Capres

Putu Wijaya
http://www.jawapos.co.id/

Saya sedang sarapan pagi di sebuh hotel di Pulau Bintan, ketika seorang lelaki tampan dan kekar menghampiri. Ia tersenyum sehingga saya tidak sanggup berbuat apa-apa, ketika dia menarik kursi dan menanyakan apa dia boleh bergabung.

”Bapak tidak kenal saya, tapi siapa yang tidak kenal Bapak,” katanya sambil menyodorkan sebuah kartu nama yang sangat meyakinkan.

Saya kikuk karena tidak terbiasa makan sambil ngobrol. Tradisi saya memberi nasihat mesti konsentrasi penuh pada makanan untuk menghormati rezeki itu. Jangan seperti orang asing yang makan dijadikan sambilan ngobrol.

”Silakan saja yang santai, saya sudah makan tadi,” kata orang itu sambil menyalakan korek dan membakar rokoknya, tanpa meminta persetujuan saya.

”Makanannya terlalu pedas,” kata saya meletakkan sendok lalu minum.

Orang itu menyedot rokoknya dan kemudian menyemburkannya melumuri udara sekitar kami. Asap itu ditiup oleh angin dari AC menghantam muka saya. Seperti orang yang kena sihir, saya lumpuh dan hanya bisa tersenyum.

”Bapak tidak ingin mengikuti jejak mereka semua itu?” tanyanya sambil menatap mata saya tajam.

”Mengikuti jejak apa?”

”Ya mereka yang sudah berhasil itu.”

”Siapa?”

”Ya teman-teman Bapak!”

”Maksudnya?”

”Ya, memanfaatkan momentum yang bagus ini.”

”Saya belum mengerti.”

Orang itu tersenyum seperti mengejek pura-pura bodoh saya.

”Ya mencalonkan diri menjadi capres.”

Saya kontan tertawa. Tetapi orang itu menjadi sangat serius. Ia mematikan rokok yang baru tiga kali diisapnya. Lalu mendekatkan kursinya pada saya. Saya cium bau parfumnya yang menunjukkan kelas.

”Saya serius. Orang seperti Bapak, kalau Bapak mau saja, dengan gampang akan bisa merebut suara. Bapak punya penampilan yang dicari orang sekarang. Latar belakang Bapak tidak ada cacat. Itu yang dicari sekarang. Nama dan orang baru. Rakyat perlu sebuah nama dan orang baru, karena mereka sudah kesal dengan nama-nama sebelumnya yang tidak memenuhi amanat mereka. Tinggal sekarang Bapak. Kalau Bapak setuju, serahkan semuanya pada saya. Saya bisa atur segalanya. Saya sudah punya jaringan yang kuat. Asal satu hal saja, kalau nanti berhasil, jangan lupakan kami. Bagaimana?”

Saya bengong. Inilah yang sudah terjadi di negeri ini sekarang. Gembel macam saya bisa tiba-tiba dicalonkan sebagai capres padahal sebelumnya tidak pernah berjuang untuk rakyat. Akibatnya, barisan pemimpin hanya kelas tempe.

”Bagaimana, Pak? Tinggal Bapak saja. Kalau setuju, saya akan mainkan. Jangan khawatir, saya sudah berpengalaman dan saya sudah punya jaringannya.”

Saya langsung mengerti, saya sedang digiring masuk perangkap. Orang itu mungkin menyangka saya orang kaya yang bisa diperas. Dia tidak tahu, begitu di-PHK saya sudah bangkrut. Saya hanya punya KTP yang tidak cacat. Kalau itu memang modal, saya bayangkan harga yang harus saya tebus nanti kalau sampai terpilih –tak usah jadi presiden, jadi bupati saja akan membuat saya lebih bangkrut.

Karena yakin orang itu adalah profesional dan berpengalaman, saya segera cari alasan untuk pergi. Dia sama sekali tidak menahan saya. Dengan amat mengesankan dia menjabat tangan saya dengan hangat.

”Pikirkan apa yang saya katakan tadi, Pak. Berundinglah dengan keluarga. Kalau Bapak berubah pikiran, setiap saat Bapak bisa menghubungi saya.”

Orang itu mengulurkan lagi kartu namanya.

”Kan tadi sudah?”

”Ini kartu kalau saya berada di luar negeri. SMS saja, nanti akan saya hubungi balik. Saya kira kita tidak kebetulan bertemu di sini. Yang di Atas tidak akan mengatur pertemuan ini kalau tidak ada tujuan-Nya.”

Kami berjabatan lagi. Lalu saya cepat-cepat pergi tanpa menoleh, sebab takut nanti akan terhipnotis. Cepat-cepat saya masuk ke kamar dan memeriksa tas pinggang. Dompet, uang kontan, dokumen saya masih lengkap di situ.

Saya bukan orang politik. Dagang juga saya hindari karena di belakangnya saya lihat selalu ada kebohongan yang ditutupi dengan berbagai alasan. Seakan-akan semua itu berguna bagi masyarakat, rakyat, padahal sebenarnya untuk keuntungan pribadi. Mungkin kebencian itu terjadi karena saya tidak berbakat. Apa boleh buat. Saya hanya mencoba menyelamatkan diri.

Khawatir bisa mengganggu jiwa, kartu nama orang itu saya robek dan buang ke tong sampah.

Sebulan kemudian, dalam suasana damai di rumah, saya ceritakan semua itu pada istri saya.

”Aku dapat pengalaman aneh waktu di Pulau Bintan, Ma.”

Istri saya yang sedang menjahit BH-nya yang robek menoleh.

”Pengalaman aneh apalagi?”

”Aku ditipu orang.”

”O ya?”

”Orang itu mungkin tahu di tas pinggangku ada 50 juta yang diberikan oleh panitia, untuk dibagikan kepada teman-teman yang membuat lokakarya di situ.”

”Ditipu bagaimana?”

”Lagi sarapan pagi, ada orang tak dikenal menyapa. Tiba-tiba dia menodong. Masak aku disuruh mencalonkan diri.”

”O ya?”

”Gila!”

”Jadi caleg?”

”Mending caleg. Jadi capres!”

Saya tertawa malu. Tapi istri saya berhenti menjahit. Dia menatap saya dengan serius.

”Apa katanya?”

”Ya dia bilang, namaku cukup bisa dijual untuk jadi capres.”

”Terus dia minta dibayar berapa?”

”Nggak usah dibayar. Cukup bikin persetujuan saja. Nanti dia jalankan sendiri semuanya!”

”Bohong! Itu penipu! Bapak sudah ngasih dia duit berapa?”

”Nggak dong! Aku kan bisa cium bau pikirannya. Aku langsung mengamankan 50 juta itu ke kamar.”

”Terus dia menghubungi lagi?”

”Tidak.”

”Menelepon?”

”Tidak.”

”Menegur di tempat sarapan?”

”Tidak.”

”Sama sekali tidak menghubungi?”

”Ya.”

”Tapi orangnya masih di situ?”

”Masih.”

”Tidak mencoba menegur?”

”Ya hanya mengangguk dari jauh. Mungkin dia malu karena aku sudah tahu kartunya. Aku hanya heran. Masak potongan seperti aku ini mau dijadikan capres. Aku bisa apa kecuali ceramah jual omong kosong? Gila!”

Saya tertawa mengejek kekonyolan saya sendiri. Tapi istri saya tidak peduli. Dia meneruskan menjahit BH-nya. Saya lalu masuk ke dalam peristiwa itu kembali. Mencoba mengorek apa sebenarnya yang ada di balik semua itu. Jangan-jangan tanpa saya ketahui, saya sebenarnya memang cocok juga jadi presiden. Apa yang tidak mungkin di dunia edan ini sekarang?

***

Pagi hari, ketika saya keluar dari kamar kecil, anak saya Sinta yang sedang mengambil S2 menyapa dengan manis.

”Selamat pagi, Presiden.”

”Hussss!”

”Katanya mau nyapres.”

Saya nyengir.

”Ibu kamu yang cerita ya!?”

”Nggak. Sinta sendiri.”

”Kamu jangan ngeledek.”

”Kenapa ngeledek?”

”Masak bapakmu jadi presiden?”

”Lho kenapa tidak?”

”Kepala botak begini, siapa mau milih?”

”Makanya cepat-cepat tanam rambut sekarang. Jadi kalau nanti jadi presiden tidak usah pakai peci terus seperti Bung Karno. Pokoknya selamat Pak. Aku dukung!”

Saya keki. Sinta pasti sudah salah menangkap cerita ibunya. Dia pikir saya yang berambisi jadi capres. Dia menyerang supaya saya jangan mimpi. Karena moral itulah yang sudah saya jejalkan ke kepalanya setiap kali dia mulai lari dari realita.

Tapi kemudian ketika hendak ke kantor pos, saya terkejut. Para tetangga memandang saya dengan mata yang lain. Ada yang sudah lama jadi musuh, karena pembantu kami dia bajak, malah menyapa, ”Selamat pagi, Pak. Katanya baru pulang dari Bintan?”

Saya terpaksa membalas dengan bersahabat.

”Oh, sudah sebulan yang lalu, Bu. Mari.”

Di tukang ojek saya juga dapat keramahan yang berkelebihan. Karena tidak ada uang kecil, saya mengulurkan uang 20 ribu. Tukang ojek itu hanya tersenyum dan menggeleng.

”Tidak usah Pak. Dibawa saja.”

Saya jadi malu, khawatir dianggap ingin gratis, lalu saya taruh uang itu di sakunya. ”Sudah ambil saja untuk beli rokok.”

Dia terkejut mau mengembalikan, tapi saya cepat-cepat pergi sambil tersenyum. Kejadian itu dibuntuti banyak keajaiban. Tukang warung dekat rumah, keluar dari sarangnya menyapa. Padahal saya sudah ngumpet-ngumpet karena bon-bon bulan lalu belum dibereskan oleh istri saya.

”Pak, kok buruan banget. Tidak singgah ngopi dulu?”

Saya malu sekali. Lalu pura-pura merogoh dompet, seperti mau membereskan hutang, padahal di kantong saya hanya 20 ribu tadi. Tukang warung cepat menahan tangan saya sambil mengulurkan bungkusan.

”Sudah lama ibu pesan mau ikan asin, ini tolong disampaikan,” katanya sambil memindahkan tas plastik besar ke tangan saya.

Saya tak punya kesempatan menolak, karena dia cepat-cepat pergi sambil menebarkan senyum. Sudah terjadi kekeliruan yang berbahaya. Cepat-cepat saya pulang untuk menuntaskan semua itu. Tapi istri saya tak di tempat. Menurut pembantu sudah lama sekali ”nenangga”.

”Cepat panggil ibu!” teriak saya marah.

Pembantu terkejut lalu buru-buru pergi. Tapi baru dua jam kemudian dia muncul kembali mengiringi istri saya sambil menggiring sebuah sepeda motor.

”Ternyata boleh,” kata istri saya dengan tersenyum lebar menunjuk sepeda motor bekas yang sudah lama ingin dia cicil untuk anaknya.

Kegembiraannya itu tak tega saya bunuh. Saya terpaksa ikut menikmati. Lalu dia membuka bungkusan yang dibawanya. Semuanya dari tetangga.

”Padahal baru cerita mau dicalonkan saja mereka sudah memandang kita beda,” kata istri saya sambil menunjukkan selembar 20 ribu. ”Tapi Bapak juga jangan sok royal, kan itu juga belum pasti? Tukang ojek itu bilang, lain kali kalau perlu mau ke mana saja, tinggal panggil dia, tak usah bayar! Nih!”

Saya terima uang itu dengan pikiran gemas. Rasanya ingin sekali membentak, sebab itu salah-kaprah yang memalukan. Tetapi saya tak berani untuk menghapus seluruh kegembiraan perempuan yang sudah menemani saya 30 tahun itu. Belum pernah ia kelihatan sebahagia itu. Mukanya merah karena campuran malu, bangga, dan senang.

Anak saya pun berteriak ketika pulang melihat motor idamannya itu sudah nangkring di rumah.

”Terima kasih, Presiden,” katanya sambil memeluk ibunya.

Malam itu saya menikmati suasana yang belum pernah saya rasakan di rumah. Semuanya nampak puas. Anak saya yang selalu penuh dengan kritikan tentang apa saja, tiba-tiba menjadi begitu tenang. Istri saya berusaha menerima semuanya itu dengan tenang, tapi saya tetap menangkap di sana-sini muncrat kebahagiannya. Apa yang bisa melebihi ketawa anak dan senyum istri di dalam rumah.

Dua pembantu tetangga muncul membawa buah-buahan dan kue. Telepon beberapa kali berdering berisi sapaan basa-basi. Tapi pada ujungnya saya tahu, itu digerakkan oleh rasa hormat mereka mendengar saya jadi capres. Bahkan Pak RT muncul dan terus-terang mengatakan bahwa dia sangat bangga. Dia mengguncang tangan saya.

”Siapa bilang katak tidak bisa menjadi lembu, semua itu tergantung dari perjuangan. Kami semua mendukung dengan suara bulat!” katanya berapi-api. ”Buatlah perubahan yang signifikan, kita sudah bosan dengan semua dekadensi gombal capcay ini!”

Saya tak mampu membantah. Bukan waktunya untuk menentang atau menjelaskan semua itu. Di samping terus-terang diam-diam saya menikmati juga. Begini rasanya ketiban durian runtuh, menjadi selebriti. Justru karena Petruk, kursi ratu jadi begitu nyaman.

Ketika semuanya sudah tidur, saya tetap terjaga. Kini saya baru nyahok mengapa provokator di Bintan itu meminta saya merundingkan semuanya dengan keluarga. Kehormatan yang ditawarkannya bisa saja saya anggap gila, karena tidak pantas lelaki pensiunan yang botak seperti saya jadi capres. Tapi itu buat istri, anak, para tetangga, bahkan mungkin seluruh hunian saya akan menjadi nyawa tambahan yang membuat mereka tetap gagah menikmati kehidupan yang tambah brengsek ini.

Tapi semua itu impian gila yang harus cepat dibunuh. Kalau tidak dia akan membunuh seluruh keluarga saya serentak.

”Ya terserah saja, kalau Bapak mau menolak!” kata istri saya esoknya dengan kecewa, ketika saya sampaikan bahwa mimpi itu harus dihentikan.

”Terserah, kalau Bapak lebih suka menjadi pensiunan yang beliin istri BH baru saja tidak sanggup, apalagi nyicil motor. Nanti tak kembalikan semua itu. Laksanakan apa yang Bapak anggap baik saja. Habis Bapak yang menjalaninya nanti, bukan kami, bukan para tetangga itu. Lakukan saja apa yang menurut Bapak benar, tak usah pikirkan kami. Hidup ini kan bukan diukur dari kedudukan yang kita punya, tapi oleh perasaan kita sendiri. Kalau Bapak sudah merasa cukup, apa adanya sekarang, ya sudah, tidak usah ngapain-ngapain lagi, syukuri saja. Tidak jadi capres juga kita masih hidup!”

Istri saya nampak tabah dan sabar. Tapi saya tahu dia sangat tertekan. Saya lihat matanya berkaca-kaca. Dia menghindar ke dapur sebelum saya memergoki pipinya basah. Saya jadi sedih.

”Jadi Bapak mau mundur?” tanya Sinta kemudian dengan kecewa.

”Bukan mundur, bagaimana mundur, maju juga belum.”

”Itu artinya menyerah sebelum kalah!”

”Kamu tidak mengerti bagaimana persoalannya, Sinta!”

”Bukan Sinta, Bapak yang tidak pernah mengerti apa sebenarnya yang sudah terjadi!”

”Bapak belum dicalonkan. Orang itu menanyakan apakah Bapak mau dicalonkan?”

”Memang! Dan Bapak mau menolak?”

”Ya.”

”Stupid!”

”Hee, kamu jangan ngomong kasar begitu!”

”Sama sekali tidak! Tapi itu memang stupid. Siapa yang tidak mimpi jadi presiden sekarang? Tukang ojek yang mengembalikan uang Bapak itu juga mau dengan senang hati jadi presiden kalau diminta. Masak Bapak menolak? Apa Bapak mau membiarkan tukang ojek kita itu jadi presiden! Kalau saya sih menolak keras!”

”Meskipun tukang ojek kalau mampu, apa salahnya jadi presiden?”

”Jelas salah! Kalau dia jadi presiden nanti siapa yang jadi tukang ojek?”

Saya terpaksa ketawa.

”Bapakmu ini bisa apa Sinta? Bahasa Inggris saja pas-pasan, masak mau jadi presiden!”

”Jadi presiden tidak usah pakai bahasa Inggris. Pak Harto 30 tahun jadi presiden tanpa bahasa Inggris! Kita kan bangsa Indonesia yang cukup pakai bahasa Indonesia kalau memimpin!”

”Bapakmu ini bukan pemimpin!”

”Alasan!”

”Tapi bapakmu ini tidak ada bakat jadi presiden!”

”Itu harus dibuktikan. Dan caranya dengan menjadi presiden!”

”Kamu ngawur!”

”Apa yang tidak ngawur sekarang?! Bapak takut?!”

Itu perkataan yang sangat menyakitkan karena keluar dari mulut anak sendiri. Saya coba menjelaskan bahwa saya tidak takut. Saya hanya mencoba rasional. Tapi penjelasan saya tidak ada artinya, karena Sinta tidak mau mendengar. Dia yang harus saya dengar. Saya habis-habisan dikritik karena tidak pernah punya ambisi.

”Padahal ambisi adalah salah satu tanda zaman yang mengharuskan setiap orang berjuang untuk membalikkan nasib di era globalisasi ini. Bapak mesti mengerti aspirasi zaman!” kata Sinta menguliahi saya.

Para tetangga yang mendengar saya mau mengundurkan diri dari pencalonan presiden kemudian datang. Mereka bertanya, menyesal, dan kemudian mendesak saya untuk membatalkan niat itu.

”Kita memerlukan seorang pamimpin baru untuk membuat negeri ini kembali berjalan di atas relnya yang benar untuk kebahagiaan rakyat yang sudah capek miskin dan menderita! Bertahanlah, kami semua siap mendukung apa pun yang terjadi!” kata Pak RT yang tiba-tiba menjadi fanatik.

Sebulan saya dalam suasana kacau. Didesak kanan-kiri supaya tidak mengundurkan diri. Istri dan anak saya melakukan segala macam upaya untuk menyadarkan bahwa kehormatan yang saya terima itu bukan untuk saya tapi untuk semua mereka. Dosen pembimbing Sinta bahkan datang ke rumah.

”Kita tidak lagi bicara soal-soal pribadi, Pak. Lewat pribadi kita, kita sudah langsung menyentuh persoalan mendasar yang menyangkut kepentingan masyarakat, semua orang, dan bangsa serta negara. Seorang pemimpin bukan lagi sebuah individu, tetapi adalah perpaduan seluruh keinginan dan aspirasi rakyat yang diwakilinya. Dalam hal ini, perasaan Bapak sebagai seorang pemimpin, mesti dipisahkan dengan perasaan sebagai seorang individu. Itu perbedaan mendasar dari pemimpin dan bukan pemimpin. Pemimpin berpikir dan memakai perasaan tetapi tidak boleh tunduk pada rasa lagi. Bapak mesti rasional. Memang itu kejam. Tapi keadaan yang kita hadapi ini sudah begitu rusaknya, hanya keberanian untuk kejam pada diri seorang pemimpin yang akan bisa menyelamatkan kita. Bapak sudah terpilih, mengapa mesti mundur?”

”Saya tidak mundur. Semua itu belum terjadi, bagaimana saya bisa mundur?”

”Makanya kalau saya boleh bicara, jangan ditolak. Maju Pak!”

Saya tak bisa ngomong lagi. Semua telinga mereka sudah tertutup. Mereka hanya mau mendengar apa yang mereka suka. Saya merasa berkewajiban untuk tidak menjebloskan mereka semua, meskipun mereka sendiri yang sudah memasukkan dirinya ke lubang mimpi. Tapi, ketika istri saya menangis di samping saya, saya tidak sanggup bertahan lagi.

Akhirnya memang kita harus memilih. Meskipun berat, tapi apa salahnya membahagiakan anak-istri, para tetangga, bahkan juga bupati dan wali kota yang menyempatkan diri menelepon saya supaya terus maju.

”Kalau itu terjadi, kita semuanya akan katut. Bukan hanya ikut menikmati kebanggaannya saja, tetapi juga manfaatnya,” kata mereka.

Setelah berpikir panjang, akhirnya saya tak bisa berbuat lain kecuali ambil risiko. Saya bongkar-bongkar arsip, lalu menemukan salah satu kartu nama orang Bintan yang misterius itu. Agaknya bawah sadar saya memang sudah bertindak sigap, sehingga hanya satu kartu namanya yang saya robek.

”Hallo,” bisik saya deg-degan ketika nomor orang itu terjangkau.

Beberapa lama menunggu, ketika hampir saja telepon mau saya tutup, terdengar jawaban dari sana.

”Ya hallo, ini siapa?”

”Hallo …”

”Ya hallo…ini siapa ya?”

”Hallo….”

”Hallo?!”

”Hallo.”

Ceklek. Telepon diletakkan. Tapi saya masih mencoba sekali lagi untuk meyakinkan.

”Hallo!”

Tak ada jawaban. Hubungan sudah diputus. Tapi saya masih mengenali suara orang Bintan itu. Itu dia orangnya.

”Bagaimana?” tanya istri saya tak sabar.

Apa yang harus saja jawab? Saya tidak berani mengatakan bahwa saya sudah berhasil menghubungi orang itu, tapi tak memiliki keberanian untuk mengatakan bahwa, sebagaimana yang diduganya, keluarga saya sudah setuju. Di samping itu, saya juga tak memiliki nyali untuk mengatakan bahwa jauh dalam hati saya sebenarnya mau.

”Bagaimana?!”

Saya tak bisa menjawab. Istri saya kesal dan berbalik.

”Kalau takut ya sudah terserah, kan kamu yang menjalani!!”

Saya merasa terhina. Kata-kata itu menusuk-nusuk jantung. Saya ingin berteriak memprotes. Kenapa istri yang seharusnya membela, malah ikut mau menjerumuskan suami. Tetapi kemudian saya terpaksa mengakui, selama ini kalau tidak didorong oleh istri, saya tidak akan mampu membuat keputusan-keputusan penting.

Tiga jam kemudian, saya angkat kembali telepon. Nomor itu saya hubungi lagi.

”Hallo?”

”Sialan, ini yang tadi?”

”Tunggu! Saya yang ketemu di Bintan.”

”O…Bapak? Apa kabar Pak?”

”Baik. Anda kan dulu bilang, kalau berubah pikiran saya boleh menghubungi Anda. Ya kan?”

”Betul. Jadi bagaimana?”

”Ya, saya setuju dicalonkan sebagai capres!”

Habis menelepon saya letakkan pesawat seperti melepaskan semua harga diri saya. Tapi kemudian saya lega. Memang membuat keputusan penting tidak gampang. Saya sudah melakukannya. Dan sekarang menanggung risikonya. Ternyata tidak seburuk yang saya duga.

Mengapa mesti merasa berdosa mencalonkan diri jadi pemimpin. Saya tidak memulai, saya diminta. Apa salahnya menyenangkan anak-istri, keluarga, lingkungan, dan masyarakat. Kita pada hakekatnya kan individu yang lebih banyak aktif sehari-hari sebagai mahluk sosial.

Satu jam saya memantapkan pikiran. Yang sulit mulai cair. Saya kira benar pendapat yang mengatakan tidak ada tindakan yang tanpa risiko. Apalagi risiko yang saya ambil sudah didasari perhitungan yang matang. Kepentingan orang banyak yang mesti diprioritaskan. Saya mesti membiasakan diri dalam kapasitas seorang capres.

Ketika saya keluar rumah, para tetangga datang menghampiri. Mereka tersenyum ramah. Banyak yang mengulurkan tangan menyalami. Ketua RT bahkan dengan amat emosional memeluk saya, mengguncang tangan, dan berbisik, ”Saya bangga, masih ada orang yang berpikiran waras, jujur, dan berani untuk menyuarakan hati-nuraninya di tengah kegilaan sekarang. Tadinya saya sudah khawatir dan sangat kecewa. Kok jadi begitu! Sekarang saya puas sekali, saya bahagia, karena masih ada harapan. Ternyata masih ada orang yang berani menolak mengatakan tidak!” (*)

Jakarta, 15 Desember 08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *