Penghargaan Rancage, Bak di Tengah Padang Tandus

Umi Kulsum
http://kompas-cetak/

Bukan berita baru lagi jika media mengungkapkan perihal bahasa dan sastra daerah yang makin jauh dari masyarakatnya. Perubahan di segala bidang kehidupan, bagaimanapun, memengaruhi pola pikir dan cara hidup masyarakat, termasuk penggunaan bahasa ibu dalam keseharian. Dan, tidak dapat dimungkiri, lahirnya bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu dan bahasa baku dalam teks, baik buku maupun media, membuat peran bahasa daerah semakin kecil.

Kini, masyarakat di daerah menggunakan bahasa daerah lebih sebagai bahasa percakapan sehari-hari saja, tidak dalam teks dan penggunaan teknologi. Situasi ini sebenarnya terjadi pada semua bahasa daerah, termasuk bahasa Sunda. Ayip Rosidi, sastrawan dan penggiat sastra Sunda, memprakarsai pemberian penghargaan terhadap karya sastra untuk bahasa Sunda Rancage tahun 1989. Namun, dalam perkembangannya kemudian Rancage juga diberikan kepada karya sastra dan penggiat sastra Jawa dan Bali.

Seperti yang diungkapkan oleh Ayip Rosidi, sastra daerah berada di ambang kehancuran karena tidak lagi digunakan oleh para penuturnya. Situasi ini semakin rawan karena tidak mendapat perhatian dari negara sebagaimana mestinya, dan institusi pendidikan pun tidak mendukung keberadaan sastra daerah ini. Adanya mata pelajaran tambahan Bahasa Daerah di setiap sekolah pun tidak membantu mempertahankan eksistensi bahasa dan sastra daerah.

Setelah hampir 18 tahun diberikan, Rancage ternyata tidak berdampak terhadap perkembangan bahasa daerah, satu hal yang diamini oleh Ayip Rosidi. Oleh karena itu, Ayip tetap berkeyakinan bahwa pemerintah harus membantu keberadaan sastra daerah tersebut. Salah satu cara adalah dengan membeli buku-buku peraih penghargaan Rancage untuk bahan bacaan wajib di sekolah daerah. Hal yang sama dikemukakan oleh Maman Mahayana, penulis dan pengajar sastra Indonesia dan sastra Sunda. Menurutnya, Diknas seharusnya menjadikan buku sastra daerah sebagai bahan bacaan dan pengajaran di sekolah agar para murid terbiasa mengenal dan mengapresiasi bahasa dan sastra lokal seperti yang dahulu pernah dilakukan dalam sastra Indonesia. Jika tidak diwajibkan, masyarakat cenderung tidak peduli terhadap sastra lokal. “Saya mengenal dan mencintai sastra Indonesia karena dulu diwajibkan membaca roman angkatan Pujangga Baru dan Pujangga Lama,” ujar Maman lebih lanjut.

Maka sudah seharusnya pemerintah memiliki kepedulian terhadap bahasa daerah. Menurut Maman, keberadaan bahasa dan sastra lokal sangat penting agar masyarakat tetap memiliki identitasnya sendiri. “Tidak mungkin kalau hanya para penggiatnya saja yang terlibat, pemerintah tetap harus turun tangan,” ujar Maman. Hal itu disebabkan oleh pergerakan kemajuan masyarakat dan teknologi yang terus berkembang, membuat orang tidak lagi terikat dengan bahasa lokal mereka.

Optimisme bahasa lokal
Akan tetapi, nada optimistis disampaikan oleh Hawe Setiawan, pengurus Yayasan Rancage dan penggiat sastra Sunda, bahwa bahasa lokal akan tetap digunakan oleh masyarakat penuturnya karena itu adalah bahasa ibu yang digunakan sehari-hari dalam lingkungan sosialnya. Hawe mengungkapkan bahwa saat ini tidak perlu lagi mengeluh akan hilangnya bahasa lokal. “Tidak perlu lagi melihat budaya lokal secara defensif,” ujarnya.

Yang perlu dilakukan pengamat dan penggiat sastra lokal adalah membuka diri terhadap perubahan yang terjadi, bahwa setiap zaman selalu ada kreativitas budaya lokal. Salah satu contoh, menurut Hawe, adalah perbincangan radio di Bandung yang selalu menggunakan bahasa Sunda oleh remaja di sana. Dalam perbincangan tersebut telah terjadi perkembangan bahasa Sunda. “Ada istilah baru yang kemudian menjadi bahasa lokal Sunda,” lanjut Hawe.

Maka orang tidak perlu lagi meributkan bahasa lokal yang tidak murni lagi seperti dulu, tetapi menerima potensi bahasa Sunda untuk beradaptasi pada perkembangan zaman. Hawe tetap optimistis bahwa bahasa Sunda akan tetap hidup di masyarakat apalagi jika dilihat kini makin banyak komunitas penggiat sastra Sunda di Jawa Barat.

Penjualan lambat
Karya sastra daerah yang mendapat penghargaan Rancage diharapkan akan terkenal dan dibaca banyak kalangan. Sayangnya, penghargaan itu tidak mampu menaikkan pamor buku-buku yang menjadi pemenang. Bahkan, seolah-olah masyarakat tidak peduli dengan khazanah budayanya sendiri.

Hal itu juga diakui oleh penerbit Kiblat di Bandung yang memiliki visi untuk melestarikan teks atau sastra daerah, khususnya sastra Sunda. Rahmat Hidayat selaku direktur penerbit Kiblat mengakui bahwa penghargaan Rancage tidak mampu meningkatkan penjualan buku-bukunya. Rahmat mengungkapkan bahwa Kiblat yang awalnya mencetak 3.000 buku untuk cetakan pertama, kini hanya berani mencetak 1.000 eksemplar. “Penjualannya sangat lambat, rata-rata hanya 500 eksemplar per tahun,” ujar Rahmat.

Sejak berdiri tahun 2000, buku teks berbahasa Sunda telah dijual di toko buku besar seperti Gramedia di seluruh Jawa Barat dan kios-kios buku di daerah yang tidak terjangkau oleh toko buku seperti Garut, Subang, dan Ciamis. Sayangnya, hal itu tidak mampu meningkatkan penjualan buku-buku berbahasa Sunda.

Menanggapi lambatnya penjualan fiksi berbahasa Sunda, Hawe Setiawan melihat persoalannya pada promosi dan distribusi. “Dari segi isi, fiksi berbahasa Sunda tidak kalah dari fiksi berbahasa Indonesia saat ini,” lanjut Hawe. Menurutnya, membaca buku berbahasa Sunda tidak sulit dibandingkan dengan bahasa Indonesia bagi penuturnya.

“Salah satu kriteria buku pemenang Rancage adalah isi, selain bahasa, apakah isinya ada kebaruan informasi dan tentunya konteks sosial masyarakat sekarang,” ujar Hawe. Maka sebenarnya tidak ada masalah dari segi isi, hanya saja pembaca tidak banyak yang mengetahui hadirnya fiksi berbahasa Sunda. Oleh karena itu, jika buku berbahasa Sunda dipromosikan dengan baik, Hawe optimistis fiksi berbahasa Sunda akan laris mengingat penutur berbahasa Sunda diperkirakan berjumlah 20 juta di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *