Ayah dan Sepotong Bulan

Laila Awalia
http://www.lampungpost.com/

“Ibu, lihat itu! Bulan itu dipotong siapa?”

Tentu, Soraya menunjuk benda setengah lingkaran dengan tangan mungilnya ketika mendongakkan kepala di bawah langit malam yang remang-remang. Ketika itu, Ayah belum pulang, maka Soraya menarik tangan bunda untuk keluar, duduk berjajar menghadap taman. Berharap mata Soraya akan segera menangkap semburat cahaya kuning dari lampu depan mobil Ayah ketika memasuki halaman depan dengan menyuarakan klakson. Bunda telah berpuluh kali meminta Soraya untuk bermain di dalam saja dengan boneka baru pemberian Bibi Jo, atau menonton film kartun yang baru dibeli bunda dua hari yang lalu. Alasan bunda sederhana, angin malam tak terlalu baik untuk tubuh kecil Soraya. Tapi Soraya menggeleng tegas. Ia akan menunggu ayah pulang dan turun dari mobil untuk kemudian memintanya menggendong Soraya di bahu masuk rumah. Hanya itu.

Tapi, ketika ayah tak kunjung pulang juga, Soraya mulai bosan dengan hanya menunggu dan mendengar bujukan bunda. Soraya menghitung bintang yang malam itu tak begitu senang keramaian. Bintang tak banyak muncul dan itu berarti hanya bulan yang menarik perhatian Soraya. Bulan sepotong di antara gumpalan pecah sang awan.

“Tak akan ada yang bisa memotong bulan menjadi dua seperti itu kecuali si anak baik hati yang menyayangi kedua orang tuanya. Ayah dan bundanya. Maka dari itu, ia memotong bulan menjadi dua, memberikannya pada ayah dan bundanya. Yang kau lihat sekarang adalah bulan untuk bunda yang menunggu di rumah. Sedang sepotongnya lagi, dibawa ayah yang belum pulang dari bekerja. Jadi tak terlihat oleh kedua matamu.

“Berarti Soraya dong yang motong bulan itu? Kan Soraya sayang sama Ayah dan Bunda.”

“Kau melakukannya, Soraya?”

“Ya, sepotong untuk Bunda dan sepotong untuk Ayah.”

Begitu selalu yang diucapkan bunda ketika harus menanggapi serbuan pertanyaan Soraya. Tetapi, jika memang ucapan bunda benar adanya, apalah arti bulan bulat sempurna pada malam selanjutnya? Malam lain yang selalu menemani Soraya menunggu ayah. Bukankah bulan bulat sempurna berarti bahwa ayah dan bunda bisa menemani Soraya bermain? Nyatanya, pada malam dengan bulan bulat sempurna, tak pernah ada dua orang itu di samping Soraya. Pasti hanya bunda sendiri. Menunggu hingga bulan pelan-pelan beranjak menuju barat. Apalah arti bulan bulat sempurna itu?

“Ayah tak membawa bulan yang kau coba potong hari ini, jadi kau lihat bulan bulat sekarang.”

“Kenapa Ayah tak bawa bulannya, Bunda?”

“Mungkin Ayah lupa. Atau mobil Ayah sudah tak cukup lagi untuk menampung sepotong bulan pemberian Soraya.”

Mata Soraya penuh selidik mencari kebenaran di mata bunda. Mungkin Soraya terlalu pintar untuk kata-kata yang dipilih bunda kali ini.

“Kan Soraya sendiri yang selalu minta dibawakan mi pangsit dalam porsi besar setiap Ayah pulang kerja? Jadi mobil ayah sudah tak cukup lagi untuk menampung yang lain….”

Demi mendengar bunda berkata mi pangsit kesukaan Soraya, ia tersenyum lalu mulai tertawa dan kembali menghitung bintang yang malam itu tak suka dengan keramaian.
***

Sudah beberapa malam aku tak melihat Soraya. Tak juga mendengar langkah-langkah kecilnya menapaki marmer di teras rumah untuk kemudian sampai di bangku kayu dekat kolam ikan. Aku tak mendengar ocehannya, juga serbuan tanya untuk bundanya. Pertanyaan yang hampir setiap malam akan membuat bunda kewalahan.

Kuingat-ingat, ketidakmunculan Soraya itu dimulai sejak ayah tak kunjung pulang pada malam itu. Saat itu, Soraya dan bunda menunggu ayah di teras rumah, seperti biasa. Hingga Soraya terlelap di pangkuan bunda dan ia lelah menatap pintu pagar. Bunda melangkah masuk, ingin membaringkan Soraya ke tempat tidurnya. Lalu, decitan ban mobil berhenti di depan rumah. Tapi bukan mobil ayah. Sebuah mobil van putih dengan lampu merah di atasnya dan yang kutahu sering meraung-raung di sepanjang perjalanannya, tapi tidak di rumah ini malam itu. Lalu, seorang laki-laki paruh baya berkemeja putih keluar. Menggedor-gedor pintu pagar hingga bunda kembali.

Dalam remang-remang cahaya, aku lihat wajah bunda penuh tanya. Bunda beranjak pelan-pelan. Dahinya berkerut, mulutnya terkatup. Hingga akhirnya, laki-laki itu bicara dengan suara pelan, nyaris tak terdengar. Lambat dan tenang. Dan yang kulihat kemudian adalah bunda terduduk lemas, tangannya menutup mulut dan matanya basah, juga bahunya yang terguncang.

Maka sepanjang malam itu, aku terjaga. Aku hanya bisa bernapas dengan udara yang kurasa telah berbaur dengan aroma duka. Setiap tarikan napasku terasa berat. Bahkan angin malam yang biasa menyentuh lembut kulitku pun terasa nyeri malam itu. Pandanganku semakin remang-remang. Gelap. Tak terlihat lagi lampu taman yanng bulat bundar dekat kolam ikan. Mati. Hingga malam itu aku tak berselera lagi untuk mencari makan.

Ketika pagi kembali, aku sempat merasa aneh bahwa diriku masih di sini. Menatap kursi-kursi yang yang disusun berderet di depan teras. Menatap setiap pasang mata orang-orang yang keluar masuk rumah bunda. Apakah tamu-tamu itu datang untuk menemani bunda yang semalam menangis? Atau tamu-tamu itu datang karena undangan ayah? Apakah gerangan peringatan untuk hari ini? Ulang tahun ayah? Soraya? Atau bunda?

Aku lihat orang-orang ramai berkunjung, tapi wajah-wajah itu sendu. Diam. Muram. Seperti membutuhkan banyak pelukan hangat dan tepukan menenangkan di punggung. Jikalah ini hari ulang tahun Soraya atau bunda atau ayah, mengapalah tak ada balon-balon berkilau di pintu masuk? Yang kulihat di sana, malah papan-papan bunga beraneka warna. Tak ada lalat-lalat yang datang karena tak ada makanan yang tersusun di atas meja-meja panjang. Yang kulihat di sana, malah keranjang-keranjang penuh remah-remah bunga. Kelopak-kelopak bunga beraneka aroma.

Ketika aku ingin melihat bunda di dalam rumah, sekadar ingin tahu apa yang dikerjakannya, pintu masuk telah penuh sesak. Maka, aku mencoba mencari celah di antara kerumunan orang-orang berwajah muram. Aku lewati mereka, berusaha secepat yang aku bisa. Namun sebelum satu tangan besar mengapit tubuhku dengan keras, aku sempat mendengar sang pemilik tangan itu berkata.

“Uh, nyamuk sial!”

Dan aku tak tahu lagi di mana aku berada kini
***

Soraya menatap bulan bulat sempurna di langit malam. Langit luas yang membentang bertabur bintang. Telah berpuluh purnama ia lewati di sini. Senangnya ketika dulu ia masih bersama bunda menghitung bintang sebelum ayah pulang ke rumah. Betapa dulu ia tak yakin atas jawaban bunda ketika Soraya bertanya kemana ayah pergi? Kenapa hingga beberapa hari ayah tak kunjung pulang dan menemuinya seperti biasa? Menggendongnya di atas pundak dan membawakannya mi pangsit kesukaan Soraya. Betapa dulu bunda pandai menyembunyikan raibnya ayah.

Tak pernah ada jawaban dari mulut bunda ketika itu. Tidak. Bahkan tidak ketika itu saja. Setiap kali Soraya memandang bulan bulat dari jendela dan ayah belum pulang, bunda hanya berbalik. Memunggungi tubuh Soraya lalu menggumam tak jelas. Atau bahu bunda akan berguncang dan ia akan melangkah menaiki tangga menuju kamar, menutup pintu, dan Soraya hanya bisa diam. Tak boleh lagi Soraya keluar rumah malam-malam.

Betapa dulu, seharusnya ia tahu bahwa ayah tak akan kembali lagi untuk menggendongnya masuk ke dalam rumah sepulang kerja. Andai dulu Soraya telah dewasa dan mengerti bagaimana harus meredakan kesedihan bunda karena ditinggal ayah. Betapa bodohnya ia mau saja dibawa kerumah Bibi Jo pada pagi yang penuh sesak oleh orang-orang.

Tapi, Soraya masih beruntung. Ia masih memiiki potongan-potongan kenangan indah bersama ayah. Laki-laki yang telah mengajarinya banyak hal sebelum ia pergi. Tentang tanggung jawab, syukur, kasih sayang, dan cinta. Soraya begitu hapal dengan kebiasaan ayah yang senang sekali membuat Soraya kesal karena harus membereskan mainan-mainan yang berserakan.

“Ini tanggung jawab Soraya sendiri. Kalau Ayah yang bermain, pasti Ayah akan membereskannya.”

“Kau tahu Soraya, kenapa bintang-bintang hanya bisa kau lihat malam hari?”

Suatu malam sepulang kerja, ayah menggendong Soraya di atas bahunya. Dan sebelum masuk ke dalam rumah, ayah menunjuk bintang-bintang di atas langit. Itu malam yang sangat indah yang pernah dimiliki Soraya.

“Mungkin karena bintang-bintang takut pada matahari.”

Ayah tertawa ketika itu. Soraya ingat tawa ayah tak kunjung berhenti hingga Soraya ingin menangis karena merasa jawabannya ditertawakan.

“Tidak, Soraya. Kau tahu, langit malam sangat indah jika bertabur bintang seperti ini. Coba kau perhatikan. Kalau siang hari, mungkin tak banyak orang yang akan memperhatikan sekelilingnya. Termasuk langit. Yah, karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tetapi bila malam telah tiba. Semua orang berkumpul di rumah. Seperti ayah yang pulang pada malam hari.”

Ayah berhenti sejenak. Ia menurunkan Soraya dari bahunya dan mengajaknya duduk di bangku kayu dekat kolam ikan. Lalu ayah meneruskan sambil memandang langit.

“Jika malam sunyi begini, kita pasti akan lebih bisa untuk menghayati betapa langit itu indah, Sayang. Betapa bintang-bintang diciptakan sebagai penghias pada malam-malam gelap dan bulan anggun yang setiap purnamanya kau soraki karena terang bernderangnya. Kelak kau akan mengerti bagaimana caranya bersyukur karena pernah menikmati duduk di bawah langit malam seperti ini.”

“Kau akan mensyukuri anugerah pada kedua matamu yang bisa melihat semua isi dunia.”

Soraya terpejam. Kenangan manis bersama ayah perlahan hidup kembali. Ia menatap purnama sekali lagi, sebelum menutup tirai jendela kamarnya dan beranjak merangkai mimpi. Berharap ayah akan hadir dan tersenyum padanya.

Natar, 15 Desember 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *