Menguatkan Korelasi Susastra dan Film Nasional

N. Syamsuddin CH. Haesy
http://jurnalnasional.com/

PRODUKSI film nasional, pada masanya berkorelasi dan menggerakkan gairah penulisan dan penerbitan buku-buku sastra. Juga sejumlah programa siaran radio. Kita mencatat beberapa film nasional yang sedemikian bermakna sebagai penggerak kreativitas penulisan novel dan karya sastra lainnya.

Cintaku di Kampus Biru, Jangan Ambil Nyawaku, Lupus, Catatan Si Boy, dan lainnya adalah contoh paling konkret dari korelasi itu. Belum lama, kita mencatat film Ayat-ayat Cinta dan Laskar Pelangi. Tentu tak hanya itu, karena karya-karya roman juga diangkat ke layar lebar, seperti Di Bawah Lindungan Ka?bah, Sitti Noerbaja, dan Sengsara Membawa Nikmat.

Korelasi karya susastra dalam bentuk novel dan roman, serta programa siaran radio dengan film merupakan keniscayaan. Keduanya bisa saling menguatkan satu dengan lainnya. Apalagi, bila hendak disimak lebih jauh, bahwa karya-karya susastra berbasis fiksi dan kontemplasi, dalam banyak hal merupakan deskripsi realitas kedua atas realitas pertama kehidupan manusia. Semua itu relevan menjadi basis cerita atau ruh karya film.

Soalnya kemudian adalah seberapa jauh kedua wilayah kreatif ini dipertahankan korelasinya satu dengan lain, dalam bentuk produk yang mengekspresikan kreativitas dan inovasi dayacipta. Karenanya, kedua medium ekspresi kreativitas itu, tak hanya harus dipandang sebagai potret industri kreatif yang saling berhubungan satu dengan lainnya, karena di dalamnya terdapat dimensi kedalaman yang menyentuh akar budaya, basis nilai peradaban manusia.

Film sebagai medium budaya yang sekaligus medium komunikasi massa, merupakan salah satu produk budaya populer. Medium harmoni mimpi, imajinasi, dan realitas.

Memahami dengan saksama korelasi masing-masing medium, kita ? kemudian — menemukan sedemikian banyak aspek peradaban dan keadaban manusia. Mulai dari proses pengembangan imajinasi kreatif, menjadi ekspresi produktivitas budaya yang dikelola secara profesional. Dalam konteks demikianlah, film sebagai media, merupakan kekuatan potensial yang mengekspresikan perkembangan peradaban suatu bangsa. Lantas, dari kekuatan itulah, kita menemukan format paling konkret dari makna: transformasi secara luas. Mulai dari transfer of knowledge, sains, dan teknologi.

Perubahan Mindset

KINI dan mendatang, ketika peradaban manusia terus berkembang, film sebagai medium ekspresi nilai-nilai peradaban manusia akan selalu bertambah kokoh bila dikaitkan dengan karya susastra. Keduanya saling menguatkan satu dengan lainnya.

Dalam konteks inilah, kita menemukan sedemikian banyak karya-karya film yang sedemikian merasuk ke dalam pikiran, dan mengubah mindset peradaban manusia yang sedemikian plural, multikultural, dan melintasi batas wilayah negara dan budaya. Harry Potter, adalah salah satu contoh yang bisa disebut sebagai paduan harmonis karya susastra dan film yang mengubah mindset sedemikian banyak manusia penonton dan pemirsanya. Demikian pula halnya dengan The God Father, dan begitu banyak karya lainnya.

Beranjak dari pandangan demikian, di tengah keringnya gagasan kreatif tentang film-film berdimensi kultural dalam makna yang luas, kita perlu menguatkan kembali hubungan korelasi kedua medium itu secara sistemik. Memadukan kedua medium itu merupakan langkah strategis, ketika kita sungguh menyadari, bahwa bangsa ini memerlukan gerakan transformasi baru menembus dunia global. Menjembatani pluralitas dan multikulturalisme.

Dalam konteks itulah, kembali kita ingatkan pentingnya menghidupan kembali program apresiasi sastra dan film di lingkungan pendidikan formal. Tak hanya sebatas program dalam wilayah ekstra kurikuler dan co-kurikuler dalam keseluruhan program pendidikan kita. Karena semestinya, kedua media itu menjadi bagian tak terpisahkan dari bidang studi yang terintegrasi di dalam silabus kurikulum pendidikan nasional kita.

Dalam kerangka demikian, sekali lagi, diperlukan kesadaran, tanggung jawab, kemauan, kemampuan kolektif kita untuk melihat susastra dan film sebagai bagian penting hidup kebangsaan dan kenegaraan. Tak hanya berkutat di wilayah politik dan ekonomi. Karenanya, sangat perlu Badan Perencanaan Nasional (Bapenas) memikirkan hal ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *