Wanita yang Lahir pada Hari Kamis

Putu Nopi Suardani*
http://www.balipost.com/

“KENAPA kau tak juga menikah?” wanita di hadapanku menanyakan itu lagi di setiap pertemuan di meja makan. Jika ada 365 kali makan malam yang kami lalui bersama sejak wanita itu resah akan kehadiran cucu, berarti sudah lebih dari 365 kali kudengar kalimat yang isinya sama.

Pernah dalam sebuah makan malam, wanita yang sudah 30 tahun menjadi ibuku itu tak henti-hentinya menanyakan kapan aku akan menikah. Itu bermula dari undangan pernikahan sepupuku.

“Kapan kau kenalkan pacarmu pada Ibu?” pertanyaan pertamanya sembari menyendok nasi. Aku diam saja. Sudah pernah kujawab dan aku malas mengulangi jawabanku. Buang-buang energi dan tentu saja kesabaran karena aku tahu dia tak pernah puas dan menginginkan jawaban yang baru dariku.

“Sepupumu saja yang baru diangkat menjadi PNS akan menikah seminggu lagi. Padahal baru enam bulan yang lalu dia diwisuda. Dia malah jauh lebih muda darimu. Zaman sekarang menikah muda sudah biasa. Malah yang tidak menikah-menikah yang tidak biasa,” katanya lagi sambil menelan makanannya.

Mentang-mentang dia ibuku seenaknya saja dia bicara begitu. Semudah menelan ayam goreng dan tumis kangkung yang terasa tak lebih dari tulang ikan yang tersangkut di tenggorokanku. Aku tetap diam saja. Muak menulang-ulang jawaban yang sama.

“Cuma kau satu-satunya anak ibu. Ibu ingin kau segera berkeluarga…”

Aku tahu bu, sejak dulu aku tahu apa yang ibu mau. Ibu ingin aku berkeluarga dan hidup bahagia. Ibu ingin aku cari istri yang pintar masak, rajin menyapu halaman, mencuci pakaian, menyetrika, dan menyirami bunga-bunga ibu. Aku tahu ibu sangat ingin punya cucu sebab ibu juga ingin seperti tetangga yang ketika arisan menceritakan cucu mereka yang gendut dan manja. Sedangkan ibu tak punya bahan cerita yang sama karena memang tak ada cucu yang bisa diceritakan. Aku tahu semua karena ibu berkali-kali menyatakan keinginan ibu. Aku juga tahu dari membaca buku harian ibu yang sengaja ibu geletakkan di meja kerjaku.

“Apa perlu Ibu carikan jodoh untukmu?”

Jodoh? Aku menjerit keras dalam hati. Aku tahu sejak kecil ibu selalu mencarikan apa yang aku mau. Ibu pernah mencarikan layang-layang berekor panjang di warung kecil dekat pasar. Ibu juga mencarikan belalang di sawah untuk percobaan biologi di sekolahku lantaran aku takut dipatuk ular sawah. Ibu mencarikan benda-benda yang sesuai dengan jawaban teka-teki dari kakak kelasku yang sialan itu. Sekarang ibu mau mencarikan aku jodoh. Padahal aku tak minta ibu mencarikan jodoh. Bukankah dulu ibu yang mengajari bahwa jodoh akan datang sendiri. Kenapa sekarang ibu yang repot-repot mencari.

“Ibu punya teman yang punya anak gadis, dia lumayan cantik dan baik…”

“Aku hanya akan menikah dengan wanita yang lahir pada hari Kamis.” Akhirnya kutemukan jawaban yang benar-benar baru, tanpa mengutip dari buku atau kata-kata orang lain. Jawaban yang akhirnya membuatnya terdiam untuk waktu lama. Semoga dia puas karena aku telah mengakhiri jawabanku yang selama ini terdengar monoton. Seharusnya dia memang puas karena jawabanku barusan mengindikasikan bahwa aku pasti akan menikah. Itu adalah kesimpulan dari seluruh pertanyaan ibuku di meja makan malam itu.

Beberapa malam setelah itu ibuku tak pernah bertanya tentang pernikahanku. Tepatnya belum bertanya. Mungkin dia masih mencerna dan menganalisa pernyataanku. Awalnya aku tenang sebab tak ada teror lagi di meja makan. Tapi aku jadi berpikir bahwa apa yang aku katakan tempo hari bisa saja dianggap sebagai janji seorang anak kepada ibu. Ibu mungkin saja diam-diam mempersiapkan hari pernikahanku. Tinggal menunggu aku tetapkan tanggalnya. Mungkin juga dia sudah gembar-gembor pada ibu-ibu tetangga. Belakangan ini dia tampak sibuk dengan tetangganya yang setia. Apa mungkin mereka sudah booking tempat untuk resepsi pernikahanku? Atau mereka ke butik untuk merancang pakaian pengantinku? Atau ke toko kue mensurvei harga jajanan kering?

Jika itu benar, aku akan merasa sangat bersalah jika aku hanya main-main dengan kata-kataku sendiri. Aku tak ingin ibu malu pada teman-teman arisannya. Apa yang harus aku lakukan? Satu-satunya cara adalah mencarinya. Mencari wanita yang lahir pada hari Kamis. Menyatakan cinta lalu menikahinya.
***

Aku duduk di taman kota bersama kamera yang kubawa ke mana-mana. Memotret setiap wanita cantik yang kulihat. Kuamati foto-foto itu. Mereka cantik, berkulit kuning langsat, langsing, dan berambut panjang. Hey, bagaimana mungkin aku harus memilih yang tercantik? Satu-satunya kriteria wanita yang akan kunikahi adalah yang lahir pada hari Kamis, tak peduli cantik atau tidak, langsing atau tidak, berkulit mulus atau tidak, dan sebagainya.

Satu persatu kutanyai wanita-wanita itu. “Permisi, Anda lahir pada hari apa? Maaf, apakah Anda lahir pada hari Kamis? Maaf mengganggu, cuma ingin tahu apakah ketika Anda lahir itu hari Kamis? Hallo, masih ingat hari lahir kamu? Kira-kira hari Kamis, ya? Aku lahir pada hari Minggu, kalau kamu?”

Aku pulang bersama foto-foto wanita yang belum tentu lahir pada hari Kamis dan rasa sakit hati atas jawaban gadis-gadis itu. Mereka semua bilang aku gila, sinting, tak waras. Tapi pencarianku tak berhenti di taman kota. Kubuka-buka lagi buku kenangan ketika aku lulus SMA. Di sana ada foto dan biodata teman-temanku. Ternyata banyak temanku yang cantik. Hanya saja aku dulu tak menyadarinya. Di manakah mereka sekarang? Bertambah cantikkah? Kulihat tanggal lahir di sebelah foto mereka. Namun, yang tertulis hanya tempat dan tanggal lahir. Tak ada yang mencantumkan hari lahir.

Lalu aku cari lewat mesin internet. Kuketik “wanita yang lahir pada hari Kamis”. Kutemukan nama Valentina yang melahirkan bayi kembar lima pada Kamis, 21 Mei 2009. Aku tertarik pada horoskop yang menyebutkan masa depan lelaki yang menikahi wanita yang lahir pada hari Kamis. Aku geli sendiri. Katanya wanita itu akan memberikan banyak anak. Hahaha…, berarti Valentina lahir pada hari Kamis, buktinya sekali mengandung dia melahirkan lima bayi.
**

Harus kucari ke mana lagi, aku mengeluh pada foto ayahku. Foto ayah juga tidak memberiku petunjuk. Kuputuskan menemui dukun yang direkomendasikan temanku. Aku cukup membawa diri dan beberapa lembar uang 50 ribuan.

Memang tak salah temanku itu. Dia memang dukun sakti. Belum kuutarakan maksudku datang, dia sudah menebak dengan benar apa yang ingin kutanyakan. Dia langsung menyuruhku masuk ke dalam ruangan kecil yang terpisah dari ruangan pasien lain yang menunggu dengan amat penasaran. Aku cukup duduk saja dan tak usah berkata apa-apa. Setelah beberapa menit komat-kamit, dia berkata, “Temuilah dia di taman kota sore ini. Dia duduk di sebelah kolam air mancur, membaca sebuah buku, dan mengerling cantik ketika kau datang.”

Aku segera angkat kaki dari rumah dukun itu setelah menyerahkan tiga lembar 50 ribuan dan ucapan terima kasih. Aku bergegas menuju taman kota. Benar saja, tepat di sebelah kolam air mancur duduk seorang wanita berambut sebahu, membaca buku. Aku makin takjub dengan dukun itu. Kuhampiri wanita itu. Beberapa lama aku hanya berdiri di depannya, tak berkata apa-apa karena masih tak percaya dengan yang kualami. Dia menutup bukunya dan menoleh kepadaku. Dan dia mengerling sangat cantik, sama seperti kerlingannya 20 tahun lalu.

“Wayan!” ujarnya dengan suara yang masih selembut dulu.

“Rani…,” sahutku malu. Tak bisa kubayangkan kulit wajahku yang gelap memerah. Dia mempersilahkanku duduk di sebelahnya. Buku di tangannya adalah hadiah dariku ketika perpisahan di SD dulu.

“Bukumu,” katanya, “Kubawa ke mana-mana karena isinya lucu. Tak kusangka bertemu kau lagi di sini. Kemarin malam aku naik pesawat dari Jakarta. Hmm, kau sudah menikah?”

Aku menggeleng. Dia tertawa. Dia tak pernah berubah menertawakanku. “Hei Wayan! Kau masih menunggu wanita yang lahir pada hari Kamis itu?”

Aku diam saja. Ya, bertahun-tahun aku menunggu. Aku menunggumu.

“Aku kira kau sudah jatuh cinta pada gadis lain dan melupakanku.”

Mana mungkin aku lupa padamu. Ketika kukatakan bahwa aku akan menikah dengan gadis yang lahir pada hari Kamis di belakang sekolah itu, kau berbisik dengan tegas bahwa kau lahir pada hari Kamis. Lalu kau ucapkan janji konyol bahwa kau akan menikah denganku. Aku terus mengingatnya.

“Aku mau tanya, apa yang sedang kau lakukan di sini? Kita begitu kebetulan bertemu di sini. Agak janggal, tapi aku senang bertemu kau lagi.”

“Aku ke mari untuk menemui wanita yang lahir pada hari Kamis dan menikahinya,” sahutku mantap.

Dia diam. Kini, giliran wajahnya yang kuning langsat memerah.

Beratan, 26 Mei 2009

*) Penulis adalah mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris Undiksha Singaraja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *