Adakah Estetika dalam Keberpihakan Wacana?

Judul : Titian (Antologi Cerita Pendek Kerakyatan)
Pengantar : Agung Putri
Tebal : xxi + 173 halaman
Penerbit : Koekoesan
Peresensi: Sudarmoko
http://www.balipost.com/

MAMPUKAH cerpen menjadi refleksi atas peristiwa yang telah terjadi? Sejauh mana cerpen sebagai salah satu bagian dari kesusastraan mampu menyatakan keperdulian terhadap hak dan martabat sebuah bangsa? Dan mampukah sebuah cerpen di dalam keberpihakannya akan memunculkan estetika sastra?

Dikaitkan dengan tujuannya, setiap cerpen memang tidak harus terbebani dengan muatan yang diuraikan dalam pertanyaan tersebut. Setiap cerpen tidak selalu mengorganisasi fakta-fakta nyata ke dalam bentuk peristiwa kebahasaan. Apalagi menyatakan keberpihakan pada sesuatu hal. Akan terlalu jauh nantinya, jika sebuah cerpen harus dinilai dengan menggunakan model pendekatan seperti itu.

Namun, jika sebuah karya dibuat dengan tujuan seperti itu, apakah benar pesan yang terkandung dalam sebuah karya dapat ditangkap dalam sebuah pembacaan? Sebagai sebuah karya sastra, cerpen akan selalu tergantung pada situasi dan konteks pembacaan. Situasi dan konteks pembacaan akan menformasikan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya. Tanpa adanya klaim dari penulis sekali pun, setiap karya akan mampu dibaca keberpihakannya. Namun ketika situasi dan konteks berubah, pembacaan ulang sebuah karya tersebut tentu akan menghasilkan makna dan pesan yang berbeda pula.

Cerpen yang dibuat dengan memuat peristiwa tertentu, tidak saja selalu akan menghasilkan sebuah tujuan tertentu. Tujuan akan terlihat sesuai dengan pesan yang ditangkap oleh saat pembacaan karya. Pesan tidak akan selalu sama seperti yang disisipkan pengarang. Meskipun dalam pandangan tradisional, sebuah karya tentu merupakan obsesi dan imajinasi dari pengarangnya. Dalam karya yang memuat peristiwa sejarah, seperti juga bahasa, pengarang hanyalah bagian transformasi fakta.

Dalam buku antologi cerpen “Titian” yang mencoba menghadirkan peristiwa-peristiwa kemanusiaan dan kultural sebagai muatan utamanya ini, tentu tidak ada maksud untuk menjebak pembaca larut dalam keberpihakan peristiwa tersebut. Wacana kerakyatan yang dihembuskan menjadi tema besar memang terlihat sebagai konfrontasi atas pihak lain, yakni kekuasaan. Dikotomi antara kerakyatan dan kekuasaan adalah ruang keberpihakan yang seakan-akan coba dihadirkan dalam penerbitan buku ini.

Wacana yang dituliskan dalam buku tidak lagi menjadi penting. Malah hanya akan terlihat seperti benalu yang mengganggu orisinalitas pesan yang terkandung dalam setiap karya itu. Resepsi pembaca akan dipengaruhi oleh tendensi awal yang dibangun melalui wacana itu. Pembaca akan kesulitan untuk menangkap pesan. Dalam sebuah karya yang penuh dengan muatan peristiwa sejarah, proses ini akan sangat riskan dalam pembentukan mitosisasi sejarah. Hal yang akan sangat berbahaya, apalagi dalam karya sastra, fakta sejarah adalah salah satu pesan yang pantasnya disembunyikan.

Betapa Rumit
Seperti karya sastra lainnya, cerpen memang bisa menjadi seni dokumentatif atas peristiwa nyata sebagai transformasi nilai kebenaran untuk generasi selanjutnya. Namun, semudah membalikkan tangan jika sebuah karya harus dipaksakan menjadi alat komunikasi yang tegas. Sebab, bahasa sebagai media itu sendiri, adalah sistem komunikasi yang kompleks, apalagi sebuah karya sastra yang dipenuhi dengan tetanda bahasa. Bisa dibayangkan betapa rumitnya mencari pesan dalam sistem komunikasi dokumentatif seperti itu.

Kata “titian” yang berarti “jembatan”, sengaja diambil untuk semakin mempertegas transformasi peristiwa itu ke sebuah komunikasi antargenerasi. Komunikasi antargenerasi yang sengaja dibangun berdasarkan pemilihan para penulis yang ikut dalam antologi ini. Generasi yang terlahir dalam peristiwa kultural dengan generasi yang tidak terlahir dalam suasana itu.

Ke-13 penulis yang terlibat di dalamnya tentu punya penilaian tersendiri dalam menyikapi sebuah peristiwa kultural. Tidak semua penulis dalam antologi ini yang secara tegas memasukkan peristiwa itu ke dalam karya cerpen mereka. Malah bagi sebagian penulis yang lahir dalam suasana kekinian cenderung tak acuh. Konflik antar-individu lebih menarik menjadi tema cerpen mereka daripada peristiwa kultural yang tidak mereka alami.

Terlepas wacana besar yang dihembuskan dalam buku ini, tentu ada nilai-nilai yang dapat dipetik. Sikap penerbit untuk menyatakan keberpihakan terhadap sesuatu peristiwa tentu membutuhkan keberanian. Hal itu patut mendapat perhatian sendiri. Meskipun bagi sebagian penulisnya tidak terlalu memikirkan keberpihakan itu. Keterlibatan mereka dalam buku ini adalah bentuk kesadaran dan kerelaan mereka atas perkembangan kesusastraan itu sendiri. Namun, jika menjadi klaim keberpihakan, seperti juga tulisan dalam pengantar redaksi, buku ini berusaha “menjebak” penulis dan pembaca untuk larut di dalam keberpihakannya.

Buku ini juga ditampilkan dalam kemasan yang bagus. Sampul buku yang dirancang sedikit simbolik ini akan semakin menambah penasaran orang mengetahui isinya. Judul buku yang dituliskan dengan huruf kapital berwarna putih dengan sub-judul di bawahnya, terlihat begitu harmonis ketika diletakkan dalam latar sampul yang berwarna biru tua. Belum lagi ke-13 penulis yang disebutkan di sampul adalah penulis yang sudah dikenal banyak orang, membuat buku ini layak dimiliki.

Yang jelas, resepsi sastra harus muncul dari pembacaan antologi cerpen ini. Hal yang sangat penting sekaligus mengingatkan pada pertanyaan yang telah disebutkan: mampukah sebuah cerpen di dalam keberpihakannya akan memunculkan estetika sastra?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *