‘Sesiah’ Terakhir

M. Harya Ramdhoni Julizarsyah*
http://www.lampungpost.com/

Belantara Hanibung, Tanah Bumi Sekala Bgha tahun 1289 Masehi

Sinar matahari pagi yang menembus reranting pokok Sekala menyadarkannya dari pingsan. Kekuk Suik tak tahu pasti berapa lama tak sadarkan diri di dalam belantara ini. Manakala ia siuman segalanya telah tiada. Kekasih yang dicintanya dengan sepenuh hati telah berpulang ke pangkuan dewa dewi. Kepahitan adalah yang tertinggal baginya. Hanya jerit menghiba Seperdu kekasihnya terakhir kali terdengar. Dan amarah Ibunda Ratu Sekeghumong mengguntur memenuhi Lamban Batin Ngajenguk. Disusul suara berderak leher sang kekasih dipatahkan terakot tombak empat algojo. Jaringan otot dan tulang gadis belia itu tercerai. Darah mudanya membasahi tanah bumi Sekala Bgha yang sejak malam sebelumnya digempur hujan. Di atas batu kecemerlangan paras perempuan terindah di bumi Sekala Bgha itu berakhir. Semua itu akan membekas dalam ingatannya seumur hidup. Sebuah kenangan yang haru. Sebuah riwayat yang pahit.

Kekuk Suik memimpikan Seperdu sebagai Ratu Sekala Bgha. Ia ingin mendudukkan perawan terindah itu sebagai permaisuri semua wangsa. Menjungkirkan anggapan muram selama ini bahwa darah seorang saibatin di tengah bercampur dengan darah rakyat jelata.

“Kelahiran seorang anak manusia dari hasil perkawinan antara keturunan Wangsa Sekala Bgha dengan seorang rakyat jelata takkan melanggar aturan para dewa,” gumamnya pada diri sendiri suatu hari.

Ia tak henti mencari pembenaran bagi mencapai cita-citanya mengawini Seperdu. Ia bertanya kepada sanak saudara dan para kerabat namun jawabnya selalu nihil. Mereka bersetuju pada aturan yang tak tertulis bahwa tak elok seorang Pangeran Sekala Bgha seperti dirinya mengawini gadis pekon yang bodoh dan terbelakang.

Kekuk Suik membenci kenyataan itu. Ia kecewa, namun merasa tak ada gunanya menantang keadaan. Dalam hati ia tertanya-tanya: Adakah para dewa tak mendengar permohonanku? Adakah para gerinung tak merestui angan-anganku ini? Semakin banyak ia bertanya, semakin ia meragukan apakah cita-citanya akan tercapai. Ibundanya sering mengingatkan agar ia memilah dengan bijak perempuan yang akan menjadi calon istrinya. Kekuk Suik sadar bahwa ia bukanlah perjaka pekon biasa. Dialah pun pangeran, putra mahkota Kerajaan Sekala Bgha, pewaris tahta sepeninggal ibunya kelak. Sejak masih kanak-kanak ia telah ditinggal mati ayahandanya, Pun Pangeran Umpu Betawang. Sang ayah mati diracun seorang lelaki penganut agama baru bernama Jalan Yang Lurus. Lelaki misterius itu menghilang setelah membunuh ayahnya. Bisik-bisik di sekitar mata-mata kerajaan menyebutkan bahwa lelaki itu bernama Maulana Nyeghupa. Beberapa waktu sebelum melaksanakan niat jahatnya, Maulana Nyeghupa berhasil menyusup ke dalam Lamban Dalom Sekala Bgha dengan menyamar sebagai pelayan. Selama beberapa minggu Nyekhupalah yang menyiapkan makanan bagi Pun Pangeran Umpu Betawang. Hingga tibalah hari yang naas itu. Tanggal 13 bulan Asada, 13 tahun yang lalu, Maulana Nyeghupa yang licik dan jahat itu sempurna menamatkan nyawa Pun Pangeran Umpu Betawang. Ia mencampur makanan Pun Pangeran Umpu Betawang dengan menggunakan racun campuran getah pohon damar dengan serbuk melasa kepappang. Tinggallah Kekuk Suik merana sebagai yatim yang kehilangan kasih seorang bapak. Lamat-lamat bagai seorang pencuri, Maulana Nyeghupa secara senyap menghilang tak berbekas. Pun Beliau Ratu Sekeghumong diseret kesedihan dan kepiluan. Ia bersumpah akan menuntut balas kematian suaminya. Kejahatan Maulana Nyeghupa harus ditebus dengan nyawanya. Kematian suaminya merupakan hasil persekutuan laknat yang dilakukan oleh segerombolan perampok berkedok penyebar agama baru. Perhimpunan orang-orang terkutuk yang tak jemu-jemu hendak menjatuhkan dirinya dari pepadun Ratu Sekala Bgha. Ibundanya tak gentar menyongsong persekutuan manusia-manusia keji itu. Ia mahfum bahwa kematian suaminya bukan merupakan akhir dari rencana mereka untuk mengingkari para dewa tapi merupakan awal yang entah bila akan berujung.

Tanpa sepengetahuan ibunya, Kekuk Suik bergegas memacu kudanya menuju Bukit Kulut di wilayah pedalaman Sekala Bgha. Pekon di mana Seperdu kekasihnya berkediaman. Kuda yang ditungganginya berderap semakin jauh meninggalkan Ibu Negeri Bunuk Tenuar. Belasan pekon balak dan pekon lunik telah ia lewati. Hujung Langit, Batu Bgha, dan Gunung Batin telah tertinggal di belakang. Yang tersisa kini adalah keinginannya untuk segera menemui sang kekasih. Kekuk Suik telah mantap dengan niatnya untuk melarikan diri bersama Seperdu. Ia akan melakukan sebambangan untuk menghindari tuntutan adat wangsa Sekala Bgha. Peduli iblis dengan perbincangan senyap para lelaki di atas bumi Sekala Bgha akhir-akhir ini. Mereka tak henti menggunjingi Seperdu sebagai jelmaan setan betina pembawa sial. Keanggunan parasnya yang konon melebihi seribu putri titisan bidadari adalah petaka itu. Sesiapa saja yang mencumbu kecantikan Seperdu akan segera hilang ingatan. Para raja jukuan hingga rakyat jelata saling berbunuhan untuk memperebutkannya.

Kekuk Suik tak menyadari bahwa ketika ia belum jauh meninggalkan Ibu Negeri Bunuk Tenuar, seratus prajurit Sekala Bgha di bawah pimpinan Wakil Panglima Balatentara Kerajaan Menang Betangkar telah bergerak menuju Pekon Kulut di Perbukitan Kulut.

Mereka membawa satu perintah penting dari Pun Beliau Ratu Sekeghumong: Menangkap hidup atau mati perawan Pekon Kulut yang bernama Seperdu. Seratus prajurit pilihan tersebut tak tahu mengapa Pun Beliau Ratu menitahkan penangkapan aneh ini. “Apalah dosa seorang perempuan pekon yang bodoh dan terbelakang?” mereka bertanya pada diri masing-masing.

Takdir menyusun dirinya sendiri ke atas diri Kekuk Suik dan Seperdu. Di malam bulan terang itu mereka bercinta dalam sesiah terakhir. Cumbuan mereka tak melanggar kesantunan Wangsa Sekala Bgha. Rayuan percintaan mereka bukanlah bersifat badaniah. Sebab gurau dan canda itu dibatasi selembar kelambu yang menghalangi pengumbaran nafsu birahi di antara mereka. Inilah sesiah yang berakar umbi dan berurat berakar pada budaya rakyat Sekala Bgha. Mereka dibenarkan saling merajuk, merayu, dan menggoda, namun itu hanya sebatas kata-kata saja. Bersamaan dengan sanjungan yang manis dan syahdu itu bertumbuhan cinta yang murni dan kekal. Percintaan sepasang hamba yang tak dapat terlukiskan oleh ayat-ayat dewata.

“Pun Beliau datang menjengukmu Seperdu. Apakah engkau merindukan Punmu?” Kekuk Suik bersesiah dari luar kelambu.

“Apa jua yang diberikan dewa dewi kepada sikindua tidak akan menggantikan kebahagiaan sikindua bila dikunjungi Pun Beliau Kekuk Suik. Dua senja Pun Beliau0 menempuh perjalanan demi menjenguk sikindua. Pun Beliau meninggalkan tugas-tugas kenegaraan yang mahaberat di Ibu Negeri Bunuk Tenuar yang pikuk demi sikindua seorang. Adakah perempuan di atas bumi ini yang lebih berbahagia dibandingkan sikindua?” Seperdu menjawab dari dalam kelambu dengan sepenuh hati.

“Duhai perawan terindah di bumi Sekala Bgha, tahukah engkau bahwa segala tahta yang akan dilimpahkan Ibunda Ratu kepada sikam takkan berarti tanpa kehadiranmu sebagai permaisuri, tanah tempat bersemayam para dewa ini?” Kekuk Suik balas memuji kekasihnya.

“Pun Beliau terlalu tinggi menakar sikindua. Bukankah begitu ramai gadis-gadis jelita di Ibu Negeri Bunuk Tenuar yang tak henti bermimpi siang dan malam dipersunting Pun Beliau Pangeran Kekuk Suik? Sikindua hanyalah bintang terkecil di antara ribuan gemintang yang berebut memamerkan kilaunya,” Seperdu berkilah.

“Engkau mungkin bintang terkecil di antara taburan bintang. Namun engkau adalah bintang dengan cahaya paling terang sejagat. Seperdu adalah bintang tercantik di antara gugusan gemintang itu. Kaulah bintang terindah di atas bumi Sekala Bgha,” Kekuk Suik tak putus menyanjung kekasihnya.

Wajah Seperdu merona karena sanjungan sang kekasih.

“Seperdu kekasih Pun Beliau. Maukah engkau mendengar keluhan hatiku?”

“Sikindua, Pun Beliau,” jawab Seperdu mantap.

“Sikam ingin melamarmu wahai perawan terindah.”

Seperdu ternganga mendengar pernyataan kekasihnya itu. Tak terbayangkan dalam hidupnya kata-kata itu akan meluncur dari mulut seorang putra mahkota Kerajaan Sekala Bgha. Siapa yang sanggup membayangkan bahwa seorang gadis pekon pedalaman Kulut ditabalkan menjadi permaisuri Wangsa Sekala Bgha. Pada detik ini sesuatu yang musykil itu tengah berlangsung di hadapannya.

“Kiranya Pun Beliau Pangeran Kekuk Suik telah dibutakan oleh hasrat. Sungguh tiada kepantasan bagi seorang perempuan bodoh seperti sikindua mendampingi Pun Beliau di atas pepadun,” Seperdu merendah.

“Ibu Negeri Bunuk Tenuar dilimpahi gadis-gadis cantik berdarah ningrat. Mereka lebih pantas mendampingi Pun Beliau sebagai permaisuri dibandingkan sikindua. Belum lagi Pun Beliau Ratu Sekeghumong takkan bersetuju dengan rencana perkawinan kita. Kabar burung yang sikindua dengar, Pun Beliau Kekuk Suik akan dijodohkan dengan Kumbang Melogh, sepupu Pun Beliau sendiri. Sikindua telah merelakan apabila hal itu terjadi. Semoga Pun Beliau berbahagia dengannya,” Seperdu mencoba untuk menguatkan hatinya namun kalimat terakhir yang diucapkannya terasa berat.

“Sikam tak mencintai Kumbang Melogh. Sikam mencintaimu Seperdu. Engkaulah permata Sekala Bgha. Di rahimmu kelak sikam titipkan calon penerus kejayaan Wangsa La Laula. Dengarkan kesungguhan pun-mu, Seperdu,” Kekuk Suik memohon.

“Sikindua hanyalah perempuan pekon yang bodoh. Aib bagi kerajaan ini apabila seorang perempuan bodoh dan buta huruf menjadi ratu Sekala Bgha. Sikindua juga bukanlah keturunan ningrat. Sikindua berasal dari kalangan hamba sahaya yang dinaikkan kastanya oleh kebaikan hati Pun Beliau Ratu Sekeghumong.

“Lagi pula Sikindua tak sanggup membendung amarah Pun Beliau Ratu Sekeghumong. Apakah kita akan berkawin tanpa disaksikan Pun Beliau Ratu? Sikindua tak menghendaki sebuah perkawinan tanpa restu orang tua. Sikindua tak sanggup Pun Beliau…” Air mata mengalir perlahan di bawah sepasang mata indahnya. Sambil menghapus linangan itu dengan menggunakan kelambu, Kekuk Suik mengutarakan niatnya.

“Mungkin sikam telah dibutakan oleh cinta. Sikam tak memerlukan lagi restu Ibunda Ratu. Cukuplah perkawinan kita disaksikan dan direstui dewa dewi di kahyangan. Perkawinan ini jadi semakin indah bila arwah gerinung dan tetamong di puncak Pesagi turut mendoakan kebahagiaan kita. Sikam ingin mengajakmu meninggalkan tanah Sekala Bgha. Maukah engkau mengikuti pun-mu, Seperdu? Kita mengembara mencari penghidupan yang baru. Kita buktikan bahwa dunia begitu luas. Dunia lebih megah dari Ibu Negeri Bunuk Tenuar. Kita hanyalah sejumput rumput di padang rumput yang mahaluas. Para dewa akan mendengar pinta kita.”

“Maksud Pun Beliau, kita akan sebambangan?” tanya Seperdu.

Kekuk Suik tersenyum mengiyakan.

“Sikindua khawatir meninggalkan ayahanda. Sejak ibu meninggal, sikindua-lah yang menemani beliau. Lalu siapa yang akan menemai ayah bila kita pergi sebambangan? Belum lagi nyawa ayahanda terancam manakala Pun Beliau Ratu Sekeghumong mengetahui bahwa putrinya sebambangan dengan putra mahkota kesayangannya. Tentu pekon ini juga akan menerima padah perbuatan kita. Sikindua tak sampai hati membayangkan pekon tempat sikindua dilahirkan dan dibesarkan dihancurleburkan balatentara Sekala Bgha. Kasihanilah ayahanda dan penduduk pekon ini, Pun Beliau Pangeran,” Seperdu memohon.

“Mengapa engkau menyusahkan hatimu begini rupa, kekasihku? Sikam akan mengajak serta ayahanda ngajenguk dalam pelarian ini. Tak perlu kau risaukan penduduk pekon ini. Balatentara Sekala Bgha tidak akan berani mengusik mereka.”

“Akan tetapi Pun Beliau,” Seperdu bimbang.

“Jangan kau rusuhkan hatimu seperti itu, permataku. Kupertaruhkan leherku untukmu. Percayalah kepada punmu, Seperdu,” tegas Kekuk Suik.

Sejenak Seperdu bisu dirisaukan oleh ketakutannya. Risau pada amarah Sekeghumong. Dihantui ketakutan tak bermula dan tak berujung.

“Jika itu sudah merupakan tekad bulat Pun Beliau untuk membawa sikindua pergi jauh dari negeri ini, apalah daya seorang Seperdu hanya mampu menerimanya dengan patuh. Bawalah sikindua pergi Pun Beliau. Sikindua akan membaktikan seluruh hidup dan jiwa hanya untuk Pun Beliau seorang. Terimalah bakti seorang istri kepada suami. Semoga dewa-dewi merestui perkawinan suci ini,” Seperdu menerima lamaran kekasihnya.

“Kaulah anugerah terindah dari dewata untukku. Malam ini juga dengan restu ayahandamu kita langsungkan ikrar suci ini di hadapan dewata yang agung. Semoga terwujudlah impianku mengakhiri hubungan kita di depan semerbak wangi dupa dan setanggi. Wahai gerinung dan para tulut penguasa Pesagi, restuilah perkawinan kami,” Kekuk Suik berdoa haru.

Belum selesai keduanya hanyut dalam puja-puji kepada para dewa dan leluhur, lamban batin itu tiba-tiba digaduhkan suara puluhan prajurit yang merangsek masuk. Serentak mereka mengepung kedua calon mempelai dan memisahkan keduanya. Dua orang prajurit yang bertubuh besar dan kekar mengikat Seperdu dan hendak membawanya pergi dari rumah itu.

“Tolong sikindua, Pun Beliau,” dalam ketakutan Seperdu meronta-ronta dan berteriak memohon pertolongan pujaan hatinya.

Tanpa banyak bicara Kekuk Suik menghajar kedua prajurit tersebut dan membawa kekasihnya menjauh dari mereka.

Lalu segalanya terjadi begitu cepat. Ibunda Ratu Sekeghumonglah yang memerintahkan penangkapan ini. Beliau tiba di Lamban Batin itu dengan menunggang harimau raksasa kesayangannya dan diiringi ratusan prajurit berkuda dan pejalan kaki. Sekeghumong tak percaya sepenuhnya kepada Wakil Panglima Menang Betangkar yang mengemban amanah darinya. Ia

menyusul ke Pekon Kulut dan mengambil alih tugas penangkapan ini. Ia pula yang menitahkan hukuman mati bagi Seperdu. Semua itu begitu memilukan hati Kekuk Suik.
***

Kini kekasih yang dipujanya dengan sepenuh hati telah berpulang ke pangkuan dewa dewi yang mahakasih. Empat algojo mengikat Seperdu pada batu pengorbanan. Tanpa belas kasihan keempatnya mengakhiri usia muda putri Seperdu. Tulang dan otot segar berderak patah. Darah kental menetes perlahan seketika gadis itu meregang nyawa. Tak ada lagi kecantikan itu. Musnah sudah riwayat perempuan terindah di bumi tempat bersemayam dewa dewi. Pandangan mata nankosong terjulur mengerikan. Jiwa lugu dan cantik itu melayang ke angkasa biru menuju rumah keabadian para hamba yang patuh dan taat.

Tak tahan menyaksikan penderitaan kekasihnya, Kekuk Suik melarikan diri meninggalkan ibunya yang berteriak-teriak memanggil namanya. Ia tak perduli. Bahkan diusir dari negeri ini pun ia tak gentar. Ia berlari ke dalam hutan diiringi isak tangis yang memilukan. Ia berharap berjumpa ruh gerinung Dalom Sri Haridewa. Kekuk Suik ingin bersujud mencium kaki moyangnya itu dan memohon pertolongannya. Namun semakin jauh ia berlari tak jua ia jumpai siapa pun. Kecuali lenguhan burung hantu yang seolah turut bersedih terhadap duka cita yang dialami pangeran muda. Suara Ibunda Ratu Sekeghumong dan jerit menghiba Seperdu kekasihnya semakin lamat terdengar. Hingga suara-suara itu pun punah dari kedua inderanya. Kekuk Suik terjatuh tak sadarkan diri di tengah belantara Hanibung. Tarikh purba mencatat bahwa hari telah berganti fajar 14 Margasira 1211 Saka.

Jambi, 28 April 2009
*) Dilahirkan di Surakarta, Jawa Tengah pada 15 Juli 1981. Dia staf Pengajar Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP-Unila dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu Politik, Universitas Kebangsaan Malaysia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *