Kosmologi Santri dalam Kisah

Riadi Ngasiran*
http://dutamasyarakat.com/

Karya sastra yang berkualitas tak harus sesuai dengan selera pasar. Karya yang sesuai dengan kaidah kesusastraraan, yang memperkaya peradaban, belum tentu diminati oleh pihak penerbit profesional karena tak banyak menarik keuntungan. Bila ditilik dari sisi kuantitas karya-karya Pramoedya Ananta Toer tak seberapa memperoleh pasar dibanding dengan karya-karya populer yang diminati oleh pasar dan digandrungi para pembaca. Tapi, bila ia emas tidaklah berubah jadi loyang demikian pula sebaliknya. Continue reading “Kosmologi Santri dalam Kisah”

Sastra Pesantren, Ruang Ekspresi Santri

Adhitya Ramadhan
http://cetak.kompas.com/

Tasikmalaya dijuluki kota santri atau kota pesantren karena banyak sekali pesantren di daerah ini. Oleh pegiat sastra kota di tenggara kaki Gunung Galunggung ini, Tasikmalaya terus digaungkan sebagai kota sastra.

Julukan ini, selain karena banyaknya sastrawan, juga mengacu pada banyaknya acara sastra yang di gelar di Tasikmalaya. Satu komunitas yang terbilang aktif ialah Sanggar Sastra Tasik. Continue reading “Sastra Pesantren, Ruang Ekspresi Santri”

Linearitas Cerita dan Sublimasi Bahasa*

Cerpen-cerpen Raudal Tanjung Banua

Satmoko Budi Santoso *
Media Indonesia

WILAYAH cerita bukanlah area yang memaksudkan dirinya menjadi tak bebas nilai. Wilayah cerita tetaplah berada di dalam koridor keterikatan ruang dan waktu, pengejawantahan aktualitas, dan sederet konvensi lain yang tak begitu saja melepaskannya sebagai fiksi. Wilayah cerita tetaplah mengemban visi dan ideologi tertentu, pandangan dan pesan moral, sehingga aspek fiksionalitas harus ditawar, jika memang aspek ini selalu ingin diunggulkan karena keyakinannya yang (hanya?) bersandar pada kekuatan metafor, imaji, dan ambiguitas makna. Continue reading “Linearitas Cerita dan Sublimasi Bahasa*”

Ungkapkan Rindu Melalui Doa, Puisi, dan Romantika

Muhammad Tazli
http://www.hariansumutpos.com/

Si Burung Merak kini telah kembali ke hutan. Ke alam yang lebih bebas baginya untuk terbang. Tinggallah bulu-bulu indahnya, bersama kita di sini. Sesuatu yang sulit untuk dilupakan maupun dihilangkan.

Kita akan merasa memiliki setelah sesuatu telah hilang. Ungkapan ini tampaknya boleh dipinjam untuk hal ini. Ialah WS Rendra. Para sastrawan sangat kehilangan dengan meninggalnya ?Bapak Teater Modern Indonesia? tersebut. Sebagai bentuk untuk menyampaikan hasrat rindu, sastrawan Medan menziarahi karya Rendra seraya memanjatkan doa untuk mengenangnya. Continue reading “Ungkapkan Rindu Melalui Doa, Puisi, dan Romantika”

Bahasa ยป