WS Rendra Tutup Usia

M. Yamin Panca Setia
http://jurnalnasional.com/

PENYAIR dan budayawan ternama WS Rendra meninggal dunia tadi malam karena penyakit jantung koroner yang dideritanya. Seniman berjuluk “Si Burung Merak” itu sempat menjalani perawatan selama setengah bulan di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Sebelumnya, almarhum sempat dibawa ke rumah anaknya yang bernama Clara Shinta di Depok karena kondisinya membaik. Namun, malamnya kondisi Rendra memburuk hingga ajal menjemput pendiri Bengkel Teather itu.

“Bapak meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan. Tadinya masih mau minum air kurma, terus minta disuapkan. Tapi, bapak kemudian tidak mau makan. Kondisinya mengkhawatirkan,” kata Clara Sinta saat dihubungi Jurnal Nasional tadi malam.

Rendra adalah seniman yang telah banyak mengabdikan diri dalam dunia sastra dan teater di Indonesia. Aksi Rendra di atas panggung selalu memukau, baik saat melakoni peran maupun saat membaca sajaknya. Nama besarnya tidak hanya dikenal di dalam negeri, namun juga sampai di luar negeri.

Dunia satra dia lakoni sejak masuk Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada, selepas menamatkan sekolahnya di SMA St. Josef, Solo. Setelah mendapat gelar Sarjana Muda, dia melanjutkan pendidikannya di American Academy of Dramatical Art, New York, Amerika Serikat.

Sejak kuliah di UGM, pria bernama lengkap Willibrordus Surendra Broto itu telah menunjukkan kehebatannya dalam menulis cerpen dan esai di berbagai majalah seperti Mimbar Indonesia, Siasat, Kisah, Basis, Budaya Jaya. Di kemudian hari ia juga menulis puisi dan naskah drama.

Sebelum berangkat ke Amerika, ia telah banyak menulis sajak maupun drama, di antaranya kumpulan sajak Balada Orang-orang Tercinta dan Empat Kumpulan Sajak yang sangat digemari pembaca pada zaman tersebut. Salah satu drama hasil karyanya yang berjudul Orang-orang di Tikungan Jalan (1954) mendapat penghargaan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sekembalinya dari Amerika pada tahun 1967, Rendra memimpin Bengkel Teater, menulis naskah, menyutradarai, dan memerankannya dengan sangat baik. Karya-karyanya bernuasa kritik sehingga saat mahasiswa tahun 1978 ia pernah ditahan oleh pemerintah Orde Baru.

Drama karyanya seperti Sekda, Mastodon dan Burung Kondor pernah dilarang untuk dipentaskan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.

Dia kerap menulis puisi yang menyuarakan kehidupan masyarakat bawah seperti Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta dan puisi Pesan Pencopet Kepada Pacarnya.
Banyak lagi karya-karyanya yang sangat terkenal, seperti Blues untuk Bonnie, Pamphleten van een Dichter, State of Emergency, Sajak Seorang Tua, Bandung Lautan Api, Mencari Bapak.

Bahkan di antara sajak-sajaknya ada yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris seperti Rendra: Ballads and Blues, Poems oleh Oxford University Press pada 1974. Naskah drama karyanya banyak yang telah dipentaskan, seperti Oedipus Rex, Kasidah Barzanji, Perang Troya Tidak Akan Meletus, dan lain sebagainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *