Ia Tak Bunuh Diri di Hari Minggu

Indra Tranggono
http://www.jawapos.com/

Tubuh Sateer membeku. Kapan jantungnya memutuskan untuk berhenti berdegup, hanya dia yang tahu. Sebuah riwayat telah ditutup dengan cara yang begitu teaterikal.

Di reruntuhan bangunan dekat pasar dan rumah ibadah di Kota Dazblath, Sateer merencanakan sendiri kematiannya. Tubuhnya serupa melayang di udara. Di lantai tiga sebuah gedung yang tidak utuh lagi, Sateer mengikatkan kedua tangannya pada kabel-kabel tembaga berukuran jempol kaki orang dewasa. Tubuhnya menjadi serupa kain yang menjuntai, melambai, bergenteyongan di udara. Baju longgarnya yang serbaputih –serupa jubah– berkibar-kibar. Ratusan pasang mata orang-orang yang menyemut dan lalu lalang di sekitar tempat itu menatap tubuh laki-laki kurus, berambut lurus, dan berwajah tirus itu. Mereka menganggapnya aneh. Beberapa orang menduga, Sateer adalah seorang perupa yang sedang memamerkan karya seni instalasinya. Yang lain menganggap Sateer gila atau sekadar mencari sensasi belaka.

***

Sateer tidak punya niat bunuh diri pada hari Minggu yang cerah itu. Semula ia hanya punya niat untuk mogok makan dengan cara yang tidak lazim: menggantungkan tubuhnya di reruntuhan bangunan. Tak bertegur sapa dengan siapa pun. Tak bersentuhan dengan roti, daging, buah-buahan, air mineral, rokok, bir, kecuali embun. Dari dini hari hingga pagi buta, mulutnya selalu menganga menunggu embun jatuh membasahi kerongkongannya. Dengan tenaga embun itu ia mampu bertahan selama lebih dari seminggu.

Memasuki hari ke sembilan, tubuhnya dirasakan sangat lemas, kepalanya berputar-putar. Ia merasa seperti dirubung ribuan kunang-kunang yang memancarkan cahaya seterang siang. Mendadak pandangannya terasa gelap. Ada kekuatan yang tiba-tiba menerobos rongga dada dan meremas jantungnya. Sateer menikmatinya dengan mata terpejam.

Sebelum ditemukan tewas, polisi Kota Dazblath telah berusaha mencegah tindakan nekat Sateer. Menggunakan backhoe, polisi menurunkan paksa tubuh Sateer. Tapi upaya itu hanya berhasil dua-tiga kali. Sateer tetap mengulangi, hingga akhirnya maut meringkusnya, di pagi itu, Minggu yang cerah.

***

Jangankan bunuh diri, kematian pun tidak pernah dipikirkan Sateer. Ia merasa kematian terlalu mewah untuk dibayangkan atau dipikirkan, bahkan ketika ia sakit keras. Alasannya sederhana: ia tidak mau memberi ruang kepada setiap ketakutan. Termasuk kepada penyakit. Termasuk kepada maut. Nalurinya untuk selalu melawan ketakutan itulah yang membuat penyakit tidak nyaman bermukim di tubuhnya. Terhadap maut? Ia sangat menghargai karya Tuhan yang luar biasa itu, namun tidak sebagai ancaman.

Karena itu, Sateer tidak pernah merasa takut sedikit pun ketika ia menerobos pasukan tata-tertib kota dan polisi yang ngosak-asik para pedagang kaki lima. Padahal, senapan setiap saat menyalak. Padahal timah panas setiap waktu siap menembus jantungnya. Padahal, bayonet yang mengilap, mingis-mingis, dan selalu bikin miris itu, setiap kesempatan siap membikin usus terburai. Namun Sateer tetap saja menghalau para petugas dengan selonjor besi. Tubuh Sateer godres-godres disayat bayonet. Darah menetes-netes. Baju Sateer merah basah. Anyir.

Sateer terus mengamuk. Menghantam setiap yang menghalang. Beberapa petugas keamanan juga bonyok-bonyok kena pukulan lonjoran besi. Sateer punya perhitungan sederhana. Dirinya pasti akan tatu arang kranjang, akan luka parah melawan pasukan keamanan yang sangat beringas itu. Maka, jalan satu-satunya ia pun memusatkan hajaran kepada satu dua orang. Hitung-hitung impas!

Sateer digelandang dan ditendang masuk sel tahanan. Namun, tiga bulan ia keluar, tanpa proses pengadilan.

***

Sateer kembali berjualan. Luka-luka di tubuhnya sudah mengering. Tanganya kembali lincah menari-nari membuat martabak. Tangannya meliuk-liuk serupa maestro penari, ketika menghajar adonan gandum campur tepung sari kanji dan margarine menjadi kulit martabak. Lalu mengocok dengan sangat takzim dan intens adonan telur bebek, daging sapi, daun bawang, irisan-irisan bawang merah, dan rempah-rempah, serta menuangkannya di atas kulit martabak itu. Dengan cekatan dan gerakan yang indah, ia melipat kulit martabak, lalu menggorengnya di atas wajan pipih lebar dan bulat di atas semprotan api kompor gas yang panasnya sangat terukur.

Tangan Sateer kembali menari-nari membalik-balik martabak. Bau harum dan sedap menguar dan disebar butiran-butiran udara ke ruang sekitar, menerbitkan rasa lapar. Para pemesan menelan ludah. Tidak sabar lagi untuk mengganyang martabak Sateer.

Martabak Sateer terkenal lezat, padat berisi, penuh cita-rasa. Konon Sateer belajar masak martabak pada laki-laki asli India yang dijumpainya di Kota Qom. Sateer ingat pesan yang pernah diberikan laki-laki dari India itu. Bikin martabak itu, katanya, harus memiliki imajinasi yang kuat tentang perempuan. Bayangkan, dirimu sedang melahirkan kreasi serupa membuat patung wanita yang sintal, padat, dan menggiurkan, namun tetap renyah. Sebab, siapa pun tidak suka yang keras-keras. Bayangkan, orang menggigit martabakmu itu sambil terpejam: merasakan komposisi bumbu yang pas dan membuat lidah menari. Bumbu yang merangsang itu menghidupkan seluruh syaraf-syaraf di mulut, di tenggorokan, di pencernaan, di seluruh tubuh.

Bayangkan juga, ketika martabakmu itu selesai dikunyah dan dicerna, maka sari-sarinya akan luluh dalam setiap butiran darah dan diserap menjadi energi yang luar biasa. Energi itu tidak hanya membuat orang menjadi kuat tetapi juga membuatnya bahagia. Dengan merasa bahagia, maka orang akan selalu punya harapan. Begitulah pentingnya martabakmu dalam peradaban manusia! Martabak bisa menjadi karya kuliner yang visioner.

Semula Sateer menganggap nasihat laki-laki dari India itu tidak lebih dari ocehan yang menggelikan dari koki narsis. Namun, diam-diam ia tercenung. Seluruh kata sang koki itu menggoda dan menariknya untuk memasuki ruang penciptaan. Sehingga, setiap Sateer membuat martabak ia tidak sedang merasa bekerja tetapi berkarya atau mencipta. Ya, mencipta. Di balik martabak ciptaannya itu, terpahat kebanggaan dan bahkan martabat Sateer. Maka, lahirlah ribuan bahkan puluhan ribu lempengan-lempengan martabak Sateer yang mampu mengguncang selera masyarakat Kota Dazblath.

***

Sateer baru mencipta dua martabak, ketika terjadi kerusuhan di sepanjang Jalan Dazblath. Tim petugas tata-tertib kota serupa serombongan serigala ganas menerkam lapak-lapak pedagang kaki lima. Sateer tidak sempat mematikan kompor gas, tak sempat menyelamatkan anak, dan istrinya. Mendadak kawanan serigala serupa mesin itu melabrak, manggasak lapak. Seorang petugas memukul wajan penggorengan, terdengar bunyi kelonthengan, serupa lonceng liar yang dipukuli musisi eksperimental, dalam pergelaran paling kasar dan brutal.

Minyak panas ratusan derajat celsius itu membuncah dan menyiram anak Sateer. Terdengar jeritan, namun kawanan serigala serupa mesin itu malah makin bergairah menjarah apa saja. Ada juga yang menendang tabung kompor gas yang masih menyala. Terdengar bunyi ledakan luar biasa. Sateer mampu berlindung di balik gerobak martabak. Tapi, istrinya terbakar.

Tubuh perempuan kurus itu bermandi api. Tercium bau daging bakar. Kulitnya gosong. Melepuh. Terkelupas. Hingga wajahnya sulit dikenali: wajah itu menjelma menjadi lukisan abstrak dengan sapuan warna hitam daging terbakar. Istri Sateer meronta. Mengerjat-kerjat. Orang-orang menyiramkan air. Perempuan itu menjelma onggokan daging meleleh.

Orang-orang hendak menyerang, namun kawanan serigala bermental mesin itu, keburu kabur.

***

Dada Sateer terasa sesak. Peristiwa yang merenggut anak dan istrinya itu dianggap tak lebih dari peristiwa biasa. Koran-koran memasang beritanya di halaman satu, teve-teve menyiarkannya, namun tidak sebagai headline. Kematian istri dan anaknya tak lebih dari berita ringan bersanding dengan berita gosip kaum pesohor yang setahun bisa tiga kali kawin-cerai, bersanding dengan berita transfer pemain sepak bola yang harganya jutaan euro.

Pemerintah lokal atau pusat juga bersikap adem ayem saja. Wali Kota Dazblath memang mengecam tindakan aparatnya, namun ia meminta masyarakat untuk dapat memahami tindakan itu. Semua demi ketertiban dan keindahan Kota Dazblath, katanya.

***

Sateer menggigit bibirnya hingga sedikit berdarah ketika Ketua Dewan Rakyat Dazblath dan seluruh anggotanya mengaku tidak dapat berbuat apa-apa atas kematian anak dan istri Sateer. Saat itu, Sateer merasa terkepung di tengah kawanan serigala bermental mesin. Kawanan serigala itu mendesaknya, menekannya, dan hendak mencakar dan menggigitnya hingga ia terpaksa kabur dari kandang besar dan megah, gedung para serigala bersidang.

Sateer merasa sendiri. Bahkan kawan-kawannya sesama pedagang kaki lima mulai mengucilkannya, karena takut terkena getah persoalan. Yang paling menyakitkan, kawan-kawannya itu justru menyarankan untuk meminta maaf kepada pemerintah Kota Dazblath atas sikapnya yang tidak sopan melawan petugas keamanan.

***

Belum genap dua minggu istri dan anaknyameninggal, Sateer melakukan aksi mogok makan. Dimulai tepat saat Kota Dazblath ulang tahun ke-347. Dengan merasakan kelaparan yang membakar tubuhnya itu, Sateer ingin merasakan keperihan anak dan istrinya sekaligus mengusap rasa teraniaya dan terhina, meskipun cara itu oleh banyak orang dianggap konyol dan sia-sia.

”Negeri ini semakin kehilangan telinga, kawan…,” ujar seorang temannya.

”Sia-sia kamu protes kepada mereka yang ternyata tak lebih dari makelar yang hanya terampil jual beli tapi tidak mampu mengurus nasib kita…,” ujar yang lain.

Sateer menganggap semua ucapan itu tak lebih busa-busa gelembung sabun, tampak gagah dan indah namun sesaat kemudian pecah. Ia memilih menjalankan niatnya. Di lantai tiga sebuah gedung yang tidak utuh lagi, Sateer mengikatkan kedua tangannya pada kabel-kabel tembaga berukuran jempol kaki orang dewasa. Tubuhnya menjadi serupa kain yang menjuntai, melambai, bergenteyongan di udara. Baju longgarnya yang serbaputih –serupa jubah– berkibar-kibar.

Orang-orang yang berlalu lalang hanya sebentar menatap jasad Sateer yang bergenteyongan dan membeku di udara. Ya, menatap sekilas begitu saja, kemudian tenggelam dalam kerumunan orang-orang mengejar diskon harga barang-barang kebutuhan.

Tubuh Sateer menggantung sendirian. Membeku. Namun, ia seperti merasakan kedamaian yang paling kudus: berjumpa dengan anak-anak dan istri. ***

Jogjakarta, akhir Juli 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *