Tetap Berpihak

Silvia Galikano
http://jurnalnasional.com/

Dia pernah menyebut generasinya sebagai generasi koma, sementara itu generasi sesudahnya adalah generasi titik. Koma berarti belum berhenti, masih ada lanjutannya.

Senin (4/5) lalu, di Goethe Haus Jakarta, digelar diskusi dalam rangka mengenang 80 tahun Yusuf Bilyarta Mangunwijaya Pr. (Ambarawa, 6 Mei 1929?Jakarta, 10 Februari 1999), atau lebih dikenal dengan Romo Mangun. Mengambil tema Romo Mangun: Antara Sastra dan Arsitektur dengan pembicara Mudji Sutrisno dan Erwinthon P. Napitupulu yang masing-masing mengulas peran Mangun dari sisi kepenulisan dan sebagai arsitek.

Banyak aktivitas sudah dilakukan sepanjang 70 tahun hidupnya yang membuat Mangun punya banyak predikat. Selain dua tadi, Mangun adalah juga rohaniawan, pendidik, aktivis, serta pembela rakyat kecil, dan semuanya dia lakukan tak setengah-setengah. Untuk tulisan ini, disempitkan pada peran Mangun sebagai arsitek.

Erwinthon P. Napitupulu, yang jadi pembicara di sesi peran Romo Mangun di dunia arsitektur, adalah arsitek yang mendokumentasikan karya-karya wastu Mangun. Mangun tidak pernah membuat perancangan yang detail, melainkan hanya gambaran besarnya di selembar kertas. Idenya berkembang setelah melihat kondisi berjalan, disesuaikan dengan kondisi lahan, ketersediaan bahan bangunan, bahkan karena coba-coba.

Maka sepekan setelah Mangun meninggal, dengan dana pribadi, Erwinthon mulai mengumpulkan karya-karya arsitektur Mangun. Dia mendatangi satu per satu wastu, memotret, mengukur detail, lantas menuangkannya dalam aksonometri (gambar tiga dimensi). Sekarang sudah terkumpul lebih dari 80 wastu Mangun yang didata Erwinthon.

?Kekhasan Mangun dalam berarsitektur adalah selalu memegang dua hal pokok, guna dan citra. Guna mencakup hal-hal praktis arsitektur, seperti kekuatan tiang, kemiringan atap, serta sirkulasi udara. Sedangkan citra adalah hal-hal yang menunjukkan kualitas berkebudayaan pemilik bangunan atau perancangnya,? kata Erwinthon.

Bahan bangunan jadi unsur yang mendapat perhatian besar Mangun karena tiap bahan bangunan punya karakter (watak) dan cara pengungkapan (warta). Di sinilah kepekaan Mangun, ujar Erwinthon, menangkap watak dan warta, lantas mengolahnya, menjadikan bahan bangunan yang sederhana muncul indah dan berwibawa.

Salah satu cara Mangun memunculkan citra adalah dengan membuat tekstur bermotif dengan cara membuat dinding yang tidak halus, dengan bantuan alat-alat sederhana, atau menggunakan bahan bangunan lainnya. ?Nilai sebuah karya arsitektur tidak dilihat dari kemewahan bahan atau kecanggihan teknologi yang digunakan, karena dua hal itu justru punya risiko terkesan pongah,? Erwinthon menyitir Mangur.

Kesederhanaan juga dia terapkan dalam desain, seperti di Rumah Keluarga Arief Budiman di Salatiga (1984). Dinding bagian bawah rumah menggunakan batu kali, bagian tengah mengunakan batu bata, dan bagian paling atas anyaman bambu (gedhek). Prinsip susunan ini adalah yang kuat menopang yang ringan. Secara struktur cara ini juga menghemat penggunaan bahan bangunan.

Masih di rumah Arief Budiman, lantai yang letaknya lebih tinggi memiliki bentang yang lebih lebar, sehingga melindungi lantai yang lebih rendah. Prinsip yang mempertimbangkan iklim tropis Indonesia. Di salah satu sketsanya, Mangun menulis apa yang jadi pandangannya dalam berarsitektur, apa yang benar selalu indah, apa yang indah selalu benar. ?Arsitektur hanyalah medium perjuangan Mangun untuk mencapai tujuan sesungguhnya, yakni kemanusiaan,? kata Erwinthon.

Konsistensi Mangun dalam berkarya ditemukan sejak karyanya yang pertama terbangun, (Gereja St Maria Assumpta, Klaten 1968) sampai dengan yang terakhir (Seminari Fermentum, Citepus, Bandung, 1996). Dari 80-an karyanya, separuhnya adalah bangunan religius besar berupa gereja dan seminari, plus dua masjid. Dia juga merancang rumah tinggal, fasilitas publik, penataan wilayah, bangunan pendidikan, perpustakaan, museum, dan rumah budaya.

Wastu Mangun mencerminkan kultur masyarakat yang sejatinya bertujuan mengangkat nilai kemanusiaan masyarakat. Salah satu kritiknya adalah bangunan gereja kita yang banyak meniru langgam Eropa zaman Renaisans-Barok-Rokoko dengan dinding tinggi tertutup padahal tidak sesuai dengan iklim Indonesia yang tropis dan dengan tingkat kelembapan tinggi.

Bangunan gereja karya Mangun umumnya berupa massa tunggal (satu bangunan), bujur sangkar yang tiga bahkan empat sisinya terbuka atau bisa dibuka, sehingga terkesan tidak ada pemisah antara ruang dalam dan ruang luar. Akibatnya udara di dalam bangunan menjadi nyaman dan perluasan ruang juga mudah dilakukan.

Kesederhanaan dan keberpihakan Mangun juga terlihat pada perabot gereja, seperti meja altar, mimbar, kursi, tabernakel, dan ruang-ruang pendukung. Kursi dibuat dari kayu kelapa tanpa sandaran. Altar, mimbar, dan perabot lainnya biasanya dibuat dari kayu-kayu sisa potongan agar tetap terpakai.

?Romo Mangun tidak mau ada barang sisa, karena tidak ada manusia sisa. Yang dianggap barang sisa justru dia jadikan benda-benda paling penting,? kata Erwinthon.

Tukang, yang di dunia arsitektur ditempatkan di level paling rendah, justru adalah guru bagi Mangun. Dia jadi tahu cara mengawetkan kayu sesuai kondisi setempat, tak lain dari tukang. Maka dia tunjukkan keberpihakannya dengan cara menyerahkan pembuatan komponen bangunan, seperti ubin, kerawang, plafon, jendela, kursi, hingga lampu kepada tukang, bukan menggunakan buatan pabrik, agar upah tukang bertambah.

?Karya-karya arsitektur Mangun adalah contoh hasil ekspresi jujur-kreatif dari jiwa yang merdeka sejati, yang memiliki semangat keberpihakan pada kelompok lemah dan terpinggirkan,? ujar Erwinthon. Selama tiga tahun berturut-turut, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) memberi penghargaan untuk tiga karya arsitektur Mangun, yakni Peziarahan Sendangsono, Kulonprogo, DI Yogyakarta (1991), Permukiman Tepi Kali Code, Yogyakarta (1992), dan Biara Trapis di Bukit Gedono, Boyolali (1993).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *