FLORET, KIPAS, dan PERTARUNGAN

Aguslia Hidayah*
http://www.korantempo.com/

Di Salihara, koreografer Rury Nostalgia menampilkan perang tanding Adaninggar-Kelaswara secara menarik.

Tak ada anak panah diluncurkan dari busur, seperti diceritakan Yasadipura I dalam Serat Menak Cina. Detik-detik kematian Adaninggar, sang putri Cina, di tangan koreografer Rury Nostalgia diwujudkan dengan penari yang berputar-putar hingga sorot lampu redup.

Itulah klimaks dari Kumolo Bumi, nomor puncak yang dibawakan kelompok tari klasik Jawa, Padnecwara, di Teater Salihara, Sabtu lalu. Nomor itu menggambarkan pertarungan dua prajurit perempuan, Adaninggar putri Sri Baginda Hong Tete, melawan Kelaswara, putri Raja Kelan. Mereka berebut cinta Wong Agung Menak Jayengrana.

Malam itu, bertajuk “Lelangen Beksan”, Padnecwara menampilkan empat nomor tari. Pertunjukan diawali Beksan Noworetno karya Rury Nostalgia. Sembilan penari dalam gerak halus yang serempak menjadi pembuka sekaligus doa guna memperoleh berkah dan keselamatan dari Tuhan. “Karya ini diiringi gending Ketawang Mangunsih,” kata Rury.

Nomor kedua Bondo Boyo. Ini adalah tari yang dimiliki Pura Mangkunegaran, lahir pada masa Mangkunegara IV. Empat penari berkostum prajurit masuk dengan membawa floret, pedang untuk bermain anggar. Unsur anggar ini membuat kita sadar bahwa koreografi-koreografi yang berasal dari istana Jawa Tengah sesungguhnya sering menyerap pernik-pernik keprajuritan Belanda. Ingat Srimpi Sangupati, tarian srimpi karya Pakubuwono IX dari Keraton Solo yang para penarinya membawa pistol.

Tari Bondo Boyo termasuk salah satu jenis tari wireng atau tari keprajuritan. Dibanding tiga keraton lain di Jawa Tengah, Pura Mangkunegaran, mungkin karena sering perang, disebut-sebut banyak memiliki tari keprajuritan. Tari wireng lain misalnya Bondo Yudho, yang penarinya membawa tombak dan tameng. Bondo Boyo menarik karena unsur floret Belanda itu.

Nomor ketiga Enggar-Enggar karya Sunarno dan Wahyu Santoso Prabowo.

Tari ini menampilkan maestro Retno Maruti, yang tak lain adalah ibunda Rury. Retno berpasangan dengan Wahyu Santoso Prabowo. Karya ini bercerita perihal bujuk rayu Damarwulan untuk meyakinkan sang istri, Anjasmara, agar merelakannya, memenuhi titah Ratu Majapahit Kencana Wungu berperang melawan Minak Jinggo. Tembang Jawa yang mengiringi tari dilantunkan sendiri oleh Retno dan Wahyu.

Puncaknya Kumolo Bumi karya Rury Nostalgia, yang diangkat dari kisah perseteruan dua putri cantik dalam kisah Serat Menak Cina karya Yasadipura I. Adaninggar, sang prajurit putri dari Cina, berusaha merebut Wong Agung Menak Jayenggrana, yang tak lain adalah suami Kelaswara. Peperangan Kelaswara melawan Adaninggar tak terelakkan.

Koreografi Rury bertolak dari bedhaya. Jumlah para penari sembilan. Rury menari bersama para penari senior: Nungki Kusumastuti, Wati Gularso, Yuni Trisapto, Menul Sutarto, Rury Avianty, Indah, Christina, Hanny Herlina. Para penari berbalut baju perempuan Cina berwarna putih berkerah panjang hingga leher dan lengan panjang yang kian lebar pada pergelangan tangan. Kain merah melilit bagian bawah. Sanggulnya pun simpel, dengan hiasan dua tusuk konde sumpit. Unsur Cina yang dipadukan dengan Jawa ini menghasilkan kostum tari yang segar.

Rury mengedepankan pertarungan batin ketimbang adu jotos dalam duel dua putri itu. “Meski mereka berantem, tak berarti harus kontak fisik,” ujarnya. Senjata mereka juga bukan senjata tajam, seperti floret atau tombak. Di tengah adegan, para penari mengeluarkan kipas dari pinggang. Kipas dengan dua sisi berwarna merah dan putih ini adalah simbol senjata. Mereka memutar, mengibaskan kipas ini. Bunyi “prakk”, bunyi bambu yang menjadi rangka kipas, saat mereka mengibaskan kipas menjadi kekuatan koreografi sendiri. Dengan kipas di tangan itu, para penari membuat variasi formasi, mulai berjejer, diagonal, sampai berformat bulat mahkota bunga.

Bukan pertama kalinya Padnecwara menggelar bertajuk Lelangen Beksan. Setahun lalu, “Lelangen Beksan” pernah digelar di Teater Luwes Institut Kesenian Jakarta dengan nomor tari berbeda, yaitu Srimpi Ludiromandu, Sekar Puri, Pamungkas, Beksan Noworetno, dan Kelono. Namun, pertunjukan “Lelangen Beksan” kali ini membekas, terutama karena adanya kipas-kipas dengan bunyi “prakk” keras itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *