http://jurnalnasional.com/
Aur Duri
lihatlah, setelah kita melewati Aur Duri, gurat-gurat sepatu kita
menjadi jejak : ada sesuatu yang rekat, pekat dan erat
begitulah, Aur Duri selalu memberikan satu kenangan
tentang lorong-lorong yang pernah kita lalui,
tentang tenang alir sungai
lalu kita duduk merapat di ujung Aur Duri, katamu padaku,
?lihat, ada perahu di antara sembilan anak sungai Batanghari menuju kemari?
ketika perahu itu makin dekat, dekat dan teramat dekat hingga tak sisakan
jarak, seorang wanita tua muncul dari balik sekat berkerawang
seolah dia tahu, Aur Duri seumpama senja keemasan di atas meja
2009
Begitulah
selalu begitu, sehabis perbincangan yang memilukan, kita tak sanggup menahan airmata.
dia seperti malam rindu kerlip kunang-kunang, bagai serpihan jejak yang kita tinggalkan di lantai-lantai waktu. barangkali, engkau akan menghitung berapa tuang kopi yang
sisakan ampas di dasar gelas
tetapi, kita sudah di sini. di suatu tempat yang entah. yang wanginya mengingatkan kita kepada gendhing-gendhing di keraton tua, yang dentumannya serupa auman Leopard. lihatlah: Sisifus sibuk mengukir batu dengan malam di kaki bukit. sedang kita, terus berdiri di puncak dan belajar menghitung angin yang bersandar pada kulit tubuh kita
2009
Gerimis
siapa membawa gerimis ke kamarku?
sedang aku, belum selesai meninabobokan pelangi
dan bercerita kepada malaikat tentang Stanislavski
yang sibuk merias diri di ruang-ruang pertunjukan
(dia selalu terlihat santun dengan kaca mata tuanya)
siapa menautkan bulir gerimis di dinding kamarku?
sementara, dinding kamarku tetap seperti itu,
bisu
2009
Jambi
kelak, kau akan menjemputku di Bandara Sultan Thaha Syarifuddin
tepat ketika pesawat dengan kode penerbangan IATA : 7P dan ICAO : BTV
mendarat di kotamu
sebelum ke kota tanah pilih pesako betuah,
aku sempatkan mengirim pesan singkat ke ponselmu yang
sesekali bikin resah.
?semenit lagi aku berangkat. berdandanlah yang cantik? kataku
dalam badan pesawat,
aku bayangkan betapa liarnya rindu kita nanti
kau peluk aku erat, erat dan teramat erat
serta bulu mata yang menatap malu
tanganku kau genggam erat
kau ajak aku ke Muaro Jambi
katamu, tempat itu merupakan situs purbakala terluas di negeri ini.
: sembilan anak sungai Batanghari jadi saksi
masih dengan genggaman erat, kau mengajakku menyusuri satu
persatu anak sungai Batanghari. tak ada perahu sewa di sana
Itu, katamu, danau teluk.
sedang kita masih harus melewati jembatan Aur Duri
?dulu ketika kecil, kami sekeluarga sering pergi memancing di sini,? bisikmu ketika
kita baru saja melewati ujung jembatan itu.
kepalamu terus menyandar pundakku
tangan kananmu melingkar di tangan kiriku
dan semua seperti apa yang telah
kita rencanakan sebelumnya
2009
Airmata
kau memintaku mengukir namamu
di atas tisu,
dengan airmata
2009
Batu
aku batu pualam hitam
berdiri tegak
di ujung lautan
aku karang cadas lautan
bergulung ombak
seribu dendam
aku batu kali
berlari sunyi
di antara rekaan mimpi
aku batu mirah
lelap saat
semua kembali entah
2009
Sajak Rindu Untuk rf
masuklah ke ruang rumah sepiku
telah kusiapkan segelas air rindu
yang ku curi dari embun pagi
di daun paling ujung pohon itu
ada juga tumpukan buku yang
biasa kamu baca, setelah itu
lupa menutupnya kembali
ah, hampir lupa
aku juga siapkan setumpuk baju
yang membuatmu risau
saat akan mengenakannya
di ruang paling tengah
rumah ini, ada cerita yang lelah mengisahkan
dirinya, kosong, dan kadang amat konyol
: kau selalu tersenyum melihat foto yang miring itu
dindingnya yang berwarna ungu
selalu membuatmu tertawa
dan aku seperti tumpukan buku
yang terus membalik lipatanlipatannya sendiri
2009
Sajak Singkat Menjelang Tengah Malam
sayang, sebentar lagi tengah malam
mari tidur, dan lupakan pria berkerudungmu itu
2009
Sajak Singkat Menjelang Malam
aih, ada capung berkejaran dengan angin
2009
Sajak Singkat Tengah Malam
: rf
aku lupa di tubuh bagian mana kau titipkan bibirmu, malam itu
2009
