Dua Kawan di Tepi Pantai

Isbedy Stiawan Z.S.
http://www.lampungpost.com/

BERJALAN ke arah matahari terbenam, sore hari, kemilau langit. Setelah gang pertama dari tempat kos, aku terus menyeret kedua kakiku. Entah apa yang ada di benakku. Benar-benar kosong.

Pikiranku akhir-akhir ini memang kacau. Tak menentu. Tetapi, aku selalu membunuhnya. Sehingga pikiranku benar-benar kosong. Aku terkadang tersenyum, di waktu lain geram.

Inginku cuma satu, tiba lebih cepat di tepi laut. Dari tempat tinggalku, ah lebih tepatnya kamar sewaan, ke laut hanya membutuhkan waktu sepuluh menit berjalan kaki. Itu juga harus mengambil jalan pintas. Sedikit menembus ilalang setinggi pinggang, melompati anak sungai, kemudian masuki hutan bakau.

Sore hari menjelang magrib, kupikir asyik berada di tepi laut. Apalagi jika ada sunset, meski aku sendiri tidak mengerti keindahan apa yang didapat dari matahari terbenam lalu melihatnya dari tepi laut? Aku tak faham soal estetika itu. itu sebabnya, kadang aku heran banyak orang merebut suasana sunset. Katanya indah. Para fotografer tahan berlama-lama menanti di tepi laut, hanya untuk mencuri momen itu. Terutama akhir tahun.

Aku tidak yakin sunset itu begitu indah. Karena selama ini, aku mengunjungi laut bukan karena ada atau tidak sunset. Aku malah tak peduli. Cuma aku merasakan cahaya matahari di waktu sore, persisnya saat berada di ujung ufuk barat, betapa nikmatnya. Selayaknya dikujuri air hangat-hangat kuku. Sering sambil mandi di laut. Jika tidak ada pengunjung lain, aku malah tanpa sehelai kain pun menutupi tubuhku.

Saat-saat seperti itu, sungguh aku menjadi manusia tanpa batas. Bertelanjang tanpa sehelai kain, aku berlari-lari di tepi pantai. Ditendang ombak, dilempar ke air, kemudian diempas ke pasir. Kudirikan rumah-rumahan dari pasir, lalu aku tak merasa kecewa manakala ombak merobohkan tanpa sisa.

“Bukankah kau bisa membangun rumah lagi di sini, tanpa biaya? Tidak seperti kau bangun rumah sungguhan. Perlu lahan, dibutuhkan uang untuk membeli bahan bangunan. Di pasir ini? Cukup kau keruk pasir dengan kesempuluh jarimu, lalu dirikanlan rumah di sana,” kata seorang anak kecil, tanpa memanggilku kakek, kakak, atau adik, bahkan menyebut namaku.

Anak kecil ini seperti ingin diakui teman. Oke, akan kupanggil namamu, sayang.

“Pipit, aku tahu apa yang kau katakan. Tetapi membangun rumah di tepi pantai, resikonya amat berbahaya. Kau ingat bagaimana warga Aceh habis dilumat tsunami? Aku tak mau mati seperti itu. Aku ingin kematianku tenang di kasur berbusa.”

“Harapan boleh saja. Cuma apa kau yakin, kematianmu pasti di kasur?” tanya dia menyudutkan.

“Setiap orang punya harapan kan? Kalaupun aku harus mati di tepi pantai, aku tetap menginginkan ada kuburan. Nah, pemakananku ada di darat, bukan di lautan!” sergahku.

“Kau pikir, setiap menyebut pemakaman pastinya di darat? Seperti ketika menyebut kuburan, mesti ada nisan, gundukan, bunga-bunga, atau bagi kristiani harus ada RIP dan seterusnya?”

“Padahal, ada orang yang mati dilarungkan di laut. Ada yang meninggal dibakar lalu abunya disimpan atau ditaburkan di lautan? Kau ingin berkata begitu kan?”

Dia mengangguk. Senyum Pipit bagai pernah kurasakan saat burung pipitku, karena sudah bosan dan terlalu membela perasaan akhirnya kulepas, namun pipitku itu kembali ke sarang. Ia berkicau lagi. Bernyanyi setiap pagi.

“Ya, kematian kan hanyalah perpindahan nyawa dan jiwa seseorang dari bumi ini menuju alam lain. Sementara tubuh atau jasad ini, karena ia berasal dari tanah, maka kau letakkan di mana pun akan tetap menyatu pada tanah,” katamu.

“Seperti api tidak akan pernah berpisah dengan api. Api akan membesar jika disiram sesuatu yang merangsangnya. Tetapi akan mati dan menjadi api kembali, jika tidak tersentuh ataupun dielus angin,” lanjut Pipit.

Aku terdiam.

Anak itu memang sudah kuanggap keterlaluan. Tidak memanggilku sebagai panggilan seseorang yang usianya di bawah kepada orang yang lebih tua, eh, berani pula mengajariku, menasihatiku, bahkan mengajakku berdebat.

Soal perdebatan, aku pernah mendapatkan ajaran dari tetua. Ilmu itu bisa kau dapat dari anak kecil sekalipun. Jangan engkau abaikan anak-anak, karena siapa tahu dari ucapannya menyimpan hikmah. “Ingatlah tatkala Nabi Muhammad ditegur, saat ia mengabaikan seorang jamaah yang buta?”

Maka, memang sudah beberapa bulan ini, bocah dara yang tak kutahu di mana tinggalnya, selalu datang di sore hari sebelum matahari tenggelam di ufuk Timur. Dia akan menemaniku, dan aku akan mengajaknya berdialog. Kami adalah dua kawan yang sama-sama terdampar dan tersasar di tepi pantai ini.

Sampai suatu kesempatan, rumah-rumahan yang kubangun bersama dia dihancurkan ombak besar. Tidak hanya rumahku, melainkan aku dan Pipit ditendang gelombang amat besar, paling dahsyat dari gelombang-gelombang yang pernah kulihat dan kurasakan.

Aku terlempat beratus-ratus meter dan tersangkut di akar bakau. Sementara Pipit, aku tak lagi tahu, di mana dia?

Aku tersadar ketika matahari benar-benar tenggelam. Seulas tangan mengusap mukaku, merapikan rambutku, mendekati hidungku. Mungkin ingin mendengar dengus napasku. Mataku terbuka. Pipit tersenyum. Entah siapa yang memulai. Wajah kami sudah begitu dekat, bibir kami tinggal sesenti.

“Ah, rumah kita diterpa gelombang!” gerutu bocah itu.

“Kalau ingin kecewa, jangan bangun rumah di tepi laut.”

Lampung, 22 Juni 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *