Cak Nur: Cendekiawan-Aktivis

Abdul Razak
http://www.jurnalnasional.com/

Nurcholish Madjid adalah ikon pemikiran pembaruan dan gerakan Islam di Indonesia. Cak Nur, panggilan populernya, bukan hanya seorang cendekiawan yang berdiam di menara gading intelektualitas. Namun dia juga adalah seorang aktivis pergerakan, bahkan politikus.

Politik praktis merupakan jalan hidup yang mendominasi perjalanan hidup Cak Nur. Dia lahir di tengah-tengah keluarga Masyumi. Ayahnya, KH Abdul Madjid, dikenal salah seorang tokoh partai politik Islam terbesar di era Orde Lama itu.

Politik praktis mulai ditekuni Nurcholish saat menjadi mahasiswa, pertengahan tahun 1960-an. Ia terpilih sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciputat, tempat dia menimba ilmu di Fakultas Sastra dan Kebudayaan Islam Institut Agama Islam Negeri Syarief Hidayatullah, Jakarta. Anak Jombang, Jawa Timur yang lahir 17 Maret 1939 ini bahkan menduduki jabatan Ketua Umum Pengurus Besar HMI dua periode berturut-turut, 1966-1969 dan 1969-1971. Meski begitu, sebetulnya politik sudah ada dalam pikiran santri Pondok Pesantren Darussalam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur itu sejak Pemilu 1955.

Ketika masih berstatus mahasiswa, Cak Nur tampil sebagai seorang intelektual muda. Dirinya banyak bicara soal demokrasi, pluralisme, dan humanisme.

Gagasan dan pemikiran pria yang sempat menjabat Presiden Persatuan Mahasiswa Islam Asia Tenggara ini memukau banyak orang. Oleh orang-orang Masyumi dia digelari “Natsir muda”. Pemikiran Nurcholish yang paling menggegerkan, terutama para aktivis gerakan Islam, adalah saat dirinya melontarkan pernyataan politik “Islam yes, partai Islam no”. Sebuah pemikiran politik yang face to face langsung dengan mainstream semangat politik persatuan Islam yang menguat kala itu.

Meski begitu, pada Pemilu 1977, ketika para aktivis mahasiswa cenderung memilih Golkar sebagai kendaraan politik, Cak Nur satu-satunya tokoh yang meminta agar mahasiswa tidak memilih Golkar. Dia memilih kampanye bersama Partai Persatuan Pembangunan, partai Orde Baru yang terbentuk dari fusi partai-partai Islam peninggalan era Orde Lama.

Setelah Cak Nur kuliah di Universitas Chicago, Illinois, Amerika Serikat, untuk meraih gelar doktor dalam bidang filsafat, awal 1990-an, dirinya mulai tampil sebagai cendekiawan-intelektual yang lebih memenara gading. Cak Nur banyak berkecimpung di ranah akademik, dan meninggalkan hingar bingar dunia politik praktis.

Ia kembali memasuki ranah politik praktis jelang berakhirnya Orde Baru. Pada Mei 1998, terlihat besarnya pengaruh Cak Nur. Saat itu Nurcholish berbicara langsung kepada Soeharto, memintanya mundur. Dan, berakhirlah kekuasaan Orde Baru yang telah mengakar selama 35 tahun. Puncaknya, dia sempat tampil sebagai salah seorang kandidat presiden pada Pemilu 2004. Namun, itu berakhir antiklimaks, karena akhirnya ia mengundurkan diri dari proses pencalonan melalui Konvensi Partai Golkar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *