Tragedi Naskah Kuno dan Kesadaran Literasi

Munawir Aziz*
http://www.jawapos.com/

Kabar buruk tentang hilangnya naskah kuno di Museum Radya Pustaka, Solo, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu, merupakan rentetan tragedi dalam dunia literasi negeri ini. Museum ini didirikan pada 28 Oktober 1890 oleh Adipati Sosroningrat IV ketika masa pemerintahan Pakubuwono IX. Koleksi naskah yang hilang antara lain, Warna-Warni Sinjang (4 jilid), Smaradhana, Kakawin Barathayudha, Bausastra (4 jilid), Primbon Mangka Prajan, Serat Ong Ilaheng, Serat Jayalengkara Purwacarita, Serat Ambiyabahwi, Babad Surakarta, Babad Giyanti Dumugi Prayat, Serat Wiwahajarwa, Buku Gambar Songsong Keraton, Babad Purwa, dan lain-lain.

Raibnya sejumlah naskah kuno di museum yang menyimpan koleksi naskah Keraton Surakarta ini menjadi titik hitam atas miskinnya kesadaran pengelolaan arsip secara benar. Naskah yang hilang, lepas dari pantauan administatur dan pengelola perpustakaan. Tragedi itu juga menjadi penanda lemahnya manajemen perpustakaan di negeri ini.

Beberapa waktu lalu, Museum Radya Pustaka juga dihebohkan oleh hilangnya beberapa koleksi patungnya yang bernilai historis tinggi. Patung-patung tersebut dijual oknum di situ kepada pengusaha dan kolektor benda kuno yang tinggal di Jakarta. Yang jelas, tragedi penjualan patung dan hilangnya arsip bersejarah itu melewati kongkalikong dengan jalinan kerja sama rapi.

Hilangnya naskah kuno di Radya Pustaka merupakan salah satu dari sekian tragedi arsip sejarah. Beberapa naskah kuno yang bercorak Melayu di Sumatera juga banyak diburu oleh tengkulak dan kolektor, kemudian dijual ke negeri jiran. Naskah-naskah kuno yang masih ada di pelosok daerah, banyak yang belum terjamah peneliti untuk diteliti dan didokumentasi. Padahal, pemerintah sudah menfasilitasi peneliti dan filolog untuk mencari, mengamankan, serta mendokumentasikan naskah kuno dengan berbagai fasilitas.

Tragedi hilangnya naskah kuno di beberapa tempat itu menunjukkan miskinnya kesadaran sejarah dan partisipasi kita dalam menjaga arsip nasional. Nancy K. Florida, yang sering berkunjung ke Solo, merasa sangat sedih dengan hilangnya naskah-naskah kuno penting itu. Peneliti ini dianugrahi gelar Kanjeng Mas Ayu Tumenggung Budayaningtyas berkat ketekunannya mengerjakan pendokumentasian naskah-naskah kuno di Keraton Surakarta sejak 1980. Kerja keras penelitiannya menghasilkan buku Javanese Literature in Surakarta Manuscripts (1. Introduction and Manuscprits of the Karaton Surakarta, 2.Manuscripts of the Mangkunegaran Palace), Writing the Past, Inscribing the Future, dan beberapa karya lain.

Tragedi seakan tak berhenti, bahkan ia membangunkan kesedihan dan bencana lain. Naskah-naskah kuno warisan peradaban Jawa, eksotisme tradisi Melayu, kekayaan khazanah Bugis dan daerah lain, menjadi penanda bahwa banyak yang masih dapat digali untuk menghadirkan nilai-nilai dari sesuatu yang dianggap klasik. Naskah La Galigo menjadi pembuktian betapa kajian atas warisan klasik menjadi titik pijak yang menyegarkan.

Karya-karya peneliti asing berhasil menjadi jembatan untuk memahami masa silam, sejarah, dan jejak peradaban negeri ini. Karya Lombard, Nusa Jawa Silang Budaya, tak ayal menjadi naskah babon untuk memahami Jawa dari perspektif peneliti modern. Namun, tak bisa dimungkiri, babad dan sejarah bangsa ini disusun dari ketekunan serta imajinasi peneliti asing. Ini merupakan berkah sekaligus tamparan keras bagi intelektual negeri ini. Betapa karya-karya riset peneliti asing terasa ”berjarak” dan kering oleh ”rasa”. Karya-karya itu tak bisa menutup celah perasaan batin, sesuatu yang menjadi fondasi tradisi Jawa.

Hilangnya naskah-naskah kuno tak hanya menghasilkan penyesalan. Namun juga celah untuk melakukan refleksi atas nasib sejarah dan kesadaran literasi di negeri ini. Rusaknya beberapa naskah kuno yang masih tersisa menumpuk gelisah tentang ”amnesia sejarah” warga Indonesia. Lalu, bagaimana gerak untuk menyelamatkan naskah kuno mesti dimulai?

Dalam peta sastra Indonesia dewasa ini, kesadaran untuk menggali, mengolah, dan mengkritik warisan naskah kuno sudah mulai bangkit. Karya sastra yang membahas tentang babad-babad penting banyak ditulis oleh para novelis. Pramoedya memukau dengan Arus Balik, Calon Arang, dan beberapa novel lain. Langit Kresna Hadi menghadirkan serial Gajah Mada dalam novel tebal. Y.B. Mangunwijaya menyelesaikan cerita Roro Mendut. Seno Gumira Adjidarma dengan novel Kitab Omong Kosong, Kalathida dan serial Nagabumi. Penulis-penulis lain mulai ramai menggarap sejarah silam peradaban di negeri ini.

Seno Gumira bahkan melakukan kritik atas feodalisme Jawa yang dirunut dari Kitab Ramayana anggitan Empu Walmiki. Seno mendasarkan cerita dengan menggali referensi dari naskah-naskah penting: Jnanashidanta, Siwaratrikalpa, Ramayana, dan beberapa naskah lain. Seno menghadirkan refleksi dan intervensi dengan menampilkan Togog sebagai penutup cerita.

Karya sastra dengan cita rasa khas sejarah dan bersandar pada naskah kuno merupakan terobosan penting di tengah kemalasan bergelut dengan tradisi klasik. Namun, tetap saja masih menyisakan celah; harapan lahirnya peneliti Indonesia yang otoritatif membahas babad klasik dan sejarah peradaban di negeri ini. Karya-karya dari peneliti asing hendaknya diimbangi dengan hasil riset peneliti negeri ini yang sanggup membahas secara tuntas Babad Tanah Jawa, Babad Jaka Tingkir, Babad Demak, Babad Pajajaran, dan babad lain. Kisah-kisah pahlawan yang berkelindan dengan mitos layak untuk dikritisi dan ditulis kembali.

Tragedi miskinnya kesadaran akan arsip dan naskah kuno menyisakan harapan dan pertaruhan. Penantian lahirnya peneliti Indonesia yang sanggup menggarap ulasan otoritatif atas jejak peradaban Nusantara masih berdengung. Pada titik ini, siapa yang berani? (*)

*) Peneliti di Cepdes Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *