Abu Zardak*

Fahrudin Nasrulloh
http://www.surabayapost.co.id/

Di dusun Tis di wilayah Qulaiwah, dalam kenangan Abu Zardak, adalah tilas gaib Banul Jan. Dengan hamparan gurun yang kuasa menghisap iman dan ingatan bagi orang yang nekat merambahnya. Dengan pemandangan bebukitan berbatu yang, konon, kilau putihnya, kerap memancarkan sinar berasap pilu-kalut dari airmata Adam dan Hawa. Betapa nelangsa lanskap ini bila diriwayatkan penyair pendusta atau si dukun peramal yang culas. Dan hanya Abu Zardaklah, satu-satunya perambah yang pernah tersesat di sana hingga bukan kematian-kehidupan: satu-satunya pancaran khayali tergelap yang dapat merenggutnya. Tapi sepercik keabadian ternoda yang mrucut dirancang Tuhan. Kisah ini merupakan petilan berkabut hijab yang termaktub dalam Akhb?rul Ghurab? inda al-Ghurab? karangan Ibnu Murad al-Khurasany.

Dalam Selubung Bebayang Maya

Suatu hari di tengah perjalanan dari kota Hisnapur, lima mil jauhnya dari kota Qulaiwah, beristirahatlah Abu zardak di Dusun Tis barang sebentar di selengkung bukit batu yang teduh. Ia minum seteguk air kendi yang ia bawa, dan membaringkan badannya sembari memandang ceruk-ceruk bukit batu putih itu lalu membayangkan segurat lukisan purba dari tangan para nabi yang raib secara misterius yang pernah dibacanya dari selembar manuskrip tua karya pelukis Hijaz, Ziad bin Rabi. Lukisan itu ia suntuki sekian puluh tahun lampau dari kawan belajarnya, Aziz Ibnu Ma?adz, saat mereka bareng berguru pada Syekh Aslah Baibul Haq di kota Hirzin, limapuluh mil di arah utara setelah melewati sungai kecil Qilqil di perbatasan kota Hisnapur.

Dari sinilah wabah khayalan itu mengekal dan bermula. Pada sekedip tatapan Abu Zardak yang terakhir. Sebentang lukisan di selengkung batu itu berboreh warna-warni, berlekuk gurat bersilang lingkar, dengan warna memeningkan beraroma kafan yang sengir. Sekilas, sebab pantulan pijar matahari, merambatlah dalam udara ayang-ayang pelangi seperti sesosok makhluk berjanggut putih panjang, bertongkat, dan gundulnya berbalut kain merah; mendadak meliwungkan kesadaran Abu Zardak. Bak dibiluri godaan hidup yang singkat. Seolah lebih nyinyir dari kematian yang memburu memekik membacok dengkulnya. Menggempur kelopak mripatnya. Namun ia tak gentar sedikitpun.

Saat itu Abu Zardak merenungkan pertanyaan lawasnya ihwal waktu yang berujud roh-roh berkepala berhala Bahzat, Hujal, Manhat, dan Huzbal, yang menyusup ke belantara lukisan yang ditatapnya itu: jika benar ada khayalan seorang pemahat yang tiba-tiba kesasar ke jejaring khayalan Tuhan, seperti gurauan Ziad bin Rabi yang ceplas-ceplos mengumbar ramal bahwa matanya kelak buta, maka di sanalah sekubang ?Cermin Banyu Akhirat? melaknat segala yang kasatmata.

Aku tak percaya bayangan berhala ini, bisiknya dalam hati, sebab tak ada khayalan yang utuh yang ditelusupkan dalam tindakan memahat. Dan sedikit demi sedikit kehendak menyerupakan sesuatu yang fana bakal sirna dalam badai waktu. Bahkan lewat khayalan, seseorang bisa terperosok dalam kebimbangan yang mahapanjang. Hanya Tuhan yang Maha Sempurna, kala kesedihan-Nya makin merana lantas tersedak, lalu terdesak sebab entah untuk bersabda: ?Di manakah sedesir ruh yang pernah Kubuhulkan menghilang tanpa kehendak-Ku, hingga tanpa sangka ia menjelma cahaya gaib lain yang tiba-tiba menjerumuskan pikiran sang pemahat. Lalu menjelma dewa atau iblis yang berencana keji menggempur khayalan suci-Ku.? Di saat lain, Tuhan dikaburkan kerlap-kerlip warna gosong, yang moncer dari cahaya-Nya sendiri, dan karenanya, segala warna meluruh dalam kegelapan. Maka tercetuslah sebetik bisikan: adakah gerimis airmata Tuhan bersama tahmid-takbir, mewirid khidmat hingga menjadikan semesta mengada? Inilah lukisan maya Allah yang sejatinya tak kuasa ditiru manusia..

Riwayat Kaum Pelukis Buta

Kisah kuno menyebutkan bahwa Dusun Tis ratusan tahun silam dihuni sekumpulan manusia yang menciptakan Tuhan mereka dari unggunan batu dan api lalu melukiskannya pada kulit-kulit binatang atau pada tatahan-tatahan kayu sebelum kafilah Muslim dari Arabia datang menghancurkan koloni mereka. Kini, kawanan Muslim rahasia ini masih merawat warisan penyembah batu dan api itu.

Petaka yang bengis pun terjadi, di suatu fajar yang sawan, dusun itu dilanda kegelapan (mungkin ini kutukan iblis hitam bercula badak) sampai berlarut-larut dalam tahun-tahun yang panjang. Dan para penghuninya sejak itu terkutuk menjadi buta. Mereka bersetubuh dan berpinak sesuka hasrat. Entah pagebluk ini akibat sesumpah dedengkot roh-roh penduduk asli yang terbantai atau dari leluhur dusun itu, atau memang ?kegelapan terpahit? telah Tuhan ledakkan untuk menguji iman mereka.

Para Muslim yang tersisa mengabadikan kutukan itu dengan melukis dan bersyair, karena bagi mereka hanya dengan cara itulah mereka dapat memaknai kesia-siaan sebelum ajal meringkus. Tersebutlah di antara mereka yang tersisa dan tercacat (di samping mereka juga telah mewarisi tradisi sufi Persia): Ruzbihan Maqli, Umar Kirmani, Abu Musa al-Tustari, Awhad Sana?i, Usman al-Kharhi, Ma?ruf al-Kharaqani, dan Ali Hasan al-Quraisyi.

Hikayat Kitab dan Waktu yang Berlelorong

Saat itu Abu Zardak sempat menemukan beberapa manuskrip kuno, sebagian tertulis dalam lembaran kulit kayu dan kulit hewan, sebagian lagi tertoreh pada dinding-dinding batu. Ia pun menyimak baris demi baris tulisan-tulisan itu. Di lembaran kulit kayu tertulis begini:

Bilamana waktu serupa lingkaran yang digelapkan Dzat Yang Mulia, yang baka atas diri-Nya sendiri, dan tatkala pikiran membayangkan dunia, kulit domba akan jadi sajadah suci bertatah asma Ilahi, dengan perih tangis yang lejar, atas nama Allah, kesedihan menyekap rasa kelam, dan kebahagiaan menetas di ubun-ubun dalam sekedip mata tanpa sadar. Segalanya berjalan dari masa silam menuju masa kini menerawang ke masa depan. Inilah lukisan langit suci yang kuasa melemparkan manusia dari dunia dan waktu. ( Di bawahnya tertulis nama Ma?ruf al-Kharaqani, dengan sampiran, mungkin sebuah petanda, Ma??rif al-Kawn fi Syiddati Dzalam).

Selanjutnya, pada tatahan batu terpahat seperti ini:

Mungkinkah dunia tanpa waktu dan manusia terlempar ke dalamnya? Adakah satu tempat di dunia ini jadi lahatku yang kekal di mana waktu terpecah-pecah dan membuatku sengsara membayangkannya? Seseorang yang ditatah oleh takdir Ilahi akan hidup kekal. Tapi itu dusta, ia dapat mati, saat waktu yang menelan dunia ini hanya berumur satu hari. Andaikan Allah merancang bagi manusia untuk hidup selamanya, maka hidup kami inilah bukti keagungan-Nya. Bila masa silam, bagai goresan indah kesunyian, saat kita memandang pelangi yang dimendungi langit di malam bulan sabit, jadilah waktu serupa kesiur fana yang dihembuskan dukalara. Waktu bagai tipuan cahaya yang dipantulkan cermin maya, lalu memendar dalam kehampaan yang senantiasa menggiring manusia untuk melupakan dunia, namun tak semua manusia menyadarinya. Inilah lukisan khayali dunia. (Di bawahnya tertulis nama Umar Kirmani. Tampaknya, tulisan semacam nubuat ini bermadah, Tadzkir?t al-Man?m fi al-Auq ?t wa al-Kawn).

Kemudian, pada tulisan di selembar kulit, agak kabur, mungkin kulit kidang atau kulit anjing yang jauh lebih tua dari tatapan pertapa suci. Di situ termaktub:

Setiap peristiwa adalah hembusan napas yang musykil dihirup lagi saat pencari keabadian musnah oleh kedipan Yang Maha Kuasa. Inilah kuburanku. Sang kelana yang terbuang bagai siang yang menghancurkan fajar, bagai ruh yang diombang-ambingkan jasad, ia terpelanting bak ababil yang berluruhan sayapnya. Jika waktu mengada dalam diriku atau ruang yang rapuh menjeratku, lantakkan aku dalam ada tiada-Mu. Inilah kuburanku. Masa silam mencair dalam bayangan masa depan. Keduanya mengapung-apungkan khayalan lalu mengelabui masa kini seperti gerombolan dedemit yang merintih-rintih di kuil angker mataku. Inilah kuburanku.

Orang yang hidupnya direjam nestapa menganggap ruang adalah yang tampak sekejap. Sedang waktu semata igauan sekerumun arwah nabi dan iblis yang bersabung tiada henti. Dan keduanya terjerembab ke padang dunia. Tetapi, lambat laun, kekuatan khayalan dan ketauhidan mereka tak lagi menemukan persemayaman terakhirnya. Inilah kuburanku.

Waktu berasal dari pekikan tersangit iblis kala Allah melemparkannya dari surga. Inilah kuburanku. Sebut saja aku Si Raja Rasul berjubah cahaya di mana Allah melepas kasih dariku agar aku dapat bernista-ria dalam bebayang keagungan-Nya. Aku kini mengada dalam rahasia-Nya, yang atas nama segala-Nya aku tak pernah ada. (Di samping kiri nubuat bermadah Ahw?l al-Syua?ar? fi jaufi al-Qabru itu terboreh nama Abu Musa al-Tustari).

Serampung membaca tetulisan itu, perlahan-lahan, Abu Zardak disentakkan selesat cahaya yang tiba-tiba menyergap pandangannya. Serasa hawa dingin berapi menyurupi tubuhnya. Kesadarannya linglung. Dirubung suwung. Ia ingin memekik, namun suaranya serak dan ambyar. Ia seperti melayang-layang bersama aksara-aksara yang barusan dibacanya. Lenyap dalam diam. Mengawang ke dalam dirinya yang remang.

Di padang bebatuan itulah ia, tak mati, tak hidup. Mungkin ruang dan waktu melingsirkan kegelapan hasrat: sedesir tatapan tersamar dan khayali manusia. Tidak seorang pun tergerak membayangkan lebih gila akan kisah ini, sebagaimana degup terakhir Abu Zardak sebelum ia tak bisa berbuat apa-apa, kecuali menemukan dirinya mengelam dalam keheningan cahaya Tuhan.

Jombang -Yogyakarta, 2002
*) Surabaya Post, Minggu, 12 JUli 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*