Tembok
Posted by PuJa on November 29, 2009Soeprijadi Tomodihardjo*
http://www.jawapos.com/
BEBERAPA minggu sejak bertemu juru rawatnya belum juga saya penuhi janji menjenguk lelaki itu. Kesibukan kerja menjelang tutup buku bulan Desember ini rasanya bukan alasan lagi karena sudah berkali-kali saya sampaikan. Akhirnya pada hari tak terduga ketika handphone meringkik-ringkik di ikat pinggang, saya segera membetotnya. Tiba-tiba terdengar suara juru rawatnya.
”Tuan harus menengoknya. Saya sudah beberapa kali beri tahu dia, Tuan berjanji akan menengoknya. Sekarang saya ulang harapan saya demi rasa kemanusiaan. Bukankah dia berasal dari negeri Tuan? Bulan lalu kakinya diamputasi di Amsterdam. Tetapi sudah tiga hari ini dia kembali dan sekarang terkapar di kamarnya.”
Saya kaget. ”Kenapa diamputasi? Sakit apa dia, Nona?”
”Sakit diabetes. Dulu kami pernah memesan insulin di apotek Tuan, bukan? Hanya untuk dia. Dia sangat menderita. Sejak operasi itu sampai hari ini tak ada kawan menjenguknya, padahal mereka sudah diberi tahu. Tuan sendiri sudah berjanji. Mengapa masih saja menunda-nunda?”
Wah, nadanya seperti marah! Tapi dasar orang Eropa: hutang mesti dibayar, janji mesti dipenuhi, tidak bisa terus-terusan ditunda. Sebagai sesama orang Indonesia saya merasa malu karena kurang perhatian pada lelaki itu. Apakah rasa kebangsaan saya sudah menipis hingga tak peduli lagi penderitaan sesama anak bangsa? Tiba-tiba naluri saya tergugah untuk mencegah agar si juru rawat tidak menilai semua orang Indonesia berperilaku tidak manusiawi terhadap sesama bangsanya. Setidaknya ia perlu tahu persoalan sebenarnya. Saya bilang sejujurnya, apa adanya:
”Nona sendiri bilang, teman-temannya di Amsterdam itu orang-orang pelarian. Apakah Nona anggap saya seperti mereka? Sayang saat ini di antara kami sedang berdiri tembok batu setinggi gunung. Tetapi saya akan kunjungi dia Nona, hari ini juga selepas jam kerja. Kebetulan hari ini saya bekerja setengah hari.”
***
Lelaki itu terbujur di atas kasur dalam kondisi jasmani yang menyedihkan. Bola matanya tenggelam di dua rongga bawah alisnya. Hendarjid namanya. Sebuah nama yang sempat menyesatkan saya karena memberi kesan ganda: mungkin dia Jawa atau India. Begitu banyak orang India tinggal di negeri kami turun-temurun sejak zaman Belanda dan dengan gampang menjadi warga negara negeri kami. Tetapi si juru rawat menyebutnya orang Indonesia.
”Halo Mas,” salam saya. ”Saya Loman, Zen Loman. Sudah lama saya ingin menengok Anda. Maafkan baru sempat sekarang.”
Dia biarkan lengan kanannya dalam genggaman saya. Sebatang tulang berbalut kulit berlempit-lempit. Suaranya lambat tersendat-sendat, ”Saya… saya sudah dengar dari… dari Rosana. Terima kasih, terima kasih, Anda punya perhatian pada saya.”
”Ah Mas, kita sama-sama orang Indonesia, kok. Saya dari Mungkid Mas, dekat Magelang sana. Anda sendiri…?”
”Saya Ambarawa.”
”Lho, Ambarawa? Kan tidak jauh dari desa saya! Kok ketemunya kita di sini, ya Mas? Kebetulan bukan?”
Bibirnya nampak membiru layu, kedipnya neritil serupa mata belekan terutama waktu berbicara.
”Dulu saya di Amsterdam, lama ditanggung gereja. Kebetulan dapat pekerjaan di Lelystad ini. Tak tahunya di sini saya sakit-sakitan. Ketahuan sudah terlambat: diabetes berat.”
Sebenarnya saya berharap mendengar cerita masa lalunya di tahun-tahun kemelut malapetaka nasional ketika dia menyebut kota asalnya, tetapi tak sepatah kata tentang Ambarawa keluar dari mulutnya. Tidak juga etis untuk memerasnya.
”Katanya Mas dioperasi?” tanya saya.
”Kaki saya diamputasi. Dokter bilang tidak bisa tidak. Lukanya sudah membusuk.”
”Bagaimana operasinya? Tak mengalami komplikasi?”
”Biasa saja. Semula saya menolak. Kalau mesti mati, biarkan tubuh saya utuh menghadap Yang Maha Kuasa.”
”Percayalah Mas, di sini Anda berada di tangan dokter ahli,” hibur saya.
”Memang tak bisa sembuh kalau tidak dipotong. Sakitnya saya tak tahan.”
Tentang itu saya sudah dengar dari juru rawatnya. Borok di tumit kirinya sudah sangat parah, bau busuk menusuk-nusuk hidung. Tak terbayangkan betapa rasa sakitnya. Pelan-pelan saya letakkan tangannya di atas selimutnya. Tiba-tiba terdengar pintu kamar diketuk dari luar. Saya segera membukakan. Ada tiga lelaki melangkah masuk, bergantian memberi salam tanpa banyak bicara. Mereka langsung mengelilingi ranjang Hendarjid, pasti sudah menerka saya bukan orang pelarian karena saling merasa asing. Di antara kami saat ini memang sedang terbentang tembok batu, menjulang tanpa pintu.
”Tolong ya Nak, segera menelepon saya kalau terjadi apa-apa pada dia,” bisik seorang tua berkaca mata yang berdiri di sisi saya. Sebuah perintah atau permintaan naif seorang tua yang menganggap saya juru rawatnya, barangkali. Tetapi rasanya saya pernah ketemu si kaca mata di Kedutaan Indonesia, hadir dalam berbagai acara. Paling akhir dalam acara pemberian Anugerah Wertheim di Den Haag kepada dua orang pengarang Indonesia yang tak saya ingat namanya. Agaknya dia lupa pada saya. Saya biarkan lelaki itu ngomong sesuka hati dan memberi saya kartu nama.
Ketika Rosana datang menemui mereka, saya melangkah keluar. Saya pikir lebih baik biarkan mereka berbicara bebas sebagai sesama orang pelarian.
”Saya turun ke kantin, Nona,” kata saya. ”Jika ada waktu bolehkah saya tunggu Anda di bawah sana? Ada yang perlu saya sampaikan.”
”Kalau memang penting, mengapa tidak?” jawab Rosana.
***
Selepas kerja di musim winter ini biasanya saya tak langsung pulang ke rumah dinas, sebuah flat bertingkat 9 lantai. Pukul setengah tujuh sore cuaca sudah gelap dan sebentar lagi tiba waktunya untuk makan malam. Masak sendiri saya tak pandai kecuali supermi dan bumbu jadi yang gampang dijerang tetapi sangat membosankan. Di saat-saat demikian saya sering keliling kota dari resto ke resto dari bistro ke bistro hanya untuk makan malam. Sesekali saya cuma beli hamburger atau sebungkus doener kebab1) untuk disantap di rumah. Namun sesudah berbulan-bulan tinggal sendirian di rumah dinas di kota kecil yang mencil ini pada usia kepala tiga, akhirnya saya merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidup ini: seorang istri! Saya ingin kawin…
Betapa ideal jika saya punya istri seseorang yang sudi tinggal bersama di kota kecil ini, pikir saya dalam lamunan. Benar-benar hanya lamunan, karena bagi lelaki seusia saya lamunan hanya akan berubah jadi mimpi basah yang datang berulang-ulang.
Namun pada suatu jam kerja yang lengang ketika saya menata laci-laci lemari tempat persediaan bermacam-macam obat-obatan, tiba-tiba datang seorang perempuan menyodorkan selembar resep dokter untuk sebungkus insulin jenis Human Actraphane 30/70 berisi 10 ampul, masing-masing 3 ml.
Cepat-cepat saya meneliti urutan abjad di laci-laci tiap lemari ruang muka maupun belakang apotek tempat saya bekerja, namun tak menemukan insulin jenis yang tertulis pada resepnya. Tetapi seorang kolega di ruang belakang berhasil menemukan daftar obat-obatan dengan menekan kenop-kenop laptop, lengkap dengan harga dan alamat apotek maupun pabrik obatnya.
”Kebetulan kami kehabisan persediaan, Nona,” kata saya. ”Kalau Anda mau, saya bisa pesan dulu. Tetapi jika sangat mendesak, Anda bisa pergi ke Amsterdam. Hampir semua apotek di sana punya persediaan obat apa saja.”
”O… itu berarti seratus kilometer pulang-pergi dengan mobil.”
”Ya Nona, tetapi itulah apotek terdekat dari Lilystad ini.”
”Akh,” desah si Nona. ”Kalau begitu tolong dipesan saja. Tapi berapa lama?”
”Paling lambat pukul setengah lima. Anda tidak perlu kehilangan waktu dan tenaga untuk pergi ke Amsterdam. Anda bisa ambil insulin itu di sini setelah jam empat sore. Atau kami antar ke alamat pasien. Tinggalkan saja adress-nya.”
”Oke, tolong dipesan saja dan diantar kepada saya. Pasien sedang ngamar di rumah sakit kami. Tuan tahu bukan?”
”Maksud Anda rumah sakit di Lilystad ini?”
”Benar. Itu satu-satunya bukan? Tolong rekeningnya atas nama dia seperti tertera pada resepnya.”
Hendarjid namanya. Hari ini, di kantin ini, di menit-menit ini, dengan gelisah saya menunggu Rosana, juru rawatnya.
Beberapa menit setelah visite2) lewat saya dengar seseorang diam-diam berdiri di belakang kursi saya. Dua telapak tangan yang sejuk terasa tiba-tiba menempel di kanan-kiri pipi saya.
”Saya tahu Tuan tahu siapa saya,” ucapnya.
Saya membalasnya, ”O, saya juga tahu Nona tahu saya Zen Loman.”
Rosana ketawa renyah, aroma permen karet meruap dari mulutnya. Untuk kali pertama dalam hidup ini saya merasa gembira bisa berkelakar dengan seorang wanita muda. Dan, dia agaknya sangat berminat pada ajakan saya. Kami bersua di kantin. Kami memesan cola. Kami bersitatap muka sampai lupa berbicara perihal sakit Hendarjit sebagai orang pelarian. Sebuah rendezvouz yang tak pernah saya alami sebelumnya. Namun saya tak tahu mau bilang apa sebenarnya saya kepada dia.
”Tuan tadi bilang ada yang perlu untuk disampaikan kepada saya. Apakah saya masih harus menunggu?”
Tiba-tiba saya bermaksud nekad: jika tidak detik ini kapan lagi! Sekali datang kesempatan, jangan sia-siakan. Saya bilang, ”Rosana, saya ini orang Indonesia, tetapi apa salahnya jika saya menikah dengan perempuan Belanda?”
Rosana cuma ketawa ketika saya bilang bahwa saya masih lajang, sendirian saja tinggal di rumah dinas apotek kami, masak sendiri, nyuci sendiri, nyetrika sendiri, tidur sendiri. Rosana spontan memberi saran, ”Karirmu bagus, Mas! Ada banyak wanita muda di Belanda. Kamu tunggu apa lagi?”
Saya bangga hari itu Rosana memanggil saya Mas. Saya lantas nekad menjawab, ”Tunggu kamu, Rosana! Siapa lagi?”
Saat itu saya lihat mata Rosana bagai telaga biru dan bening di mana saya terapung-apung dan berkecimpung. Saya tidak sekadar berkelakar di depan dia. Saya serius mengucapkannya. Tetapi Rosana ringan saja bilang, ”Jangan lagi panggil aku Nona. Dia suamiku. Lama kami hidup bersama.”
Saya terkejut. ”Kami itu siapa?”
”Aku dan Hendarjid, Mas. Dia orang Indonesia seperti kamu bukan? Kasihan dia. Diagnose terakhir gagal ginjal, sirosis, kanker lever. Rasanya tak akan lama…”
Tembok kedua mendadak tegak di muka saya! Saya bungkam, menatap mata Rosana yang menggelimang. Saya memeluknya tetapi tidak menciumnya. Barangkali suatu hari nanti ….***
Winter, Desember 2008.
1) doener kebab: daging panggang ala Turki
2) visite: jam kunjung dokter untuk pasien rawat inap
*) Cerpenis, mantan wartawan, tinggal di Koeln, Jerman

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment. [Disabled, because any spamms]