pandangan ateistik. Perbedaanya hanyalah bahwa sementara Dawkins menerima evolusi dan menolak agama bulat-bulat, kaum kreasionis menolak evolusi demi mempertahankan agama.

Sikap saintisme tak mengandaikan kerendahhatian yang mestinya selalu menyertai kaum ilmuwan karena keterbatasan metodenya–dan sesungguhnya sains modern dapat demikian berhasil persis karena secara sengaja membatasi wilayah kajiannya. Nyatanya, jika argumen-argumen Dawkins yang menentang agama (dan perlu dicatat: ini hanya muncul dalam tulisan-tulisan populernya, bukan dalam jurnal ilmiah yang menerapkan peer-review!) diperlakukan sebagai sebuah pandangan dalam, katakanlah, filsafat agama, akan segera tampak bahwa argumen-argumennya tak cukup ketat.

Sesungguhnyalah banyak argumen terpenting Dawkins bukan merupakan barang baru dalam filsafat agama. Persoalan-persoalan seperti theodisi, eksistensi Tuhan, dan sebagainya telah lama menjadi dibicarakan dan, sebagaimana rata-rata persoalan filsafat, tak pernah bisa dikatakan “telah terjawab”. Namun adanya masalah-masalah itu tak serta merta berarti bahwa agama telah kehilangan hak hidupnya, karena agama bukan semata-mata persoalan argumen filosofis. Strategi Barbour, dan banyak kaum beragama lain yang menerima evolusi, adalah memisahkan penerimaan teori evolusi yang disepakati para ahli biologi dari penafsiran metafisisnya.

Lepas dari itu semua, Dawkins memang harus diakui sebagai sparring-partner kaum agamawan yang tangguh. Esai-esainya telah menghidupkan kembali masalah-masalah perennial dalam filsafat agama dengan meletakkannya dalam bingkai pembicaraan kontemporer. Juga, mesti diakui, bahwa teori evolusi memang menantang banyak konsep-konsep teologis. Jawabannya tentu bukan dengan menolak evolusi, tapi memahami dengan baik tantangan-tantangan baru tersebut dan mencoba menjawab dengan sebaik-baiknya.

*) Staf pada Program Studi Agama dan Lintas Budaya, Pascasarjana UGM.

Categories: Canting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*