Kekuatan Sastra Indonesia di Facebook

(Wawancara bagian II dengan Hudan Hidayat)

Arif Gumantia (Pewawancara)

(Arif Gumantia): sebuah jawaban yang sangat komprehensif , terus saya mendengar mas hudan sedang menyiapkan buku antologi penyair perempuan di facebook…menurut mas hudan apa sebenarnya yang memotivasi anda dalam membuat Buku antologi ini dan bagaiamana relevansinya dengan kemajuan sastra indonesia kini?

(Hudan Hidayat): nah itu keren bung arif gumantia dan dari oak oak sastra ini yang paling amat saya sukai adalah bicara soal buku, buku kita sendiri. buku itu memang ingin saya buat walau tak berkait dengan ide festival yang lagi dibuat dan sedang dipanggungkan kawan saya taufik rahzen. ide buku itu perempuan dalam fiksi itu ya adalah kelanjutan dari makalahku untuk seminar di malayasia itu, saat pihak malaysia mengundang untuk bicara fiksi perempuan mutakhir itu. maka jawabanku saat mujib dari bagian festival itu meminta naskah kubilang ada dan fiksi perempuan tapi kini lalu saya berpikir sukar mencari 99 nama seperti yang simbolik mereka minta.

tapi lalu kini saya berpikir kembali bukankah ini saatnya untuk sebuah momentum kebangkitan sastra maya melalui juga instrumen buku atau cetakan itu. maka mengapa tidak sekalian dengan sastra kaum sastrawannya yang lelaki sekalian dan lalu saya maju lagi mengapa tidak sekalian juga sastra dari mereka yang gay dan lesbian. maka untuk bukan semata 99 nama saya meluaskannya menjadi sastra yang ada di facebook saja dengan memakai 99 pengarang dari ketiga jenis kelamin itu

saya kira itu usah yang adil dan fair atas apa yang kita usahakan bersama selama ini. semua orang di sini menulis sastra dan semua berhak mendapatkan perayaannya seandainya ada buku sastra yang hendak dibuat seperti yang lagi saya buat. tapi pagi pagi saya nyatakan tak mungkin saya bisa merambah semua yang ada di sini karena terbatasnya dan selalu ingatlah saya terus bekerja sendirian dan bukan hanya mengambil kan apa yang saya kerjakan itu nyaris tiap buka waktu malah terbengkalai nama nama yang ingin saya ambil karena udah keserap tema tema dan keinginan saya menulis sendiri itu

saya memang membaca tapi mengambil adalah soal lain lagi hehe dan sebenarnya itu kan tugas seorang sekretaris tapi sekjen saya ternyata juga seniman maghie kan dan itu tak mungkin saya mengorbankan orang yang hendak mencipta maka derita itu idih derita haha biarlah saya tanggungkan sendiri. sambil mejam mejam kita akan ambil satu demi satu dan deadline buku itu maju dikit kan yakni ujung bulan ini.

dengan buku itu kita hendak menunjukkan pertama perayaan sastra di mana orang biasa bisa mempunya ibuku sastra entah lanang entah betina dan entah seks ketiga itu. semua bisa punya buku sastra. lalu kita hendak coba tunjukkan memang ada pencapaian sastra yang tlah dan sedang terjadi terus di media maya ini dan itulah pentingnya ontologi itu – menunjukkan ini lo wajah sastra maya yang kualitasnya sungguh tidak kalah dengan wajah sastra cetak buku dari ia mereka yang sudah dikenal sebagai seniman sastrawan di republik kita sama sama ini.

saya mendengar dari staf intelegensi saya hehe bahwa pihak saut dan beberapa kawannya dari jogya mungkin terbakar juga dengan apa yang saya teriakkan setiap hari ini dan mereka juga sedang menyiapkan sebuah ontologi dan saya langsung tepuk tangan senang karena bagi saya bukan harus hudan atau saut atau sitok atau nugroho suksmanto yang dapat dan harus membuatkan buku untuk perayaan sastra indonesia sebagai bagian dari kebudayaan indonesia dan sebagai keseluruhan dari peradaban kita itu tapi

kalau bisa semua pihak membuat buku sastra dan bukan hanya buku sastra tapi juga buku buku di bidang bidang lainnya kerena buku, bagiku, bukan hanya tumpukan kertas mati tapi adalah jelmaan dari kenyataan yang kini bukan terkurung di balik aksara tapi ia hidup dan melompat ke angan angan tiap pembacanya dan karena itu maka buku itu memang selalu menjadi penting bagi tidak hanya kita tapi keseluruhan masyarakat ini atau bangsa ini

buku bukan jendela jiwa tapi buku adalah kuas dari hati nurani manusia yang sedang melukiskan sebuah kehidupan sebagai bagian dari totalitas kehidupan holistik ini dan dan lukiskanlah baik baik silhuet bangsa ini dalam gelapnya dan dalam terangnya dari ia peristiwa yang masuk ke palung palung misterinya berputar di labirin labirin sembunyinya dan ah seperti itulah buku itu hendaknya.

(Arif Gumantia): sebuah upaya yang patut di apresiasi dengan sangat tinggi oleh semua yang mengaku cinta pada sastra Indonesia kita, dan pertanyaan penutup mas Hudan, apa pesan mas Hudan kepada kita ini yang sekarang sedang bergiat dalam sastra facebook ini?

(Hudan Hidayat): saya tidak ingin kita hanya berhenti pada antologi itu tapi saya hendak dan inilah mimpi saya sesungguhnya – bahwa tiap orang yang menulis sastra di sini memiliki buku sastranya sendiri sendiri. tak usah kita pikirkan bagaimana cara menerbitkannya tapi mari kita pikirkan bagaimana cara menghasilkan naskah yang berguna.

kelak tuhan akan turun ke bumi mengulurkan tangannya sambil berkata wahai kalian pengarang hebat dari dunia maya facebook ini mari pegang tanganku kubawa terbang ke mimpi mimpimu itulah yang setiap hari harus di bakar bakar bakar bakar bakarlah dirimu sendiri dari api yang menyala dari neraka dan dari surga hidup yang datang dari tuhannya!

bakar bakar bakar hancurkan tiap tiap penghalang dan buat revolusi kebudayan tiap hari dari langit langit jiwamu yang kamu tutus dengan batu sobekkan dengan kapak tajammu dan robek robek isi perut sendiri dan makan semua anggota tubuhmu sendiri lawan semua putus asa dan segenap kepayahan dalam diri dan…

tuangkan darahmu sendiri kedalam cawan anggur darahmu sendiri dan minumlah dengan sekali tegukan dan minumlah lagi dan lagi dan minumlah lagi darah dari derita dan bahagiamu sendiri cari sampai ketemua dan bawa segenap siliet tajam untuk itu. iris nadimu sendiri sampai mati dan nikmati kesakitan dan kebahagiaan dari tiap darah rohmu yang mengucur dari segenap luka telan … Read Moresampai habis dan telan pula angkasa masukkan ke dalam jiwa dan semburkan menjadi laut lepas dari ciptaan pena bulu angsa yang anggun dari hatimu yang bening menyimak dan memandang hidup.

selalu menulis dengan bening. jangan tergoda untuk tiap hari menulis. jangan menulis untuk gagah gagahan. capailah dan tujukan tiap penulisan adalah untuk memuja tuhan kita walau tulisan itu syair seperti yang diperagakan jenius kita penyair sudi ono yang membuat syair yang datang dari dunia kegelapan sebab gelap dan terang adalah dan memanglah miliknya juga.

jangan malas saling menulis dan saling membaca karena tanpa kalian sadari saling menulis dan saling membaca itu adalah salah satu jurus rahasia dari perguruan keramat sastra tuhan hudan yakni bagian kedua yakni alah bisa karena biasa yang artinya itu adalah latihan telak untuk melemas lemaskan penis tangan bulu angsa kita

jangan suka memaki orang atau menggosok gosok orang dari belakang dan jangan seolah kita memiliki moral karena tiap diri yang turun ke bumi setan di kanan bahu kiri dan malaikat di kanan bahu kanan dan setan dan malaikat mengeram dalam badan dan tumpah dalam ciptaan dan kelakuan.

intinya sudah jangan main main gosok gosok minyak angin tapi menulislah. kalau belum mampu diamlah dan bacalah dan lalu ulangilah lagi menulislah.
akhirnya…
de dor
de dor
de dor

duar!
biarkan tiap diri mewujudkan kegembiraannya dalam mencipta.
idih.

(Arif Gumantia): sungguh sebuah bincang-bincangyang sangat menarik dan mencerahkan dari seorang sastrawan besar yang sekian lama malang melintang di dunia sastra indonesia… Bravo… bravo sastra indonesia… de dor….

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *