Buku Sastra: dari Depan ke Rak Belakang

Raudal Tanjung Banua
lampungpost.com

Di manakah posisi buku sastra ketika publik dan toko buku lebih bergairah menerima buku-buku “praktis” dan “instan”? Mengapa buku sastra “serius” kurang direspons publik dan distributor? Mengapa keberadaannya tersisih di rak tersembunyi toko buku, bahkan di laci-laci terkunci dan gudang belakang perpustakaan?—lead—

MUNGKIN tidak ada yang menolak jika dikatakan bahwa dunia perbukuan sekarang sedang marak. Setiap penerbit berlomba meluncurkan produk, lengkap dengan event serta fenomena yang menyertainya. Bazar buku, tren pustaka, munculnya komunitas baca dan toko buku alternatif, sampai diangkatnya sejumlah buku (yang diklaim sebagai karya sastra) ke layar lebar. Akan tetapi jika jujur, kesemarakkan itu baru sebatas perayaan atas buku-buku yang dianggap laku, how to, minus buku-buku yang mencerdaskan seperti sastra dan humaniora.

Padahal, sebenarnya buku sastra sangat responsif dan terlibat aktif dalam “perayaan” itu. Bahkan boleh dikatakan buku sastra beserta para pelakunya termasuk perintis dalam menggairahkan perbukuan nasional. Pameran, launching dan diskusi acap bermula dari buku sastra. Munculnya komunitas baca dan toko buku alternatif, umumnya dimotori oleh pelaku dan peminat sastra. Hanya, buku sastra lebih banyak bergerak pada tataran estetik dan idealisme. Sebaliknya, buku-buku how to dan “tema-tema semusim” lebih berorientasi kepada pasar. Antara pasar dan idealisme, di sinilah taruhannya.

Dari Depan: Menerka Sejarah
Sebelum melihat pertarungan pasar dan idealisme, mungkin cukup menarik jika terlebih dulu dilihat pergulatan penerbitan buku sastra kita. Secara historis, penerbitan buku sastra sudah dirintis jauh-jauh hari oleh penerbit Balai Pustaka (1917). BP boleh dikatakan penerbit resmi yang juga secara “resmi” menerbitkan buku sastra Tanah Air. Mungkin kata “Tanah Air” kurang tepat, sebab pada dekade 20-an itu “Tanah Air” belum mendapatkan rumusannya. Buku-buku yang diterbitkan pun lebih tepat dikatakan disensor atau “disortir” ketimbang disunting/dieditori. Itulah sebabnya tema seputar kawin paksa lebih banyak mengemuka ketimbang persoalan kolonialisasi.

Ini “tragedi” pertama penerbitan karya sastra modern kita. Penulis yang terpilih diterbitkan adalah yang tunduk pada ideologi dan kanon tertentu sehingga banyak penulis lain yang tidak terakomodasi. Menurut Maman S. Mahayana bersamaan dengan dekade Balai Pustaka, sebenarnya bermunculan para penulis berbahasa Melayu-pasar. Media yang memuat karya sastra pun beragam seperti Sahabat Baik (Betawi, 1890), atau Bok-Tok (Surabaya, 1913).

Akan tetapi nama-nama di situ luput dari kesejarahan alih-alih untuk diterbitkan. Namun, bagaimanapun, buku-buku era Balai Pustaka tetap menjadi “harta karun” yang tak ternilai, misal untuk kajian sastra pascakolonial.

Penerbit Pustaka Jaya pimpinan Ajip Rosidi kemudian muncul menggairahkan dunia perbukuan. Cover bukunya sangat nyeni, dan penerjemahan sastra asing gencar dilakukan. Buku-buku terbitan Pustaka Jaya menjadi representasi pergulatan buku sastra di Indonesia. Yayasan Obor Indonesia (YOI) yang dirintis Mochtar Lubis, setali tiga uang, meski YOI melebarkan sayap ke penerbitan buku-buku sosial-humaniora. Begitu pula penerbit Djambatan. Setelah semua itu melemah, muncul penerbit Bentang Budaya di Yogyakarta. Digawangi Buldanul Khuri, kebangkitan Bentang ditandai terbitan seri pujangga Gibran Khalil Gibran dan rancang cover yang mengambil ruh Pustaka Jaya.

Hal paling menarik dari penerbit perintis tersebut bukan sekadar capaian artistik (desain) dan terjemahan karya penting dunia, tapi lebih esensial, yakni misi gerakan yang mengakar. Pustaka Jaya misalnya, lahir dari keprihatinan Ajip Rosidi atas langkanya buku sastra bermutu. Atas pengaduannya kepada Ali Sadikin, Gubernur DKI Jaya waktu itu, dikucurkanlah dana untuk memulai usaha penerbitan sastra.

Meski kata dikucurkan di sini tidak terlalu tepat, sebab dana yang dipinjamkan kepada Ajip Rosidi oleh Pemda DKI tidak besar. Namun penerbit ini meraih capaian besar, bukan untung-laba, melainkan gairah muncul-bersambutnya buku-buku sastra bermutu di tengah publik Indonesia. Mochtar Lubis, meski mengandalkan funding asing, tetapi ia mampu mengolah bantuan itu dalam bentuk kerja sama yang setara. Alhasil YOI memunculkan buku-buku yang sangat ditunggu publik. Penerbit Djambatan menggenapkan kebergairahan sektor perbukuan nasional.

Masih banyak penerbit lain yang menjalani peran serupa, seperti Nusa Indah (Ende, NTT), Nusantara (Bukittinggi) dan Grafiti (Jakarta). Mereka bertarung di tengah pembaca yang tak kunjung apresiatif dan keras kepala untuk tak menyerah. Atau, jika akhirnya menyerah, tapi menoreh jejak keberpihakkan terhadap sastra/humaniora.

Ke Belakang: Karena Pasar dan Perayaan
Dalam perkembangannya kemudian buku sastra memang diminati penerbit, diterima distributor dan dipajang di toko buku. Tapi jika diselidiki lebih lanjut, sebenarnya baru sebatas pragmatis dan kalkulasi bisnis. Kenapa? Cobalah cermati sejumlah kenyataan berikut.

Pertama, banyak penerbit, termasuk penerbit besar Ibu Kota, hanya latah ketika menerbitkan buku sastra. Diterbitkan ketika laku, tapi begitu respons pasar menyurut, mereka pun surut langkah tanpa mau susah-payah mencari terobosan. Sebagai contoh, pernah cerpen dalam negeri sangat diminati, terutama setelah gencarnya gerakan pemasyarakatan cerpen oleh pelaku sastra.

Saat itulah, hampir semua penerbit meresponsnya dengan menerbitkan buku kumpulan cerpen. Mereka jemput bola mendatangi para penulis di daerah, menerbitkannya dalam kemasan yang selama ini tak mungkin dilakukan, dipromosikan dengan launching dan masuk jaringan pasar secara luas. Banyaklah penerbit membuat devisi sastra/cerpen, meski selama ini ia lebih dikenal menerbitkan buku-buku pelajaran misalnya. Muncullah eforia penulis, kurang selektif, surplus buku cerpen, dan kejenuhan pada pasar.

Ketika pasar benar-benar jenuh, tanpa tanggung jawab, penerbit-penerbit tadi meninggalkan gelanggang sambil melempar sisa buku cerpen ke tukang loak, dan dijual “murah-meriah” di pameran-pemaran buku. Sementara sastra dan penulisnya terpuruk, deretan penerbit tinggal beralih melirik lagi apa yang laku dijual dari sastra setelah sebelumnya mereka sukses melirik cheeklit/teenlit dan akhirnya kini beralih ke novel sejarah.

Lalu, novel dalam negeri pun booming. Celakanya, itu tidak lebih dari novel pop/konvensional dengan tema-tema dangkal percintaan. Lebih celaka lagi, justru itu yang diklaim sebagai pencapaian luar biasa dari novel Indonesia! Ketika novel dalam negeri merosot pamornya, datang segudang novel terjemahan. Kini, jika detik ini puisi diminati pasar, maka saya berani bertaruh para penyair tak bakal kesepian! Begitu pula naskah drama atau skenario film. Pendek kata, di mana ada pasar, di situ ada perayaan–dan inilah sebagian besar “ideologi” perbukuan sekarang.

Kenyataan kedua, di luar buku-buku yang laris, buku sastra “serius” tetap saja ditempatkan di rak belakang perpustakaan dan toko buku. Buku yang diminati pasar semacam novel bestseller atau ceeklit/teenlit, memang ditempatkan di etalase yang gampang diakses. Apakah logikanya tidak terbalik? Bukankah buku yang sedang diburu tidak soal ditempatkan di mana pun? Bukankah buku-buku yang belum terlalu dikenal, atau buku sastra yang dianggap “berat” justru lebih memerlukan promosi dan aksesibilitas?

Singkat kata, perangkat perbukuan seperti mekanisme pasar, distribusi, toko buku dan perpustakaan belum berpihak kepada buku sastra dan humaniora. Banyak sudah pengalaman miris yang ditemui. Sebagai contoh, dalam kapasitas sebagai kreator sastra, saya pernah menngecek buku puisi saya ke sebuah toko. Di komputer ada tertera judul dan posisi raknya. Pusing mencari tetap tidak ketemu. Setelah ditanya, ternyata buku itu, bersama buku-buku sastra lainnya, ditumpuk di balik cheeklit/teenlit! Padahal itu di tempat yang mengklaim dirinya sebagai toko buku alternatif.

Di lain waktu, dalam kapasitas sebagai pengelola penerbitan sastra, saya mengecek buku terbitan kami ke sebuah toko buku besar. Setelah buku yang tertera dalam komputer itu tak ketemu, penjaganya kemudian mengambilkan ke gudang!

Belum lagi perangai distributor yang selalu minta kami menerbitkan buku-buku yang laku, dan itu artinya buku-buku how to, tinggal download dari internet. Rangkai jadi buku kiat praktis apa saja yang Anda mau, apakah tentang kecantikan, keuangan, bisnis atau kiat seks paling dahsyat sejagad. Murah diongkos, dan laporan penjualan per bulan dari distributor dijamin di atas puluhan juta. Bandingkan dengan laporan buku sastra, hanya ratusan ribu rupiah! Tapi, apakah kami harus menyerah dan ikut latah? Setiap kali kami menolak, setiap itu pula buku yang di-return tambah besar, dan akhirnya tersingkir dari distributor!

Perpustakaan setali tiga uang. Belum lama berselang, saya ditelepon seorang kawan dari Lubuklinggau, bahwa ia baru saja menyaksikan buku sastra bergelimpangan di gudang belakang perpustakaan kotanya. Tak terkecuali buku-buku Pramoedya, Ahmad Tohari, Umar Kayam, dan bundelan majalah sastra Horison! Sementara atas nama otonomi, pengelola perpustakaan di daerah dan sekolah, kini tambah leluasa membeli buku-buku “kiat praktis”, dan meluputkan sastra dari katalog perpustakaan mereka! Sebuah penerbit pernah ikut proyek pengadaan buku di Jawa Timur dengan mengirimkan katalog buku kepada panitia. Judulnya beragam, dan sastra tak ketinggalan. Ketika proyek itu gol, buku yang di-acc adalah buku-buku how to, tidak satu pun buku sastra masuk pesanan! Sungguh miris.

Apa yang salah sesungguhnya? Apakah karena buku sastra yang tidak memihak pasar, atau sebaliknya, pasar yang tidak memihak buku sastra? Tidak satu jalan ke Roma. Tapi satu hal yang perlu digarisbawahi menurut saya adalah kurangnya keberpihakan semua unsur perbukuan terhadap buku sastra/humaniora. Penyebabnya antara lain laporan penjualan buku sastra tidak sekencang laporan buku-buku praktis. Peminatnya pun terbatas pada orang atau kalangan tertentu. Padahal, sungguh sangat tidak tepat membandingkan keduanya.

Seharusnya kita berpikir subsidi silang, sambil berdagang buku-buku laris ala etalase, distributor/toko buku seyogianya memberi ruang pada buku-buku yang penjualannya “alon-alon asal kelakon” tapi memberi oase. Begitu pula perpustakaan, tidak persoalan menyediakan bacaan-bacaan ringan, termasuk komik hiburan yang memang ramai peminat itu, tapi bukan berarti menggusur “bacaan mulia” ala buku sastra. Wallahualam.

*) Pengelola penerbit sastra AKAR Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *