Bangunan Matahari – puisi cepi sabre

Hudan Hidayat

Puisi ini sampai padaku seolah nyanyian dari repetisi suatu identitas seseorang, yang disebutnya sebagai pak tukang, pak tukang pak tukang.

Tentu saja kita sudah bersiap membaca puisi ini: dari judulnya, “kuli bangunan”, sebuah lanskap orang miskin, lamat lamat sudah bangkit di dalam jiwa kita. Bahwa kita akan bertemu dengan kehidupan kuli bangunan yang miskin. Sebab identitas kuli bangunan, adalah suatu profesi yang jarang membuat manusia kaya. Kuli bangunan, bahkan adalah suatu pekerjaan yang tak menetap, pekerjaan paro waktu. Dan itu: miskin.

Tapi dari cara penyairnya membuat diksi dalam puisi, kemiskinan yang kita bayangkan itu, sebuah dunia penuh amarah, sesosok fisik manusia yang digambarkan menggeletarkan urat urat di wajahnya, tak kita jumpai. Tapi suatu cara penyebutan yang ramah, bahkan mengesankan suatu cara hadir di masa kecil kita dulu: suatu nyanyian “tut tut tut siapa hendak turut, ke bandung Surabaya”.

Seperti itulah: suatu nyanyian datang dari dunia anak yang gembira, akan suatu profesi dunia orang dewasa, di mana sang anak belum mengerti pelik dan pedihnya suatu pengalaman hidup, dan karena itu berteriak, meneriakkan jiwanya yang netral dan hidup, ke dalam nyanyian.

“Pak tukang pak tukang”, membawa suasana masa lalu seperti itu kepadaku. Juga larik larik sesudahnya seolah nyanyian, seolah pertanyaan pertanyaan yang datang dari suasana hidup yang gembira. Tapi tidak: kepedihan hidup menyelinap dari dan di antara tiang tiang dalam larik puisi.

Puisi seolah larik larik puisi yang berupa tiang tiang hidup. Atas mana seorang penyair membangun dunia puisinya dari tiang tiang hidup yang diserapnya. Tiang yang berupa potongan besar dari gejala kehidupan, bukan tiang biasa, di mana di atasnya, didirikan bangunan kehidupan. Tapi tiang hidup yang bernama matahari -berdiri vertikal dalam hidup kita ini, membentuk sambungan antara langit dan bumi – tiang.

Dan seseorang memburu tiang hidup itu ke sebuah tempat: seolah tiang itu atau matahari sebagai tiang adalah suatu tonggak panjang raksasa, terpancang di tengah angkasa memanjang sampai ke langit. Tiang di mana tiap manusia bisa memanjatnya dan naik ke atas langit. Bertanya kepada langit tentang hidupnya sendiri. Mengintip ke atas langit atas hidupnya sendiri. Matahari yang kita pipih dan padatkan, dan kini bergerak sebagai tiang yang terpancang sebagai tiang raksasa di tengah semesta.

Tapi tidak seperti itu: tiang tadi bergerak dalam imajinasi saya belaka, dari suatu pancingan penyair yang menggambarkan seorang kuli bangunan memandang matahari darimana tempatnya berdiri, dan lalu melakukan pergerakan dengan berlari ke sebuah tempat -seolah manusia yang berpindah pindah untuk mengejar nasib dari hidupnya agar hidupnya membaik. Seolah kulihat tiang terpancang -tiang bernama matahari, di suatu tempat lain ke arah mana kuli bangunan itu berlari mengejarnya.

Tapi puisi ini belumlah sesurealis itu: mataharinya adalah matahari biasa, matahari di mana siang-nya seolah ditutupi oleh awan hidup bernama ketidakjelasan -matahari sebagai lambang harapan, dan lambang itu kok tak mengandung kejelasan tentang suatu harapan, atau mengapa harapan itu tercekat; sehingga seseorang -kuli bangunan itu, memerlukan pergerakan untuk berpindah, mengejar matahari itu

sampai ke sini.
sini yang mana? Sini di mana??

Di sinilah menariknya puisi ini: sini itu bukanlah sebuah tempat nyata, tapi sini dari suatu abstraksi: sini, dari tempatnya kuli bangunan bergerak, ke sini lain, dari tempatnya sang penyair mengayunkan imajinasinya.

Siapakah sang penyiar yang memindahkan dirinya sebagai aku lirik dalam puisi? Rupanya ia seorang arsitek. Identitas ini menambah pembacaan: kita bergerak menjadikan sini yang dimaksud adalah sini dari suatu kawasan gedung gedung pembangunan. Suatu kawasan yang hendak dibangun. Jadi sang kuli bangunan bergerak dari posisinya semula -tepatnya dibayangkan bergerak oleh aku lirik di dalam puisi, dari suatu tempat yang mataharinya tak memberikan harapan, ke suatu tempat lain yang mataharinya dikiranya memberikan harapan.

Jadi pergerakan ganda dari harapan ganda yang bernama matahari: di mana matahari pertama sebagai matahari yang mandul, dan sang kuli bangunan bergerak mengejar matahari yang dikiranya akan memberikakannya anak anak kehidupan. Tapi pun di sini matahari itu hanya mandul belaka. Janji janji hanya ditukar dengan “kulit legam”, yang “berkilat dengan keringatnya”, dan hanya itu yang mampu diberikan sang matahari -lambang dari harapan hidup itu: hanya mampu memberikan perubahan warna kepada sang kuli bangunan, yang kini kulitnya telah menjadi legam. Bukan memberikan perubahan atas mana kehidupannya disandarkan pada sebuah profesi: kuli bangunan itu.

Puisi yang baik membawa arah arah lain dari larik lariknya. Seolah larik larik itu adalah tempat sembunyi yang berselang seling makna seolah kita bisa berlari lari dari suatu tiang ke tiang lain di dan pada larik larik puisi.

Begitulah kesan itu segera gugur manakala kita merenungkan kembali pertalian tiang tiang larik dalam puisi. Bahwa sang kuli bangunan memang sudah membawa kulit legam dari asal mula dia datang. Bahwa penderitaannya sebagai manusia miskin sudah ada sejak mula. Dan dia memburu matahari sampai ke sebuah tempat yang lain: menjadi kuli bangunan di sebuah pembangunan gedung gedung, gedung gedung berupa matahari harapan bagi hidupnya. Gedung matahari yang berjanji kepada manusia di bawahnya, bahwa siapapun di bawah matahari akan bisa mengupayakan hidupnya lebih baik.

Tapi nampaknya matahari itu ingkar janji, dan sang kuli bangunan bergerak untuk mencari matahari lain lagi. Matahari yang dengan cepat disergah oleh aku lirik dalam puisi ke sebuah larik pertanyaan: bukankah matahari yang sama itu seharusnya telah memberikan janjinya di tempatmu semula, wahai sang kuli bangunan?

Jadi kita melihat seolah olah sang aku lirik dalam puisi, adalah juru bicara yang seakan melihat harapan dari sinar matahari kepada sang manusia yang mengejarnya “kuli bangunan itu, harapan yang dinyanyikannya dalam suatu larik puisi yang amat indah: pak tukang pak tukang/apa kurang terang matahari di tempatmu/hingga kau buru sampai ke sini”

Larik yang indah, karena sang aku lirik sedang, nampaknya disadarinya, mengayun ngayunkan sebuah pertanyaan filosofis kepada kita manusia, bahwa suatu nasib yang dilambangkan dengan matahari itu, bisa menampakkan kekurangan cahayanya di suatu tempat, tapi kelihatannya akan bercahaya di tempat yang lain.

Tapi pergerakan puisi di bawahnya tak menampakkan perubahan cahaya bagi manusia yang bernama kuli bangunan itu. Matahari bagi sang kuli bangunan nampaknya adalah matahari yang sama, hanya menambah legam kulit dari sang kuli bangunan, bukan menambah atau mengubah makna sang manusia kuli bangunan, walau ia telah menjadi tambah legam karena pekerjaannya sebagai seorang buruh bangunan yang terbakar di bawah matahari.

Kesadaran semacam itu telah mengubah wajah dalam puisi. Yakni wajah yang bergerak tanpa kata oleh sang kuli bangunan, di mana sejak awal sang kuli bangunan hanya digambarkan pasif, pasifis yang pas sekali dalam suasana mandor dan buruh dalam tata letak pekerjaan berupa bangunan, di mana sang kuli bangunan nampaknya tak memiliki suara selain hanya pengangkut semen atau pengaduk semen, yang atas perintah sang mandor dia melakukan pekerjaan itu. Dan perubahan wajah dalam puisi berupa kesan yang dicatat oleh sang aku lirik dalam puisi, sebagai berpindahnya harapan tadi, kini menjadi suatu sikap dendam sang kuli bangunan, dendam yang tak terkatakan, dendam tak terucapkan. Hanya rasa sakit dalam hati belaka.

Tapi tampaknya kini sudah dikuit oleh perasaan peka dalam diri sang kau lirik dalam puisi. Ia katakana dendam itu, atau tepatnya, ia bentuk dendam itu ke dalam larik larik puisi. Ia panggil hujan sebagai kontras, dari suatu panas matahari. Bahkan ia ubah tubuh sang kuli bangunan menjadi seolah benda mati di sana: tubuh sang kuli bangunan yang bukan lagi hanya tak memiliki inisiatif dalam seluruh tata pekerjaan, tapi telah bergerak menjadi seolah “baja tuangan”, yang telah ditata oleh air hujan. Jadi air hujan di sini bukanlah untuk mendinginkan hati sang kuli bangunan karena tubuh panas disengat matahari, atau hati panas yang perlu disiram oleh dinginnya air-air hujan. Tapi malah telah mamatikan seluruh kediriannya sebagai manusia-manusia kuli bangunan, yang pasif dan tak memiliki hak jawab dan hak berkehendak itu.

Di sini kembali kita digoyang goyang oleh larik larik puisi pada bait kedua puisi. Bahwa ada penafsiran lain yang kita lihat di suatu sudut sempit itu, yang jarak dari tiang tiang matahari puisi begitu rapatnya dibuatkan oleh sang penyair.

Bahwa:

ada dendam apa antara kau dengan hujan,
hingga tak kau pedulikan datangnya
bicara pun tidak kau padanya.

Adalah sebuah catatan yang dibuat sang aku lirik atas denyut dan degup sang kuli bangunan. Bahwa ia mengamati walau, sang kuli bangunan, sejak awal puisi, tak pernah kita dengar suaranya, adalah suatu organisma hidup yang mungkin saja dilihat oleh sang aku lirik dalam puisi, tapi tak terlihat pada kita: sebuah body language yang disembunyikan dalam puisi, hanya disugestikan oleh sang penyair ke dalam bentuk bentuk pertanyaan seperti di atas itu: “ada dendam apa antara kau dengan hujan”.

Dan puisi ini terus meluncur dengan catatannya, ke dalam suatu nasib buruk yang tak bisa diubah, walau sang matahari sudah dipindahkan oleh sang kuli bangunan. Dalam larik larik yang menjadi puncak nyanyian sang penyair – tepatnya: puncak dari pertanyaan sang penyair, akan nasib buruk yang menimpa manusia, manusia kuli bangunan, yang tak mampu diubahnya.

Catatan yang meluncur membentuk nyanyian sedih dalam puisi. Sebagai nyanyian sedih dari hidup ini sendiri, hidup sang manusia kecil, dengan nama sang kuli bangunan. Yang indah tapi hanya menjadi kayu bakar dalam kebesaran gedung matahari manusia.

“pak tukang … pak tukang …
betapa indah rajah tanganmu
pada dindingdinding gedung kami.
rumahmu sendiri,
sudahkah kau ganti anyaman bambunya?”

Bersama sang penyair, yang bergerak menjadi aku lirik dalam puisi, kita pun membisikkan nasib manusia ke dalam nyanyian: pak tukang pak tukang, kapan palu yang kau pukulkan itu, mengubah nasib hidupmu?

kuli bangunan

pak tukang … pak tukang …
apa kurang terang matahari di tempatmu,
hingga kau buru sampai ke sini
hanya untuk kau tagih janjijanjinya.
bukankah kulit legam, berkilat, dan berkeringat itu
dia juga yang sudah warnai

pak tukang … pak tukang …
ada dendam apa antara kau dengan hujan,
hingga tak kau pedulikan datangnya
bicara pun tidak kau padanya.
bukankah tubuhmu yang baja tuangan,
dia juga yang menatahnya

pak tukang … pak tukang …
apa kurang kental darah di nadimu,
hingga kau infuskan berbotolbotol anggur merah
sebentar dia akan merayap, menikam, dan membunuh indramu.
apa kurang mabuk dan terhuyunghuyungmu,
juga pucat pasimu di gelombang laut jawa

pak tukang … pak tukang …
betapa indah rajah tanganmu
pada dindingdinding gedung kami.
rumahmu sendiri,
sudahkah kau ganti anyaman bambunya

pak tukang … pak tukang …

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *