Berburu Celeng

Abdullah Sajad
http://www.facebook.com/profile.php?id=1575574180&ref=mf

i
Satu anjing bersama seorang yang memegang golok. Golok hitam yang berukir seperti lahar, besi baja matang. Golok yang ditempa dengan seribu jilatan api dalam tungku. Bersama doa yang disematkan dalam kelamnya. Bersama panas yang dipendam dalam ukiran kawah gunung krakatau.

Dua anjing dengan satu orang yang memegang senapan dorlok. Senjata rakitan dari tukang bubut yang biasanya melobangi mesin mobil atau mengorek mesin agar busi membakar bensin dalam balap liar. Senjata itu adalah mesin yang berisi peluru dari serpihan besi dan gotri. Dipicu dengan mesiu yang dicolok dari mulutnya. Ketika pelatuk disentak, niscaya muntah, dari laras perutnya serpihan besi dan gotri, memancar ke depan.

Tiga anjing bersama satu orang yang membawa belati. Kecil dan runcing. Yang dibuat oleh pandai besi dari kota. Bukan hiasan, sebab baja itu, telah menyayat, beribu peluh dan daging kambing. Mengkilap nyata dalam gelap.

Satu ranting digenggaman orang membawa terompet dari tanduk kerbau. Binatang yang tak lelah menggarap tanah tandus.Ketika dia disembelih untuk pesta pemilihan kepala desa, tanduknya dipelihara. Dilobangi ujungnya, dikeruk isinya, dan diukir permukaannya. Diikat seutas tali untuk gantungan lengan. Ketika sengkala itu ditiup, suara mendengung berat, melenguh panjang, dan merintih, seperti suara kerbau yang sekarat.

Pagi ini, bersama teman-teman segerombol, Wakijo berkumpul di gubuk pinggir ladang. Tidak jauh di belakang rumahnya. Berdiskusi panjang lebar, namun sering terpaku dalam diam.

ii
Pagi yang cerah. Udara menyimpan kabut. Perlahan luruh di atas daun-daun, menjadi embun. Menetes di tanah, memberi suasana basah. Air membias sinar matahari, menjadi pelangi di gunung. Warnanya memberi inspirasi, bunga-bunga tercelup dalam wangi. Warna pagi dilukis di langit, menjadi rasa yang wangkang.

Wakijo mengasah golok di belakang rumah. Persiapan nganjingan. Berburu celeng hutan yang suka merusak ladang jagung, dan menggali kacang tanah. Merusak padi yang berumur setengah tahun di tanah kering. Celeng yang suka mengobrak-abrik pagar hidup, mengurangi penghasilan penduduk desa.

Dia duduk di atas papan yang terbaring di pinggir kolam. Papan mahoni yang lepek tebal kurang dari 10 cm, lembut mengayun ketika tubuh berat Wakijo membebaninya. Air kolam hijau seperti banyak dicelup pewarna, daun-daun pepaya dan pisang menjadi bubur untuk makan ikan. Hujan yang jarang datang, membuat airnya keruh.

Asahan golok itu berair karat. Jatuh menetes di pinggir kolam. Memercik seperti memberi umpan ikan mujaer dan ikan mas, mangap-mangap di permukaan air.

?oh, sudah tajam rupanya.? Suara nya pelan. Berbicara sendiri. Menunggu teman-temannya yang belum datang. Sarung golok dari kulit kerbau diikat di pinggang. Sarung yang digulung selutut, dan celana longgar sampai atas mata kaki, berwarna hitam. Baju panjang hitam dengan kaos putih sudah dua hari belum dicuci. Harum tubuhnya adalah aroma rempah dan tanah.

iii
Di gubuk yang doyong itu. Wakijo berempat, bersama enam anjing. Bersepakat untuk berangkat. Mereka mendaki lereng gunung sekitar 5 kilo dari perkampungan. Jika lebih atas lagi, maka belukar dan akar pohon akan mempersulit perjalanan. Di sanalah celeng-celeng itu membangun sarangnya. Tempat yang jarang dijamah, dan menurut kisah, ada beberapa harimau yang masih hidup.

Berjalan perlahan menyusuri jalan setapak yang hanya bisa dilalui kaki-kaki lincah. Batu-batu tajam yang tersimpan di balik tanah yang lembut, terkadang dapat menyobek telapak kaki. Daun melinjo yang biasanya dipetik untuk sayuran, melambai di pinggiran ladang. Pohon petai, pohon cengkeh, dan pohon kelapa, memberi semangat pada kelompok bersenjata itu.

Seekor celeng terlihat dalam semak-semak. Sedang mengais tanah, mencari harta karun yang terpendam berupa biji-biji kacang tanah. Entah, sudah saatnya dia merasa harus mati di situ. Dia diam saja. Ketika 6 ekor anjing itu mendekat. Tak ada rasa takut. Hanya mendengus. Matanya tertunduk ke tanah sambil asik mengais akar-akar kacang dengan dua taringnya yang menjulur ke bawah.

Booooooooooooooootttttt., suara sengkala tanduk ditiup. Enam anjing menggonggong dan menyalak bergantian. Berlarian mengejar celeng itu. Suara sengkala, menarik petani lainnya yang sedang mengolah ladang dan kebun, berdatangan. Suara terompet itu isyarat untuk berburu. Suara kematian bagi celeng-celeng yang berani menunjukkan batang hidungnya.

iv
Celeng itu mengelepar. Klepek-klepek. Terbaring lemah di atas tanah bercampur rumput basah. Mulutnya koyak moyak, tertusuk akar pohon bambu habis dibabat. Pantatnya sobek, menancap serpihan besi dan seng. Lehernya hampir putus, disambit golok dan belati. Nafasnya tersenggal. Memburu udara yang berkeliaran di kerongkongannya.

Kakinya sebelah kanan terikat tambang yang ditarik seseorang, dan kaki kirinya mengejang. Kupingnya sobek seperti daun pisang yang disayat dengan sapu lidi. Taringnya patah. Bibirnya mengelupas panas. Ususnya terburai sebagian.

Merangksek, enam anjing menjilati sekujur tubuhnya. Mengigitnya untuk menambah rasa sakit. Bukan untuk dimakan, tapi bersenang-senang. Seolah menari di atas tubuh yang tak berdaya itu. Melenguh suara rintih bersama gonggongan.

Kaki celeng ditarik menggunakan tambang kecil. Diseret Wakijo dalam kerumunan massa yang sudah meradang. Sambil mengibaskan daun melinjo, mulutnya komat-kamit. Membaca mantra, atau entah. Meludah bersama dengan air liur anjing, cuih.

Sepuluh petani mengepung dalam lingkaran apung. Wakijo berdiri agak menjauh. Bambu dan ranting dipegang erat di atas kepala masing-masing. Sambil menunggu aba-aba. Tangan wakijo melambai. Serentak, bambu dan ranting itu berjatuhan, menggebuk tanpa ampun. Menabok, melinggis, menabur benda-benda tak terukur. Sebuah ritual untuk mempercepat luputnya nyawa dari raga.

v
Celeng itu dipanggul di batang bambu yang panjang. Dua orang di depan, dua orang di belakang. Diikat kuat ditengahnya, bambu melengkung, tidak patah. Hanya berayun-ayun. Menuruni jalan setapak kecil yang gundul tanpa rumput. Sedang ilalang panjang bergelayutan di pinggirnya.

Petani kembali bekerja, tertunduk antara nista dan dendam. Memanggul cangkul dan sabit. Golok dan caping. Kembali bekerja untuk menghidupi bumi ini, dengan tanaman yang ranum dan indah. Untuk makanan orang desa, dan sebagian besar dikirim ke kota.

Wakijo dan temannya sampai di belakang rumah. Memotong daging celeng hitam untuk makanan anjing mereka. Anjing-anjing berkerumun. Mengigit daging celeng. Menjilat dengan lendir. Menggasak cabikan kulit lembut dan bulu-bulu halusnya yang hitam. Anjing-anjing mendengus dalam kelam. Anjing-anjing mengaum dan melolong. Anjing menggonggong, angin tetap berlalu. Kentut keluar dari pantat, anjing!?. Broooot.

Setidaknya untuk kematian satu celeng ini, petani agak lega, beberapa bulan ke depan, teman-temannya akan ngumpet dalam sarang. Tak berani keluar. Mungkin akan mengais tanah dalam sarangnya sendiri.

2007

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *