Gerilya Sastra

Sulistiyo Suparno
http://www.suaramerdeka.com/

MENGHARAPKAN pemerintah untuk lebih memperhatikan pelajaran sastra, seperti pungguk merindukan bulan. Masih untung sastra bisa nebeng pada mapel bahasa dan sastra Indonesia.

Entah mengapa para penggagas kurikulum masih memandang pelajaran bahasa dan pelajaran sastra sebatas cukup dijadikan satu. Setahu saya, keduanya memiliki perbedaan yang mendasar.

Pelajaran bahasa menekankan pada kemampuan anak didik untuk berkomunikasi, mengemukakan pendapat (lisan dan tulis). Sedangkan pelajaran sastra lebih menekankan pada kemampuan anak didik dalam mengolah imajinasi.

Pada tahap berikutnya, seorang yang menguasai ilmu sastra cenderung mampu berbahasa dengan baik. Sebaliknya, seorang yang menguasai ilmu bahasa belum tentu mampu membuat karya sastra. Dilihat dari output (kemampuan anak didik) saja sudah berbeda, lantas mengapa pelajaran bahasa dan sastra masih juga digabungkan?

Benarkah belajar sastra tidak bisa untuk bersaing di dunia kerja dibandingkan dengan belajar ilmu lain yang dibutuhkan pasar? Agaknya pendapat minor itu sudah terpatahkan bila kita melihat perkembangan sekarang. Seiring meningkatnya minat baca masyarakat, kebutuhan akan karya sastra pun meningkat.

Lihatlah di toko buku, telah bertebaran buku-buku sastra. Pengarang-pengarang dan penerbit buku sastra pun bermunculan. Seorang editor dari sebuah penerbitan bahkan mengakui, bahwa buku yang laris manis sekarang adalah buku-buku sastra, mulai dari sastra anak hingga untuk umum. Tidakkah ini dipandang sebagai peluang oleh kalangan pendidikan? Benarkah sastra tidak laku jual lagi?

Selama ini orang memiliki ilmu sastra lebih banyak karena autodidak. Pengarang-pengarang di negeri ini lahir karena ketekunannya belajar sendiri, karena mereka tidak memperolehnya di bangku sekolah.

Selama ini pula pelajaran sastra lebih banyak diajarkan dengan cara gerilya. Yaitu suatu cara yang mencoba keluar dari belenggu kurikulum. Pelatihan kepenulisan, seminar sastra, temu sastrawan, ekstrakurikuler sastra, adalah bagian upaya untuk mengajarkan sastra pada anak didik.

Gerilya sastra ini nampaknya lebih efektif bila dibandingkan dengan pemaksaan agar sastra dijadikan mata pelajaran tersendiri. Karena akan terjaring anak didik-anak didik yang benar-benar berminat pada sastra, dan itu aset yang sangat berharga. Jangan menuntut (bahkan merengek) lagi pada pemerintah. Pemerintah pun terlalu pusing dengan banyak tuntutan.

Lebih baik kita meringankan beban pemerintah. Sastrawan dan pihak sekolah bisa saling bekerja sama untuk memasyarakatkan sastra. Saya yakin banyak sastrawan dengan semangat tinggi akan menyambut gembira kerja sama itu. Semoga.

*) Penulis adalah cerpenis, tinggal di Limpung Batang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *