Heroisme yang Menipis

Wishnubroto Widarso
http://www.bernas.co.id/

GAUNG perayaan ulang tahun ke-63 Kemerdekaan kita masih terasa. Baru beberapa hari berlalu. Seperti biasa, ada sederet lomba meriah, baik bagi anak?anak, remaja maupun orang tua; baik yang melibatkan otot (semacam lomba lari suami menggendong istri) maupun yang sedikit memerlukan cita rasa seni (semacam lomba nyanyi karaoke); baik yang berhadiah “hanya” seperangkat alat tulis maupun pesawat TV. Pendeknya, dari segi seru dan hebohnya, perayaan 17?an makin hari makin meningkat.

Tapi perayaan kemerdekaan mestinya bukan hanya soal “seru”, “heboh”, dan semacamnya. Mestinya perayaan kemerdekaan adalah terutama soal memahami sejarah nasional secara utuh (tidak hanya satu faset saja), menghargai perjuangan para founding fathers and mothers, tidak saja yang mempunyai nama besar dan bersinar tapi juga yang tak dikenal atau terpinggirkan, dan soal meneladani perjuangan para perintis negeri ini. Sayangnya dalam soal?soal ini kita lemah.

Mana heroisme itu?
Mendekati ulang tahun Kemerdekaan 17 Agustus setiap tahun sering ditulis dalam media cetak dan ditayangkan di layar kaca perjuangan “orang?orang besar” semacam Soekarno?Hatta?Syahrir. Sepak terjang “raksasa?raksasa” itu diulas lagi, tempat?tempat di mana mereka pernah diasingkan ditampilkan lagi, sering dengan bumbu keprihatinan karena pemerintah sekarang kurang care, kurang nguri?uri tempat?tempat bersejarah itu. Juga buku?buku tentang mereka atau yang mereka tulis sendiri dicetak atau dibahas ulang. Itu semua baik. Tapi bagaimana dengan “orang?orang kecil” yang juga ikut berjuang, yang juga ikut “sakit dalam melahirkan” republik ini? Mereka seolah tidak ada atau perannya dianggap tidak penting.

“Orang?orang kecil” yang dimaksud adalah, pinjam istilahnya Romo Mangun, “simbok?simbok dan pak?abang desa.” Dari tulisan beliau yang berjudul Sejarah dan Sejarah yang dipublikasikan hampir 30 tahun lalu itu kita tahu bahwa peran para petani kecil dan miskin di desa?desa tak kalah pentingnya dengan peran para pejuang yang memanggul senjata. Para pejuang yang berkelana di desa?desa atau hutan?hutan karena dikejar?kejar tentara Belanda biasanya dihidupi oleh para petani kecil dan miskin itu, sering tidak hanya satu?dua hari saja tapi sampai berminggu?minggu!

Jika ada sandiwara yang dipentaskan dalam acara perayaan kemerdekaan, baik di panggung?panggung kampung maupun di televisi, biasanya yang ditampilkan adalah tentara Belanda yang bicara Bahasa Melayu dengan kacau yang berperang melawan pejuang Indonesia yang bersenjata dan pakaiannya berlumur darah. Begitu dari tahun ke tahun. Sungguh klise. Kepahlawanan “orang biasa” semacam simbok dan pak tani miskin atau orang?orang kampung biasa yang sering jadi sasaran amuk para tentara Belanda karena gagal menangkap para pejuang bersenjata yang sudah terlanjur kabur, jarang atau hampir tak pernah ditampilkan, apalagi didudukkan dalam posisi yang semestinya.

Jika Anda tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Romo Mangun akan peran penting para simbok dan pak tani (atau: “orang biasa”), silakan baca karya?karya sastra yang bercerita tentang perjuangan di tahun 1945 (dan beberapa tahun sesudahnya). Cerita?cerita yang dapat menyadarkan kita akan betapa sakitnya, betapa menderitanya kakek?nenek kita dalam “melahirkan” republik kita tercinta ini, antara lain dapat dibaca dalam kumpulan cerita pendek berjudul Hujan Kepagian dan Tiga Kota karya Noegroho Notosoesanto, Laki?Laki dan Mesiu karya Trisno-yuwono, atau Daerah Tidak Bertuan karya Toha Mohtar.

Sayang, karya?karya seperti ini makin lama makin asing, bahkan dalam dunia pendidikan sekalipun. Apalagi di dunia umum. Karya?karya semacam itu sekarang sudah menduduki rak?rak berdebu dalam gedung perpustakaan dan pojok?pojok remang dalam ingatan orang?orang sekolahan. Sungguh memprihatinkan!

Peran internet
Dewasa ini komputer dengan akses ke internet sedang menjadi primadona. Tidak saja para pelaku bisnis yang getol memanfaatkannya, tapi juga para guru?dosen dan siswa?mahasiswa. Alangkah baiknya kalau “demam internet” ini juga dimanfaatkan untuk membeberkan perjuangan dan peran “orang kecil” dalam meraih kemerdekaan kita. Saya tidak tahu persis apakah ada situs di internet tentang para “pahlawan yang dilupakan” ini. Kalau sudah ada, bagus. Tinggal dipromosikan agar lebih banyak orang mengaksesnya.

Kalau belum, sudah saatnya dibuat situs semacam ini yang akan memuat feature para veteran yang tidak dikenal dan hidupnya memprihatinkan dan peta desa?desa di mana dulu para gerilyawan dari kota atau pejuang bersenjata kita mondok di rumah?rumah simbok dan pak tani selama berminggu?minggu, menikmati kudapan dan penginapan nan gratis. Sudah saatnya karya?karya sastra heroik yang menceritakan perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan di sekitar tahun 1945 ditampilkan lagi di situs?situs yang dibuat oleh Departemen Pendidikan Nasional atau oleh orang?orang yang mampu menggunakan teknologi internet sekaligus peduli pada peran penting “orang?orang kecil” dari desa dan kampung itu.

Menipis dan luntur
Jika kita tidak segera melengkapi faset sejarah kita dengan menampilkan peran orang?orang kecil atau biasa yang sekarang (hampir) terlupakan, generasi mendatang tidak akan tahu bahwa kemerdekaan yang kita capai 63 tahun lalu itu betapa mahal harganya. Bahwa berlaksa nyawa dan berbelanga darah para pejuang, baik yang bersenjata maupun yang tak bersenjata, tercecer?cecer sepanjang jalan menuju ke kemerdekaan, tak akan diketahui oleh generasi yang akan datang.

Mereka akan mengira kemerdekaan itu jatuh dari langit atau hadiah?atas?dasar?belas-kasihan penjajah kepada bangsa kita. Heroisme mereka akan menipis dan akhirnya luntur sama sekali. Mereka lalu tak mau peduli apakah bangsa ini akan lestari atau lampus. Mereka tak akan peduli apakah bangsa ini berprestasi atau miskin kreasi di era mendatang dan tersisih oleh bangsa lain yang bahkan serumpun. Heroisme kita semua harus ditumbuhkan lagi. ***

*) Penulis nonfiksi dan dosen ABA St. Pignatelli, Solo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *