Mbah Jomblo sang Besutan dari Jombok**

Fahrudin Nasrulloh*
___Radar Mojokerto

Uwur-uwur kodok segoro
bandeng nener disaut ulo
Sukur-sukur peno jowo
tumut ngenger sak umur kulo
(Petilan kidungan Besut dari Mbah Jomblo)

Ia bernama Mbah Jomblo. Tampaklah panorama Dusun Jombok yang permai yang dikitari persawahan yang menghijau subur. Dan di daerah itulah ia pertama kali menghirup hiruk-pikuk dunia, yang kemudian ia lebih dikenal oleh warga sekitarnya dengan sebutan Mbah Jomblo. Kini nama itu telah melekat dalam ingatan sejumlah orang sejak ia dilahirkan pada tahun 1923. Ia tak ingat betul tanggal dan bulan kelahirannya, sebab saat itu belum ada KTP (kartu tanda penduduk). Ia bertubuh kurus, agak pendek (sekitar 155 cm), masih segar bugar, lincah bercerita, dengan raut wajah dan aksen tutur yang ?car-cor? (blak-blakan) tapi santun dan tidak pikun. Hanya terkadang saking lancarnya bercerita, ia kerap tidak fokus. Barangkali orang-orang ludruk saat ini lamat-lamat mengingat namanya, karena hampir jarang ia ikut nglawak ludruk atau diundang mentas ludruk. Sejak kecil, Winarno, nama asli Mbah Jomblo, telah menggemari seni Besutan yang telah berakar kuat di masa itu: di zaman Belanda dan hingga beberapa tahun kemudian sebelum pendudukan Jepang.

Saat itu di Jombang telah bercokol seni Besutan yang sangat digemari warganya. Tanggapan Besutan dari kampung ke kampung masih menggunakan lampu gaspong (petromak), dengan panggung kecil-kecilan dari gedek (anyaman pring) yang dibentangkan atau sekadar dibeberkan kloso (semacan tikar dari pandan atau dari blarak: daun kelapa) di halaman penanggap yang memang dengan sendirinya si penanggap yang menyediakan itu semua. Dapat dipastikan pula jenis pertunjukannya sangatlah sederhana, dengan tiga tokoh yang lazim kita dengar: Besut, Man Gondo Jamino, dan Rusmini.

Ketika Mbah Jomblo pada tahun 1938 telah berumur 15 tahun, ia sudah bergabung dalam kelompok Besutan Laeman asal Losari. Jadi istilah ?ludruk? di Jombang saat itu barangkali belum ada, atau bisa jadi sudah ada tapi belum populer. Seatu kelompok hanya memakai nama si pemimpin Besutan dengan paraban semisal ?Besutan Laeman?. Selain kelompok atau Besutan Laeman, ada juga kelompok lain yakni Besutan Tari dari Ploso, Besutan Sunari dari Gongseng, dan kelompok Budi daya pimpinan Carik Raji. Yang terakhir ini, istilah Mbah Jomblo, sudah menggunakan ?bor? atau papan nama sebuah kelompok. Tanpa penyebutan atau upaya pengenalan dengan memakai nama pemimpinnya.

Empat kelompok Besutan ini, telah ada sebelum Mbah Jomblo lahir pada 1923. Namun ia tak berani memperkirakan kepastian tentang kapan dan di mana dari masing-masing kelompok kesenian itu muncul. Ia hanya bisa mengira-ngira, bahwa keberadaan Besutan Sunari eksis sampai sekitar tahun 1940-an, Besutan Tari sampai sekisar tahun 1942-an, Besutan Laeman eksis sampai tahun 1950-an, dan Budi Daya Carik Raji terus eksis sampai tahun 1960-an lebih. Sedangkan ?badut? (istilah yang dikenal saat itu, bukan istilah ?pelawak? atau ?pendagel?) dari Besutan Laeman adalah Mbah Jomblo, dari Besutan Sunari adalah Kasut, dari Besutan Tari adalah Jaikuk.

Dalam melayani tanggapan warga, mereka-mereka ini masih menggunakan sepeda onthel, mengayuh dan bertetes-keringat dari dan ke pelosok-pelosok kampung yang berkilo-kilo meter jauhnya dengan segala resiko dalam perjalanannya. Kira-kira dalam sebulan sekali, yakni di bulan Rejeb, Syawal, Besar, dan Ruwah, rata-rata dari beberapa kelompok Besutan ini ditanggap sebanyak 2 sampai 3 kali atau lebih, ketika masa panen padi masyarakat berhasil tanpa serangan hama, bencana amukan angin atau banjir, ataupun lantaran sebab lain.

Mbah Jomblo bergabung dengan Besutan Laeman selama kurang-lebih 10 tahun, sejak tahun 1938. Berarti sampai pada tahun 1948, di usia 23 tahun, ia sudah tidak lagi bersama Laeman. Karena dari tiga kelompok Besutan ini (Sunari, Tari, dan Laeman) telah surut di tahun 1950-an, maka hanya kelompok Besutan Budi Daya Carik Raji-lah yang masih bertahan. Namun belum ada sumber lacakan yang pasti soal awal dan akhir masa dari kelompok Budi Daya ini.

Selanjutnya, setelah beberapa tahun kemudian, yakni pada 1971 (sebenarnya ini masa perjalanan Mbah Jomblo yang cukup panjang yang harus dilacak akan apa saja yang terjadi dan berkembang antara tahun 1948 sampai 1971, atau yang selama kurun 23 tahun), muncullah sosok Pak Gimin, asal Pandanwangi, yang dulunya pernah bergabung dengan Besutan Carik Raji, lalu ia berniat dengan mengajak Mbah Jomblo untuk membentuk kelompok sendiri. Perlu dicatat, bahwa kelompok Carik Raji di masa masih eksisnya Besutan Laeman, mereka sudah mengembangkan Besutan secara lebih luas. Mungkin dengan tambahan pemain, seperti tokoh Sumo Gambar, sehingga kemudian istilah Besutan perlahan-lahan mengalami pergeseran sampai munculnya istilah ludruk, kendati istilah ?ludruk? hingga kini kepastian munculnya masih diperselisihkan. Menurut Mbah Jomblo, perubahan corak pertunjukan dari Besutan ke ludruk, dapatlah ditengarai bahwa beberapa anggota dari Carik Raji ini salah satunya adalah Cak Durasim dan Cak Bowo. Dua orang ini begitu kesohor, terutama Cak Durasim, ketika kita membincangkan riwayat ludruk, terlebih di masa perjuangan melawan Jepang dengan kidungannya Begupon omahe doro, melu nipon tambah sengsoro.

Kembali pada tahun 1971, Pak Gimin (yang sebagaimana tuturan Mbah Jomblo, masih belum diketahui sejak dan sampai kapan ia bergabung dengan Budi Daya), mengajak Mbah Jomblo untuk membikin grup ludruk baru, yakni ludruk Sari Murni. Rintisan grup ini terus dikembangkan oleh keduanya dan mendapatkan apresiasi masyarakat yang cukup luas di mana tiap bulannya mereka memperoleh tanggapan sebanyak antara 4 sampai 5 kali. Dengan lahirnya ludruk Sari Murni ini, sudah muncul pula (atau bersamaan) dengan beberapa grup ludruk lain seperti Marhaen Muda, Pancaran Marhaen, Jombang Selatan, lalu Warna Jaya dan Massa Baru. Sari Murni, pada tahun 1974-an, di bawah pimpinan Tajuk Sutikno (putra kedua dari Mbah Jomblo dari istri keduanya yang bernama Sukesih) terus bergerak menyebar-luaskan tanggapannya dengan cara nobong atau nggedong hingga ke luar Jombang, seperti ke Kediri, Nganjuk, Kertosono, Krian, Sidoarjo, hingga ke daerah utara seperti Lamongan, Gresik, Bojonegoro, Blora, dan Tuban.

Sebutan Besutan, bagi Mbah Jomblo, merujuk dari kalimat bebet sing bermaksut. Artinya sesuatu yang dibebetkan (ditalikan atau dikuatkan) yang menyimpan maksud tertentu yang tersamar. Makna yang lebih gamblang bisa dikaitkan tentang soal keyakinan (baik keyakinan dalam agama, perjuangan, atau berkesenian) dalam hidup yang mutlak harus dipegangi bagi siapa pun. Sementara atribut yang dipakai sosok Besut adalah ia berkupluk abang, berlawon putih, dan berlawe (berselendang) lurik. Ketika Mbah Jomblo ditanya soal lerok, yang mana merupakan muasal munculnya sebutan dari seni Besutan, kata lerok berasal dari ?liruk?: yang berarti gabungan dari pisahan huruf ?li? (peli: alat kelamin laki-laki), dan ?ruk? (turuk: alat kelamin perempuan). Memang kesan ?saru? (jorok) terlukis di sini. Tapi jika kita tarik dalam aras ?kosmologi Jawa? akan terbentanglah berbagai jelajah tafsir yang luas dan bermacam-macam. Sebagaimana dalam tradisi Hindu-Buddha, yang meyakini nilai-nalai tata kosmos alam ?yin? dan ?yang?, atau dalam kajian riset candi-candi di Jawa yang banyak mencandikan dalam bentuk patung-patung dari cerita-cerita pewayangan, mitos, dan legenda rakyat. Lepas dari tafsir yang selama ini kerap kita kenal, bahwa lerok adalah pertunjukan yang menampilkan tokoh ngamen, seperti Pak Santik pada tahun 1800-an, dengan wajah yang dilerok-leroki atau dipupuri (dibedaki) warna putih dengan tak rata.

Kidungan tokoh Besut yang masih dihapal betul oleh Mbah Jomblo seperti:

Ireng-ireng lorek-lorek
ampyang ketan dirubung semut
Lek ten kawulo derek
pejah gesang kawulo tumut
huakhhh.

Atau:

Wong lek ngulon nang Kertosono
barek ngetan nang stasiun Jombang
Tepak weton slametono
golek sandang pangan cekne gampang-gampang, ngunu…

Lalu tokoh Rusmini biasanya menyahut dengan kidungan demikian:

Jombang kampunge Sengon
lemah geneng akeh wedine
Gelek sambang kirimo ingon
Nek gak seneng opo mestine

Kemudian Gondo Jamino menyahut:

Ealah Sut, Sut
wong tuwo eruh apike gak ro alane

Sementara kidungan Besutan Mbah Jomblo sendiri dalam konteks kekinian seperti: Kayu jati metune Ploso
sayang setitik nok pinggir sumur
wis pantes bupatine Pak Yanto
rakyate makmur kabeh turu kasur
Jomblo tok turu pinggir sumur, hehehe?

Terakhir kali ia mentas bersama ludruk Sari Murni dalam lakon ?Maling Langkir? di alun-alun Pandanwangi dalam rangka bersih desa pada beberapa tahun yang lalu.

Pada usianya yang kini 86 tahun, Mbah Jomblo merupakan sosok seniman badut Besutan yang sempat menangi (mengalami masa) zaman Belanda, Jepang, masa paska kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi, hingga Indonesia yang sekarang. Ia kini tinggal di Dusun Jombok, Kecamatan Ngoro, bersama istrinya, Tuminah, yang umurnya tak terpaut jauh darinya. Tuminah adalah istrinya yang kedua setelah Rum atau Sukesih, istri pertamanya, meninggal di usia muda. Dan hanya dengan Sukesih, Mbah Jomblo mendapatkan 3 putra: Suwoto (almarhum), Tajuk Sutikno, dan Susnarti. Sejumlah seniman yang pernah belajar nglawak ludruk di antaranya: Cak Trubus Karen, Cak Kunting Lawas, Cak Bai, Cak Muncul Salamun, Cak Kecik, Cak Bandi, Cak Bowo, Cak Tejo, dan Sulabi. Kini, selain kegiatannya menggarap beberapa petak sawahnya, ia juga menggembalakan 3 kambingnya. Namun 3 kambingnya tersebut sudah terjual untuk berobat sang istri Tuminah.
_________________
*) Fahrudin Nasrulloh, Pegiat Komunitas Lembah Pring Jombang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*