Yang Teramputasi

Gus Martin
http://www.balipost.com/

AKU punya rasa sesal amat sangat yang kini kupendam jauh di dasar hatiku. Kadang menyakitkan. Rasa sesal itu, bukan lantaran aku terlahir berbekal cacat dan keanehan yang dalam sepanjang perjalanan hidupku memberi kesempatan pada banyak orang untuk menolok-olokku, menghinaku, dan mentertawaiku. Rasa sesal itu, justru lantaran bagian tubuhku yang tak wajar itu kini sudah diamputasi dan dikremasi.

Pun rasa sesal itu bukan hanya ada padaku, juga pada Mangku Boka, kakekku yang juga bapakku itu. Malah dia sepertinya sudah enggan melihatku. Di samping sarat sesal, sorot matanya acapkali berkaca-kaca ingin menusukku. Meski berkali-kali kuyakinkan perasaanku bahwa di balik itu hati kakekku penuh kasih, toh sorot mata dan kebisuannya tetap saja seperti tak bersahabat.

Malam itu sengaja aku datang ke padepokan kakekku. Melihat aku datang, ia hanya mendehem sembari menyalakan beberapa lampu templek berbahan bakar minyak tanah itu. Aku duduk dan menunduk. Sebagaimana kebiasaanku, terlebih dalam situasi dingin dan renggang seperti ini, aku memang tak berani menatapnya berlama-lama.

“Saya sangat menyesal, Kek,” kataku memberanikan diri.

Perlahan, kakekku berjalan agak mendekat ke arahku, lalu berdiri di depanku, membelakangiku. Matanya menerawang ke gelap malam dan terang rembulan. Jenggot putih panjangnya dan busana putih kusamnya yang berlipat-lipat mirip busana para bhagawan dalam cerita pewayangan Mahabharata itu sesekali bersemilir diterpa angin kecil.

“Kakek tidak apa-apa jika itu juga sudah menjadi keputusanmu. Demi masa depanmu juga, demi nama baikmu, agar kamu tidak menanggung aib sebagaimana dikatakan banyak orang di desa ini. Kelak kamu juga akan dewasa dan menikah,” katanya dengan suara berat yang membuat bulu kudukku berdiri.

Kuberanikan diri menatapnya. Dari kilatan sinar samar-samar lampu templek kulihat airmatanya menitik. Tiba-tiba muncul dorongan hatiku untuk menabrakkan tubuhku seraya memeluknya erat-erat. Kakekku menarik nafas panjang dan mengusap-usap kepalaku. Aku lantas tak bisa menahan ketika tangisku tumpah. Pelukanku terasa kian kuat. Ada gelombang hangat dari tubuh kakekku mengalir di tubuhku.

Barangkali gelombang hangat seperti itu juga yang kuterima hampir dua puluh lima tahun silam ketika tubuhku yang kecil merah telanjang menggeliat dalam lengking tangis. Bapakku mencerai ibuku dan ibuku frustrasi lalu bunuh diri. Di tengah galau ibuku yang tergeletak mati dengan urat nadi teriris pisau dan kemungkinan tubuhku yang masih berupa orok merah terkulai merana di puskesmas desa, kakekku yang di desaku dianggap pendekar sakti itu cepat menyelamatkanku.

Petugas puskesmas dan orang-orang seisi desa yang sebenarnya sedang dilanda konflik permanen itu ternganga dan tidak mampu berkata-kata. Jika toh mereka sempat berkata-kata, itupun hanya dalam bisik-bisik penuh kesinisan dan memaki-maki. Hampir seluruh tanah desaku bergetar, sebagian kecil orang-orang sibuk dalam tanya dan sebagian besar tak peduli. Ada di antara mereka yang tidak cukup ternganga pada kematian ibuku yang tragis atau bapakku yang lari entah ke mana, tetapi lantaran kelahiranku yang tak lazim. Aku lahir berekor!

Semula ekorku hanya tiga centimenter. Namun seiring pertambahan usiaku, ekorku pun bertambah panjang. Awalnya, ketika usiaku menginjak tiga tahun, tim ahli medis dari pemerintah serta sejumlah lembaga sosial meminta agar ekorku itu diamputasi atau dipotong saja dengan alasan kemanusiaan. Pemerintah pun sudah siap menanggung biaya operasinya. Namun, kakekku menolak mentah-mentah. “Biarkan cucuku ini tumbuh apa adanya. Ini tanggung jawabku sepenuhnya,” kata kakekku kala itu.

Akhirnya aku tumbuh apa adanya. Aku tidak pernah merasa menyesal atau keberatan dengan ekorku yang ternyata telah tumbuh menjadi sekitar empat puluh centimeter lebih itu. Ekor yang selalu kulingkarkan ke pinggang tersembunyi di dalam baju dan celanaku itu pun sudah kuanggap seperti bagian tubuh normalku yang lain. Meskipun aku sering jadi bahan cemoohan teman-temanku di sekolah maupun di desa, aku tak pernah merasa minder. Meskipun ada sejumlah tokoh di desaku berkehendak mengusirku dari desa karena aku dinilai membawa aib desa, aku tak gentar karena kakek membelaku dan tokoh-tokoh desa itu takut pada kakekku.

Banyak orang menilai tindakan Mangku Boka, kakekku itu, yang membiarkan ekorku tumbuh, sinting dan tak berperikemanusiaan. Aku malah tak mengerti soal itu. Yang kutahu dan kurasakan, kakekku sayang padaku. Aku diajarinya segala hal yang ia kuasai, dari mengukir patung sampai ilmu silat dan tenaga dalam. Usaha kakekku ternyata tak sia-sia, di usia belia aku sudah menjadi pematung terkenal di kampung serta punya sedikit kemampuan silat serta tenaga dalam. Karya-karya patungku yang populer adalah patung-patung kera dengan tatahan bulu-bulunya yang kubikin halus.

Sampai suatu ketika, ada Profesor Freitz, seorang wisatawan yang juga peneliti dan pengamat seni asal Prancis, satu di antara sejumlah wisatawan asing yang pernah mampir di studio patungku, menyelami kehidupanku lebih jauh. Mungkin lantaran sudah banyak mendengar dari orang-orang di kampungku, ia tertarik menanyakan perihal ekorku.

Di hari-hari kemudian, Freitz jadi kian akrab denganku. Sampai tiba saatnya ia mengemukakan keinginannya untuk mengajakku ke Prancis untuk dua tujuan, menyuruhku berpameran patung tunggal serta menjadikanku bahan penelitian atas keberadaan ekorku. Semua itu atas biaya Freitz sendiri. Hatiku bersorak, ini kesempatan yang tak boleh kusia-siakan.

Atas prakarsa Freitz, aku pun menggelar pameran patung tunggal di sebuah galeri ternama di Prancis. Sambutan peminat seni di sana sangat bagus, aku diwawancarai sejumlah media dan nyaris semua patungku laku diborong para kolektor. Freitz mengaku amat senang. Perihal tujuan keduanya, penelitian atas ekorku, dilaksanakan pada akhir pameranku. Penelitian dilaksanakan Freitz bersama rekan-rekannya yang juga para ahli di sebuah laboratorium. Entah karena apa, ketika sampai pada keinginan mereka untuk mengamputasi ekorku, demi kewajaran hidupku kelak, aku malah setuju.

Wajah kakekku pun pucat pasi ketika aku kembali pulang dengan ekorku yang sudah diamputasi dan kubungkus dengan kain putih. Uang yang kubawa banyak dari hasil penjualan patung di pameran itu sama sekali tak ada artinya bagi kakek. “Mengapa kamu ceroboh dan senekat itu tanpa pernah sekalipun minta pertimbangan kakek?!” hanya itu kalimat yang diucapkan kakekku dengan suara bergetar. Sepertinya sudah tidak ada gunanya aku minta maaf karena permintaan itu bagiku bagai sejumput garam di lautan kekesalan kakekku.

Kini aku bersimpuh kaku di belakang kakekku.

“Kamu lihat orang-orang di kampung kita. Mereka rata-rata sudah mabuk dalam kubangan nafsu hewani. Mereka larut dalam konflik sengketa berkepanjangan, tidak punya nurani, brutal, rakus, buas, liar, saling tikam, rebut warisan, bunuh saudara, berebut kuburan, merusak alam, tidak tahu sopan santun, memakan bukan hak milik, merusak rumah tangga orang lain, pembual dan penipu. Mereka itulah sesungguhnya binatang-binatang yang kehilangan ekornya, bukan manusia yang dianugerahi ekor seperti kamu. Sekarang ekormu telah kamu potong, kakek khawatir kamu kelak akan jadi seperti mereka,” papar kakekku.

Bulu tengkukku bergidik. Tangisku tumpah lagi sehingga membuat dadaku sesak. Perasaanku bercampur aduk antara penyesalan, cintaku yang dalam pada kakek, dan ketidak-mengertianku atas semua penjelasan kakekku itu.

“Sudahlah, tidak usah kamu sesali lagi dan kakek juga akan menerima semuanya. Kamu juga tidak akan pernah mengerti maksud kakek. Kelak, kamu akan berkeluarga dan hidup sewajarnya. Sebelum kakek pergi, perlu kamu tahu sesuatu yang selama ini belum pernah kamu tahu…,” ujar kakekku sembari secara perlahan menyingkap sebagian bokongnya. Di sela kainnya yang berlipat-lipat, menjulur ekor yang panjangnya kutaksir sekitar satu meter lebih. Nafasku seperti berhenti bertiup.

Dalam hitungan detik, tubuh kakekku lenyap tanpa bekas diiringi hembusan pusaran angin sebagaimana sering dilakukannya. Beberapa lembar daun kering di halaman depan terbang berputar-putar dan sinar lampu templek bergoyang ringan. Entah berapa lama aku bersimpuh dan tertegun di sana, aku sudah tak ingat lagi.

Denpasar, Februari 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *