Puisi-Puisi Mardi Luhung

jawapos.com

KUNJUNGAN HIU

Sudah sebulan ini (hampir tiap malam) hiu selalu berkunjung ke rumahku. Hiu bongsor dengan kulit yang ditakik bekas luka. Atau bekas jamur yang gatal. Dan seperti biasanya (saat berkunjung itu) hiu menyodok-nyodokkan moncongnya ke pintu depan. Dan jika bosan pun memutar ke bagian belakang. Terus menempelkan penampang-rona-matanya ke jendela dapur. Seperti ingin mengintip diriku. Atau setidak-tidaknya ingin mengetahui: ”Sedang apakah penyair yang selalu menulis dengan gerakan dari kanan ke kiri, dan dari bawah ke atas ini?” Penyair (yang saat itu) sedang berkutat untuk melepaskan kulit lamanya. Seperti ular yang ingin melepaskan kulit kasarnya. Ular yang tua. Ular yang merasa sudah tak sempat lagi untuk bergelung. Kecuali beringsut. Mencari arah tempat di mana akan dikubur agar dapat dilahirkan kembali. Lalu hiu bergerak lagi. Bergerak ke genting. Dan di genting (seperti penyimak) hiu menyimak setiap suara yang aku timbulkan dari dalam rumah. Suara mengeong seperti suara kucing yang gelisah. Atau suara gemerisik seperti suara hutan yang jauh. Hutan yang kangen pada sumur-sumur yang ada di bulan. Yang diharap segera terguling. Dan menumpahkan airnya jadi hujan di bumi. Hujan yang akan membuat banjir. Dan menyeret setiap yang jahat agar terbuang ke laut. Terus menelusup ke sarang lokan. Menjadi cadangan pangan di musim panas dan dingin. Dan pada puncaknya (seperti biasanya) dengan sekali sentak, hiu menjatuhkan tubuh bongsornya ke genting. Genting pun ambrol. Tubuh hiu terus meluncur ke bawah. Menimpa punggungku. Dan aku merasa mendadak semuanya begitu gelap. Lalu ketika pagi menjelang, lagi-lagi aku melihat tanggal di kalenderku tersilang lagi.

(Gresik, 2009)

MEMBAKAR BAPAK
dari oei tik kwie ke oei hendry

Seperti nyala unggun, aku juga menyala. Terus. Dan terus merambat ke atas. Mengintai ke lepas. Jadi abu.

Dan matamu berlubang. Dan pikiranmu berkubang:

”Apa nanti akan ada yang memandikan nyawamu?”

Tapi apa mengabu itu mati? Nanti, ya, nanti akan ada yang membawaku pergi. Memintas lewat urat angin.

Mengular di angkasa. Mengular sambil mendesis.

Mendesis cekatan. Dan anggun. Dan unggul. Akh,

Lalu, kau pun menyentuh sisa nyalaku yang tertinggal.

Seperti menyentuh es di dasar sungai. Juga di pikiran yang melandai. Saat ada yang mendongak ke atas.

Dan terbelalak: ”Hai, ada pulung lewat, alamat apa ini?”

Jauh ke arah siku tenggara, memang ada seleret yang memanjang. Dan saat belok ke utara, abulah yang tertabur.

Abu yang begitu putih.Yang begitu rintih. Ketahuilah:

Tak akan, tak akan ada yang memandikan nyawaku…

(Gresik, 2009)

RAMBUT

Apa yang dilakukan seorang ibu, saat anaknya terbelah dalam sebuah perkelahian? Menangis, tertawa atau malah melesat ke buar malam. Membakari rambutnya dan mengerik sisanya sampai licin. Seperti kerikan kepala para pencari. Para pencari yang telah membanting keras gerbang-bilik-ibadah yang tersamun. Dan ya, cermatilah, abu bakaran rambut itu terus berdenyut. Dan terus seperti nyawa-kesasar yang ingin menghamparkan dirinya dalam kepekatan lorong. Lorong bagi siapa saja yang segera tercekat. Ketika akhir-perkelahian itu begitu menampilkan satu wujud yang tak termal di hadapannya. Juga, ketika belahan tubuh si anak menjadi semacam reptil berkutil-kutil yang melata. Reptil yang ketika sampai di sebelah nganga jurang pun menguik: Ibuku, Ibuku, aku telah menyelesaikan yang tidak terselesaikan! Padahal (waktu itu), para penyiasat masih saling semeja. Saling melirik. Dan saling ingin membentangkan segulung robekan-jisim dari sebuah persetujuan yang begitu terpasung. Begitu tak lagi punya arah keluar. Kecuali menanti datangnya si yang-lain. Si yang-lain yang ketika mulutnya dibuka, sebilah pedang dengan terang fosfor pun terjulur. Pedang yang akan menghantami setiap yang menyembul. Juga setiap yang mengerutkan tubuhnya ke balik-balik rahim yang begitu tersembunyi. Begitu membuat seorang ibu kembali mesti membakari rambutnya: Sendiri!

(Gresik, 2009)

MARDI LUHUNG: Lahir di Gresik, 5 Maret 1965. Dia lulusan Fakultas Sastra Jurusan Sastra Indonesia Universitas Jember. Puisinya tersebar di berbagai media, seperti: Kalam, Surabaya Post, Kompas, Media Indonesia, Koran Tempo, HAI, Kuntum, Tebuireng, Memorandum, Kolong, Teras, Buletin DKS, Kidung DKJT, Karya Darma dan Jurnal Selarong. Sedangkan buku yang memuat puisinya adalah: Antologi Puisi Indonesia (KSI, 1997), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (Grasindo, 2003), Horison Sastra Indonesia: Kitab Puisi (Horison, 2002), Bapakku Telah Pergi (BMS, 1995), TUK volume II Bertandang dalam Proses (TUK, 1999), Mimbar Penyair Abad 21 (DKJ, 1996), Birahi Hujan (DKJ-AKAR-Logung, 2004) dan Living Together (Kalam, 2005). Buku puisi tunggalnya: Terbelah Sudah Jantungku (1996) dan Wanita yang Kencing di Semak (2002). Pernah memenangkan lomba penulisan esai tingkat nasional pada Sayembara Mengarang tentang Apresiasi Sastra untuk Guru SLTA yang diadakan oleh Kepala Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1999). Mengikuti Program Penulisan Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) dalam Bidang Puisi (2002), Cakrawala Sastra Indonesia (2004), International Literary Biennale (2005) serta diundang dalam Festival Kesenian Yogyakarta XVIII/2006.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *