Penghikayat Ular

Mardi Luhung
jawapos.com

Adam, berapa tahun kita terusir? Apa 100, apa 1000, apa 2000 tahun? Kita lupa bukan? Tak apa. Yang pasti, perut kita telah menggelambir. Rambut merontok. Dan sebagian gigi menghitam. Menghitam seperti hati kita yang begitu lama dipanggang oleh matahari yang merendah. Matahari yang menghanguskan ingatan yang berlompatan.

Berlompatan seperti tupai yang nakal. Nakal dari satu pohon ke pohon yang lain. Dari satu dahan ke dahan yang lain. Lalu berhenti pada sebuah pucuk. Sambil memandang langit yang tersaput awan. Awan yang berbentuk angka delapan. Angka delapan yang melingkar-lingkar. Seperti lingkaran yang dibikin oleh si ular dulu. Si ular yang dengan licik mendesis di kuping kita. Menyodorkan Yang Terlarang.

”Hai, mengapa tak kalian ambil saja,” kata si ular.

”Tapi, ini terlarang.”

”Apanya?”

Dan kita tercekat.

”Sudahlah ambil saja. Dan makan secepatnya.”

Dan kita ragu.

Dan entah mengapa, kita pun mengambil Yang Terlarang itu. Terus memakannya. Memakannya dengan sebat. Sampai habis. Sampai kita merasa sudah tak ada lagi yang tersisa. Dan si ular pun zleb menjelma segumpal gelap yang begitu luas. Yang saking luasnya tak ada lagi celah yang dapat kita lihat. Hanya suara bening yang terdengar. Suara bening yang begitu tak kita mengerti. Tapi seperti membuka sebuah lorong untuk kita susuri. Lorong yang menuju pada pintu yang terbuka. Pintu yang mengantar kita pada keterusiran dan keterpisahan. Dan pintu yang segera menutup. Menutup juga segala yang ada di belakang kita.

Adam, apa julukanmu masih tetap? Tetap dengan huruf yang seperti pohon mangga, petir hijau dan kucing liar yang punya mata berkaca itu? Huruf yang selalu meringkuk di lekuk lidah. Dirubung mimpi tentang pasir yang selalu menggigil. Dan juga tentang meteor yang tiap malam menghunjam. Membuat kita menyebuti nama Bapa yang ada di mana saja. Bapa yang mulia itu.

Dan Bapa yang telah mengajarimu segala hal. Mulai dari memasak, bertani, menghitung sampai bersepeda di pantai. Bersepeda sambil bernyanyi. Bernyanyi dengan suara yang lantang. Suara yang berdentang. Yang berisi tentang hidup yang terbang. Menukik. Memotong. Menaik dan menyeberang. Sambil terus menelisik: ”Mana tempat yang penuh pinus. Mana yang penuh kaktus. Dan mana pula yang demikian membentang. Membentang dengan humus yang setebal kamus.”

Lalu jika pegal, kau pun berhenti kemudian memancing. Memancing bersama kura-kura. Si binatang yang bercangkang purba. Si binatang yang berjejer dengan jumlah yang tak terhingga. Yang suaranya menguik-nguik. Si binatang yang akan mengantarmu ke tempat-tempat yang sedap. Baik dengan pelan ataupun kebat. Dan kau pun bahagia. Tawa berderai. Lumut, ganggang dan kerang yang mengintip pun saling mengangguk-angguk. Seperti anggukan sekian cahaya yang pernah bersujud di depanmu. Cahaya yang berlesatan dengan kekuatan gaib yang begitu sempurna.

Cahaya yang putih berkilau. Yang selalu memandangmu penuh ketakjuban. Ketakjuban yang demikian telah mewarnai lingkaran di kepalamu. Lingkaran yang akan membuat semuanya tertegun. Sebab akan mengangkat yang jatuh jadi terbangun. Yang terbangun jadi berlari. Dan yang berlari akan melesat seperti anak panah yang lepas dari busur. Sebab memimpikan sepercik titik di matamu. Titik di mata yang begitu indah ketika melihat bintang-bintang yang membuar. Bintang-bintang yang sesekali kau petik. Lalu kau selipkan di selipan kupingku. Kuping yang bergiwang hijau yang murni. Hijau yang juga turut mengangguk-angguk.

”Aku ingin hidup selamanya denganmu, Hawa,” katamu.

”Aku juga,” jawabku.

”sungguh?”

”Sungguh.”

Lalu kita pun merasa tubuh ini menjelma laut. Laut yang dalam. Laut yang berisi sekian jenis ikan yang bersirip bianglala. Bianglala yang membawa kita kadang ke atas. Kadang ke bawah. Berguling-guling. Bertumpang-tindih. Saling-rengut. Saling pagut. Seperti pagutan dua warna yang diseduh. Dua warna yang sering mewarnai bentangan kakilangit yang jauh. Kakilangit yang membuat kita sering salah menebak. Menebak kelinci ternyata zebra. Menebak zebra ternyata cuma bayangan kayu yang meranggas. Yang tua dan seram. Dan yang membuat kita terus berpegangan. Berpegangan erat. Agar tak lepas. Agar ketika telah selesai, kita pun jadi tahu, jika pantai pun kembali menerima kita dengan kelegaannya. Kelegaan yang begitu mendebarkan.

Adam, kini kerjamu apa? Bangun, berak, tidur dan sesekali berkenalan dengan si penyunting. Ataukah seperti si pemahat yang memahati tebing? Sampai tebing berdarah. Dan nyawanya terlepas. Tepat di hari tanpa kutuk. Kutuk tentang perairan semata. Perairan dengan kisah penolakan yang tak kita pahami.

Kisah penolakan yang bermuara pada tanya: ”Mengapa di tempat asal kita dulu masih ditanami Yang Terlarang?” Apakah memang begitu adanya? Ataukah hanya bagian riwayat yang mesti kita alami? Riwayat yang merupakan bagian dari sebuah ujian: ”Ujian kita!” Lalu untuk apa? Apa perlu sesuatu yang telah dibikin dengan matang itu diuji, diuji, dan diuji terus? Ah, aku pun jadi teringat pada si ular dulu. Si ular yang mendesis. Si ular yang tak mau bersujud padamu. Yang dengan dingin berkata: ”Maaf, aku tak akan bersujud pada Adam. Sebab aku merasa, perintah untukku hanya bersujud pada Bapa. Dan selain perintah itu, aku menganggap cuma sekadar ujian. Ujian untuk aku jalani dengan tabah. Sekali lagi, maaf!”

”Sudahlah itu rahasia. Tak perlu diingat!” kilahmu seketika.

”Rahasia?”

Kau tersenyum.

“Tapi, aku tak bisa melupakannya.”

Kau tetap tersenyum.

”Si ular itu kan cerdas, pintar dan juga teguh?”

”Tapi, sombong!” tambah kilahmu lagi.

Aku tak mengerti. Sepertinya habis sudah apa yang akan aku bicarakan. Lalu (seperti biasanya), kau mendekat padaku. Terus menghisap napas kewanitaanku yang tegar. Napas kewanitaan (yang menurutmu), adalah hal yang terindah yang aku miliki. Juga hal yang akan membuat ujian kita makin memanjang. Memanjang dengan darah, keringat dan kecemburuan. Kecemburuan yang punya dua wajah: ”Wajah depan dan belakang.” Dua wajah yang meski sama persis tapi punya aroma yang berbeda. Yang saling tukar-tangkap. Jika yang depan wangi, yang belakang busuk. Dan jika yang belakang wangi, maka yang depan pun sebaliknya. Tak tertebak. Hanya bisa ditempelkan di dinding-dinding.

Seperti tempelan gambar wajah si setiap yang ingin maju. Maju dengan teriakan dan kepalan tangan. Juga dengan segenap kekuatan dan kekuasaan yang diimpikannya. Kekuatan dan kekuasaan yang katanya akan menegak. Tapi justru miring ke kiri. Mau miring ke kiri, justru mundur ke belakang dan lari. Lari untuk sembunyi di balik-balik semak. Tiarap. Lalu mati jadi tai. Tai dalam segala bentuk dan ukuran. Tai besar, kecil, dan sedang. Tai pipih, lonjong, dan kering. Bahkan, ada juga tai yang pandai memasuki mimpi kita. Memasuki secara bergerombol dan menggunduk. Menggunduk seperti gunung yang menjijikkan. Gunung yang menggeram seperti tak putus-putus.

Dan yang ditinggal? Astaga, Adam, astaga, yang ditinggal akan menjadi terpontang-panting. Keblingsatan. Cuma bisa memanggil dan memanggil. Tapi memanggil siapa? Sudah tak ada lagi siapa-siapa. Hanya ada ruang kosong yang lengang. Ruang kosong yang penuh tebaran daun kering. Apa yang ditinggal itu mau makan daun kering? Ya, seperti kehilangan induk, semua yang ditinggal itu pun mencari batu. Batu yang jika dicelup ke air akan dianggap menjadi penawar. Penawar bagi yang akan menyerimpung dengan sayapnya yang bergerigi. Sayap yang tak mengenal kata ampunan. Apalagi sekadar kata maaf. Mencemaskan!

Adam, kita memang telah terusir. Kita memang telah terpisah. Dan setelah kita berjumpa ini, apa masih kau inginkan tempat asal kita dulu. Tempat asal yang saat kita tinggal, tertinggal juga rongga di badan kita. Dan itu yang membuat kita begitu ingin memanjati tangga. Tangga yang akan menuju ke setiap tekuk yang mengganjal di kerahasiaan diri kita.

Diri kita yang kini selalu saja diburu oleh yang berlipat-lipat. Berlipat-lipat tanpa pernah berhenti. Terus dan terus. Datang dan datang. Tanpa lelah. Tanpa bosan. Kadang dengan menunggang bandang. Kadang dengan menghela gempa dan banjir. Menjebol dan membetot. Sampai kita melihat tak ada lagi yang akan dapat beristirahat. Cuma bisa mengelak dan mengelak. Sambil mematut-matutkan wajahnya di cermin. Cermin yang telah dikeramatkan. Cermin yang telah menghablur. Cermin yang telah digosok oleh kebebalan yang kenyal. Kebebalan yang begitu bangga dengan gandulan di lehernya. Yang membuatnya seperti seekor unta yang lelah. Seekor unta yang dikitari oleh taring-taring yang bersiaga. Dan cermin yang selalu berbincang seperti ini.

”Cermin, siapa yang paling tampan?”

“Kalian.”

”Cermin, siapa yang paling ayu?”

”Kalian.”

”Cermin, siapa yang paling di depan?”

”Kalian.”

”Dan cermin, siapa yang paling cepat kembali ke tempat asal?”

Cermin tak menjawab. Cermin pun segera ditabrak.

Pecah!

Dan malamnya.

Tepat pukul 24.00.

Di kamar rias, penghikayat itu menghapus riasan di wajahnya. Wajahnya yang lonjong dan cokelat pun kembali terlihat. Wajah yang sepertinya baru kembali dari dunia yang penuh fantasi. Dunia hikayat. Dunia yang lentur. Yang dapat mengubah setiap benda yang dipegangnya menjadi manusia, senjata atau apa saja. Dunia yang selalu dimulai dan ditutup dengan: ”Tuan-tuan dan Puan-puan, marilah kita belajar pada hikayat. Agar lebih bisa menghindari bencana!” Sedang di lantai: botol air yang tadi berperan sebagai Adam, pisang goreng sebagai Hawa, tampak teronggok. Memang Hikayat Adam dan Hawa yang dimainkannya tadi mengambil dua benda itu sebagai peraga. Dan penghikayat pun puas.

Lalu, subuhnya.

Tepat pukul 03.00.

Di ruangan kontrakan yang berantakan. Berantakan oleh buku-buku tebal dan tipis. Buku-buku yang bergambar orang berjenggot, gundul, dan cebol. Dengan gaya gelisah, tenang, dan bahkan ada yang selalu merasa lebih kuat dari maut, penghikayat pun tampak tidur mengangkang. Matanya terpejam. Mulutnya terkatup. Sedang punggungnya melengkung seperti punggung ikan hiu yang terdampar. Ikan hiu yang jelek dan muram. Tapi, jika kita punya pandangan yang menembus, maka kita pun akan tahu, penghikayat itu sedang ngelindur. Dan di dalam ngelindur itu, ternyata si ular lagi-lagi sedang mendesis di kupingnya. Dan, kali ini, malah mencari Yang Terlarang.

Yang Terlarang yang telah lama tertanam di dalamnya!

(Gresik, 2009)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *