Puisi-Puisi Frans Ekodhanto

http://jurnalnasional.com/
melodi perjalanan
: untuk oppung?Mahennaria Sihite

ini
hari
langit
kian tua
setua
usia?lekat dalam jiwa
walau
tak lagi memetik melodi
tentang
kisah ataupun tawa dari perjalanan
yang
dulu sempat dipesan
pada
simpang-simpang malam
namun
harapan terus saja menggenangi matamu
barangkali setelah tahun ke tujuh puluh berlalu
musim
menyediakan sepering mimpi
untuk
sarapan pagi
dalamnya
tersedia sayur-sayur kehidupan
tumpah
bersama airmata kebahagiaan
di pinggirnya seekor ikan bakar
baru
selesai dipanggang matahari
selama
siang tadi
dan
makanlah
setelah
selesai makan
di
sana ada buah doa
sebagai
pencuci mulut
agar
tidak terlalu menyebarkan bebau dosa
maka
lanjutkanlah tualangmu
semoga
cukup sebagai bekal perjalanan
sampai
ketemu
di
muara usia

Kereta subuh, Mei 2009

ini siang

ini
siang
dari
muara tubuh
keringat
mengalir sangat deras
menenggelamkan
perkampungan waktu
namun
ikan-ikan mendapat kesempatan
karena
kau telah menampung asinnya
dalam
cawan-cawan doa
hey,
istirahatlah sebentar
teduhkan
lelahmu
jantungmu
sudah terlampau lelah berlari
mengejar
mimpi-mimpi yang kau pesan malam tadi
tak
baik untuk usia
karena
matahari kian membara
membakar
semua rencana
istirahlah
sebentar, kawan
periksa
kembali bekalmu
barangkali
ada musim yang hilang
dari
dalam tubuhmu

Kereta subuh, Mei 2009

di perbatasan malam

kau
serupa bulan
diam-diam
merayap masuk
dalam
ruang-ruang musim
berharap
menjadi pengganti bintang
menghilang
ditelan kabut
menjadi
cahaya paling rindu
pada
setiap simpang-simpang waktu
masuklah
dan jadilah penghuni selamanya
agar
tak sekedar cerita untuk dikenang
karena
kita adalah revolusi pagi

Kereta subuh, Mei 2009

dari kamar ke kamar

kamar-kamar
siapa yang disinggahi bersama sesisa
waktu
satu
demi satu menerima sebagai tamu rahasia
dengan
bisik parau menggoda untuk melihat seisi
sudut
ruang yang katanya indah, namun ku tak merasa serupa
karena
terlalu banyak rahasia disimpan di sana
serupaku
tentang
tawa yang diawetkan dalam lemari es yang salju
didih
amarah yang digodok dalam periuk ibu sewaktu merebus mimpi
dan
wajah-wajah yang tak berpengharapan dipajang pada dinding-dinding musim
sebagai
pemandangan mata-mata tualang ketika singgah
serta
tubuh-tubuh yang kehilangan usia dibalut embun
ditaburi
sehelai cahaya teruntuk perindah kesunyaian
dari
kamar ke kamar bagi pengunjung setia
agar
tak hendak bosan bersinggah
menawarkan
pilihan
tentang
ingatan berhembus mesra
di
atas kasur-kasur sahaja para pemilik dunia
untuk
kembali pada pelukannya asmara

Kereta subuh, Mei 2009

dan sebotol malam

dan sebotol malam
dibiarkannya
tergeletak bersama debu-debu usia
memiara kecemasan
teramat pekat
menyuramkan tubuh
yang singkat
adalah aku terus
menunggu
serupa gerbong
baka
saat mata sekedar
menerka
siapa yang datang
bersama pekik rel
walau kabut terlanjur meniadakannya
mestinya aku bisa
melerai
bebongkah kabut
satu persatu
agar jelas segala
rupa yang tiba
tapi musim terlalu
cepat menyimpan harap
menerjemahkan
suatu ketiadaan
tersisa setetes
mimpi
dalam sebotol
malam
dibiarkan
tergeletak
bersama debu-debu
usia

Kereta subuh, April 2009

hidup adalah pertaruhan di meja judi

hidup
adalah pertaruhan di meja judi
ada
yang menang dan ada yang kalah
ada
juga cerita dicipta di sana
tentang
darah, luka, harapan dan air mata
semua
nama punya cerita
tinggal
bagaimana mereka memainkannya
menjadi
sebuah kartu keberuntungan
maka,
kocoklah ceritamu sebaik mungkin
karena
hidup adalah sebuah pertaruhan di meja judi

Kereta subuh, April 2009

di seberang musim

di
seberang musim
kutemukan
namamu serupa dedaun
selalu
gelisah
menanti
kapan ranting kan menceraikan
sedang
angin menjadi hantu menakutan
selalu
mencipta nyiur kecemasan
apakah
sekarang
atau
esok lusa
tapi
percayalah
semua
langkah ada rumahnya
semua
nama ada masanya
belajarlah
dari musim
karena
semuanya
akan
tiba pada waktunya

Kereta subuh, April 2009

ini pagi

ini
pagi
aku
ingin bertamu ke rumah matamu
mencari
sejumput musim
sambil
menghafal setiap kornea-kornea
yang
pernah aku singgahi malam tadi
ini
pagi
aku
melihat bulu matamu gelisah
airnya
tumpah bersama resah musim
bukan
lagu tanpa kata
bukan
juga tanpa ingatan di kepala
melainkan
hari yang tetap berhembus
tumbuh
bersama hati yang tak pernah berubah
ini
pagi
kisah
akan dikenangkan
bukan
untuk dtinggalkan apalagi dilupakan
aku
ingin melihat mawar itu mekar
di
matamu
ini
pagi
penuh
cahaya
bukan
akhir dunia

Kereta subuh, September 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *