“Festival Rendra” Penghargaan bagi Si Burung Merak

Wuryanti Puspitasari
http://oase.kompas.com/

Sudah lebih dari tiga bulan WS Rendra wafat, namun sosok penyair, dramawan, sastrawan, pemikir, dan pejuang kebudayaan itu tetap hidup di hati sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya para sahabat, kerabat, pencinta seni, serta pencinta karya-karyanya.

WS Rendra yang lahir di Solo pada 7 November 1935 dan wafat di Depok, Jabar, pada 6 Agustus 2009 tersebut dicintai oleh banyak orang, karena dia dianggap memiliki totalitas berkesenian, karya yang bagus, kontekstual, dan memiliki “kegagahan dalam kemiskinan” kata-katanya.

Hal tersebut dinilai sejumlah kalangan sebagai ciri khas yang dimiliki WS Rendra dan tidak dimiliki, bahkan sulit ditiru oleh seniman pendukungnya.

Berangkat dari berbagai alasan kecintaan masyarakat terhadap WS Rendra, maka Dewan Kesenian Jakarta, sejumlah seniman di Jakarta, dan lembaga kesenian di lingkungan Taman Ismail Marzuki (TIM), di antaranya Akademi Jakarta, Institut Kesenian Jakarta, dan badan pengelola TIM, merancang sejumlah acara bertajuk “Festival Rendra”.

“Festival Rendra” tersebut dibuat sebagai bentuk penghargaan dari para sahabat, kerabat dan para pencinta “Si Burung Merak” tersebut.

Acara tersebut akan berlangsung di Taman Ismail Marzuki (TIM), Graha Bhakti Budaya, Teater Studio, Plaza TIM, lapangan parkir TIM, lobi Teater Kecil, dan Studio 1 Kineforum selama satu pekan, 23-29 November.

Ketua pelaksana festival itu, Ratna Riantiarno, mengatakan, Festival Rendra bermaksud memberikan penghormatan yang pantas terhadap sosok Rendra sebagai seniman dan manusia biasa.

Ia juga menambahkan bahwa tujuan kegiatan ini adalah memperkenalkan kembali sosok Rendra kepada publik yang seluas-luasnya, bukan hanya kaum seniman, tetapi juga masyarakat luas khususnya kaum muda yang tidak secara langsung mengenal Rendra dan karya-karyanya.

Karena itu, acara itu akan melibatkan ratusan generasi muda mulai dari tingkat sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) hingga mahasiswa.

Ratna menjelaskan, ratusan pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah di Jakarta tersebut akan ikut serta dalam berbagai kegiatan yang telah disiapkan oleh panitia.

“Tujuan kami melibatkan para pelajar adalah untuk mengenalkan tokoh Rendra dan karya-karyanya kepada para generasi muda agar selalu dapat dikenang,” katanya.

Rangkaian acara tersebut, di antaranya, pameran foto, poster, manuskrip, dan buku Rendra, fotokopi kliping esai tentang Rendra dan rekaman audio.

Selain itu, ada diskusi tentang Rendra dalam sastra dan teater, Rendra dalam politik, sosial, dan budaya serta diskusi tentang puisi-puisi Rendra dan kontribusinya untuk sastra Indonesia.

Ada juga workshop tentang Rendra, pembacaan puisi, cerpen, dan esai Rendra serta pemutaran film tentang Rendra.

Dalam pementasan teater, panitia akan menampilkan kembali pementasan teater Rendra yang dibawakan oleh para aktor dan aktris baik yang pernah terlibat langsung dalam produksi teater bersama Rendra maupun yang belum sama sekali.

Selain pementasan “kereta kencana” yang berlangsung di malam pembukaan, pementasan teater lainnya adalah “Bib-Bob” yang akan dibawakan oleh Bengkel Teater di Teater Kecil pada 27 November 2009.

Ditambah lagi pementasan monolog “Burung Merak” yang dibawakan oleh Putu Wijaya yang pernah menjadi anggota Bengkel Teater.

Pada acara diskusi akan ada dua agenda berisikan perdebatan karya-karya Rendra dan sumbangsihnya bagi dunia teater dan sastra Indonesia pada umumnya dengan tema “Rendra dalam Teater dan Sastra” serta “Puisi Rendra dan Sumbangsihnya bagi Sastra Indonesia”.

Pada acara pameran akan ada pameran dokumentasi, seperti foto, poster, naskah, fotokopi kliping tentang Rendra dan Bengkel Teater.

Pada acara pemutaran film akan disuguhkan film yang dimainkan oleh Rendra, di antaranya “Yang Muda yang Bercinta” dan “Lari dari Blora”.

Sementara itu, acara pembukaan akan berlangsung pada 26 November 2009 mulai pukul 15.00-18.00 WIB yang dimulai dari pelataran TIM berupa karnaval yang melibatkan mahasiswa IKJ, komunitas teater se-Jakarta, dan komunitas teater se-SLTA.

Ratna Riantiarno menjelaskan, acara tersebut ditujukan untuk mengingatkan kembali kepada seluruh masyarakat mengenai perjalanan dan jejak-jejak yang ditinggalkan Rendra dalam dunia seni.

Rombongan karnaval akan memulai aksi mereka dari teater luwes IKJ dan bergerak melewati warung-warung tenda menuju Plaza TIM dan berbelok ke arah planetarium lalu terus menyusuri jalan hingga tiba di depan Graha Bhakti Budaya (GBB). “Karnaval ini berfungsi untuk mengantar pengunjung mengunjungi GBB,” katanya.

Selesai di pelataran parkir TIM, acara pembukaan akan berlanjut ke GBB dengan rangkaian kegiatan, di antaranya, orasi budaya “Rendra yang Saya Kenal” yang akan disampaikan oleh Adnan Buyung Nasution, Moerdiono, dan Ahmad Syafi?i Ma?arif.

Ratna dan panitia mengaku optimistis bahwa acara tersebut bukan hanya akan mengenang kembali kiprah Rendra di lapangan, melainkan memperkenalkan kembali Rendra dan karya-karyanya kepada generasi muda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *