Menafsir Perang

Ibnu Rusydi
http://www.korantempo.com/

Sejumlah perupa mengangkat hal perang. Mereka berangkat dari puisi.

Enam hantu prajurit berbaris. Empat hantu membawa genderang dan lainnya membawa bedil. Tak ada tubuh, hanya pakaian prajurit Jawa dengan pengaruh kolonial, seperti topi, enam pasang sepatu lars, dan panji-panji. Tetabuhan genderang terdengar dari barisan hantu itu.

Karya instalasi buatan Jompet Kuswidarnanto itu menjadi pusat perhatian dari pameran “Perang, Kata, dan Rupa” di Galeri Salihara, Jakarta Selatan, 16 Juli-15 Agustus 2009. Genderang, topi, dan panji-panji digantungkan pada benang transparan. Di genderang ada alat pemukul yang diatur agar berbunyi pada saat tertentu dan dengan ritme tertentu.

Jompet, dengan War of Java, Do You Remember #3, kembali membawa karya instalasi dengan unsur bunyi. Karya seri ini sudah ia tampilkan di Galeri Nasional pada tahun lalu dan di Jakarta Biennale pada tahun ini. Ada bangku dengan headphone di depan karya instalasi Jompet. Di sana pengunjung bisa mendengar narasi puisi karya Triyanto Triwikromo tentang epos Ramayana. Suara genderang menjadi padu dengan rekaman narasi.

Pada katalog pameran, kita bisa melihat sajak lengkap Triyanto itu, Tiga Kisah Pertempuran Kumbakarna dan Kwatrin Kali Mati Murni. Sebait dari puisi terakhir itu berbunyi:

Debu najis
Asal muasal perseteruan
Akhir amis
Siasat bengis peperangan

Pameran “Perang, Kata, dan Rupa”, sesuai dengan temanya, memang menyajikan tema perang melalui karya seni rupa, juga teks-teks puisi yang hanya tercantum dalam katalog. Para perupa yang ikut, selain Jompet, ada Aminuddin T.H. Siregar, Chandra Johan, Joko Pramono, Jumaadi, Mujahidin Nurrahman, Putu Sutawijaya, R.E. Hartanto, Ugo Untoro, dan Wayan Suja. Ada pula Teguh Ostenrik, yang karya trimatranya menyambut di depan pintu galeri. Seribu Mata, judul karya itu, dibuat pada 2008, yang berupa pipa besi yang menampilkan imaji wajah manusia.

Karya 13 perupa itu diberi komentar kuratorial oleh 13 penulis, pengamat, dan kritikus seni.

Lalu para penyair yang puisinya disertakan, selain Triyanto, ada Acep Zamzam Noor, Agam Wispi, Chairil Anwar, Goenawan Mohamad, Iswadi Pratama, Nirwan Dewanto, Rivai Apin, Sitok Srengenge, Subagio Sastrowardoyo, dan Toto Sudarto Bachtiar.

Semua perupa membuat karya berdasarkan puisi karya para penyair itu. “Puisinya kita kirimkan kepada mereka,” kata Asikin Hasan, salah seorang kurator pameran. Tengok, misalnya, karya Chandra Johan dengan karya lukis abstrak tiga panel, Pass Along, yang terinspirasi oleh puisi Goenawan Mohamad, Barangkali Telah Kuseka Namamu.

Ada Le Depart, karya cetak digital di atas kanvas milik R.E. Hartanto, yang bersumber dari puisi Toto Sudarto Bachtiar, Pahlawan Tak Dikenal (1955). Dua tentara muda dengan wajah identik tengah menatap satu sama lain. Yang satu “mulus”, lainnya bersimbah darah dengan luka lubang di lehernya.

Sajak terkenal karya Chairil Anwar, Prajurit Jaga Malam dan sajak Malam, diterjemahkan oleh Putu Sutawijaya. Dengan ekspresionisme bernuansa gelap, ia meniru potret diri Chairil pada lukisan Malam yang penuh leleran dan cipratan. Hasilnya, menurut komentar penulis Wahyudin, adalah momen estetika dari bayangan kita terhadap “Si Binatang Jalang”.

Tapi Putu, juga beberapa pelukis lain, masih mengisi kanvasnya dengan teks-teks, seolah lukisannya belum cukup. Juga Jumaadi, ketika menerjemahkan dua sajak Sitok Srengenge ke atas kanvas. Lihat pula teks puisi Iswadi Pratama pada karya Yustoni Volunteero yang mirip teks pada spanduk unjuk rasa, yang tampaknya sulit dipisahkan dari figur-figur pada lukisannya.

Para perupa di pameran ini, oleh kurator yang terdiri atas Asikin Hasan, Sitok Srengenge, dan Gunawan Mohammad, memang diminta berkarya dalam tema perang, tapi bukan untuk merekam peperangan. Generasi perupa sekarang boleh dibilang mengenang perang hanya melalui film atau sejarah. Dengan personifikasi perang, kata Sitok, perang hadir tidak dengan wajah tunggal. Perang, selain penuh amarah, bisa dilihat sebagai perjuangan menuju harapan kebebasan.

Pada pameran ini, memang terlihat ada sejumlah capaian individual. Tapi, mungkin karena generasi perupa jauh dari perang, kita tak melihat kedahsyatan perang pada “Perang, Kata, dan Rupa”. Penyebab lainnya, seperti kata seorang penulis komentar kuratorial, adalah perupa yang bekerja di ujung tenggat. Si penulis pun ada yang terpaksa menulis komentar kuratorial tanpa benar-benar pernah melihat lukisan si perupa sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *