Tips Segar Menulis Cerpen

Munawir Aziz*
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

Pernah merasakan kemandekan imajinasi atau sulit menghadirkan ide cemerlang ketika menulis? Atau, tak pede dengan cerita yang kita tulis? Penulis pemula merasakan ini sebagai ujian dalam proses panjang menjadi pengarang profesional. Terkadang, serombongan kristal imajinasi teradang tembok tebal. Banjir ide dari kanal imajinasi terbendung kemiskinan kata, kedangkalan bahasa, dan hambatan-hambatan teknis lain. Itulah beberapa hal yang sering dikeluhkan penulis muda.

Penulis pemula sering merasa down ketika menginjak duri kecil di tengah belantara kata dan bahasa. Selalu ada beragam masalah yang menghambat karya lahir, akan tetapi, akan selalu ada cara untuk berkelit dari hambatan, untuk menyelesaikan tulisan. Persoalan ini jarang disadari oleh penulis pemula, karena mental pejuang belum terbentuk secara utuh.

Dalam konteks tersebut, buku Cara Keren Menulis Cerpen tulisan Budi Maryono sangat layak ditawarkan. Ini buku motivasi menulis yang pas buat remaja, dengan bahasa jernih dan mudah dipahami.

Buku kumpulan tips keren menulis yang lahir dari tangan dan imajinasi cerpenis multitalenta ini terasa beda dengan buku motivasi menulis lain. Misalnya buku Mengarang Itu Gampang, karya Arswendo Atmowiloto, mengulas proses menulis dalam bahasa umum, dengan pisau analisis atas teori dan peristiwa secara cepat. Banyak pembaca setelah membaca buku Arswendo, balik bertanya, Wah, biar pun diasah Arswendo dengan bahasa memukau, menulis tetap susah juga!

Namun, buku Cara Keren Menulis Cerpen ini diulas dengan bahasa anak muda, yang gaul, segar, dan komunikatif. Buku ini merupakan kumpulan kolom ulasan dan tanya jawab perihal menulis cerpen, yang ada di rubrik Remaja Suara Merdeka Edisi Minggu. Tak heran, buku ini dimaksudkan untuk menjawab kegelisahan anak muda yang ingin serius menulis. Tentu, seperti metode dialog Plato, tulisan yang berpendar di sekujur buku ini, muncul dengan jurus menjawab, menjelaskan, berbagi pengalaman, tanpa kesan menggurui. Ulasan-ulasan seputar teknis menulis pun terulas jelas. Inilah yang menjadikan buku ini terasa istimewa.

Apalagi, ulasan Budi Maryono mengenai problem di sekitar proses kreatif menulis terasa dekat dengan keseharian kita. Hingga, tak disadari, pembaca akan manggut-manggut, menelusuri rimba kata dalam buku ini. Selain itu, Budi Maryono juga menempel ungkapan-ungkapan baru yang menarik, misalnya Certug (Cerita ora tutug-tidak sampai selesai), penulis pemula-pengakhir, dan rimbun kata lain, yang unik tanpa menyalahi kaidah kebahasaan.

Dalam bagian Bisa-bisa Malah Ngoleksi Certug, ada pertanyaan dari pembaca SM, Masih soal mandek saat nulis nih, Om (Daktur). Cerpen belum selesai, mandek. Trus, aku tinggal, siapa tahu besok atau lusa bisa aku lanjutin. Eh, yang muncul malah ide lain, kutulis, dan lupalah pada cerpen yang pertama. Atas pertanyaan itu, sigap Budi Maryono menjawab, Salah satu tips mengatasi kemandekan emang tinggalkan cerita itu dan sambangi kembali ketika udah siap nulis lagi. Cara ini biasanya manjur, terutama kalau fokus ke satu cerita. Artinya, kita nggak nulis cerita atau apapun yang lain (hal. 12). Argumentasi yang disampaikan langsung ke pusat sasaran, segar dengan bahasa komunikatif, sedikit humor, dan dilengkapi frasa gaul khas remaja.

Pengalaman sebagai cerpenis, redaktur serta puluhan tahun berenang di lautan bahasa menjadikan Budi Maryono seakan punya seribu jurus untuk menangkis hambatan nyata dalam kreativitas dunia cerita. Kepiawaian itu terbaca pada Mengasah Mata Pengarang. Penulis buku ini menceritakan bahwa mata pengarang harus beda dengan mata orang biasa. Mata pengarang harus jeli menangkap tragedi, mengabadikan emosi, dan merekam esensi. Simpati dan empati pengarang yang terasah tajam akan menjadikan ide, imajinasi, dan olah rupa-kata, tak pernah berhenti untuk terus tumbuh.

Simpati atau empati itulah yang menjadikan mata pengarang kita kian tajam. Dengan simpati atau empati, kita bisa melihat sesuatu di balik apa saja yang kasat mata. Dengan simpati atau empati, kita mudah turut merasakan, mengalami apa yang orang lain rasakan. Dengan simpati atau empati, kita bahkan bisa ngebayangin apa yang telah atau akan diomongin seseorang (hal. 31).

Yang jelas, buku ini menebar harapan akan kemunculan penulis-penulis baru. Walaupun banyak mengulas cerpen, namun tips-tips yang ada dapat dipakai untuk menulis apa pun. Saya kira, karya ini hadir karena desakan tanggung-jawab sosial Budi Maryono untuk menyebarkan gagasan dan memotivasi semua orang yang ingin tekun di dunia kata dan bahasa. Hanya saja, sepercik kekurangan yang ada, buku tak mencantumkan sumber tulisan secara lengkap, serta riwayat proses kreatif sang penulis.

Meski demikian, hal itu tak mengurangi aspek motivasional yang segar dan riang dalam buku ini.

*) Penikmat dan kolektor buku, tinggal di Pati.

One Reply to “Tips Segar Menulis Cerpen”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *