BOLA SALJU YANG MENGGELINDING

Nurel Javissyarqi
http://www.facebook.com/nurelj

Hujan lebat mengguyur bumi melahirkan kerinduan, adakah ketulian para seniman di negeri jauh yang mencipta kegagapan, lebih parah mewujud kendang kebisuan, tidak mendengar bahasa penderitaan, padahal seluruh organ diri bekerja baik, sayang tuli.

Jameson berkata; ??referensi dan realitas secara bersama-sama lenyap, bahkan makna (petanda) dihadapkan ke satu masalah. Kita dibiarkan dalam permainan acak petanda yang kita sebut post-modernisme, yang tidak lagi menghasilkan karya-karya monumental seperti modernisme, tetapi secara tidak henti mengaduk-aduk fragmen-fragmen teks yang sudah ada??

Para tokoh modern dan post-modern diselimuti kabut kesimpangsiuran beradu makna yang diemban, tapi serupa bola salju meluncur tidak terkendali dari ketinggian takdir, dalam Wirid Hidayat Jati, R.Ng. Ronggowarsito: ?Manakala detik takdir hidupmu telah terpastikan, tiada sesuatu daya yang sanggup menghalangi.?

Modernisme telah mencipta biang kerok kerenggangan, keretakan di berbagai bidang sosial, politik, budaya, carut-marut dalam serta luar, mencipta dalil-dalil pembodohan, mengerdilkan bangsa ditindas, dipermainkan permodalan atas nama nilai kemanusiaan &ll. Jangan salah ketinggalan kereta, berlesatan laksana petir tak pernah dilihat paling cepat. Ini waktu mengundang balak prahara pancaroba, istilah Hamlet; ?Waktunya tak nyambung? sejenis uap ?membawaku terbang mencapai takdir tertinggi?: al-Hallaj.

Waktunya tak nyambung meminta tumbal tubuh, dalam kasus makro pembantaian nilai, namun jangan hawatir sebab tuhan memberi jalan seperti ungkapan Voltaire: ?Bukannya kehidupan berjalan dengan baik, tetapi kehidupan berjalan dengan sebaik-baiknya.? Itulah kelembutan menghibur hingga terkantuk di rerumputan awang-uwung khayal membius, melumpuhkan sendi melantakkan urat syaraf. Seyogyanya pelajari khasanah rupa, Picasso pernah berkata; ?saya tak pernah mencari tapi menemukan.?

Lukisannya petanda post-modern yang merusak tatanan keindahan tubuh, disusan ditumpuk, diaduk dipatahkan hingga menghasilkan nilai baru tanah yang dijanjikan. Faust-nya Goethe menampilkan persekutuan manusia dengan iblis, melambangkan perkawinan nurani-sahwat yang digenapi usungan nilai Timur dan Barat. Maka mari simak puisinya Iqbal;

??Singkirkanlah Timur dan jangan pedulikan Barat
Karna yang demikian itu tidak bernilai.
Sadarilah bahwa pribadi itu
Bukan Timur dan bukan pula Barat.
Suatu mutiara yang berharga
Jangan kau hipotesakan
Meskipun dengan tangan malaikat Jibril.

Sebaliknya Thawa sin al-Hallaj, saking kayungyungnya lebur menyatu(-Nya) bernasib fatal, ketika berhadapan syariat. Semoga lapangan nanti, segala pintu terbuka lebar. Yang mengemban modern mencibir sebab tak berdaya hanyutnya mitos, tenggelam para pembuat nilai serta yang dibangun. Kita melihat dampak kekolotan memegang teguh nilai mencipta jurang kesenjangan kaya dan miskin, Timur serta Barat, negara maju juga berkembang. Yang memondasi aliran lukis sampai kepercayaan dan segala intrik. Kalau berkutat di situ, jangan salah mereka masih memegang dalil pengetahuan milikku. Ini telah dicium bau busuk oleh Foucault: ?Keterlibatan langsung dari menara ini menimbulkan kesadaran sekaligus kegelisahan terus-menerus, yang pada akhirnya menjamin kepatuhan.?

Setelah membaca gerak tersaji, nilai filosofis kokoh elastis tertahan musim bergantian mencumbui tubuh dengan racun. Adakah ketakutan membayangi dan hantu pasti ada, tak terelak pun luput dalam jaring. Sungguh memalukan terlindas ditertawakan, jika tidak berlapang dada segala perubahan, senada penyebaran Thales mendewasakan lebih dari fikiran dewa.

Masa depan bukan Sphinx nongkrong tanpa inisiatif, tetapi mata kucing hitam pemilik kelincahan bergulat bertarung melawan arus, bukan kepongahan melihat bulan terjaga bidadari. Perubahan memandang tatapan matang walau dalam persoalan remeh, tetap menghargai layaknya bapak mengamati keluguan anak-anaknya. Van Gogh berucap; ?Dalam keluguan wanita juga bisa indah? dan kata Einstein; ?Tanpa seorang wanita, jiwaku takkan utuh.? Inikah yang tertuwang dalam watak siang tubuh malam jiwanya?

Adalah menarik bersentuhan karya menampilkan kejujuran mengakui kesemrawutan dunia ricuh-rancau, kacau-balau menggelinding memegang kenormalan. Ini meditasi tinggi menapaki tangga kesadaran meghirup udara kebebasan, yang bukan bertalian sulapan. Aku berharap ini menyembul rangsangan mawas diri dalam setiap lapangan memberi peluang, sebab setiap trik kebohongan pasti jatuh cedera dan latihan keras menghasilkan gerak reflek tercantik, seirama lontaran komponis Getry:

?Seniman yang biasanya dikuasai suatu rencana besar, menghadirkan dirinya diliputi ketenangan malam hari, dan dalam keadaan setengah sadar atau tertidur nyenyak, otak menggubah mengarang, merangkai menciptakan kombinasi. Setelahnya dalam kamar kerja, ia terkejut keheranan bahwa segala kesulitan sudah teratasi. Manusia itulah yang menciptakan segala-galanya, manusia siang hanya mencatat belaka.?

Lamongan, 2004 awal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *