Regenerasi Penyair Jawa Timur (1 – 4)

Puput Amiranti N*
http://surabayapost.co.id/

?Mimpi terbesar seorang penyair adalah orisinalitas.?
(Subagio Sastrowardoyo)

Regenerasi angkatan baru di bidang kesusasastraan merupakan siklus yang dialami oleh setiap kehadiran tempat yang memiliki potensi khazanah sastra. Apa yang terjadi apabila dunia tanpa regenerasi, apa yang terjadi apabila sebuah khazanah sastra hanya memiliki memori kejayaan di masa lalu belaka. Generasi-generasi muda sastra di suatu komunitas tertentu barangkali ada yang hidup dengan hanya mengandalkan kebanggaan terhadap apa yang telah diwariskan oleh pendahulu-pendahulu mereka, tanpa berusaha berdiri di atas pemikiran mereka sendiri. Atau barangkali generasi tersebut lahir dengan sekumpulan potensi yang lebih untuk ?berbicara?, akan tetapi jalan mereka ke depan seperti ditutup oleh siapa lagi jika pendahulu-pendahulu mereka jarang mau memberikan ruang yang layak untuk perkembangan di masa mendatang. Terlebih, jika logika dibalik, apa yang terjadi apabila generasi-generasi pendahulu tetap berada pada posisi ?kepemimpinan? di atas, tetapi sesungguhnya yang mereka lakukan bukanlah memberi arah baru atau petunjuk yang lebih baik di masa mendatang, melainkan kenikmatan-kenikmatan memorabilia kejayaan mereka dulu yang pernah ?melegenda? namun sekarang tinggal rangkaian cerita yang kerap diulang-ulang oleh orang-orang yang berada di ruang lingkupnya.

Berbicara regenerasi, langsung saja menyebut peta wilayah yang begitu kita kenal, Jawa Timur. Apabila ada pertanyaan, seberapa jauhkah potensi Jawa Timur dalam menghadirkan tokoh-tokoh muda sastranya. Apakah sejauh ini masyarakat sastra di wilayah tersebut masih dicitrakan dengan deretan nama-nama yang tak asing dan terkenal seperti Budi Darma, Akhudiat, D. Zawawi Imron sebagai contohnya, hal ini mencuat tatkala kurang lebih sepuluh tahun yang lalu dan sepuluh tahun yang akan datang, sampai kini nama-nama itu masih tetap berkibar di permukaan bumi sastra Jawa Timur. Kemudian, disusul nama-nama seperti Tjahjono Widianto, H. U Mardi Luhung, Riyadi Ngasiran, Indra Tjahyadi, Mashuri, dengan frekuensi karya-karya mereka yang acapkali termuat di media cetak, juga menyemarakkan periode kemunculan angkatan selanjutnya. Namun, apakah kemunculan nama-nama sederetan generasi di atas tetap mampu membawa angin segar berupa kelayakan ide-ide mereka yang baru bagi khazanah persastraan di Jawa Timur (dengan kata lain non dekaden).

Pada penutupan rapat pleno Temu Sastra Jawa Timur yang diselenggarakan pada 25-26 November 2006 lalu di Taman Budaya Jawa Timur, Riyadi Ngasiran menghimbau panitia, agar lebih mempertimbangkan siapa-siapa peserta yang ikut, atau dengan kata lain, peserta yang layak ikut seharusnya telah menjalani selektifitas berupa pernah atau tidaknya dimuat dalam media.

Terlepas benar atau tidaknya perkataan Riyadi, memang tak dipungkiri peserta yang hadir dinyatakan cukup berwarna. Maksudnya, peserta (atau mungkin yang disebut sebagai sastrawan) terdiri dari berbagai kelompok generasi mulai dari angkatan 1980-an hingga 2000-an. Mereka diundang dan berasal dari wilayah-wilayah yang tersebar di Jawa Timur, semisal Ngawi, Lamongan, Blitar, Madiun, Jombang, Bangkalan, Sumenep, dan dari Surabaya sendiri. Hal yang perlu dicermati adalah diantara peserta yang berasal dari angkatan 2000-an banyak ditemui wajah-wajah baru. Dari pulau Madura misalnya, Helmy Prasetya serta dua penimba ilmu sastra dari kelompok-kelompok diskusi pesantren, yakni Ali Ibnu Anwar dan Sofyan RH Zaid. Selain itu juga hadir nama-nama seperti A. F Tuasikal, seorang mahasiswa sastra Inggris STKIP PGRI Sidoarjo, lalu Azhari, Abimardha dan Azrul, yang ketiganya merupakan mahasiswa dari Universitas Airlangga yang berproses sastra dan kesenian di komunitasnya, Teater Mata Angin Airlangga.

Apabila mempertimbangkan ucapan Riyadi sekali lagi, peserta-peserta tersebut mungkin memang belum pernah unjuk gigi atau dimuat di media-media cetak besar seperti katakanlah koran, jurnal, buletin maupun majalah sastra yang sudah memiliki nama. Meskipun begitu peserta-peserta baru yang hadir itu tidak lepas dari proses penulisannya masing-masing yang telah terangkum dalam antologi pribadi dan dirilis oleh komunitas masing-masing, namun tidak semua khalayak mampu mengetahui keberadaan karya mereka. Seperti AF. Tuasikal sempat terangkum dalam antologi Puisi dan Geguritan-Malsasa milik Forum Sastra Bersama (2005), Helmy Prasetya puisinya muncul di antologi Penyair Jawa Timur-FSS (2004), Ali dan Sofyan, masing-masing telah meluncurkan antologi berjudul Reuni dan Biarkan Aku Meminangmu dengan Puisi yang telah didiskusikan di LabSastra Dewan Kesenian Jawa Timur, pada pertengahan Juli 2006 yang lalu, mirisnya peserta yang menghadiri acara bedah buku tersebut tidak banyak.

Namun menyinggung kembali ucapan Riyadi Ngasiran mengenai keharusan dimuat di media cetak, katakanlah koran-koran besar seperti Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, Jawa Pos, Surya, Surabaya Pos, dan lain-lain, yang menjadikan syarat layak atau tidaknya para penulis-penulis baru itu untuk disejajarkan dengan kehadiran sastrawan pendahulu mereka, khususnya bila yang dimaksud Riyadi adalah acara Temu Sastra Jatim atau acara sejenis di kemudian waktu, hal yang tak dapat dilupakan adalah apabila berbicara keutuhan khazanah sastra di Jawa Timur, tentu juga harus membicarakan pelaku-pelakunya (sastrawan) yang tersebar dari seluruh angkatan yang tetap aktif berkarya, atau masih setia menungkan pemikiran-pemikiran mereka terhadap sebuah kebaruan ataupun sumbangan bagi kemajuan serta kualitas per-sastraan di Jawa Timur. Masalahnya, benarkah nama-nama sastrawan pendahulu (senior) yang acapkali karyanya dijumpai di media-media cetak besar, layak disebut sebagai pemegang kendali tertinggi atas nilai kemajuan serta kualitas tersebut.

Cukup mustahil bila Jawa timur masih demikian lekat dengan ikon Budi Darma sebagai guru dan sastrawan besar dalam kurun waktu yang terus-menerus. Berikut nama-nama yang kemudian ikut menjadi image dan langganan perhatian utama sebagai sosok sastrawan terkemuka. Berbicara mengenai sastrawan-sastrawan besar yang cukup dikenal dan diakui di Jawa Timur dengan Surabaya sebagai pusatnya, publik masih belum kritis dalam melihat keberadaan mereka. Semisal apakah mereka masih eksis dan intens dengan kekaryaan mereka, atau hanyalah sebuah kekonstanan terhadap ide-ide lama yang diulang-ulang serta terus menjelma dalam kekaryaan mereka. Selain itu, mereka senantiasa mendapat tempat untuk tetap berada di mata publik atau barangkali keinginan dari mereka sendiri untuk selalu dihadirkan di media masa (power syndrome), melalui pertalian undangan-undangan dan festival yang tentu saja berasal dari panitia yang masih diseputar jawatan atau se-angkatan mereka sendiri. Tentu bagi anak muda (penulis baru) hal yang tidak mudah adalah mendapat pengakuan pertama berupa perhatian dari para pendahulunya, berikut jika para pendahulunya itu mau berbaik hati membukakan peluang bagi mereka untuk terus dihadirkan di acara-acara sastra (kecuali jika mereka mau ?menyimpan? sendiri, menutup akses, hanya khusus untuk kalangan sendiri yang sudah dikenal dan terkenal, serta diaku-akui sendiri secara mutlak tanpa pembuktian yang signifikan di masa mendatang).

Hal yang justru hampir tak pernah disadari kalangan sastra di Jawa Timur, bahwa orisinilitas ?menjadi tabu? bagi kekaryaan para sastrawan pendahulu. Hal epigonisme mewarnai proses kekaryaan penyair angkatan 1990-an. Misalnya, Mardi Luhung, sajak-sajaknya yang terbaru (Kompas, 26 Januari 2007) tak lain ?copy-paste? dari Afrizal Malna. Lalu Indra Tjahyadi sajak-sajak yang ditulisnya dan yang sering termuat di berbagai media masa sekadar jiplakan Kriapur?hal ini juga muncul dari ungkapan Abdul Hadi WM, dalam diskusi di DKJ, tahun 2004. Mashuri dengan teknik penulisannya yang terakhir merupakan ?copy-paste? Sitok Srengenge dan Acep Zamzam Noor. Ini amat disayangkan, sebab dengan mudahnya penempatan karya-karya sastrawan 1990-an tersebut (menjadi langganan) di media masa dan otomatis publik Jawa Timur memandang keberadaan mereka sebagai ikon sastrawan paling layak malah tak menyebut peluang bagi penulis-penulis di bawahnya.

Sebaliknya, kenyataan yang jarang mendapat perhatian adalah hadirnya para penulis-penulis muda bersamaan dengan kecenderungan mereka untuk mendobrak tradisi lama dan menawarkan estetika baru telah muncul dalam kekaryaan dari beberapa para penulis baru tersebut. Katakanlah sajak-sajak yang ditulis oleh M. Helmy Prasetya. Penyair muda asal Bangkalan, Madura ini tampil dengan karyanya yang lebih orisinil. Sebagai penulis, sajak-sajak Helmy tergali dari daya cerna dan pencerahan dirinya terhadap pengetahuan serta realitas di sekitarnya. Hal itu membuat karya-karyanya terlahir dengan pola imajisme yang sangat kental. Ini justru keluar dari kebiasaan pendahulunya dan penyair besar Madura, D. Zawawi Imron, yang kerap membawakan citra simbolis ke dalam teks-teks puisinya. Berikut adalah petikan puisinya yang diambil dari antologi FSS 2004:

kadang kapal yang berlabuh
kita sebut juga cerita.
di atasnya

kita tandai pula seindah kita
bayangkan
: air berkelok,
suara mesin kapal,
gambar orang-orang menangis
telah mengantarkan kita
pada sebuah kenangan
masa datang

(Di Atas Selat Madura, 41)

Lewat kejujuran seorang Helmy, sajak-sajaknya mengisahkan situasi yang tercermin dalam pikirannya tatkala menjadi bagian dalam perjalanan di atas selat Madura. Helmy sendiri adalah sosok Madura yang memiliki hubungan dekat terhadap sisi-sisi emotif kenyataan masyarakat Madura. Ia berusaha merekam sisi tersebut lewat perjalanan di atas kapal yang kemudian menjalin ke dalam sajaknya. Kapal yang menyeberang dari Madura ke Surabaya atau sebaliknya mampu menguak endapan perenungan Helmy dan menyebutnya sebagai sebuah bagian cerita kecil dari sisi terpenting dalam perjalanan hidupnya. Pergerakan, haluan kapal, air yang berbelok, suara mesin kapal, suasana orang-orang menangis merupakan hal-hal yang mampu dinikmati Helmy dan menyadarkan dirinya sebagai realitas menjadi bagian dari ?Madura?.

Regenerasi Penyair Jawa Timur (2)

Terkadang Helmy mengemukakan puisinya dalam bentuk narasi yang lebih padat, cerita yang lebih singkat dan tersembunyi beserta adanya peristiwa yang berhubungan, seperti kutipan puisi berikut:

1.
Mari kita masuk,
aku sudah tidak sabar. Di dalam
ada anggur,
juga bulan sedang menyisir
rambutnya
di depan selembar
kaca.

2.
tapi
bisik-bisik saja bicaramu.
bisakan?
kalau tidak,
aku bisa mual
dan muntah-muntah mendengarnya,
-bahkan sampai kencing
di celana.

(Suatu Hari ketika Aku Kedatangan Tamu, Yudas namanya, 40)

Menurut penggalan puisi di atas, seperti ada alasan peristiwa yang tersembunyi yang mengantar kepada pertemuan tokoh untuk berbuat sekaligus bersyarat terhadap sesuatu, oleh karenanya. Petanda berupa anggur yang menawarkan jamuan istimewa serta keakraban dan gambar imajis seperti bulan sedang menyisir sebuah objek masalah yang mengumpulkan mereka berdua yakni, rambutnya di depan selembar kaca, merujuk pada sesuatu yang akan mereka berbuat saat itu. Namun jika ada suatu sebab yang melanggar kesepakatan dalam pertemuan itu, akan terjadi efek serupa pengandaian salah satu tokoh bisa mual dan muntah-muntah, serta kencing di celana. Jalinan penyebab dan alasan akan pertemuan itu seperti menjadi penekanan dan maksud khusus bagi sang penulis untuk mengantar terhadap efek yang berupa pengandaian, jika kesepakatan yang dilanggar benar-benar terjadi. Dengan ini Helmy menawarkan pola baru yang lompatannya lebih terasa, ia menggunakan sarana narasi untuk mengemukakan sebuah cerita, tapi cerita tersebut tak utuh, malah bermaksud untuk menampilkan sisi ketidakutuhannya sebagai simbolisasi sebuah peristiwa di sajaknya. Sentuhan imajisme juga sedikit terasa untuk mendukung situasi bagaimana sebuah peristiwa dalam sajak Helmy di atas bisa terjadi.

Barangkali bila berbicara tentang ?ruang pemerataan? serta kesempatan bagi terbukanya ide-ide baru bagi angkatan muda adalah apa yang telah dilakukan oleh generasi pendahulu di wilayah persastraan di Lamongan. Herry Lamongan, Pringgo H. R, angkatan 1980an yang duduk di Dewan Kesenian Lamongan, lewat peluncuran antologi buku Khianat Waktu pada Lamongan Art?06, telah mempersilahkan adik-adik juniornya untuk mempublikasikan karya-karyanya. Nama-nama semisal Javed Paul S (Ifoel Mundzuk), Ahmad S. Sumbawi, Anniswah, Immanudin SA, Isnaini KH hingga generasi yang teramat muda sekalipun, yang masih duduk di bangku sekolah semisal Heri Listianto dan Eny Rose muncul. Hal itu menjadi tindak kepercayaan serta optimisme penuh para senior yang berharap nama-nama itu nantinya dapat menjadi tonggak perpetaan sastra bagi masa depan Jawa Timur berikutnya. Ditambah lagi, berbicara mengenai generasi di Lamongan, mereka bukan pertama kali menerbitkan antologi bersama sperti Khianat Waktu (November 2006). Di tahun yang sama, antologi lain seperti Absurditas Rindu telah beredar sebelumnya (April 2006). Absurditas Rindu ini juga memuat penyair dari berbagai jenjang usia dan angkatan seperti: Ghaffur Al-Faqih, Ariandalu S, serta nama-nama yang telah tersebut di atas semisal Ahmad S. Sumbawi, Immamudin SA, Isnanini KH, Heri Listianto dan Javed Paul S. Eksistensi semacam ini sungguh menjadi hal yang berbeda dari publik sastra Surabaya sebagai ibukota Jawa Timur, dimana Dewan Kesenian Surabaya seusai melewati gaung FSS 2003 dan 2004 telah berhenti untuk mengikrarkan kebersamaan sastra lewat pembukuan angkatan-angkatan generasi mereka yang tersebar.

Javed Paul S, sebagai salah satu generasi muda komunitas di Lamongan, karya-karya puisinya yang bernuansa mistis justru keluar dari tradisi Hery Lamongan yang lebih menggunakan tipe-tipe narasi beserta kemunculan tokoh. Karya Javed tampil dengan padatan peristiwa dengan pola kausal dan pengandaian-pengandaian tertentu, yang justru membuat alam puisi di dalam karya Javed lebih tajam, seperti puisinya yang berikut ini:

Kulit itu semburat wajah
(Seperti dalang yang hidup
di belakang layar)
Menyapa atas pohon-pohon
Mangga beranak mangga
Jambu beranak lampu
Pisang beranak wayang
Wahai kulit
Menata wajah sendiri
Atas hendak dan guratan

(Semburat Wajah)

Dari puisi di atas diceritakan kisah filosofis sebuah kulit, benda unorganik yang kehadirannya mampu memberikan pengaruh terhadap kemunculan ruang di sekitarnya berupa alam pohon-pohon dan salah satu jenis pohon itu kemudian mempengaruhi benda mati lainnya seperti lampu. Kulit tersebut diandaikan sebagai kehadiran dalang beserta gerakannya di balik layar yang mampu menghubungkan pertalian terhadap adanya pohon-pohon beserta segala kausal efek kejadian berikutnya. Kemudian lewat kalimat berikutnya sebuah pernyataan terhadap hakikat kulit itu sendiri sebagai bagaian yang lekat dengan dirinya sendiri dan pembuat penyebab atas kejadian-kejadian yang lain. Kemunculan kulit yang lekat dengan kejadian-kejadian yang berhubungan dengan alam, semisal pohon-pohon mangga, jambu, pisang yang telah disebutkan tadi, Javed dengan mantap meraih alam sebagai ?persahabatan?, menempatkan alam itu dengan semestinya terhadap kejadian kausal yang ditimbulkan oleh kulit dan menjadikannya sebagai bagian yang tak terlupakan dari keutuhan kejadian itu sendiri. Sehingga peristiwa yang terekam dalam puisi Javed berdaya begitu penuh, magis dan tajam dengan alur yang pelan maupun menyentak. Hal ini berbeda dengan Bambang Kempling, senior Javed lewat puisinya yang dikutip di bawah ini:

Debu kemarau bercerita tentang
mimpi gerimis.
Debu kemarau bercerita tentang
mimpi lumut bebatuan.
Debu kemarau bercerita tentang dirinya
terpenjara di tanah liat
Tanah liat diam dalam sakit
ketika tubuhnya terbelah. ?

(Paradoks)

Dari sajian puisi Bambang Kempling di atas lain dapat diketahui nuansa imajisme yang lebih kental daripada Javed. Puisi Kempling lebih mengemukakan situasi alam yang bermain-main dengan kodrat dan nasib ?ke-alamannya? sendiri. Lewat debu kemarau, gerimis, lumut bebatuan dan tanah liat, sebagai unsur-unsur alam yang seolah-olah hidup dan mampu mempengaruhi unsur-unsur yang lain sebagai suatu hubungan yang merujuk kepada pengandaian yang tidak langsung kepada sebuah peristiwa di dunia manusia.

Terlebih, kekonsistenan yang barangkali menjadi alur proses Javed yang berubah-ubah telah membuat puisi-puisinya kemudian lebih bergerak ke arah kemagisan dan kedirian. Daya visual peristiwa yang dibawakan cukup kuat dengan adanya jalinan mistifikasi cerita, dan Javed terkadang membubuhkan aspek filsafat, simbolisasi serta keberadaan ?alam yang subur? yang sekali lagi mampu ?bersahabat? dan membentuk alur peristiwa nan tajam yang dihadirkannya.

Berbicara tentang generasi muda di Madura, Unair Surabaya, dan Lamongan, masih ada satu lagi yang tak luput dari kaca mata perhatian publik. Ragil Supriyanto (Ragil Sukriwul) beserta dua kawannya K. Yulistio W dan Dwi Hendra K, penulis muda dari Malang telah meluncurkan kumpulan sajak-sajaknya Looser Lost Time di Dewan Kesenian Surabaya pada akhir 2005 lalu. Lagi, acara tersebut hanya dihadiri oleh segelintir peserta diskusi, ini lain apabila Dewan Kesenian Surabaya menghadirkan tokoh semacam Budi Darma dan Zawawi Imron dalam acara-acara sastra maupun bedah buku.Yang unik, Ragil Sukriwul, anak tertua dari trio Malang ini sempat bertutur bahwa ia tak tergesa-gesa untuk mengirimkan puisi-puisinya ke media masa, sebab ia sendiri belum cukup yakin akan kematangan prosesnya.

Regenerasi Penyair Jawa Timur (3)

Dari puisi Javed (Surabaya Post, Minggu 7 Juni 2009) diceritakan kisah filosofis sebuah kulit, benda unorganik yang kehadirannya mampu memberikan pengaruh terhadap kemunculan ruang di sekitarnya berupa alam pohon-pohon dan salah satu jenis pohon itu kemudian mempengaruhi benda mati lainnya seperti lampu. Kulit tersebut diandaikan sebagai kehadiran dalang beserta gerakannya di balik layar yang mampu menghubungkan pertalian terhadap adanya pohon-pohon beserta segala kausal efek kejadian berikutnya. Kemudian lewat kalimat berikutnya sebuah pernyataan terhadap hakikat kulit itu sendiri sebagai bagaian yang lekat dengan dirinya sendiri dan pembuat penyebab atas kejadian-kejadian yang lain. Kemunculan kulit yang lekat dengan kejadian-kejadian yang berhubungan dengan alam, semisal pohon-pohon mangga, jambu, pisang yang telah disebutkan tadi, Javed dengan mantap meraih alam sebagai ?persahabatan?, menempatkan alam itu dengan semestinya terhadap kejadian kausal yang ditimbulkan oleh kulit dan menjadikannya sebagai bagian yang tak terlupakan dari keutuhan kejadian itu sendiri. Sehingga peristiwa yang terekam dalam puisi Javed berdaya begitu penuh, magis dan tajam dengan alur yang pelan maupun menyentak. Hal ini berbeda dengan Bambang Kempling, senior Javed lewat puisinya yang dikutip di bawah ini:

Debu kemarau bercerita tentang
mimpi gerimis.
Debu kemarau bercerita tentang
mimpi lumut bebatuan.
Debu kemarau bercerita tentang dirinya
terpenjara di tanah liat
Tanah liat diam dalam sakit
ketika tubuhnya terbelah. ?

(Paradoks)

Dari sajian puisi Bambang Kempling di atas lain dapat diketahui nuansa imajisme yang lebih kental daripada Javed. Puisi Kempling lebih mengemukakan situasi alam yang bermain-main dengan kodrat dan nasib ?ke-alamannya? sendiri. Lewat debu kemarau, gerimis, lumut bebatuan dan tanah liat, sebagai unsur-unsur alam yang seolah-olah hidup dan mampu mempengaruhi unsur-unsur yang lain sebagai suatu hubungan yang merujuk kepada pengandaian yang tidak langsung kepada sebuah peristiwa di dunia manusia.

Terlebih, kekonsistenan yang barangkali menjadi alur proses Javed yang berubah-ubah telah membuat puisi-puisinya kemudian lebih bergerak ke arah kemagisan dan kedirian. Daya visual peristiwa yang dibawakan cukup kuat dengan adanya jalinan mistifikasi cerita, dan Javed terkadang membubuhkan aspek filsafat, simbolisasi serta keberadaan ?alam yang subur? yang sekali lagi mampu ?bersahabat? dan membentuk alur peristiwa nan tajam yang dihadirkannya.

Berbicara tentang generasi muda di Madura, Unair Surabaya, dan Lamongan, masih ada satu lagi yang tak luput dari kaca mata perhatian publik. Ragil Supriyanto (Ragil Sukriwul) beserta dua kawannya K. Yulistio W dan Dwi Hendra K, penulis muda dari Malang telah meluncurkan kumpulan sajak-sajaknya Looser Lost Time di Dewan Kesenian Surabaya pada akhir 2005 lalu. Lagi, acara tersebut hanya dihadiri oleh segelintir peserta diskusi, ini lain apabila Dewan Kesenian Surabaya menghadirkan tokoh semacam Budi Darma dan Zawawi Imron dalam acara-acara sastra maupun bedah buku.Yang unik, Ragil Sukriwul, anak tertua dari trio Malang ini sempat bertutur bahwa ia tak tergesa-gesa untuk mengirimkan puisi-puisinya ke media masa, sebab ia sendiri belum cukup yakin akan kematangan prosesnya. Peluncuran antologi bersama kedua kawannya merupakan salah satu pintu menuju kematangan Ragil, sehingga ia akan mengetahui sendiri apakah puisinya sudah saatnya terbit di media-media dan sudah saatnya untuk diketahui dan diceritakan terhadap publik sastra yang tersebar dimanapun.

Ragil sebagai penyair dari angkatan muda sendiri telah memiliki kekuatan estetika puisi yang kuat. Penyair muda dari Malang ini menyuguhkan sajak-sajak dengan sadar dan dengan kepenuhannya dalam menjalani pengendapan yang terwujud dari perjalanan dan pengalamannya. Puisi-puisi Ragil terlihat sekali sebagai kenyataan dirinya yang telah bersikubu dengan jalinan jalan-jalan yang membungkus (sisi empirik terdalam), menyertainya sebagai anak rantauan. Kejujuran dan orisinilitas dalam membahasakan objek sebagai sebuah jalinan peristiwa yang memukau adalah proyeksi dari kegelisahan dari alam pikirannya sendiri. Hasilnya adalah rangkaian diksi-diksi yang padat bersama dengan ?peristiwa? bahasa Ragil yang menohok ke dalam daya alam pikir pembaca.

Regenerasi Penyair Jawa Timur (4)

Antusiasme regenerasi sastra di Jawa Timur sangat diperlukan, salah satu usahanya adalah dengan tidak menutup atau mengeklusifkan acara-acara Sastra, semisal Temu Sastra Jatim 2006 yang lalu. Dengan mengundang peserta-peserta muda ke dalam forum, diharapkan mulai ada pembangunan horizon keberadaan ?alam sastra? Jawa Timur dari jarak dekat ke dalam perspektif pikiran mereka. Akan menjadi pertanyaan yakni, bagaimana mungkin apabila para generasi penerus dalam prosesnya yang tak pendek dan tak instan mampu mempetakan khazanah kesusastraan di wilayahnya tanpa ikut hadir dan menjadi saksi di acara ataupun forum yang diharapkan cukup signifikan untuk memulai proses pengenalan dan pengembangan sastra Jawa Timur nantinya.

Suatu saat Jawa Timur akan sangat membutuhkan angin segar, pemikiran baru yang datang dari bibit-bibit muda. Namun, hal ini masih terasa mustahil tanpa optimisme dari angkatan sebelumnya, yakni merelakan kehadiran angkatan muda dengan sedikit demi sedikit untuk mengetahui kiprah persastraan secara global di wilayah jawa Timur, bukan membuat mereka hanya mengendap sebagai bagian yang hanya diakui dan dikenal keberadaannya oleh komunitas masing-masing saja (tokoh komunitas), sekalipun kekaryaan mereka belum menampakkan diri di koran-koran besar selain intensitas mereka sendiri dalam berproses.

Seperti sanggahan yang diutarakan oleh R. Giryadi dan S. Yoga, salah satu peserta Temu Sastra dari angkatan 1990-an, bahwa media sekalipun dijadikan sebagai media selektifitas peserta, tidaklah sepenuhnya menjamin. Sebab Giryadi sendiri secara jujur mengakui beberapa faktor tulisannya dimuat di salah satu media di Jakarta dikarenakan yang menjadi redaktur adalah temannya sendiri, meskipun ini terlepas dari layak atau tidaknya tulisan Giryadi dimuat. Sedangkan S. Yoga, penulis yang berasal dari Jateng ini, mengakui telah banyak melihat potensi kalangan para muda di pulau garam itu, namun karena terbatasnya fasilitas hanya sedikit karya-karya mereka yang sempat dikirim hingga dipublikasikan oleh media. Kendala lain, Jawa Timur kini dihadapkan pada persoalan untuk mengetahui siapa-siapa generasi muda yang eksis di bidang kekaryaannya.

Melihat fenomena seperti yang telah diutarakan oleh S. Yoga, kegiatan seperti festival, ajang lomba cipta kreativitas karya maupun esai bahkan sering luput sebagai informasi yang harus diterima dan disampaikan ke kantong-kantong daerah tertentu di luar Surabaya. Dengan kata lain, hal ini menjadi semacam parameter sulitnya mengakomodir dan mengerahkan siapa-siapa generasi yang sebenarnya cukup layak untuk ditampilkan dan diserahi tugas untuk melanjutkan peta regenerasi. Sebab bila publik umum hanya memiliki kepekaan semata terhadap nama-nama yang biasa hadir dan dipersilahkan untuk senantiasa unjuk gigi di acara-acara sastra, nyaris kita kehilangan jembatan komunikasi untuk menyambung dan mengetahui tali peregenerasian sastra kita.

Fenomena tersebut bisa menjadikan para generasi yang tak terlacak keberadaannya itu sebagai ?dosa besar? kalangan sastra pendahulu yang sesungguhnya mereka tak hanya harus menikmati ?kursi kejayaan?, elu-eluan masyarakat terhadap kehebatan yang pernah terjadi. Tetapi sudah saatnya mereka ikut turun ke jalan, membuka mata dan telinga lebar-lebar untuk mencari bibit-bibit baru dan kemudian memberinya ruang yang layak, menfasilitasi untuk maju dan berkembang. Dengan pengertian lain, untuk sepuluh tahun mendatang kita terpatuk pada pilihan kenyataan akan kehilangan generasi (lost generation) yang potensial ke arah pemikiran ke depan, atau tetap dibuai dengan kehadiran serta penyebutan nama-nama seperti Budi Darma, D. Zawawi Imron, dan lain-lain, yang alangkah romantiknya sastra Jawa Timur!

Dengan demikian, tidaklah cukup bijak jika berkaca terhadap ukuran media saja atau dengan kata lain pengakuan yang cukup layak untuk memberikan generasi muda sebuah ruang serta kesempatan yang cukup baik menuju pemikiran mereka sendiri ke depan. Maka sudah saatnya selektifitas berupa kepekaan para generasi pendahulu sebagai pemrakarsa untuk optimis dan bersedia memberikan laju jalan bagi para generasi muda yang sekiranya layak untuk hadir dan ikut berkecimpung dalam acara-acara sastra. Supaya mereka diharapkan mengetahui dan berkomunikasi dengan seluruh peserta dari berbagai generasi yang ada di sana, bukan menjadi bagian yang terisolasi terhadap keeksklusifan serta kemenawanan pertemuan-pertemuan sastra di Jawa Timur yang terdiri dari angkatan-angkatan pendahulu dengan pemikiran yang dekaden.

Sebagai tambahan, apabila mengingat keekskusifan ruang yang diduduki oleh generasi-generasi pendahulu tersebut juga mengingatkan akan perjuangan keras T. S Eliot dalam mendapatkan pengakuan estetiknya. Ezra Pound, penyair yang berasal dari generasi senior sebelum Eliot acapkali mengkritisi serta menghabisi karya-karya Eliot sendiri. Namun Eliot gigih melawan Pond dengan gaya estetikanya sendiri secara terus-menerus dan membuat Pound akhirnya menyerah. Sejak itu Pound mengangkat Eliot dan mulai mengakui bahwa teks-teks sajak Eliot merupakan refleksi dari tradisi estetika penyair-penyair pendahulunya, sehingga Eliot sendiri sebagai generasi terkini justru memiliki komplesitas kekaryaan yang lebih tinggi dan kaya daripada senior-seniornya.

Maka sesungguhnya generasi-generasi muda yang telah dicontohkan di atas dengan kekuatan estetikanya layak untuk diperhatikan, dimuat di media, diberi kesempatan di forum-forum sastra, sekalipun berlawanan dengan kepekaan redaktur-redaktur media masa terhadap pemahaman perkembangan estetika baru yang ditawarkan oleh para generasi tersebut rendah dan luput dari perhatian. Para generasi tersebut yang kemudian digagas dan diharapkan untuk menjadi kunci regenerasi khazanah sastra Jawa Timur.

*) Alumnus Sastra Inggris Unair ini banyak menulis puisi dan esei, karya-karyanya sempat muncul di pelbagai media massa, a.l Media Indonesia, Jurnal Perempuan, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Jawa Pos, Bende, dan Kidung. Kini sedang menyelesaikan buku penelitiannya tentang Itallo Calvino.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *