Putu Wijaya Kirim “Burung Merak” Untuk Rendra

Aditya Pradana Putra
http://www.antarajateng.com/

Pementasan monolog “Burung Merak” oleh Putu Wijaya di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah, Kota Solo, Minggu (15/11) malam, menjadi upaya mengenang jasa sastrawan, WS Rendra. Dalam pementasan untuk memperingati 100 hari meninggalnya WS Rendra, Putu Wijaya menghidupkan semangat perjuangan Rendra di hadapan ratusan penonton yang memadati gedung kesenian tersebut.

Penghidupan semangat WS Rendra tertuang dalam tiga bagian pementasan tersebut.

Pertama, Putu dan kawan-kawan membacakan sajak karya Rendra, lalu dilanjutkan dengan pembacaan monolog karya Putu Wijaya, dan terakhir, pembacaan medley sajak Rendra.

Sebelumnya, adegan teatrikal ditampilkan oleh sejumlah pemain Teater Mandiri yang dikomandoi Putu Wijaya.

Sebuah boneka raksasa berbahan kain putih diturunkan dari langit-langit panggung, kemudian tiga aktor secara bergantian mendekap, membanting, mencekik, dan menggantung kembali boneka tersebut.

Ketika adegan tersebut berakhir, muncul seorang aktor lainnya yang membacakan salah satu karya Rendra, “Sajak Sebatang Lisong” dan “Balada Terbunuhnya Atmo Karpo”.

Usai itu, monolog “Burung Merak” dibuka dengan munculnya Putu Wijaya dari balik panggung dengan dialog-dialog monolog yang berisi tentang kenangan-kenangan Putu pada Rendra.

Boneka besar putih yang sejak awal tergantung di atas panggung menjadi lawan bicara Putu Wijaya, boneka tersebut diajak bicara seolah-olah dia mendengar kenangan-kenangan Putu tentang Rendra.

Lewat monolog tersebut, Putu mengatakan, Rendra yang berjuluk si burung merak, merupakan legenda yang pemikirannya memberontak kemapanan hidup.

“Sebagai guru yang mencerahkan pikiran dalam mencerna kenyataan sosial, Rendra mengajak murid-muridnya bergaul akrab dengan alam,” kata dia.

Bagi Rendra, lanjut Putu, murid yang berhasil adalah orang yang mampu naik ke kepala gurunya.

Putu Wijaya mengakhiri monolognya dengan mengucapkan perpisahan dan permintaan maaf kepada Rendra, pada saat yang bersamaan boneka putih terangkat naik, menggambarkan kepergian Rendra dari dunia.

“Pementasan monolog ‘Burung Merak” berawal dari gagasan yang muncul setelah meninggalnya Rendra. Sebelum Rendra meninggal, sebenarnya saya diajak olehnya untuk ikut dalam pementasan “‘Waiting for Godot’,” kata Putu.

Setelah Rendra meninggal, kata Putu, dia berjanji akan melakukan pementasan untuk memperingati 100 hari meninggalnya Rendra.

Pementasan tersebut, lanjut Putu Wijaya, dilakukan sebagai upaya menghidupkan kembali pemikiran-pemikiran Rendra, “Saat ini anak-anak muda Indonesia hanya mengenal namanya dan karyanya saja,”.

Pementasan Monolog Burung Merak di Kota Solo, tempat kelahiran WS Rendra, merupakan salah satu bagian dari tur pementasan tersebut.

Sebelumnya, pementasan tersebut sudah dipentaskan di Bandung, Cirebon, Pekalongan, Semarang, Kudus, dan Yogyakarta.

Pada kesempatan berikutnya, pementasan monolog karya Putu Wijaya tersebut juga akan ditampilkan di Surabaya, Mojokerto, Jombang, Malang, Buleleng, dan Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*