Belajar Filsafat kepada Agen 007

Moh. Samsul Arifin*
http://www.jawapos.com/

Penggemar film pasti tahu sepak terjang dan petualangan James Bond, agen Inggris MI6 yang memiliki sandi 007. Adalah novel Casino Royale karya Ian Fleming (1953) yang kali pertama memasukkan James Bond ke dalam imajinasi manusia di planet ini. Bond kian jadi sosok idola setelah film layar pertamanya, Dr No, dirilis tahun 1962. Setelah itu film-film tentang Bond diproduksi rutin hingga mencapai 22 judul, termasuk yang teranyar, Quantum of Solace (2008).

Pemeran tokoh Bond berganti-ganti, mulai Sean Connery, George Lazenby, Roger Moore, Timothy Dalton, Pierce Brosnan, hingga Daniel Craig. Satu dari setiap empat orang di muka bumi ini ditaksir sudah menyaksikan aksi jagoan pria yang digambarkan perayu ulung wanita ini.

Di balik aksi heroiknya, Bond selalu jatuh –atau menjatuhkan diri?– dalam pelukan wanita. Maka ada sebutan Bond Girls bagi wanita-wanita yang diselamatkan Bond, rekan kerja, maupun anggota organisasi musuh yang harus melawan Bond tapi biasanya lalu jadi jatuh cinta. Bahkan, sebagian dari mereka ada yang hanya tampil sebagai pemanis, tak ada hubungan langsung dengan James Bond. Mereka antara lain Ursula Andress, Eunice Gayson, dan Zena Marshall, tiga wanita cantik di film Dr No.

Selanjutnya Jane Seymour (Live and Let Die), Emily Bolton (Moonraker), Tina Hudson (Octopussy), Minnie Driver (Golden Eye), Teri Hatcher dan Michelle Yeoh (Tomorrow Never Dies), Sophie Marceau dan Denise Richards (The World is Not Enough), Halle Berry (Die Another Day), hingga Gemma Arterton, Olga Kurylenko (Quantum of Solace).

Objektivikasi merupakan penciri seri film agen 007. Ia menggunakan orang lain untuk memperoleh informasi, superioritas atau bahkan seks. Dalam filosofi Barat ”objek” mendapatkan makna lewat kontrasnya dengan ”subjek” –yang hidup, bernapas seperti yang dimiliki manusia, hingga yang memanipulasi benda-benda. Objektivikasi merujuk pada tindakan-tindakan di mana subjek diperlakukan sebagai objek dalam pikiran seseorang atau dalam perilaku mereka –suatu yang disebut Robert Arp & Kevin S. Decker (kontributor buku ini) sebagai bentuk dehumanisasi.

Ini juga berlaku saat Bond memperlakukan wanita. Saat bertemu Sylvia Trench (Dr No) dan Miss Caruso (Live and Let Die), tujuan tunggal Bond adalah lompat cepat dalam karung sebelum menyelesaikan misi penting berikutnya. Bond baru memandang wanita-wanita ini ada nilainya kalau mereka dapat memberikan kenikmatan seksual pada dirinya. Objektivikasi

seksual tak dipandang kedurjanaan. Demikian pula dalam kisah-kisah dan novel Fleming serta film-film populer MG/UA, objektivikasi seksual hanyalah refleksi kultur pop ”pandangan pria”. Sudut pandang yang melihat wanita sebagai yang inferior mental, fisik dan social -juga barangkali berpembawaan buruk (hlm. 293-294).

Buat Arp & Decker, objektivikasi seksual ala Bond ini menyisakan problem moral. Filosof seperti Immanuel Kant salah satu yang menentangnya. Di mata Kant, setiap orang dewasa, termasuk wanita memiliki arti penting personal dan martabat dan tidak boleh diperlakukan sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Cara Bond memperalat wanita dan mengeksploitasinya untuk mendapat informasi, bagi Kant merupakan puncak ketidakbermoralan. Kalangan feminis malah menyebutnya aksi dominasi pria terhadap wanita merupakan ”invasi agresif terhadap mereka yang kurang kuat”.

Kontributor lainnya, Dean A. Kowalski, seorang pengajar filsafat di University of Wisconsin-Waukesha membedah sepak terjang Bond dan Bond Girls-nya dari spektrum kosmologi ”yin & yang”. Dinukilkan adegan ke-20 Tomorrow Never Dies. Di situ James Bond dan Wai Lin mengendarai sepeda motor dikejar-kejar anak buah sang musuh Elliot Carver –raja media Inggris yang meluncurkan jaringan berita global baru dengan sasaran menjadi pihak pertama yang meliput konflik yang terjadi antara Inggris dan Cina di Laut Cina.

Awalnya Bond (Pierce Brosnan) dan Wai Lin (Michelle Yeoh) agen Red Chinese, naik motor dalam posisi normal dengan Wai Lin duduk di belakang Bond. Satu belenggu mengikat tangan Bond dan satu belenggu lagi mengikat tangan Wai Lin. Hingga beberapa sekuen, posisi ini tak berubah. Dengan posisi itu sulit bagi keduanya melihat gerombolan pengejar mereka. Bahkan keduanya berselisih soal arah pelarian diri mereka guna menghindari kejaran mobil dan helikopter antek Carver bernama Mr Stamper.

Dalam kondisi terdesak Bond berteriak ”kopling”, dan Wai Lin menginjak tuasnya karena tak bisa dijangkau Bond yang satu tangannya yang tak terbelenggu harus menyetir motor. Wai Lin lalu menyarankan belok kiri karena lebih tahu daerah ini ketimbang Bond. Dengan kerja sama yang lebih mulus, Bond bertanya, ”Berapa banyak di belakang sana?” Wai Lin menjawab dirinya tak bisa melihat, namun Wai Lin kemudian bangkit ke bagian depan motor sehingga posisinya berhadapan dengan Bond dan dapat melihat lewat kedua bahu Bond para pengejar mereka. Alhasil cara ini membantu Bond dan Wai Lin lolos dari maut meskipun dalam posisi dibelenggu oleh Stamper.

Penonton film yang dirilis tahun 1997 ini mungkin berpikir adegan di atas sekadar kiat dan taktik biasa ketika seseorang terdesak -mirip kiat-kiat brilian tokoh Macgyver dalam serial televisi bertajuk sama yang pertama kali diputar di Amerika Serikat tahun 1985. Namun bagi Dean A. Kowalski, aksi itu bagaikan dinamika jalinan dua kekuatan yang berlawanan seperti yang digambarkan dalam simbol ”yin & yang”.

Dan manuver final dua agen ini, yakni menghancurkan helikopter musuh makin membenarkan aliansi ”yin & yang”. Bond memacu sepeda motornya ke arah helikopter, dan kemudian menyelipkan motornya ke bawah helikopter, Wai Lin melemparkan kabel kawat dan pengait ke baling-baling. Berkat kesetimbangan dan harmoni keduanya, dua agen ini menamatkan misinya.

”Yang” mengandung makna cahaya (matahari), mewakili soliditas, dominasi dan maskulinitas. Sedangkan ”yin” berarti kegelapan (bulan),mewakili kondisi lembut, khidmat, dan kondisi feminin. Jika ”yang” adalah seperti pria dan ”yin” adalah seperti wanita, maka ”yang” tak akan tumbuh dan berkembang tanpa ”yin”. Begitu pun ”yin” tak akan melahirkan tanpa ”yang”. Tak urung kosmologi ”yin dan yang” ini dipercaya menjelaskan segenap fenomena semesta. Karena alam dipahami sebagai dinamika ”yin dan yang”, maka ini juga dapat menjadi model untuk bagaimana semestinya manusia berperangai (hlm. 316).

Buku James Bond & Philosophy ini memuat analisis tujuhbelas pakar atas isu-isu filosofis tersembunyi dalam dunia dobel kosong tujuh yang glamor, memperdaya, dan mengandung potensi sangat berbahaya. Pembaca akan tahu apakah Bond seorang hero Nietzschean yang lulus ”di luar baik dan buruk”? Apakah Bond yang dengan cukup aneh melanggar hukum untuk bisa menjunjung tinggi hukum? Apakah lisensi untuk membunuh yang dikantonginya membantu kita memahami etika kontraterorisme?

Meskipun harus sedikit berkerut untuk bisa paham, pembaca akan tersadar bahwa aksi-aksi Bond adalah sebentuk cermin bagi kita merefleksikan diri. Bond barangkali hanya sosok imajiner, tapi apa yang dilakukannya ada di sekitar kita –bahkan mungkin mengepung manusia modern. Buku ini mengajak kita untuk peka dan mengambil sikap moral yang pas. (*)

*) Anggota Klub Buku & Film SCTV

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *