SUASANA GELISAH DALAM PRIBADI PENGELANA

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Konon, ketika seseorang begadang di padang lapang, berdiri sendiri kedinginan di ketinggian hamparan pegunungan, gemetar di tengah gelombang lautan atau terkucil asing di belantara rimba raya, ketakjuban pada alam bisa saja datang secara tiba-tiba dan serempak menguasai pikiran dan sekujur rasa kita. Saat-saat seperti itulah, seseorang bisa mendadak gamang, hanyut dalam pesona yang tak dipahaminya atau malah menambah beban pertanyaan pada sesuatu yang diyakini telah menjadi rahasia.

Peristiwa semacam itulah yang sering dimaknai sebagai pengalaman eksistensial; pengalaman yang melahirkan berbagai macam kegalauan atas serangkaian misteri yang tak berjawab. Boleh jadi pengalaman eksistensial itu menggiringnya pada kesadaran bahwa dirinya merupakan bagian dari misteri alam. Tetapi, mungkin juga menghadirkan kesadaran religius. Ada persoalan transendensi di belakang peristiwa yang menakjubkan itu. Atau, diyakini, di sana ada tangan Tuhan sedang mengatur aktivitas dunia. Lalu, sejumlah pertanyaan bagai mengucur dan mencoba mencari jawab tentang eksistensinya, perjalanan pengelanaannya, pencarian jati dirinya, tujuan kehidupannya atau hakikat dari segala hakikat rahasia yang tak berjawab; dalam bahasa teologis, mysterium tremendum et fascinans; rahasia yang menakjubkan?menakutkan?mempesona? dan menariknya sekaligus pada kesadaran transendensi.

Di permukaan segala peristiwa itu, sebagian orang barangkali sekadar gelisah pada fenomena; ada keprihatinan pada sesuatu yang dipandangnya tidak beres dalam kehidupan manusia. Jika ia kemudian coba mencermati segalanya dari kacamata subjektif diri pribadi dan menjadikan dirinya sebagai ukuran nilai, maka ia akan takjub pada gelombang dahsyat ombak dalam gelas. Mungkin ia lebih tepat menjadi orang semacam Don Quixote.

Sebaliknya, jika ia menempatkan dirinya dalam keseluruhan fenomena itu dan ia menyadari keberadaannya di jagat raya ini sebagai skrup dalam sebuah mesin raksasa, boleh jadi ia akan dapat menilai dan memaknai fenomena itu bukan sekadar sebagai sebuah gejala alam, melainkan sebagai peristiwa yang tak terlepas dari persoalan yang berada di belakangnya, harapan yang terhampar di depannya, dan hakikat yang tersimpan di sebaliknya. Barangkali pula ia akan mencoba mengungkap peristiwa di balik fenomena yang tampak di permukaan itu dan berusaha mencari tahu hakikat keberadaannya dalam keseluruhan fenomena itu. Hal itulah yang sering kali menjadi bulan-bulanan pemikiran kaum filsuf, teolog, para pengelana atau mereka yang tergolong pencari eksistensial.
***

Sastrawan secara profesional tentulah tak dapat dipersamakan begitu saja dengan kaum filsuf, teolog, atau pengelana dan pencari eksistensial. Tetapi, mengingat kekuatan fantasi dan imajinasi dapat menembus profesi apapun, dapat menciptakan dunia yang penuh dengan keserbamungkinan, maka penjelajahan imajinasi dan fantasi seorang sastrawan bisa melampaui profesi apapun, pergi bergentayangan dengan segala cara bagaimanapun dan membangun dunia yang mungkin atau yang tidak mungkin sekalipun. Itulah ?kelebihan? seorang sastrawan. Di tangan seorang sastrawan, segalanya bisa terjadi dalam wacana fiksional?imajinatif. Jadilah sastra bisa mencetak berbagai-bagai dunia; yang logis atau tidak logis, yang tersusun beraturan atau yang jungkir balik dan irasional. Semuanya sah belaka. Segalanya serba boleh, lantaran fantasi dan imajinasi tidak dapat dikerangkeng, pikiran mustahil dapat dipenjara.

Tentu saja sastrawan sendiri tak mungkin setiap saat menelurkan karya-karyanya. Selalu saja ada proses penciptaan, proses kreatif. Di dalam proses itulah sastrawan tiada henti berdialog dengan dirinya sendiri, menggugat segala yang menjadi keprihatinannya atau sekadar menumpahkan kegelisahannya atas berbagai problem yang terjadi di sekitar kehidupannya. Sebuah karya seorang sastrawan sangat mungkin dihasilkan lewat proses panjang kegelisahan. Boleh jadi ia merupakan kristalisasi dari deretan perenungan yang mendalam. Sekadar contoh kasus, ingat saja apa yang dilakukan Goethe (1949?1832). Mahakaryanya yang monumental, Faust diselesaikannya selama 60 tahun, yang ditulisnya sejak ia berusia 21 tahun (1770) dan selesai tahun 1831, setahun menjelang kematiannya. Dengan begitu, di sana telah terjadi serangkaian kegelisahan berkecamuk, sejumlah pengendapan makna bertumpuk-tumpuk, dan berbagai gejolak batin lainnya yang tak kunjung surut. Bukankah kelahiran karya seorang sastrawan bermula dari kegalauan jiwanya yang tak pernah diam, yang terus-menerus menggugat dan yang tiada henti mengajukan pertanyaan?
***

Kegelisahan! Suasana batin yang seperti itulah yang segera terasa ketika kita mencermati antologi karya Wan Anwar ini. Dengan caranya yang khas, ia kadang kala memposisikan dirinya sebagai pengelana yang penasaran, pencari yang tiada pernah puas mencari, atau sebagai penggelisah yang menikmati benar kegelisahan. Jadi, dalam hal tertentu, Wan Anwar mengelana justru untuk mencari dan memelihara kegelisahan. Bahwa kemudian ia dihadapkan pada pertanyaan, rahasia atau misteri yang tak diketahui jawabannya, ia malah menikmati misteri dan rahasia itu dengan optimisme yang juga tak dipahaminya benar.

Dengan sikap itu, pewartaan Anwar dalam sejumlah puisinya laksana mengalir begitu saja, tanpa pretensi, meskipun kadang kala agak memaksa dan mendesak. Dan kita seperti dibawa ke dunia pencarian yang tak berkesudahan itu. Akibatnya, memasuki wilayah puitik yang ditawarkan antologi ini, suka tak suka, menggiring kita untuk terlibat dalam pencarian dengan segala kerahasiannya itu. Maka, tak terhindarkan, kita seperti sedang berhadapan dengan potret batin sosok seorang pengelana yang berhasrat terus menggelandang atau sosok pencari yang tak pernah bertemu. Yang dapat kita tangkap adalah serangkaian kegelisahan, deretan pertanyaan tak berjawab, atau kekecewaan yang berhenti pada potret diri sendiri. Jika ia tak dapat berbuat banyak, ia mengembalikannya pada sesuatu yang ia sendiri meyakininya sebagai misteri.

Cara pengucapan Wan Anwar yang seperti itu sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Kegelisahan individual yang dikemas secara abstrak dalam bentuk penghadiran suasana, telah dirintis Ajip Rosidi dalam sejumlah besar puisinya. Dodong Djiwapradja juga tergolong pengusung puisi suasana macam itu. Oleh karena itu, yang kita tangkap dalam puisi sejenis itu adalah kuatnya penghadiran suasana peristiwa, dan bukan lukisan peristiwanya itu sendiri. Sapardi Djoko Damono sejak awal kepenyairannya ?secara meyakinkan? juga memilih penghadiran suasana peristiwa. Di dalam puisi-puisi model itu, kita merasakan betul adanya suasana tertentu yang dibangun dan dicitrakannya. Tidak jarang, suasana peristiwa yang muncul begitu saja dalam asosiasi kita itu, mendorong kita untuk menghubungkaitkannya dengan problem kultural yang melatarbelakanginya. Dengan begitu, tugas pemahamannya di dalamnya termasuk pula usaha mencari makna atas problem yang menyangkut kultur.

Wan Anwar ?barangkali? ?sengaja? memilih jalurnya sendiri secara agak lain. Suasana yang hendak dibangunnya bukanlah suasana peristiwa, melainkan suasana kegelisahannya itu sendiri; suasana batin yang berkecenderungan sangat individual ketika berhadapan dengan pengalaman eksistensial. Maka, meski ia berusaha menyodorkannya melalui pencitraan alam sebagai alat melakukan analogi, kegalauan individual itu benar-benar menjadi sangat personal, dan ia tidak menariknya pada problem sosio-kultural. Segalanya seperti dipulangkan kembali kepada diri yang sedang dalam proses mencari. Jadilah yang muncul ibarat potret dirinya dalam proses itu.

Demikianlah, dilihat dari sudut itu, sejumlah besar puisi dalam antologi ini telah mempunyai sebuah kepribadian, style yang tidak lagi mencari bentuk estetik, meskipun penyairnya sendiri belum sampai pada penemuan eksistensial. Periksa saja salah satu puisinya yang berjudul, ?Lagu Braga Malam.? Latar tempat dilesapkan ke dalam nilai rasa subjek aku liris. Dengan begitu, citraan yang hendak dibangun lewat latar material: jalan lengang, bangunan angkuh, aroma bir, gembel di emper toko, atau deru mobil di kejauhan, sama sekali tidak dimaksudkan sebagai sarana penciptaan suasana peristiwa, melainkan suasana batin subjektif yang dihadapkan pada kegamangan yang ia rasakan begitu asing. Dengan siapa lagi aku mesti bercakap/selain dengan hati sendiri/ yang menjadi pokok problem eksistensial itu, seperti hendak mewartakan sesuatu yang justru tidak diyakininya sendiri. Ia hendak mengatakan sesuatu yang ia sendiri ragu terhadapnya. Dengan begitu, penegasan aku liris: tapi aku akan belajar menumbuk luka/ pada dasarnya belajar dalam proses pencarian eksistensial itu yang muaranya jatuh pada misteri keterasingan: ? Kita tak pernah/berkenalan?

Kuatnya titik tekan dan kesan hendak memulangkan segala persoalan pada subjek aku liris, dalam beberapa puisi, justru memperkuat pelukisan suasana batin. Akibatnya, penghadiran suasana kontemplasi itu, tidak mengajak pembaca untuk menelusuri gagasan yang berbau filosofis, atau memprovokasi pembaca untuk berteriak lantang melawan ketidakberdayaan, melainkan seperti sekadar mewartakan sesuatu tanpa beban, tanpa pretensi, dan seolah-olah mengalir begitu saja, dan menyapa kita seperti apa adanya. Maka, ketika ia kecewa atas problem sosial, marah terhadap kemunafikan penguasa atau tergoda untuk memasuki problem filosofis yang njlimet, ia mengembalikannya menjadi problem pribadi; atau menyerahkannya pada optimisme.

Perhatikanlah, misalnya, puisi yang berjudul ?Ekstase Gerak Tarian? yang mengangkat problem polusi udara di perkotaan. Kita sama sekali tidak menemukan caci-maki atau kata-kata umpatan dalam sajak itu. Aku liris sekadar mengisahkan kerinduan kehidupan masa lalu yang penuh gairah dan kecemasannya pada kehancuran bumi akibat polusi udara. Ia seperti menyapa kita: gerak tarianmu menjelma oksigen yang siap/ melumasi kerongkongan dan paru-paru yang sakit/digerogoti serbuk baja?karbon monoksida kota/?. Jadi, persoalannya kini terpulang pada diri sendiri. ? Kita keraskan dzikir buat peradaban yang ngilu/sebab kata-kata telah dibakar jilatan api/?.

Kesan yang hampir sama kita jumpai pula pada beberapa puisinya yang lain. Cermati misalnya, puisi berjudul, ?Begitu Ganas Waktu? yang mengungkapkan euforia politik atau puisi ?Ia Datang kepadaku Telanjang? yang melukiskan keterpaksaan seorang pelacur yang tiada kuasa melepaskan diri dari kemiskinan struktural. Anwar menyulap problem sosial itu menjadi peristiwa batin si aku liris. Dengan begitu, yang kemudian kita tangkap justru suasana keprihatinan batin si aku liris. Beberapa puisi lain yang juga mengangkat problem sosial ?sekadar menyebut dua di antaranya? seperti ?Sajak tentang Burung? yang mengisahkan gonta-gantinya rezim penguasa negeri ini atau ?Merayakan Kematian? yang melukiskan perilaku politikus kita, memperlihatkan kepiawaian penyair untuk menyulap amarah dan caci-maki menjadi suasana kegelisahan batin.

Itulah risiko yang mesti diterima Wan Anwar atas pilihannya yang jatuh pada usaha membangun suasana batin daripada suasana peristiwa atau suara-suara protes. Jadilah kita terus-menerus dibawa masuk ke dalam serangkaian suasana kegelisahan seperti itu. Barangkali dalam konteks itu pula, puisi menjadi penting untuk menebarkan kesejukan dan menyemaikan keteduhan. Meski begitu, tentu saja pilihan itu juga punya konsekuensi lain, yaitu adanya kecenderungan memanfaatkan idiom atau ungkapan yang sama, yang barangkali muncul begitu saja tanpa ia sadari sendiri.

Dalam konteks itu, penting artinya bagi Wan Anwar untuk terus-menerus menciptakan idiom-idiom dan ungkapan baru yang lebih segar. Penghadiran begitu banyak analogi dan metafora yang terasa begitu cerdas ?peradaban ngilu, mengunyah kemuraman, puncak siang, mengepulkan igauan, huruf-huruf bersungsangan, dll.? membuktikan kerja kerasnya untuk menghindar munculnya majas yang klise. Bahkan, lewat usahanya menghadirkan pola analogi, metofa dan paradoks ?sekadar menyebut beberapa jenis majas?, justru telah menjadikan antologi ini punya nilai lebih. Dalam soal itu pula, antologi ini tidak sekadar menyodorkan kemampuan penyairnya memperlihat estetika yang lebih berpribadi ?dan tidak lagi mencari-cari bentuk?tetapi juga menyuguhkan ?dalam batas-batas tertentu?kekayaan majas atau bahasa kiasan (figurative language) yang agak khas.
***

Secara keseluruhan, kita dapat mencermati antologi ini melalui tiga hal, yaitu melalui pola yang dikemas, tema yang diusung, dan majas yang ditawarkan. Dilihat dari hal yang pertama, pola yang dikemas, tampak ada perkembangan yang cukup siginifikan dari persajakan yang dibangunnya. Dalam sejumlah besar puisinya yang bertarikh awal tahun 1990-an, terkesan Anwar memanfaatkan bentuk sampiran dan isi model pantun. Tentu saja ini boleh dikatakan merupakan kejutan; bagaimana bentuk pantun yang sudah sejak lama kita lupakan, dapat muncul lagi dalam kemasan yang lebih menarik.

Jika dua larik pertama dalam bait pantun, digunakan sebagai sampiran, dan dua larik berikutnya sebagai isi, maka persajakan Anwar menggunakan pola yang sebaliknya: isi berada di larik pertama, dan larik-larik berikutnya merupakan keterangan atau penegasan duduk soal yang disampaikan dalam larik pertama itu. Meski begitu, dalam beberapa puisinya yang lain, larik terakhir sering kali juga digunakan untuk kembali menegaskan soal yang diangkat dalam larik pertama. Perhatikan puisi berjudul ?Lecutan-Lecutan? yang dikutip berikut ini:

ingat tubuh kita
berbeban keinginan yang bertumpuk
berpijar memanaskan pasir pantai
yang menanti cumbu ombak
yang sepintas dan lepas lagi
ingat puncak siang
menyengat tegang keringat
melecut kulit kehitaman
menanti akhir percakapan
yang tergantung dan lepas lagi
lalu ingat nyanyian kakek
panas akan melecut-lecut

Puisi ini dapat kita tafsirkan sebagai sikap introspektif atas berbagai harapan dan ambisi kita (manusia) yang kadangkala jauh melebihi kapasitas dan kemampuan sendiri. Dan ia mengingatkan agar kita tidak melupakan usaha para pendahulu kita. Terlepas dari persoalan tematis itu, perhatikanlah larik pertama dalam bait pertama: ingat tubuh kita. Larik inilah sesungguhnya yang menjadi pokok persoalan (:isi) bait ini, sebab larik-larik berikutnya lebih berfungsi menjelaskan atau memberi keterangan mengenai persoalan yang diangkat dalam larik pertama itu. Jadi, jika kita bandingkan dengan pantun, bagian keterangan atau penjelasan itu lebih menyerupai sampiran, meskipun tidak persis sama.

Larik pertama dalam bait kedua: ingat puncak siang, juga menduduki posisi yang sama seperti yang terjadi pada bait pertama. Sementara pada bait ketiga yang terdiri dari dua larik: lalu ingat nyanyian kakek /panas akan melecut-lecut, fungsi larik pertama dan larik kedua tetap dengan pola yang sama. Pokok masalahnya adalah: lalu ingat nyanyian kakek, sebagai usaha untuk mengingatkan kita pada perjuangan para pendahulu kita. Dan larik keduanya, panas akan melecut-lecut// dimaksudkan untuk menegaskan betapa berat perjuangan yang telah dilakukan mereka.

Pola seperti ini ternyata juga tampak dalam puisinya yang lain, seperti ?Sepi Kamarku?, ?Kita Baringkan Segala Keluh? dan sejumlah besar puisinya yang ?seperti telah disebutkan?bertarikh awal tahun 1990-an. Apakah pola ini hanya kebetulan saja? Pertanyaan itu tentu saja tidak ilmiah. Bagaimanapun, penyair sadar betul akan apa yang hendak ditulisnya. Kesadaran itu muncul seketika saat ia mengusung estetika yang dibangunnya. Jadi, setiap apapun yang terdapat dalam teks, perlu kita curigai sebagai sesuatu yang sengaja dibuat dengan kesadaran membangun estetika puitik itu.

Pola seperti itu rupanya tak kukuh dipertahankan benar. Dan itu sebagai sesuatu yang wajar dalam perkembangan kepenyairan seseorang. Dalam sejumlah puisinya yang bertarikh pertengahan 1995?1998, ekspresi puitiknya tidak lagi memanfaatkan pola tertentu. Oleh karena itu, makna dalam setiap bait puisi tidak lagi ditentukan oleh salah satu lariknya, melainkan oleh keseluruhan larik dalam bait itu. Perhatikan sebait puisi yang berjudul ?Bertamu di Kamar Sunyi? berikut ini:

kubersihkan diri, kurapikan baju, bertamu
di kamar sunyi. Tapi tak ada Tuan rumah
yang tiap malam menggedor jantung, merobek
sarang rindu, mengkoyakmoyakkan hati kering ini

Pemenggalan larik (enjambement) dalam: kubersihkan diri, kurapikan baju, bertamu/di kamar sunyi./ telah menempatkan larik kedua menjadi bagian penting dan tak terpisahkan maknanya dengan larik pertama. Meskipun larik kedua: di kamar sunyi. Tapi tak ada Tuan rumah mengandung makna tersendiri sebagai ?sedang menghadap Tuhan? yang keberadaan-Nya entah di mana, fungsinya justru menegaskan larik pertama dan larik-larik berikutnya. Dengan begitu, bait pertama puisi itu memperkuat pelukisan pesan pertobatan si aku liris.

Dalam bait yang kedua, pelukisan pertobatan si aku liris itu menyembulkan efek yang lebih mendalam karena pertobatan itu telah dilakoninya dalam proses yang begitu panjang dan melelahkan yang dikatakannya: nyaris sia-sia. Dan dalam kelelahan itu, ia masih berharap: Tuhan memancarkan cahaya-Nya, meski diungkapkannya dalam bentuk pertanyaan retoris: bagaimanakah aku menggapaimu/dan Cahaya padaku menjelma?//

Demikian, dilihat dari pola persajakannya, tampak bahwa Wan Anwar seperti tak puas dengan apa yang telah dirintisnya di awal kepenyairannya. Dalam puisi-puisinya yang bertarikh lebih akhir, Anwar lebih leluasa menyampaikan berbagai bentuk ekspresi puitiknya. Dengan begitu, ia dapat memanfaatkan pola apa saja sejauh itu mendukung gagasan yang hendak disampaikannya.

Dilihat dari tema yang diusung, secara garis besar kita dapat membaginya ke dalam tiga kelompok: kegelisahan individu dalam berhadapan dengan diri sendiri ketika ia hanyut dalam berbagai peristiwa yang tak berjawab, ketakjuban ketika berhadapan dengan alam, dan kesadaran dalam berhadapan dengan Tuhan. Dalam sejumlah besar puisinya, ketiga tema di atas sepertinya lahir tidak secara serta-merta, melainkan melalui proses panjang pengalaman eksistensial. Dengan cara pengendapan yang mendalam seperti itu, maka tema apapun yang diusungnya, tidak wujud dalam penyampaian yang artifisial, melainkan berhias simbol-simbol. Jika kemudian simbol-simbol itu menjelma menjadi penghadiran suasana kegelisahan batin, justru dari situlah kita dapat menguji kepiawaian sosok seorang penyair. Bagaimana dan sejauh manakah kecerdasan penyair mengolah dan menyulap peristiwa apapun menjadi sesuatu yang penuh makna.

Dilihat dari majas yang ditawarkannya, kita dapat mencermati kesungguhan usaha Wan Anwar dalam mencetak begitu banyak analogi, metafora, paradoks, dan berbagai macam gaya bahasa (majas) lainnya. Dalam konteks ini, kita juga masih dapat melihat kesulitan Anwar untuk menghindar dari pengulangan (duplikasi) idiom atau ungkapan yang sama. Ia juga terkesan masih bertindak terlalu hati-hati. Akibatnya, pengembaraan imajinasi dan keliaran mencetak majas secara lebih bebas, tanpa sekat, banyak tergoda oleh keinginan untuk kembali pada pola pembentukan majas yang sangat lazim, untuk tidak mengatakannya, terlalu biasa.
***

Sajak suasana atau puisi dengan titik tekan pada pencitraan suasana peristiwa an sich atau peristiwa batin yang menggambarkan kegelisahan individu sekalipun, dapat dengan mudah kita jumpai pada puisi para penyair kita. Sapardi Djoko Damono sangat mahir dalam membangun peristiwa semacam itu dalam sejumlah besar puisinya. Wan Anwar dengan orientasi pada peristiwa batin, memang jadinya punya kekhasan dan kepribadian tersendiri. Meskipun begitu, kekhawatiran selalu berada di bawah bayang-bayang orang lain, niscaya merupakan hal yang patut dipertimbangkan benar. Dalam hal inilah, Wan Anwar perlu memasuki wilayah kegelisahan rohani yang lebih dahsyat. Dan para penyair sufi telah mewartakan kedahsyatan rohaninya ketika mereka mencapai titik puncak bercengkrama dengan sumber segala sumber misteri: Tuhan!

Bagaimanapun, dengan kepribadian dan estetika puitik yang ditawarkan Wan Anwar, peluang mencapai titik puncak, bukanlah hal yang mustahil. Satu keniscayaan jika ia bersungguh-sungguh memelihara pengelanaannya dan terus-menerus menikmati pengalaman eksistensialnya. Antologi ini boleh dikatakan merupakan titik berangkat yang penuh optimisme, sebagaimana puisi-puisinya yang tidak memperlihatkan nada pesimis. Maka, jadikanlah tradisi bertamu sebagai perilaku. Suatu ketika, di saat yang entah, Tuan Rumah akan menyapa dan membuka perjamuan. Alhamdulillah!

Bojonggede, 30 Syafar 1423; Tahun Baru Saka 1924; 13 April 2002

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *