Doa dan Solidaritas untuk WS Rendra

Arief Junianto, Ary Nugraheni
http://www.surabayapost.co.id/

Layar hitam dibentang menutupi enam meter selasar Galery Surabaya di Jl. Yos Sudarso, Selasa tadi malam (14/7).
Enam gong besar digantung dengan tali dan kawat. Dua buah lampu besar dihadapkan kepanggung untuk penerangan.

Sound system 500 watt dan satu mikrofon diletakkan persis di tengah panggung setinggi satu meter. Puluhan tikar panjang digelar di pelataran beraspal.

Tak biasanya, malam itu ada perhelatan dadakan di Galery Surabaya di kompleks Balai Pemuda. Ba?da magrib semua siap. Jelang Isya?, beberapa undangan mulai berdatangan. Sementara lalulintas tak peduli apa yang akan terjadi di halaman Galery Surabaya itu. Sampai pukul 19.30 WIB, undangan mulai memenuhi tikar yang digelar di aspal yang masih menyisakan panas.

Beberapa penyair dan budayawan terkemuka Surabaya duduk lesehan menikmati angin.

Penyair Aming Aminudin–yang mulai sore sangat sibuk mengorganisasikan acara?naik ke panggung, ?Hari ini kita berkumpul membacakan sajak WS Rendra, untuk kesembuhan penyair, dramawan, budayawan kita yang sekarang berbaring di RS Harapan Kita Jakarta.?

Sejak azan asar menggema dari masjid Al Mutaqin yang berada di komplek Balai Pemuda Surabaya. Aming Aminudin, sibuk memencet-mencet tut HP. Ia menghubungi beberapa teman penyair. Suara lantangnya menimpali suara azan.

?Jo lali, nanti malam datang maca sajak!? serunya pada seorang teman penyair.

Sejenak kemudian ia mengambil air wudu, dan ikut salat jamaah. Usai salat, ia menyruput sisa kopi yang berada di bangku depan Dewan Kesenian Surabaya (DKS). Ia kembali sibuk dengan SMS. Tapi tak lama kemudian ia sibuk di depan komputer milik DKS.?Tak cari sajak-sajak Rendra di internet,? katanya sembari menyambar HP-nya yang tiba-tiba berdering.

Sore itu, mungkin sore yang sibuk bagi Aming Aminudin, Hanif Nasrulah, Sabrot D Malioboro, dan beberapa seniman DKS yang sedang mempersiapkan pentas baca sajak karya WS Rendra. Segala sesuatunya disiapkan mendadak.Undangan hanya melalui SMS dan Facebook. ?Namanya solidaritas semuanya serba ndadak,? kata Aming sembari menghisap Lucky Strike-nya yang hampir ?membakar? meja komputer.

Sementara sore terus bergerak. Dengan peralatan panggung seadanya Hanif dan Fatah mempersiapkan stage di depan galery Surabaya.

Untunglah semua berjalan lancar. Dari atas panggung, Aming membuka perhelatan dengan membaca sajak Rendra

Balada Terbunuhnya Admokarpo. Secara berturut-turut penyair yang dijuluki Presiden Penyair Jawa Timur ini membaca sajak-sajaknya sendiri seperti, Berjamaah di Plasa, Surabaya Musim Kemarau.

Selain itu, beberapa penyair juga mengikuti aksi Aming, seperti Ketua DKS Sabrot D. Malioboro, Sirikit Syah, Nindi aktris Teater Bengkel Muda Surabaya, Suparto Widjoyo (pemerhati lingkungan hidup), RM Yunani (Budayawan) dan beberapa penyair dan seniman yang sering bertandang ke DKS.

Mereka rata-rata membacakan karya WS Rendra, di kumpulan puisi Sajak Sepatu Tua, Blues untuk Boni, dan Potret Pembangunan dalam Puisi yang fenomena sekitar tahun 1970-an. Sirikit Syah, misalnya. Penyair dan sastrawan perempuan yang pernah menjadi pengurus DKS tersebut turut larut dalam emosi. Dengan penuh dengan penghayatan, Sirikit membawakan salah satu puisi Rendra yang bertemakan Kelaparan.

Lalu, RM Yunani naik ke atas panggung untuk memimpin pelantunan guritan berjudul Donga Kanggo Mitraku Rendra. Sebelum sampai panggung, Yunani melantunkan tembang Jawa. Dengan bahasa Jawa, di atas pentas, dia mengucapkan doa-doa yang mirip sebuah sajak dengan intonasi tetembangan yang membuat doa yang dibacakannya semakin terasa khidmat.

Tidak ketinggalan, Sabrot D. Malioboro, turut membacakan sajak Rendra. Dengan gaya membaca puisinnya yang khas, suara lantang dan gerak tubuh yang spontan mengikuti intonasi suara lantangnya.?Rendra adalah pelopor perpuisian modern,? ujarnya sebelum membacakan sajak.

Ketika acara tengah berlangsung, dari sisi barat, tampak Arif Affandi, Wawali Surabaya hadir. Spontan, kehadirannya tidak disia-siakan oleh Sabrot D Malioboro dan Aming Aminuddin yang menodong Wawali untuk membaca sajak.

Di depan stand mix, dan memegang secarik kertas, Arif Affandi membacakan sajak yang berjudul Gerilya. ?Saya tidak terlalu mengenal dekat Rendra. Tapi saya tahu kebesaran dan komitmen Rendra,? ujar Wawali.

Meski ditingkahi suara deru mobil dan klakson yang bersahut-sahutan, acara Malam Solidaritas untuk WS Rendra terkesan khidmat. Beberpa seniman teater seperti Dedy Obeng, Ilham J Badai, Khusnul Huda Soleh, Saiful Hadjar, Henry Nurcahyo secara berurutan membacakan sajak Rendra.

Menurut Sabrot, kegiatan ini terselenggara atas partisipasi teman-teman seniman yang secara suka rela mau meramaikan acara ini. Menurutnya Rendra mempunyai hubungan yang erat dengan Surabaya. Beberapa seniman teater Surabaya banyak yang ?berguru? di Bengkel Teater Rendra, di Cipayung Bogor.

Dari Jakarta dikabarkan, kondisi WS Rendra, rupanya berangsur-angsur membaik. Sejak dirawat di RS Jantung Harapan Kita Jakarta sejak 30 Juni 2009 lalu, Rendra pun mendapatkan layanan terbaik dari ahlinya, sehingga pada Selasa (14/7) malam, ia dinyatakan sudah membaik.

Ken Zuraida, istri Rendra, berterima kasih atas solidaritas para seniman Surabaya, ??Atas nama keluarga Mas Willy saya mengucakan terima kasih,?? katanya melalui SMS. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *