Mata Pena Mata Hati Raja Ali Haji

Pemprov Kepri pun Meluncurkan Film Roman Melayu
Gunawan Satary
http://www.suarakarya-online.com/

Setelah melalui proses pembuatan yang memakan waktu tiga tahun, film Mata Hati Mata Pena Raja Ali Haji yang diproduseri Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) resmi diluncurkan pada Sabtu lalu. Pemutaran perdana yang bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional tersebut dilakukan Gubernur Kepri Ismeth Abdullah di Studio Satu XXI Mega Mall, Batam.

Sejumlah tokoh masyarakat Kepri terutama dari kalangan budayawan tampak hadir menyaksikan film roman sejarah tersebut. Dari kalangan pemerintahan tampak hadir Wagub Kepri Muhammad Sani, Wali Kota Tanjung Pinang Suryatati, serta sejumlah anggota DPRD Provinsi Kepri. Sedangkan dari kalangan pendukung dan artis film, tampak hadir sutradara Gunawan Paggaru, aktor Alex Komang, dan Henidar Amroe termasuk artis lokal seperti Al Azhar dan Raja Malik Hafrizal.

Film yang skenarionya ditulis Alex Soeprapto Yudho ini mengangkat perjalanan kesusastraan Melayu, menampilkan tiga sekuel: masa Haji Fisabilillah (kakek Raja Ali Haji), masa Engku Putri Raja Hamidah, dan masa Raja Ali Haji.

Dalam laporannya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kepri Drs Iwan Robert Louriux mengatakan, pembuatan film ini dimaksudkan untuk mengingatkan masyarakat Indonesia bahwa Raja Ali Haji adalah tokoh penting dalam perjalanan kesusastraan Melayu dengan karya terkenalnya “Gurindam 12”. Melalui film ini, diharapkan generasi muda tidak melupakan khazanah kebudayaan negerinya yang sudah dikenal sejak zaman dulu.

Film yang berdurasi sekitar 95 menit ini diawali dengan perjalanan seorang penulis bernama Devina ke beberapa pulau di Kepri seperti Daik Lingga, Batam, serta Pulau Penyengat. Tujuannya yaitu hanya ingin mengetahui lebih banyak mengenai perkembangan sejarah Melayu. Informasi mengenai perkembangan sejarah Melayu diketahuinya dari buku berjudul Tuhfat Al Nafis yang diberikan temannya bernama Lis.

Dari buku tersebutlah Devina mengetahui kisah perang di Teluk Ketapang yang mengakibatkan gugurnya Raja Haji Fisabilillah, sehingga tahta kebesaran Melayu diteruskan kepada putrinya yakni Engku Putri Raja Hamidah. Setiap membaca buku tersebut, Devina selalu mengalami halusinasi tentang keberadaan dan kisah heroik seperti yang diceritakan buku tersebut.

Dalam film itu digambarkan tokoh Engku Putri, sosok pemegang regalia tahta kebesaran Melayu, yang tidak bisa menerima rakyatnya diperlakukan semena-mena oleh penjajah Belanda dan Inggris. Dia pun mulai melawan penjajah. Puncak kekesalannya saat Belanda merebut paksa pusaka kerajaan yang mengakibatkan Engku Putri mangkat. Perjuangannya tersebut dilanjutkan kemenakannya bernama Raja Ali Haji.

Namun, upaya Raja Ali Haji melawan Belanda bukan dengan cara kasar. Dia menyerahkan sepenuhnya kepada penguasa alam yakni Allah Maha Besar dan juga melalui tulisan-tulisan. Dia adalah seorang pujangga di bidang agama, sosial, politik, dan sastra “Gurindam 12” yang berisi kaidah bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia.

Secara umum, meski tidak sedikit menuai kritik dari kalangan budayawan lokal, namun kehadiran film yang pembuatannya didanai APBD Kepri sekitar Rp 6 miliar ini disyukuri banyak kalangan di Kepri. “Kalau bukan pemerintah dan masyarakat Kepri, siapa lagi yang mau mengangkat nilai-nilai budaya dan cerita kepahlawanan lokal dalam sebuah karya film,” ujar Edwil Djamaoeddin, salah seorang anggota DPRD Kepri yang ikut menyaksikan penayangan perdana film ini.

Tinggal saja, kata dia, apakah secara nasional film ini akan bisa diterima oleh penonton. Tapi, menurut dia, paling tidak ada upaya Pemprov Kepri untuk memberdayakan berbagai media promosi agar Kepri lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia lainnya. “Ke depan kita harapkan pemerintah Kepri bisa memproduksi film sejenis dengan kualitas yang lebih baik dan penggarapan yang lebih apik,” tutur Edwil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *