Amir Hamzah dan Jalan Terjal Menuju Tuhan

Grathia Pitaloka
http://www.jurnalnasional.com/

ADA banyak cara menuju Tuhan. Salah satunya seperti yang dilakukan Amir Hamzah melalui sajak-sajaknya. Dalam bait liris Amir berkeluh kesah tentang kerinduannya pada Sang Pencipta. Setelah Amir meninggal dunia, hampir tidak ada penyair Indonesia lain yang begitu bergetar rasa rindunya kepada Zat yang Mahagaib itu.

Amir terlahir sebagai seorang aristokrat Melayu. Ia merupakan anggota keluarga Sultan Langkat, bagian kelas feodal yang saat itu dipandang hormat oleh masyarakat. Semenjak kecil Amir sudah akrab dengan sastra melayu. Konon nama yang ia sandang merupakan bentuk kekaguman sang ayah, Tengku Muhammad Adil terhadap Hikayat Amir Hamzah.

Sejak kecil Amir dibesarkan dalam lingkungan agama Islam yang taat. Selain bersekolah di Langkatsche School (HIS), sekolah dengan tenaga pengajar orang-orang Belanda, ia juga belajar mengaji di Maktab Putih. Setiap sore tiba, Amir dan teman-temannya melangkah ke rumah besar bekas istana Sultan Musa itu untuk belajar kitab suci.

Paduan ajaran Barat dan ilmu agama yang dipelajari membentuk suatu reaksi kegelisahan di kepala Amir. Kegelisahan itu semakin menggebu ketika ia menjejakan kaki ke tanah Jawa untuk melanjutkan pendidikan di Aglemeene Middelbare School (AMS) jurusan Sastra Timur di Solo.

Rasa rindu itu semakin meluap dan butuh saluran pelampiasan. Maka bak remaja yang tengah jatuh cinta, Amir pun mulai mengungkapkan kerinduannya lewat sajak. Namun bukan lewat sajak yang merayu Tuhan dengan menempatkannya sebagai kekuasaan, melainkan sesuatu yang digandrungi. Jalan yang tidak akan dipilih oleh mereka yang memaknai Tuhan dengan teratur, steril dan tidak gaduh.

Horatius, penulis puisi liris terkemuka di Roma abad ke-7 sebelum Masehi, pernah berseru untuk berani menggunakan pengertian sendiri. Sapere aude!. Baginya kemandirian merupakan pilar utama. Puisi yang hanya mengulang kaji akan mati sebelum sampai. Dan ratusan tahun setelah masa Horatius, Amir tampil sebagai penyair yang tak luruh dengan pengertian masal. Ia muncul sebagai bagian dari modernitas, manusia dari masa tatkala kemandirian dinyatakan sebagai tanda pencerahan.

Tengok saja sajaknya yang satu ini: Hatiku yang terus hendak mengembara ini membawa daku ke tempat yang dikutuk oleh segala kitab suci di dunia, tapi engkau, hatiku, berkitab sendiri, tiada sudi mendengarkan kitab lain.

Pasti orang jarang menduga jika sajak “tak biasa” itu lahir dari tangan seorang laki-laki berparas alim dengan kopeah yang selalu melekat dikepala. Laki-laki bernama Amir Hamzah. Kegelisahan yang mengalir dalam darahnya memacu untuk terus hendak mengembara. Gairahnya begitu binal, bandel, dan berontak. Tak gamang memasuki tempat terkutuk. Tak sudi mendengarkan segala kitab suci.

Dalam sajak-sajaknya, Amir melukiskan hubungannya dengan Tuhan sebagai “bertukar tangkap dengan lepas”. Sebuah akidah, serumus hukum, paling banter hanya bisa menuntutnya untuk jinak. Tapi bukankah penyair yang paling rapi sekalipun selalu punya saat-saat yang majenun.

“Engkau ganas// Engkau cemburu…// Mangsa aku dalam cakarmu// bertukar tangkap dengan lepas.” Begitulah cara Amir menggambarkan keagungan Tuhan. Penggambaran yang terkadang membuat orang yang tidak mengenalnya menjadi salah tafsir.

Dengan caranya sendiri Amir menggambarkan Tuhan sebagai satu wujud yang keindahan tak terperi, satu kenyataan yang kedalamannya tak terbatasi.Metafora, perumpamaan, teladan, dan dongeng-dongeng, bukan sekadar bumbu, melainkan sebuah jalan menuju Tuhan.
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*