Sastra dan Spiritualitas (3)

Yudi Latif
http://www.kompas.com/r

Sastra-Spiritualitas Nusantara
Tradisi sastra-spiritualitas juga memantul di kepulauan Nusantara, antara lain dengan menggunakan bahasa Melayu. Bahasa Melayu telah mengalami banyak perkembangan sebelum ia digunakan sebagai alat bagi sastra metafisika dan filosofis Islam. Kedatangan para pelayar Arab dan kaum misionaris, terutama sejak penyebaran Islam di Nusantara, mulai mengenalkan huruf-huruf abjad Arab sebagai simbol-simbol tertulis bahasa Melayu (Al-Atas, 1969). Kontribusi kedua yang diberikan oleh para wali sufi dan kaum misionaris adalah pengenalan dan penyebaran ajaran dan sastra Islam, terutama dalam bidang tasauf (sufisme) dan kalam (teologi). Sama dengan bahasa yang digunakan dalam pelbagai wacana sufi, sastra sufi dari dunia Arab dan Persia diperkenalkan ke dunia Melayu. Beberapa karya telah diterjemahkan dan yang lainnya diajarkan dalam bahasa asli mereka.

Jejak-jejak para ilmuwan dan sufi Muslim yang paling klasik bisa ditemukan dalam tulisan-tulisan para pemikir sufi Melayu setelah abad ke-7 H/13 M. Istilah-istilah yang beragam, bersama makna dan hubungan-hubungan di antara mereka, dibawa ke Melayu dan membantu mengembangkan bahasa tersebut sebagai alat untuk menuangkan pemikiran religius dan ilmiah. Lebih-lebih, orang-orang Melayu sendiri telah memformulasikan istilah-istilah yang merujuk pada pelbagai makna spiritual dan nonspiritual dalam tindakan yang sama. Hamzah Fanshuri, pemikir dan penyair sufi Melayu abad ke-11 H/17 M, misalnya, merujuk pada kehendak Tuhan (iradah) untuk menciptakan dunia dengan kata hendak alih-alih mahu. Berkaitan dengan pengetahuan, bahasa Melayu membedakan antara tahu (mengetahui), faham (memahami), kenal (mengetahui dengan pasti).

Transformasi makna dari dimensi horizontal ke dimensi vertikal, realitas melalui diferensiasi muatan semantik kata-kata Melayu menandai sebuah perubahan historis, yang bertujuan mencapai formulasi bahasa sistematik untuk wacana filosofis melalui media sastra. Sebagaimana kita tahu, sebelum kedatangan Islam, mitos-mitos telah digunakan untuk menunjukkan adanya realitas yang lebih tinggi dari manusia. Ekspresi estetik dalam sastra dahulu merupakan pemikiran manusia yang dominan dan menyeluruh tanpa menyediakan bahasa abstrak apa pun untuk mengakomodasi aspek-aspek intelektual pikiran manusia.

Namun, para wali sufi di dunia Melayu-Indonesia tidak mengeliminasi seluruh unsur dongeng dan hikayat dalam sastra Melayu ketika memperkenalkan pelbagai risalah sufi kepada masyarakat di sini. Melalui tahapan gradual, arti penting dari hikayat-hikayat itu menurun, sementara ajaran-ajaran esoterik Islam mulai menggantikan tempat mereka. Orang-orang Melayu, melalui proses Islamisasi gradual, pertama melalui pengenalan syariat kemudian tasauf (terutama metafisika sufi) menyadari perbedaan antara bacaan-bacaan populer yang menghibur dan sastra formal. Di sini istilah hikayat pada umumnya merupakan bacaan estetik yang digunakan untuk hiburan, sementara kitab sebagai istilah yang diberikan untuk sastra formal yang serius.

Sementara itu mengenai tema, teori tentang penciptaan dalam sastra Islam sama tuanya dengan ajaran Islam sendiri. Selain itu, sastra Islam juga menggunakan simbol-simbol untuk mengungkapkan kerinduan akan cinta-Nya dan merepresentasikan asal-muasal sumber penciptaan. Amir Hamzah, misalnya, digambarkan oleh A. Teeuw sebagai “satu-satunya penyair Melayu ‘modern’ yang kembali pada puisi Melayu religius ‘tradisional’ yang berwarna-mistik, yang pada gilirannya bisa ditelusuri kembali secara langsung atau tidak langsung kepada para mistikus besar Islam (Jalaluddin Rumi, Ibn Arabi).”

Di sini tampak betapa kayanya contoh-contoh historis bagaimana dimensi reliogisitas dalam sastra tumbuh seiring dengan dinamika perkembangan masyarakat. Mitos-mitos lokal berakulturasi dengan mitos-mitos baru yang secara gradual menumbuhkan kesadaran baru akan dimensi transendental yang berpijak pada pertimbangan rasional.

Memasuki perkembangan budaya kontemporer, tampaknya tema sastra bercorak religius tidak pernah mati. Apakah ia sebagai jawaban atas kekeringan kehidupan batin manusia modern ataukah sebagai pelarian dari kekerasan kehidupan yang masih diliputi konflik antarnegara, sosial, agama, etnis, individu, batin, dan degradasi lingkungan hidup yang membuat dunia sastra mau tak mau harus ambil bagian dalam dunia yang semakin sakit ini. Maka, mau tak mau, dalam dunia seperti ini, untuk meminjam ungkapan Romo Mangunwijaya dua puluh tahun yang lalu, ?setiap karya sastra yang berkualitas selalu berjiwa religius.?

Ini mengingatkan kita akan salah seorang pemikir Islam terkemuka Mohammad Iqbal, bahwa di atas fase penghayatan religius dalam arti pemahaman (thought) masih ada penghayatan yang lebih tinggi, yakni yang sering disebut mistik. Mistik di sini bukanlah sebentuk mistikisme atau takhayul, yang pada dasarnya menunjuk pada pengingkaran atau pelarian dari kehidupan nyata, melainkan pendewasaan yang lebih menuju ke dalam, atau menurut Iqbal, ?pencarian kepribadian yang merdeka, bukan karena pelepasan diri dari ikatan Hukum (agama), melainkan berkat penemuan sumber-sumber terakhir dari hukum di dalam kedalaman hati.? Atau bagi Romo Mangun disebut sebagai ?religiositas yang dewasa.? Yakni sebuah karya sastra yang mampu menyuguhkan kandungan kadar religiositasnya. Bukan religiositas dalam arti formal keagamaan, tetapi dalam daya kemampuannya membuat orang bertanya pada dan tentang diri: apa maknanya, apa makna hidupnya?

Lontaran-lontaran pertanyaan eksistensial manusia seperti apa itu hidup dan mati, konflik batin (religius), dari para pembaru religius, perenung filsafat, pengelana kearifan, pencinta keraguan, pendamba keabadian, ketika sastra hidup di tengah kancah budaya yang saling membunuh dan budaya yang saling mengelabui, pada hakikatnya telah mendesak bahwa setiap karya sastra yang berkualitas memang harus selalu berjiwa religius.

Bagi mereka yang pernah menyelami karya-karya penulis tanah air seperti Bukan Pasar Malam, Telegram, Godlob, Khutbah di Atas Bukit, Dilarang Mencintai Bunga-bunga, hingga Atheis, untuk menyebut beberapa saja, jelas ada dimensi religiositas dan pergolakan batin di dalamnya. Sementara dalam karya-karya Pramoedya Ananta Toer kita bisa melihat gambaran, citra manusia Indonesia. Ia berbicara tentang kesewenang-wenangan sekaligus ketakberdayaan di bawah sistem yang pada hakikatnya jahat. Tapi ia juga berkisah secara lirih tentang emansipasi, perlawanan, dan pembebasan. Pram ingin memahami manusia dengan suka dan dukanya dalam situasi hidupnya. Karena bagi Pram, seperti pernah dikatakannya, ?masalah sastra adalah manusia dalam kehidupannya?.

Pada akhirnya memang semuanya ?tergantung pada kata? (dan sudah tentu kita), untuk meminjam judul buku karya A. Teeuw, dan juga tergantung pada bahasa yang sarat makna. Ketika mengupas sajak karya Abdul Hadi W.M. berjudul ?Ombak Itulah?, A. Teeuw berkata, ?Jadi kepenyairan, sebagai inti eksistensi, seluruhnya tergantung pada Yang Lain, si kau, entah siapa persis yang dimaksudkan dengan kau itu. Identitas kekasih dengan Tuhan bukan sesuatu yang aneh dalam tradisi puisi, baik di Barat maupun di Timur; mistik, identifikasi asyik-masyuk, Tuhan dan engkau sebagai kakasih malahan sangat biasa.? Dalam karya sastra kita bisa merasakan pentingnya kehadiran-Nya, sekaligus kegelisahan akan ketidakhadiran-Nya. Karena itu ia menjadi momen pencarian dan pelarian, ketakjuban dan pembangkangan. Dalam sajak, misalnya, kita bisa menyelami relasi cinta yang hendak diungkapkan dengan bahasa simbol oleh sang penyair, dari cinta fisik menuju ke cinta metafisik! Karena bukankah dalam sastra kehidupan bisa dihayati dalam rasa. (bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *