Enam Sonet Bunga Tidur

Lan Fang
http://www.jawapos.com/

(1)
ada aku, kau dan beliau. kemudian kita bersegitiga.
laki-laki tua itu ngudar rasa. kita pun menyerap seratnya.
tetapi beliau tanpa suara. jadi belum ada yang bisa kumengerti.
mampukah kau menangkap pesan dari yang kuhormati?

”kau merindukan demokrasi damai,” yang di Jember berkata.
aku jengah menceritakan tentang kita bertiga. kurasa tidak perlu.
karena menurutnya, aku pendongeng wahid. tetapi ujar guru di Jogya,
”beliau kesulitan yang mulia.” apakah harus sulit dahulu, pak guru?

maka akan kucuri ilmunya sebab kuharap dirimu pun menjadi mulia.
tetapi kau tertawa ”ada putri Cina pakai kebaya,” kau terus menggoda,
lalu meniup mataku untuk mengusir gambar itu. aku ingin kau percaya.
pikirkanlah! kau masih terus ngudang seperti menembang, ”iya, iya, iya.”

kalau begitu, besok akan kucari juru tafsir.
dari hutan, gunung, lembah… sampai ke ujung pesisir.

(2)
seperti berada di negeri seribu satu malam. aku begitu lelap.
karena kesirep, tersihir oleh bibirmu yang sangat ingin kuusap,
kujamah, kubelai. oh, kau indah, lembut, begitu penuh cinta.
kuharap pagi tak usah terburu-buru. aku ingin waktu lebih lama.

tiba-tiba kita tidak berdua lagi. ada perempuan yang itu menelinga.
ia membuat bercak di belakang kita, mencetak sejejak demi sejejak.
”lihat saja aku,” kau (belum) menyentuhku namun debar kian berkuasa.
maukah kau menciumku? kau yakinkan kita tak akan pernah berjarak.

lalu ada perempuan lain di muka. mengamati kita seperti pendosa.
begitu banyakkah perempuan? yang diundang ada tiga puluh.
aku serasa tersalib di Bukit Golgota. apakah kau juga merasa?
ternyata kau menyayangiku: ”aku menjagamu. tak perlu mengeluh.”

mereka tetap tak mau bergeser. kita pun tetap saling memandang.
aku merapat, tenggelam ke dalam tatapan sembilan bintang.

(3)
banyak pemain kartu bergerombol, tapi kau tak ada di sana.
mendadak udara memampat karena semua tanpa kata-kata.
hanya sedikit yang dapat kuceritakan tentang malam yang menua.
mereka sibuk dengan tanda gambar dan warna. tak saling menyapa.

kuhampiri lalu kutanyai satu per satu, adakah yang melihatmu?
aneh! bola mata mereka besar, abu-abu, dan berputar tanpa kelopak.
ternyata wajah, tubuh, lidah, dan air mata mereka juga abu-abu.
kartu mereka juga abu-abukah? di halamanmu tak ada yang berkepak.

aku terus mencarimu dengan putus asa. dengarkah, aku memanggilmu?
sampai wajah teduh bercahaya menemuiku. tetapi siapakah itu?
rupanya beliau ruh berbahasa bunga ”sembilan kursi untuk anakku.”
sembilan? bukankah sulit sekali mencuri satu bangku?

saat ini masih kucari kunci tetapi belum juga kutemu.
sedang matahari sudah menuju pagi. lekas! kita ke pondok tebu.

(4)
kita sepakat bila mimpi adalah hujan. ia datang tanpa perlu diundang.
di sana wajahmu mengeruh. seandainya bisa kupilih mimpi seperti apa.
”jangan masuk. aku akan keluar,” pintu itu setengah terbuka. begitu lama
kau tidak selesai juga. mimpi belum menepi, aku hanya bisa memandang.

apakah kau akan melompati ambang tidur? aku setia menunggumu, mimpi.
kunantikan suaramu yang akan menghanyutkan limbah dan sampah.
bagai bunyi mesin melinting tembakau. klotak klotak. semakin tinggi.
seperti biji-biji hujan yang masih sibuk. kenapa bukan langit yang basah?

konon, hikayat hujan tercipta dari air mata cinta. begitu ujar pujangga.
”bukan salah yang mengenalkan hujan kepada langit,” kilah si anak kyai.
ya! Danau Xi Hu tak keliru bila Bai She Jing dan Xu Xian jadi legenda.
artinya tak ada yang perlu kucawang. ini hakikat mimpi dan hujan. jadi?

”semoga saja begitu,” pukul tiga, kau berkabar. sudah hampir subuh.
aku senantiasa memilihmu. sampai saatnya mimpi dan hujan menubuh.

(5)
kali ini kita berada di ruangan yang sangat lengang. wajahmu,
apa yang kau resahkan? pawai piawai pundi-pundi kaum pialang.
rindu mengharuskan untuk memelukmu tapi kau ragu mendekapku.
tak pernah kulihat kau begitu pucat dan gugup, ”banyak anak bajang.”

mana? rupanya kau ingin menyiku tanpa membengkokkan. atau membuat
lurus tanpa harus mengulur. kenapa untuk duduk saja begini berat?
”aku takut luput. perhitunganku…,” jantungmu melompat-lompat.
aku anak naga yang tak pandai sempoa. maka kutanyakan nama malaikat.

”aku menyebutnya Jibril,” lebih baik kita tak perlu melihat dan mendengar.
karena ada yang lain memanggilnya Gabriel. kupikir, yang berwarna itu buta
dan yang bersuara itu tuli. dunia adalah taman bila dipandang dengan benar.
aku ingin kau ingat kita selalu sawang sinawang dengan segenap bahagia.

aku masih memelukmu. manakah yang terasa lebih dekat: nama atau badan?
apakah yang lebih berharga daripada mendapatkan? kehilangan!

(6)
sudah berapa malam kau tak berkunjung. pasti kau sedang sibuk.
maka, mataku tak bertabir gula. rupanya kau meneropong bintang.
tolong, ambilkan satu saja untukku. biarkan yang lain, sayang.
sebab di plafon, para tikus berpesta sampai gaduh. gludak gluduk.

”kenapa tak menyukai mereka? maaf, bila tak berkenan,” kau selalu sopan.
aku hanya cemas: apakah tikus-tikus bisa dijadikan sonet yang rupawan?
mereka hanya kusir kereta labu Cinderella, pengerat kayu yang berisik sekali.
di mana akan kau sematkan sebiji bintang itu? di rambut atau di jantung hati?

telah kurangkai kembang setaman. sebab banyak rahasia yang kita simpan.
semua hanya untukmu. sebab bertambah malam mata harus semakin awas.
abrakadabra! ingin kumusnahkan kutuk itu agar kita tidak berbeda pikiran.
kini jangan marah bila kutarik empat larik. kau nafas yang tak akan kulepas.

sekarang aku (ingin) merebahi pundakmu. ciumlah mataku.
kelopak dan bulumataku. kau akan menemukan banyak sonet di situ.

*) Lan Fang, tinggal di Surabaya. Penulis esai, prosa, dan puisi. Novel-novelnya antara lain Perempuan Kembang Jepun (2006) dan Lelakon (2007)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *