Sumpah Pemuda dan Nasib Bahasa Daerah

Asarpin *
lampungpost.com

BAHASA Indonesia bermula dari proyek kebangsaan. Ini setidaknya bisa dilihat sejak Sumpah Pemuda 1928, di mana harapan untuk menjadikan bahasa sebagai agenda nasionalisme di kalangan kaum pergerakan mencapai puncaknya dengan dibacakannya ikrar bersama tentang pentingnya memiliki satu bangsa, satu nusa, dan satu bahasa.

Ungkapan “bahasa menunjukkan bangsa” tampaknya mempertegas hubungan lama antara bangsa dan bahasa. Bahasa Indonesia pada mulanya berjalan seiring dengan derap-langkah pergerakan dan nasionalisme. Hubungan sastra dan politik sejak awal begitu intim dan karib. Continue reading “Sumpah Pemuda dan Nasib Bahasa Daerah”

Mari Membaca Isi (Ratusan) Novel Sastra Indonesia!

Sihar Ramses Simatupang
sinarharapan.co.id

Oki Toshio, seorang novelis diburu karena mengangkat tokoh Otoko, perempuan masa lalunya yang kemudian menjadi pelukis perempuan terkenal. Kisah Okio ini kemudian ditarik pada kegetiran masa lalu Oki. Oki kemudian pergi ke desa itu, mendengarkan lonceng di kuil, mengingat Otoko.

Ada lagi kisah lain, tentang seorang calon rahib di sebuah kuil mengalami pengalaman sekuler “termasuk bersetubuh dengan pelacur” lalu akhirnya mendulang kegelisahan. Di puncak kegelisahan itu. Si tokoh, kemudian membakar kuilnya dengan wajah yang teramat dingin. Continue reading “Mari Membaca Isi (Ratusan) Novel Sastra Indonesia!”

MEMBINCANGKAN TIGA CERPEN GUS MUS

Maman S. Mahayana *

Ketika tahun 1970-an sastra Indonesia dilanda semangat eksperimentasi, sejalan dengan gerakan “kembali ke akar, kembali ke tradisi” sebagaimana yang diusung Abdul Hadi WM, kisah-kisah dunia jungkir balik dalam prosa, termasuk di dalamnya cerita pendek (cerpen), seperti menemukan pembenaran estetik. Absurdisme, melalui perkenalkannya dengan filsafat eksistensialisme, dipandang sebagai representasi dunia jungkir balik itu. Continue reading “MEMBINCANGKAN TIGA CERPEN GUS MUS”

Hero Baru: Antikoruptor

Achmad Buchari*
http://www.surabayapost.co.id/

Jelang peringatan Hari Pahlawan pada 10 November nanti, perlulah kita sejenak melakukan renungan tentang sang pahlawan kita di negeri ini. Siapa yang berhak menyandang kata pahlawan dalam konteks berkebangsaan saat ini.

Mengapa hal ini perlu kita retrospeksikan? Ini karena kejelasan bahwa pahlawan itu adalah pejuang. Karena makna kepahlawanan tak lain adalah perihal sifat keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban. Jelas sekali, bahwa sebuah negara tanpa pahlawan sama artinya negara tanpa kebanggaan. Continue reading “Hero Baru: Antikoruptor”

Revitalisasi Makna Pahlawan

Abdul Gaffar*
http://www.surabayapost.co.id/

Barang siapa sungguh menghendaki kemerdekaan buat umum, segenap waktu ia hari siap sedia dan ikhlas buat menderita ?kehilangan kemerdekaan diri sendiri?(Dari Bilik Penjara ke Penjara, Tan Malaka)

Setiap Tanggal 10 November kita selalu menundukkan kepala guna mengenang jasa-jasa para pejuang bangsa yang telah gugur mempertahankan kemeredekaan. Sangat besar pengurbanan para pahlawan bangsa yang telah bersedia mengorbankan harta dan nyawa demi untuk mimikirkan para penerusnya. Continue reading “Revitalisasi Makna Pahlawan”

Bahasa ยป