Kita Fatalis Sejati?

Sunaryono Basuki Ks*
http://www.suarakarya-online.com/

Bencana alam bertubi menerpa, wabah penyakit mengincar segenap penjuru, bom bisa meledak dimana-mana, kerusuhan, teror, demo hampir setiap hari, pengungkapan korupsi. Meminjam istilah Pater Dick Hartoko, apakah memang ini tanda-tanda zaman yang harus diurai dengan bijaksana?

Sebagian kita merasa tak bisa berbuat apa-apa karena ini sudah kehendak zaman. Kita tak bisa mengubahnya. Prof Liek Wilardjo walaupun menyebut sebuah judul lagu lama Que Sera Sera yang dibawakan Doris Day dalam tulisannya berjudul “Resolusi” yang pernah dimuat di Kompas, serta menyebut pula Sophocles, toh masih menyisakan harapan dengan kutipan berikutnya. Dikutipnya doa Donald M.MacKay : “Ya Allah, ajarlah kami untuk menerima takdir, tetapi tidak berpuas diri menghadapi hal-hal yang dapat diubah.”

Ya, apakah tak ada yang bisa kita lakukan dengan semangat “bersama kita bisa” untuk memperbaiki semua yang buruk di negeri ini? Apakah kita akan menjadi fatalis sejati sepeti Sophocles yang mengangkat kisah Oedipus. “Oedipus sang Raja” pernah diterjemahkan Rendra dan dipentaskan di Yogyakarta, Agustus 1962. Pementasan yang didukung oleh Sanggar Bambu dengan Soenarto Pr., Syahwil, Mulyadi W, Danarto baik berupa dukungan artistik maupun dukungan pemain seperti Yocasta yang dimainkan oleh Sumartini Pr yang warga Sanggar Bambu benar-benar memukau. Pentas dua malam di Gedung GKBI Yogyakarta itu menampilkan Rendra sebagai Oedipus dan Deddy Sutomo sebagai Creon, adik Yocasta, bukan hanya dibanjiri oleh para seniman dari Yopgyakarta tetapi juga dari Jakarta seperti Trisnoyuwono, Goenawan Mohammad, Arief Budiman (Soe Hok Djin, kakak kandung Soe Hok Gie). Seperempat abad kemudian, pementasan diulangi di Jakarta, kali ini dengan pentas topeng yang digarap oleh Danarto.Mungkin mau mengembalikan semangat pementasan Yunani Kuno saat para pemainnya yang jumlahnya terbatas mengenakan topeng. Persis seperti teater Topeng Pajegan di Bali atau Bondres yang sekarang masih hidup.

Kisah Oedipus sendiri sudah hidup lama di masyarakat Yunani kuno. Homer menyebut Oedipus dalam buku jilid ke sebelas Odyssey. Homer hidup sekitar th 850 SM, sedangkan Sophocles dilahirkan sekitar tahun 496 SM dan meninggal tahun 406 SM.

Fatalisme dalam Odipus jelas digambarkan tentang Laius raja Thebes yang diramalkan, hanya bilamana dia tak berputera kerajaannya akan terhindar dari kehancuran. Dia juga diberitahu bahwa dia akan mati di tangan anaknya dan anak itupun akan menikahi ibunya sendiri. Akibatnya Odipus yang seharusnya disuruh bunuh, hanya dibuang dan dipelihara oleh Polybus dan Merope dan Korintha. Karena sering diejek soal wajahnya yang tak mirip kedua orang tua (asuh) ini, dia bertanya pada Dewa Apollo, di Orakel Delphi, dan dia pun diberi tahu bahwa akan membunuh ayahnya dan mengawini ibunya.

Karena takut, dia melarikan diri ke arah Thebes dan dalam perjalanan bertemu dengan Laius, bertengkar dan membunuhnya. Diapun melanjutkan perjalanan dan bertemu dengan Sphinx, mahluk berkepala wanita dan bertubuh singa, bersayap bagai burung gagak, dan berekor bagai ular.

Mahluk ini menyebar teror pada warga Thebes karena dosa Laius yang telah menculik anak, dengan memakan semua orang lewat yang tak sanggup menjawab teka-tekinya. Teka-teki Sphinx menjadi sangat terkenal: “mahluk apa yang berjalan dengan empat kaki di pagi hari, dengan dua kaki di siang hari dan dengan tiga kaki di malam hari.”? Ketika Oedipus menjawab dengan “manusia”, Sphinx pun menghancurkan dirinya. Dan karena Thebes tak punya raja, maka diapun diangkat menjadi raja dan menikah dengan sang ratu Jocasta. Oedipus complex menjadi terkenal gara-gara Freud mempopulerkan teorinya mengenai anak lelaki yang mencintai ibunya.

Tentang jawaban Oedipus terhadap teka-teki Sphinx, kelak Thomas de Quencey seorang eseis Inggris justru mengajukan jawaban yang lebih bagus, yakni satu kata Oedipus!

Kerajaan Thebes dilanda bencana, dan Raja Oedipus mengirim orang untuk mencari orang pandai, yakni Teiresias, sang peramal buta. Dari jawaban peramal ini jelas bahwa pangkal bencana itu adalah Oedipus sendiri. Ketika tahu bahwa Oedipus telah membunuh ayahnya sendiri dan menikahi ibunya bahkan sudah berputera dua orang: Antigone dan Ismene, dia pun membutakan dirinya. Menurut Rendra, aktor Lawrence Oliver mendapatkan anugerah gelar kebangsawanan Sir dari Ratu Elizabeth lantaran teriakannya saat membutakan matanya dalam drama Oedipus Sang Raja.

Apakah kita akan menjadi fatalis sebagaimana Sophocles? Apakah bencana bertubi yang menimpa negeri ini gara-gara kesalahan Sang Raja (atau Mahapatih)? Lalu, apakah Sang Raja (atau Mahapatih) akan membutakan matanya dan negeri ini, sebagaimana Thebes, akan hancur? Tentu kita tak boleh hancur, sebab negeri ini bukan sebuah kerajaan besar, walau Mahapatih Gajah Mada sudah berhasil dengan Hamukti Palapa mempersatukan Nusantara.

Sebagai sebuah republik, kita kan diperintah oleh “hikmah kebijaksaan rakyat.” Presiden, Wakil Presiden, Para Menteri, Anggota DPR dan MPR, semuanyanya bertugas mengemban tugas mulai yang digariskan dalam Pancasila yang dianggap sakti itu. Kita layak mengikuti doa Donald M.McKay di atas, dan tak perlu menjadi fatalis sejati. Walau kita percaya pada takdir, tugas manusia adalah berusaha. Bukan sekedar berusaha memperkaya diri sendiri, kan? Ingat tetangga kita yang tak makan.***

*) Sastrawan tinggal Singaraja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *