Novel Horor dalam Visual Grafis

Sjifa Amori
http://jurnalnasional.com/

Novel grafis Coraline membebaskan pembaca untuk berimajinasi lebih “liar” tentang dunia mistis yang dialami sang tokoh.

KOMIK sering kali dikelompokkan sebagai karya popular yang menghibur daripada mengedukasi. Sebaliknya, bahan bacaan seperti novel atau bahkan karya sastra dianggap mampu “merangsang” sensitivitas. Karya novel (baik yang populer ataupun yang sastra) juga memuat lebih banyak informasi dalam deretan teks yang sambung-menyambung hingga mencapai ratusan halaman buku.

Kesan budaya instan dan hanya sekadar menghibur ini sama sekali tidak terasa dalam novel grafis berjudul Coraline, meski pada umumnya karya semacam ini masih saja disetarakan dengan komik-strip.

Saat pertama kali membalik kover buku Coraline, langsung ada “pertanyaan besar” yang timbul di benak pembaca. Pertanyaan ini tak terjawabkan meskipun gambar yang ditampilkan memakan ruang sehalaman penuh. Tak ada teks sama sekali di atas lembaran ini, kecuali tulisan “FOR SALE” pada papan kayu di halaman depan rumah besar bernuansa cokelat yang mendominasi gambar. Yang tampak kemudian malah lebih misterius lagi, karena dua halaman penuh hanya diisi gambar sebuah truk yang mengangkut perabotan.

Perlahan-lahan, pembaca digiring untuk mulai menerka-nerka bahwa gambaran rumah di awal buku merupakan akhir sekaligus sebuah awal baru dari kisah hidup Coraline kecil yang berjiwa petualang.

Kompleksitas gambar dan teks dalam buku ini tidak membuat pembaca membalik halaman sekilasan saja, melainkan memerhatikan setiap aspek dan detail yang dihadirkan penulis dan ilustrator. Mau tidak mau, pembaca jadi berpikir lebih keras untuk menguak informasi pendukung yang tersirat agar bisa mencerna adegan. Novel grafis Coraline juga melibatkan pembaca agar fokus terhadap setiap kata yang kemudian disempurnakan visual grafis.

Adalah Neil Gaiman yang awalnya menulis Coraline dalam bentuk novel. Demi menjangkau lebih banyak pembaca -yang menikmati kehadiran unsur visual dalam penceritaan-, ia menggandeng P Craig Russell, yang sudah berkarier selama 35 tahun sebagai komikus, ilustrator, dan novelis grafis.

Ada banyak kecanggihan novel grafis pada Coraline yang menawarkan pengalaman penginderaan baru akan sebuah karya buku, termasuk pengalaman seolah menonton film melalui lembaran-lembaran karya. Belum lagi, keadaan dan situasi berlainan direpresentasikan ilustrator dengan nuansa warna berbeda pula sehingga melatih indera untuk mendiferensiasikan antara kenangan, impian, emosi, dan keterancaman Coraline saat terjepit.

Beragamnya aspek visual grafis dalam buku Coraline ini menyebabkan pemaknaan pembaca tidak berhenti hanya pada tahap penerimaan visual, namun berlanjut pada pengembangan fantasi yang lebih luas dan kompleks dalam imajinasi pembaca.

Coraline menyentuh sisi penerimaan manusia akan sesuatu yang ganjil dan mengerikan. Gaiman dan Russel menghadirkan imajinasi akan ketakutan personal, namun umum. Mereka memperlihatkan dunia cermin berisi pribadi-pribadi yang sama yang ada di dunia Coraline dalam versi “buruk”, yaitu mata kancing dan tangan yang panjang dan kurus bagai akar.

Penceritaan yang kuat juga menjadi keunggulan novel grafis ini. Obrolan yang menarik, detail, dan panjang, tapi tanpa pengulangan, kerap timbul di antara para tokoh. Kadang, isi obrolan ini bahkan tak ada kaitannya dengan jalannya cerita, hal yang tidak pernah terjadi dalam komik-strip.

Baik teks maupun visual dalam Coraline sesungguhnya bisa berdiri sendiri-sendiri berkat eksplorasi dan riset yang maksimal terhadap pemahaman psikologis. Maka itu kemudian Gaiman dan Russel dapat dengan gamblang memperlihatkan kegelisahan masa kanak-kanak yang opininya, apalagi permintaannya, kurang didengar oleh orang dewasa.

Bahkan nama Coraline pun berkali-kali keliru diucapkan oleh orang-orang dewasa di lingkungan barunya. Mereka selalu saja memanggil gadis kecil berambut pirang dan panjang ini dengan Caroline dan tidak pernah memerhatikan jika si empunya nama meralat. “Namaku Coraline…bukan Caroline…CORALINE,” kata Coraline pada tetangganya Miss Spink dan Miss Forcible yang tinggal di lantai bawah flat keluarganya. Sayang, keduanya tidak mendengar karena sudah keburu sibuk melarang anjing peliharaan mereka yang diam-diam menyantap cake buah.

Kekecewaan menumpuk atas perlakuan orang dewasa, termasuk orang tuanya, yang cenderung meremehkan anak-anak ini kemudian mendorong Coraline memasuki dunia mistis yang sejak awal sudah kelihatan berbahaya. Di dunia ini, ada versi kembaran dari ayah dan ibunya yang tak enak dipandang, meski pun selalu mengabulkan permintaannya.

Lewat adegan-adegan yang dipotong sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa ngeri yang mirip saat menonton film thriller, orang tua palsu ini mengajak Coraline untuk selamanya tinggal di dunia ganjil itu. Caranya adalah dengan menjahitkan kancing di matanya seperti juga kancing yang jadi mata ibu dan ayah “baru”nya.

Kalau pun konten novel grafis Caroline tidak terlalu rumit adalah karena karya ini berasal dan memang ditujukan untuk kalangan pembaca anak-anak, meski akan ada pembelajaran baru yang tetap bisa didapat orang dewasa pembacanya. Coraline banyak menekankan tentang nilai-nilai positif dalam kehidupan, seperti belajar bersyukur, berkorban demi teman dan keluarga, serta menjadi anak yang pemberani.

USA Today mengomentari karya ini sebagai kisah fantasi terbaik kedua setelah Narnia yang memulai petualangan tak terbayangkan lewat awal sederhana. Bisa jadi pencapaian yang terpuji oleh novel grafis Coraline adalah karena Gaiman merupakan penulis cerita anak yang diperhitungkan. Penghargaan yang diterimanya antara lain World Fantasy Award, Hugo Award, Nebula Award, dan Bram Stroker Award. Kepiawaian ini disempurnakan oleh sentuhan Russel yang dikenal andal mengadaptasi karya mainstream hingga karya klasik, macam The Magic Flute, Salome, Pagliacci, dan banyak lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *