Di debur ombak parang tritis

Peresensi: Sugiarta Sriwibawa
http://majalah.tempointeraktif.com/
Buku: OMBAK DAN PASIR
Penulis: Nasjah Djamin
Penerbit: PT Pustaka Karya Grafika Utama, Jakarta, 1988, 342 halaman

SAMBIL menyimak roman Nasjah Djamin yang baru, Ombak dan Pasir, saya teringa akan esei Dr. Farida Soemargono dalam Archipel 1979, Le “Groupe de Yogya” 1945-1960, les voies javanaises d ‘une litterature Indonesienne, yang melihat pentingnya suara kelompok sastrawan di Yogya dalam perkembangan sastra modern Indonesia.

Mereka beribu bahasa Jawa, pun berlatar belakang kejawen, sehingga karya sastra yang dihasilkannya punya warna tersendiri pula. Termasuk Rendra, yang sebelum madhepokan di Depok sudah berkreasi di Solo-Yogya.

Di antara sastrawan Yogya yang dikelompokkan Farida Soemargono, disebut pula nama Nasjah Djamin, yang asli Perbaungan, nun di Sumatera Utara. Sastrawanpelukis yang sabrang ini dianggapnya sudah angejawa: un Sumatranais Javanise.

Ia bukan saja menghirup udara Malioboro, melukis pedesaan Gunungkidul dengan andong dan gerobaknya, atau mengenakan kemeja tenun lurik, tapi juga menghayati jalan pikiran dan perasaan penduduk setempat. Ia bukannya sekadar lebih memilih kata tresna daripada sinonim cinta, tapi memang melihat ada makna lain yang dirasakannya pada kata Jawa itu.

Tokoh-tokoh yang dikemukakan pengarang dalam Ombak dan Pasir ini kelihatannya cukup komunikatif dengan segmen pembaca pada umumnya dewasa ini: para remaja Ibu Kota dari keluarga kaya yang broken home, suami yang mula-mula alim tiba-tiba menjadi bengal setelah kaya raya, dan istri yang tiba-tiba menjadi binal karena mau balas dendam pada polah suami.

Sisi pop ini beruntung dapat digambarkan secara rinci bagaikan melalui sarana kamera yang teliti. Dan adegan di Jakarta yang filmis dan meriah ini, sesuai dengan alur cerita, segera ditarik ke Yogya, ke pesisir Segara Kidul yang mistis.

Angejawa? Lebih dari dua pertiga jumlah halaman buku ini digunakan oleh pengarangnya untuk memainkan lakon para pelakunya di Parang Tritis, konon tempat Panembahan Senapati, pendiri dinasti Mataram, bersemadi dan bertemu dengan Ratu Kidul. Maka, lampu-lampu neon Jakarta berganti dengan lampu tempel, Mercy diubah menjadi andong, gedung pencakar langit seakan moksa menjadi gubuk gedek, jalan-jalan raya yang biasa digunakan untuk lintasan ngebut musnah menjadi hamparan pasir pantai landai.

Alkisah, Totok yang masih remaja ternyata menderita kompleks Oedipus. Ibunya yang awas akan gelagat ini segera mencarikan sasaran penggantinya — Tante Nun — yang mirip wajah dan sikapnya. Tapi tante yang seksi dan suka ngebut ini keburu mati lewat tabrakan mobil.

Untung, peranannya dapat digantikan oleh Wien. Gadis ini segera hamil, tapi tak mau menuntut Totok agar menikahinya, karena Totok masih nganggur. Diam-diam Wien terpaksa mencari suami lain: lelaki tua tapi kaya. Toh yang diperlukan cuma status dan harta, apalagi dia dapat membelikan rumah mewah di Yogya. Sebelum minggat ke Yogya, Wien berpesan kepada Totok, “Kalau kau memang cinta padaku, carilah aku ke Pantai Parang Tritis.”

Totok pun menguber ke sana, tapi yang terjumpa seorang wanita desa, Sri, yang cantik tanpa make up. Ternyata, Sri adalah penjaga gubuk sewaan yang sering ditempati oleh Wien. Cinta segi tiga? Sri mengalah dan Wien memutuskan minta cerai dari suami tuanya, agar dapat kawin dengan Totok.

Tentu saja suami tua yang tinggal di Jakarta segera memburu ke Parang Tritis hendak menolak permintaan ccrai itu. Sayang, Wien yang ditemuinya sudah seka rat karena sengatan tetanus. Tapi mata bapak tua itu makin terbelalak demi melihat pemuda yang dicintai Wien itu adalah Totok, anak kandungnya.

Nasjah Djamin tampak tekun memberi berbagai warna pada adegan demi adegan sepanjang alur cerita ini, sesuae dengan setingnya. Bukan pelukis Jawa kalau belum pernah melukis pemandangan alam pantai Segara Kidul, kata pelukis-pelukis Yogya. Dan Nasjah Djamin tampak intens memenuhi tuntutan itu dengan pelukisan pemandangan cakrawala kala matahari terbenam, debur gelombang yang tak kunjung henti melibas pantai, hamparan pasir yang ngelangut kosong tapi isi, seperti unen-unen kejawen, dan tresna wanita desa yang bersikap mengabdi.

Deskripsi Nasjah Djamin sering membuat kita seperti memandang sebuah lukisan dengan komposisi yang menarik. Melihat lukisan dengan komposisi yang sempurna dan warna-warna yang serasi kiranya seperti menemukan kalimat-kalimat yang menggetarkan dalam karya sastra.

Ada sejentik pertanyaan nakal: apakah Nasjah Djamin tadinya hendak menulis feuilleton juga? Sebab, ciri-ciri feuilleton ada pada roman ini: pengulangan sekadar untuk mengingatkan pembaca kepada jalan cerita sebelumnya, semacam menulis berita yang berkembang terus-menerus, sehingga memerlukan ingatan pada peristiwa sebelumnya.

Yang rada mengganggu dalam buku ini ialah adanya kesan kurang tekunnya kerja editing, karena terdapat kekisruhan antara awalan di dan preposisi di. Memang aturan penggunaan awalan dan preposisi tersebut sampai kini masih membingungkan pada berbagai kalangan, tapi kapan lagi kita mulai berusaha mematuhinya? Ini penting buat pembaca dari kalangan pelajar, dan mereka barangkali juga merupakan kalangan konsumen buku sastra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *