Selamat Jalan WS Rendra

Budi Winarno
http://jurnalnasional.com/

SASTRAWAN, dramawan, dan budayawan WS Rendra wafat Kamis (6/8) malam setelah berkutat melawan penyakit penyaklit jantung. Rendra yang kita kenal gagah perkasa di atas pentas kesenian Indonesia, meninggalkan kita menuju sunyi abadi dalam usia 74 tahun.

Bangsa Indonesia tentu saja kehilangan penyair besar kelahiran Solo ini. Bahkan Rendra sudah menjadi tokoh dunia dengan seringnya hadir dalam perhelatan kesenian dan kebudayaan tingkat internasional.

Si Burung Merak yang terlahir dengan nama Willibrordus Surendra Broto Rendra itu menghiasi jagad kesenian selama lebih setengah abad. Rendra mulai mempublikasikan puisi tahun 1952 melalui majalah Siasat. Ya, penyair flamboyan ini sudah berkiprah lebih setengah abad. Perjalanan panjang itu mencerminkan bahwa Rendra memang seniman yang tidak pernah tertelan waktu.

Hanya seniman yang sangat berkarakter saja yang mampu eksis selama itu. Kebertahanan Rendra dalam rentang waktu panjang itu, selain karena faktor talenta dan kekuatan artistiknya, juga karena sikap hidupnya yang memilih “berumah di atas angin”. Ia tidak pernah memihak pada kekuasaan atau hegemoni tertentu. Untuk “kultur politik” Indonesia, tidak memihak kekuasaan memang pada akhirnya disamakan juga dengan memilih berada di luar garis kekuasaan. Dalam bahasa politik, Rendra adalah oposisi.

Karena tidak berumah di atau pada kekuasaan tertentu, maka Rendra sempat diangap sebagai musuh kekuasaan. Sajaknya “Sebatang Lisong” dicekal di tahun 1977. Pementasannya juga dihambat-hambat dengan memperpanjang syarat atau izin pementasan.

Dengan berumah di atas angin, Rendra tidak pernah terkooptasi kekuasaan. Kita tahu, kekuasaan tidaklah abadi. Kekuasaan selalu mengenal periode. Dan karena pilihan sikap Rendra yang kalis dari kekuasaan itu, maka si Burung Merak pun mampu terbang melintas beberapa zaman.

Jika dalam kajian sastra kita mengenal istilah angkatan, yakni Angkatan Pujangga Baru, Angatan 45, Angakatan 66 dan seterusnya, maka sosok dan karya Rendra mematahkan periodisasi itu. Rendra menjadi sastrawan segala angkatan.

Rendra yang disapa Willy oleh kerabatnya itu, memang sosok yang spesial dalam ihwal talenta. Sebagai dramawan, ia pantas ditempatkan di papan atas. Ia sudah berteater ketika bersekolah di SMP dan sudah menghasilkan karya besar bertajuk “Orang-orang di Tikungan Jalan” ketika SMA. Kemudian ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta tahun 1968. Dengan bendera Bengkel Teater, Rendra melanglang buana dalam berbagai festival, dan sukses.

Intensitas dramaturgi Rendra tak pernah kendur hingga menjelang ajal. Buku drama yang ditulisnya, Tentang Bermain Drama, menjadi bacaan wajib bagi calon dramawan atau pengkaji drama. Bagi jagad drama di Indonesia, takl pelak, Rendra adalah seorang guru.

Dalam bidang sastra, karya Rendra telah mendunia. Karya sastranya sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, di antaranya, Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India. Puisi Rendra menjadi begitu dikenal karena kata-kata yang dipilihnya mudah dicerna dan puitis. Ketika puisi itu dibaca Rendra, kata-kata pilihannya itu menjadi lebih bernyawa karena kemampuan deklamasi Rendra juga hebat.

Seperti lazimnya seorang bintang, Rendra juga menebarkan kontroversi yang kencang. Perkawinannya dengan dua wanita sekaligus, Sunarti dan Sitoresmi, menjadikan ia dianggap menindas wanita. Ia juga dituduh masuk Islam hanya karena ingin berpoligami. Seperti diketahui, istri pertama Rendra, Sunarti Suwandi, adalah penganuit Katolik, sementara Sitoresmi Prabuningrat adalah muslimah.

Tetapi, Rendra tetaplah Rendra yang kukuh dengan jalan hidupnya. Ketika di kebun binatang ia melihat ada seekor burung merak jantan tengah menggamit dua merak betina, spontan Rendra berucap, “Itu Rendra!”. Jadilah Rendra si Burung Merak.

Kini, Si Burung Merak telah terbang menuju keabadian meninggalkan tonggak yang sangat berarti bagi kebudayaan Bangsa Indonesia. Aset bangsa itu telah kembali kepada Sang Khalik.

Melihat begitu banyak jasanya, Rendra yang kemudian berganti nama menjadi Wahyu Sulaiman Rendra itu pantas kita jadikan sebagai Bapak Bangsa di bidang kebudayaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *